Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Kecelakaan


__ADS_3

Tangan itu pun terlepas.


"Mas." Fani terperanjat dan menundukkan kepalanya.


Sementara Fathan menoleh pada Fani lalu pada lelaki di hadapannya yang datang secara tiba-tiba.


"Ohhh jadi ini lelaki yang bernama Fathan?" Ujar Rayyan menoleh pada istrinya yang mengangkat wajahnya.


"Mas tau darimana?" Tanya Fani.


"Jadi benar dia lelaki itu?" Tekan Rayyan kembali bertanya.


"Maksud Mas apa?"


"Dia yang kemarin telepon ke nomor kamu saat kamu sedang tidur, sejak itu lah aku tau bahwa ada lelaki lain lagi yang menyukaimu selain cinta masa lalumu." Papar Rayyan dan Fani memejamkan matanya.


Sementara Fathan diam membisu, menerka-nerka hubungan antara Fani dan lelaki yang ada dihadapannya.


"Sebenarnya ada hubungan apa kamu sama dia?" Tanya Rayyan menatap wajah istrinya.


"Mas, kenapa pertanyaanmu seperti itu? Kamu seperti meragukanku." Kata Fani.


"Jawab?" Bentak Rayyan membuat Fani terperanjat karena baru kali ini ia di bentak suaminya sendiri. Dan Rayyan langsung menyadari hal itu.


"Jangan pernah membentak Fani." Bentak Fathan.


"Diam kamu." Bentak Rayyan menatap tajam pada lelaki itu lalu menoleh pada istrinya.


"Sayang maaf." Rayyan mengulurkan tangannya, tapi Fani malah menggelengkan kepalanya dan mundur.


"Tolong katakan, siapa lelaki ini sebenarnya?" Tanya Fathan menatap wajah Fani.


"Kamu ingin tau siapa aku? Kenalkan, aku suaminya dari wanita yang kamu cintai. Dan tolong sekarang jangan pernah dekati istriku lagi." Paparnya sambil menatap tajam.


"Suami?" Fathan terkejut dan melirik pada Fani.


"Iya, dia suamiku." Jelas Fani dengan mata berembun. Karena merasa telah di ragukan suaminya sendiri.


"Sekarang sudah jelas kan? Jadi tolong jauhi istriku." Tekan Rayyan.


Fathan memejamkan matanya, hatinya merasa tersayat dengan ribuan hunus menghunjamnya.


"Maaf, aku telah salah mencintaimu. Karena aku pikir kamu masih sendiri." Katanya lirih.


Fathan pun melangkah pergi tanpa pamitan sama sekali.


"Sayang." Rayyan mendekat. Dan Fani terus menitikkan airmata.


"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat." Teriaknya.


"Sayang maafin aku. Aku khilaf, aku salah telah meninggikan suaraku. Tolong maafin aku." Rayyan terus memohon.


"Aku kecewa sama kamu Mas. Aku kecewa bukan hanya di bentak, tapi kamu seolah meragukanku dan tidak percaya lagi sama aku. Aku kecewa." Teriak Fani di akhir kalimat.


Ia kemudian lari dengan isakan yang dari tadi keluar. Rayyan pun mengejarnya namun pada saat Fani berlari di tengah jalan, ia tertabrak oleh pengendara mobil berwarna hitam, hingga tubuh Fani terpental cukup jauh namun beruntung kepalanya tidak terbentur.


Sontak membuat Rayyan menjerit seketika.

__ADS_1


"Faniiiiiiii." Teriaknya dan langsung berlari kearah dimana istrinya itu berada.


Ia duduk dengan tangan gemetar. Ia taruh kepala sang istri dipangkuannya sambil menangis terisak.


"Bangun sayang, banguuuunn." Rayyan terus menitikkan airmata melihat sang istri tergeletak tak sadarkan diri.


Dan ia mendapati sang istri mengeluarkan darah di balik gamisnya.


Para warga disana langsung berkerumun.


"Sebaiknya dibawa langsung kerumah sakit Pak." Ujar salah satu warga.


Dan Rayyan langsung membopong tubuh istrinya membawanya kedalam mobil.


Fani direbahkan dibelakang kemudi. Sementara Rayyan yang menyetir.


"Bertahanlah sayang, bertahanlah." Ujar Rayyan sesekali menoleh ke belakang, tubuhnya berguncang tangannya gemetar, hampir saja ia menabrak tiang listrik yang ada di pinggir jalan. Untungnya ia bisa mengendalikan mobilnya.


Hingga tiba di rumahsakit. Rayyan kembali membopong sang istri dan Para petugas medis pun langsung datang dan menyiapkan brankar.


Fani direbahkan diatas brankar itu dan langsung dibawa ke ruang IGD.


"Sayang bertahanlah."


"Sayang maafin Mas."


"Sayang banguuunn."


Racaunya sambil berjalan di sisi sang istri.


"Tapi saya suaminya Dok."


"Iya saya tau. Tapi saya takut tidak konsentrasi saat melakukan pemeriksaan pada istri anda." Papar dokter itu.


