
Ditengah malam, Rayyan terbangun, perlahan matanya dia buka, lalu tersenyum melihat sosok tangan berada diatas tubuhnya.
Dia ubah posisinya, yang tadinya terlentang, sekarang meringkuk saling berhadapan.
Dibalaslah pelukan sang istri yang sangat dicintai nya. Dia usap kepalanya. Dia kecup ujung kerudung di kepalanya.
"Maafkan aku, yang sudah berpura pura dingin. Aku hanya ingin kamu tau, betapa sakitnya ketika tidak di hargai".
Dia teringat saat awal menjadi pengantin baru, Fani seolah tidak peduli dengan kehadiran dirinya, Fani terus menghindar jika Rayyan selalu ingin mendekat, bahkan sekedar obrol.
Tapi itu hanya berlaku tiga minggu, setelahnya Fani mulai mau menerimanya, karena kegigihan dan kesabarannya bisa sedikit membuat Fani untuk mau berubah.
Apalagi sekarang, dilihatnya Fani sudah mulai menyukainya, tapi dia akan pura pura tidak tahu dulu, ingin memastikan dulu, apa benar istrinya sudah menyukainya.
Serumit itukah cinta??. Seolah cinta dan gengsi bergandengan setiap saat.
Tidak, dia tidak gengsi, hanya saja,,, ingin tahu lebih jauh mengenai perasaan istrinya.
Dia berharap, waktu sedikit melambat atau bisa berhenti berputar, agar momen ini tidak segera usai.
Sudah dua jam mereka dalam posisi itu. Dan Rayyan tidak juga kembali memejamkan matanya, dia ingin menikmati momen sekarang ini, kapan lagi pikirnya.
Kemudian adzan subuh pun berkumandang, menandakan seorang muslim harus menunaikan kewajibannya.
Fani akhirnya bangun, tapi Rayyan malah pura pura tidur. Tak lupa ia juga sudah mengubah posisi seperti sebelumnya.
Fani baru sadar dirinya ada diposisi itu sampai ia bangun lagi.
"Ya ampun, berarti aku tidur peluk dia terus dong" gumamnya sembari menutup mulutnya, dengan kedua tangannya. Kemudian Fani duduk.
Ada rasa malu, bagaimana jika suaminya tahu, tapi juga ada rasa bahagia bisa memeluknya se lama itu.
Fani memberanikan diri untuk membangunkan suaminya, mengajaknya sholat subuh berjamaah.
Karena jujur, dengan sikapnya tadi malam, dia sedikit takut, takut jika suaminya bersikap dingin kembali.
"Mas,,, bangun" ucapnya pelan sembari menggoyangkan tubuh suaminya.
Dengan perlahan Rayyan membuka kedua matanya sembari mengucek ngucek matanya, ya dia harus pura pura baru bangun juga kan?.
Kebohongan satu harus di ikuti dengan kebohongan lainnya.
Di tatapnya wajah sang istri.
"Mas ke kamar mandi dulu" jawabnya.
Rayyan bangkit menuju pintu kamar mandi, tapi berhenti, lupa belum ambil handuk.
Dia cari handuk itu kesana kemari, tapi tak ditemukannya. Fani yang dari tadi masih duduk diatas ranjangpun dia beranjak membantu suaminya mencarikan handuknya.
"Ini"
ucap Fani sembari menyodorkan handuk milik Rayyan. Padahal Fani mengambilnya tak jauh darinya, tapi mungkin suaminya saja yang memang gak melihat handuknya yang berada di atas sofa, ya karena pria memang suka sembarang naruh kan?
Rayyan yang masih sibuk cari handuknya pun berhenti, lalu menoleh pada istrinya.
__ADS_1
"Makasih"
jawab Rayyan dengan raut muka yang dia biasa biasakan saja, padahal hatinya sudah tidak biasa, jujur masih bahagia.
Dengan segera dia masuk kekamar mandi dan menutup pintunya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini mas". Gumam Fani sedih.
Kemudian Fani membereskan tempat tidur, sembari menunggu suaminya usai membersihkan diri dan berwudlu.
Rayyan pun keluar setelah beberapa menit, tapi ia sengaja hanya memakai handuk yang ia lilitkan sepinggang.
Sontak saja, Fani terkesiap melihatnya. Lalu ia tutup wajahnya dengan kedua tangannya, jari jarinya ia rapatkan, tapi sesekali jarinya ia geserkan agar sedikit celah, untuk memastikan apa yang dilihatnya.
Benar ini sungguhan, harus bahagia atau justru malu, tapi dari sisi kewanitaannya, ia juga tidak mau munafik, ia senang melihat suaminya seperti itu, bahkan hatinya sedikit gelisah dibuatnya.
Rayyan menoleh dan tersenyum melihat tingkah laku Fani.
Ia pun melangkah mendekat ke arah istrinya. Dekat dan semakin dekat, hingga hanya sepuluh centi jarak dari keduanya, Fani dibuat panik sendiri, dia perlahan mundur, jantungnya pun sedikit memompa lebih cepat, apa harus sekarang? Pikir Fani.
"Mas"
Tiba tiba Rayyan sedikit berjongkok dan wajah keduanya kini saling berhadapan sangat dekat, bahkan hidung mereka hampir nabrak, Karena tinggi keduanya kini sejajar.
Tidak! Jantung Fani kali ini sudah tidak baik baik saja, ia pun memejamkan mata sembari mencoba mengambil nafas secara perlahan.