"Dok, saya mohon, saya tidak akan mengganggunya." Rayyan memelas namun Dokter itu tak mengindahkan permintaannya, ia melangkah masuk dan pintu di tutup rapat.


Kabar itu pun telah sampai di telingan kedua orangtua Fani juga kedua orangtua Rayyan. Sakti pun tak lupa ia beritahu. 


"Pak Sakti. Mau kemana? Kok buru-buru banget?" Tanya Kinan.


"Saya mau kerumah sakit."


"Kerumah sakit? Siapa yang sakit?"


"Fani kecelakaan dan sekarang dia ada dirumah sakit." Jelas Sakti dan ia pun pergi menuju alamat rumah sakit yang merawat Fani.


Seketika Kinan tersenyum bahagia dengan kabar itu. Ia berharap Fani tak bisa tertolong dan ia yang akan menggantikannya sebagai istri dari Rayyan.


"Dunia kali ini mungkin sedang berpihak padaku. Sebentar lagi aku akan jadi nyonya Rayyan Adhiwitama. Seorang pria tampan, baik dan tentunya sangat tajir. Aku tak sabar akan momen hal itu." Gumamnya sambil terus menyunggingkan senyumannya.


Sementara mobil hitam yang menabrak Fani, sudah diamankan pihak polisi. Dan lelaki itu sedang di mintai keterangan.


"Siapa nama anda?" Tanya penyidik.


"Nama saya Dio Pak." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


"Nama panjang?" Tanya penyidik itu lagi.

__ADS_1


"Dio Devanka."


"Baik, anda tau kesalahan anda?"


"Tau Pak, jujur saya juga gak sengaja."


"Sengaja ataupun tidak, tetap anda akan kami tahan. Kecuali orang yang telah anda tabrak tadi menarik kembali keputusannya." Papar penyidik itu.


"Boleh saya tau? Siapa yang saya tabrak?" Tanya Dio.


"Dia seorang perempuan berpakaian tertutup." Jawab penyidik itu, kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membawa Dio ke sel tahanan.


"Aku seperti kenal perempuan itu siapa. Gamisnya dan warnanya aku sangat kenal. Karena aku pernah lihat dia pakai gamis itu. Dan dia penyuka warna hitam. Apa itu ... Fani? Tapi gak mungkin dia ada disana." Gumamnya dengan perasaan berkecamuk. Takut benar akan dugaannya.


Fani sudah dipasang selang infus di tangannya, juga oksigen melekat di hidungnya. Serangkaian pemeriksaan sudah dilakukan, termasuk kondisi rahim.


Suara detak jantung di monitor saat ini masih berjalan normal. Namun Fani tak kunjung juga membuka matanya.


Rayyan di luar tak hentinya merutuki kebodohannya sendiri. Ia menyesali perbuatannya.


Lengannya terus meninju tembok hingga meninggalkan luka lebam.


Sakti sudah tiba dan langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaannya? Kenapa bisa terjadi kecelakaan?" Tanya Sakti.


"Semua salahku, salahku." Teria Rayyan.


"Rayyan tenanglah, ini dirumah sakit." Sakti menenangkan sahabatnya.


"Semua salahku, kalau saja aku percaya padanya dan tak meninggikan suaraku, ini semua tak akan terjadi." Isaknya memeluk tubuh sahabatnya.


"Katakan, istriku akan baik-baik saja kan? Katakan Sakti, katakan?" Tubuhnya berguncang.


Sakti memejamkan matanya, merasakan apa yang Rayyan rasakan. "Iya, Fani akan baik-baik saja. Sekarang kita hanya bisa berdo'a untuk kesembuhannya." Papar Sakti.


Sakti melerai pelukannya dan mengajak Rayyan untuk duduk.


Lusi, Wahyu, Mirna dan juga Farhan sudah tiba di rumah sakit. Mereka langsung menanyakan ruangan atas nama Fani Rosmala.


Dan setelah dapat informasi itu, mereka langsung menuju ruangan itu dan didapati Rayyan sedang menatap kosong namun air mata itu terus keluar.


Mereka semua mendekat dan menanyakan kabar Fani.


Rayyan bangkit, ia lebih dulu memeluk Lusi sang ibu mertua. "Maafkan aku bu, semua salahku." Isaknya.


"Tidak Nak, semua sudah garis takdir dariNYA, kita hanya bisa berdo'a semoga istrimu baik-baik saja." Jawab Lusi dan dibalas anggukkan olehnya.


Rayyan melerai pelukannya. Kemudian memeluk Mirna sang ibu. "Fani bu, Fani. Aku gak akan sanggup kalau harus kehilangan dia." Isaknya di tubuh sang ibu.


"Sabar Nak, kita serahkan semuanya kepada Allah, karena hanya DIA sang pemilik kehidupan." Balas Mirna.


Lalu terlihat suster keluar dari ruangan itu dalam keadaan panik lalu berlari sambil memanggil Dokter yang menangani Fani.


"Dokter, Dokter ... tolong Dok. Detak jantung pasien sedang tidak stabil." Teriaknya membuat semua yang ada disana panik seketika.


Sedangkan Rayyan ambruk tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2