Namun.....
"Cuma mau ngambil ini" ucap Rayyan sembari memperlihatkan apa yang ada ditangannya
Fani mencoba membuka matanya, dan melihat ke arah sisir yang dipegang suaminya.
"Kenapa harus tutup mata segala? Memang mau ngapain?" Kekeh Rayyan.
Mata Fani melotot mendengar pertanyaan suaminya, ya suaminya benar, kenapa dia harus pejamkan mata segala.
Ada rona merah diwajah Fani. Malu sangat malu, apa memang yang ada di pikirannya, kenapa ia sampai berpikir yang tidak tidak, siapa juga yang sudah naruh sisir di situ, helm mana helm.
Rayyan ingin tertawa melihat istrinya salah tingkah, tapi dia tahan, dia mengerti pasti istrinya sangat malu.
Rayyan juga sengaja melakukan itu, ingin mengerjainya.
Kemudian Rayyan balik badan kembali ke depan meja rias untuk menyimpan sisir itu, dia tak tega melihat wajah sang istri yang memerah seperti udang rebus, karena menahan malu.
Ia pun mengambil sarung dan memakainya, lalu baju kokonya, dia sisir rambutnya dari depan ke belakang, rambut yang sedikit tipis disamping tapi lumayan tebal diatasnya, sangat tampan, kulitnya lumayan putih tapi sedikit coklat, menambah kesan tersendiri, wanita mana yang tidak terpesona dibuatnya, jika melihat Rayyan, pesona lelaki dewasa berusia dua puluh tujuh tahun tersebut, setelah selesai, diraihnya kopiahnya. Dan Ia sudah siap untuk sholat.
Rayyan menoleh ke arah istrinya, namun masih berdiri mamatung.
"Mau sholat sekarang tidak?" Tanya Rayyan dengan raut muka datar. Ia tidak mau meledek istrinya karena ulahnya tadi.
"Iiiya"
Fani langsung bergegas ke kamar mandi, tapi hanya untuk membersihkan muka dan berwudlu, karena Fani belum terbiasa mandi sebelum subuh.
Setelah usai lalu keluar, kerudung pun ia pakai lagi di dalam kamar mandi, kemudian mengambil mukena dan mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah.
__ADS_1
Setelah sholat usai, Fani mencium punggung tangan suaminya dengan takjim, lalu mereka berdo'a dengan harapannya masing masing.
"Mas, aku ke bawah dulu ya, mau bikin sarapan" ucap Fani setelah keduanya selesai berdo'a dan melepas mukenanya.
"Bik Rumi belum balik?" Tanya Rayyan.
"Katanya besok"
"Ohh"
"Tapi mungkin untuk hari ini dan seterusnya aku yang akan menyiapkan sarapan untuk kamu mas, tidak lagi bik Rum"
"Yasudah"
Jawab Rayyan lalu beranjak mengambil laptopnya, mengecek pemasukan dan pengeluaran restonya.
Fani pun melangkah keluar kamar, menuju dapur yang ada di lantai bawah.
"Kamu sekarang berubah mas, ada apa sebenarnya, aku tuh sakit tau di giniin sama kamu" isak Fani sembari menyeka sudut matanya
Fani memasak roti panggang yang diolesi selai coklat, juga minuman segelas susu hangat untuk sang suami dan segelas teh hangat untuknya.
Setelah usai, Fani kembali ke kamarnya membawa sarapan untuk dimakan didalam kamar.
Pintu ia buka, dan matanya melihat Rayyan yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Mas sarapan dulu"
Rayyan pun berhenti dan menutup laptopnya.
"Kenapa dibawa kesini, biar kita sarapan dibawah saja". Ujar Rayyan menoleh.
"Mas gak bilang mau dimana, cuma jawab seperlunya saja" ucap Fani dengan raut muka sedih.
Rayyan sebenarnya juga tak tega melihat sang istri diperlakukan begitu.
"Yasudah karena sudah dibawa kesini, terpaksa sarapan disini"
"Kok mas bilang terpaksa? Yasudah kalau memang mau dibawah, aku bawa lagi ke bawah, dan kita sarapan disana"
"Gak perlu, sarapan disini saja"
Akhirnya keduanya sarapan didalam kamar, tapi Fani hanya diam saja, tangannya juga tak mengambil satupun roti yang ia buat, Fani hanya meminum teh hangat saja.
"Kenapa gak dimakan itu rotinya?" Tanya Rayyan sembari mengunyah roti yang ada dimulutnya.
Ia kunyah dengan perlahan, ingin menikmati roti buatan istrinya, kapan lagi memang karena baru kali ini istrinya mau bikinkan sarapan untuknya.
"Kamu jahat mas, kamu bukan mas yang dulu lagi" isak Fani.
Dari tadi Fani tengah tahan mati matian untuk tidak menangis, tapi sekarang Fani sudah tidak bisa menahannya lagi.
Fani menangis terisak dihadapan Rayyan. Baru kali ini Rayyan ditangisi sang istri. Ada rasa tak tega, Rayyan pun akhirnya berniat akan mengakhiri kepura puraannya.
Ya bukan Rayyan namanya jika tega melihat wanita menangis, apalagi ini sang istri yang juga menangis karena dirinya.
__ADS_1
Rayyan terlalu baik memang, suami yang begitu tanggung jawab dan mengerti keadaan sang istri.