
Rayyan bangkit, dan menatap tajam pada lelaki yang baru saja sudah bicara lancang.
"Lancang sekali kamu." tekan Rayyan.
"Tapi memang benar kan? Kamu gak bisa menjaganya dengan baik. Buktinya kamu lihat sendiri." ujar Fathan.
"Dengar ya, sampai kapan pun dia tetap akan menjadi istriku."
"Bagaimana nanti kalau Fani tersadar lalu dia ingat kejadian sebelum dirinya mengalami kecelakaan lalu dia tiba-tiba berubah pikiran dan ingin berpisah denganmu, apa kamu akan siap untuk melepaskannya? Dan menerima kenyataan bahwa akulah yang layak untuknya." papar Fathan dengan percaya dirinya.
"Itu gak mungkin, karena dia sangat mencintaiku."
"Itu dulu kan? Tapi sekarang? Soal hati tak ada yang tau."
"Sebenarnya kamu mau apa datang kesini?" bentak Rayyan.
"Lihat! Kamu pun ternyata sangat emosian." kekeh Fathan. "Tapi kenapa ya Fani mau saja punya Fani bersuamikan kamu."
"Aku tak akan begini kalau orang itu sopan santun saat bicara." cetus Rayyan. "Kalau kamu kesini hanya ingin memperkeruh suasana, sebaiknya kamu keluar."
"Tentu saja aku akan keluar, dan kita lihat saja nanti, apa Fani masih mau denganmu? Atau ... Dia akan kembali dengan teman dekatnya dulu, yaitu aku." kekeh Fathan kemudian ia keluar dari ruangan itu.
Sementara Rayyan dilanda kecemasan karena ucapan Fathan. Tapi ia tetap akan berpositif thinking bahwa istrinya gak mungkin meninggalkannya.
Perawat pun masuk untuk kembali mengecek kesehatan Fani.
"Kenapa istri saya belum juga sadar Sus?" tanya Rayyan.
"Baiknya tanyakan sama Dr Hendrik ya. Karena beliau yang menangani istri anda. Saya hanya seorang perawat." paparnya. Kemudian melangkah keluar setelah mengecek selang infus dan juga oksigen.
"Mas keluar dulu sayang, cepatlah sadar. Aku sangat merindukanmu." kata Rayyan, kemudian mengecup keningnya dengan sangat lama.
Setelah itu ia keluar dengan perasaan cemas.
"Kamu kenapa Nak? Apa terjadi sesuatu sama Fani?" tanya Lusi mendekat.
"Gak papa bu, Fani baik-baik saja didalam. Tapi ... Belum juga sadar."
"Kamu harus sabar, dia pasti akan berjuang untuk kembali sama kamu." ujar Lusi menyemangatinya.
"Oh iya, tadi orangtua kamu pamit katanya ada urusan, terus itu siapa sih, main nyelonong aja masuk, mau ibu cegah tapi udah keburu masuk." tanya Lusi.
"Dia ... Lelaki yang menginginkan istriku." jawabnya dengan tatapan kosong.
"Jadi karena itu kamu terlihat cemas?"
__ADS_1
"Bukan hanya soal itu bu."
"Lalu?"
"Aku takut ... Saat Fani tersadar, dia akan membenciku karena akulah penyebab kecelakaan itu, dan dia meminta berpisah lalu ... " Rayyan tak kuasa melanjutkan kata-katanya lagi.
"Ibu faham apa maksud kamu." ujar Lusi sambil menepuk pundak sang menantu.
"Kamu percaya? Fani sangat mencintai kamu?" tanya Lusi yang dibalas anggukkan kepala oleh Rayyan.
"Dan itu artinya kamu gak usah khawatir. Ibu pun percaya Fani sangat mencintai kamu, terlihat gimananya dia saat bersama dengan kamu. Juga dia pernah bilang, sampai kapanpun dia akan selalu setia sama kamu, karena mungkin ia mengingat kesalahannya dulu, kamu tau sendiri kan?"
Rayyan menganggukkan kepalanya. Tapi jika benar itu terjadi, aku gak akan sanggup bu." ujarnya dengan menunduk lemah.
"Ibu mengerti dengan perasaan kamu. Dan ibu sangat berterimakasih, karena kamu telah merawat dan menjaganya dengan baik, juga kamu telihat sangat mencintai anak ibu. Tapi jika benar itu akan terjadi. Percayalah ibu akan berdiri paling depan, untuk membantu mempertahankan rumah tangga kalian." papar Lusi serius.
Rayyan mengangkat wajahnya menatap perempuan yang sangat dihormatinya.
"Terimakasih ibu, aku sekarang cukup lega setelah bicara dengan ibu." katanya dengan tersenyum.
"Aku ijin keluar sebentar ya bu, titip Fani, jangan sampai lelaki itu berhasil masuk kembali."
"Silakan Nak, kamu juga butuh refreshing. Biar ibu saja yang menjaga istrimu. Dan kamu tenang saja, ada bapak juga disini, tapi ia sekarang lagi ke toilet." jawabnya.
Lantas Rayyan pergi keluar untuk mencari angin, ia berniat pergi ke taman yang ada dirumah sakit itu.
"Kamu?" tanya Rayyan menoleh.
"Maaf Pak gak sengaja." jawab Kinan.
"Kamu ngapain disini?"
"Saya kesini ... Ingin nengok istri anda Pak, boleh kan?" tanya Kinan dengan senyum yang di buat-buat agar terlihat manis di hadapan atasannya.
"Boleh silakan." titah Rayyan. "Tapi harus ganti dulu dengan pakaian khusus dan juga gak boleh berisik." paparnya.
"Ttt... tapi Pak?" tanya Kinan gugup.
"Ada apa?"
"Bapak gak kesana? Mmm...maksudku barangkali mau bareng." kata Kinan dengan salah tingkah. "Maaf kalau saya lancang." Kinan menundukkan kepalanya.
"Saya baru saja keluar dari sana."
"Baik Pak, kalau begitu permisi." Kinan pamit, dan melangkah ke ruangan dimana Fani berada.
__ADS_1
"Duuhh susah banget sih di deketinnya." keluh Kinan.
Ia pun semakin dekat dan sudah berdiri di depan pintu, namun ia tak memasuki ruangan itu, melainkan hanya melihatnya dari kaca, setelah itu pergi. Dan itupun tak luput dari pandangan orangtua Fani.
Sementara Sakti mendapat laporan dari pihak kepolisian bahwa pelaku yang menabrak Fani sudah ditangkap dan di jebloskan langsung ke penjara.
Ia pun memberitahukan hal itu kepada sahabatnya lewat sambungan telepon.
"Ada apa?" tanya Rayyan dengan suara lesu.
"Suaramu.... istrimu baik-baik saja kan?" tanyanya.
"Ya dia baik-baik saja. Hanya saja belum sadarkan diri sampai sekarang."
"Semoga cepat sadar dan bisa beraktifitas seperti biasanya."
"Aamiin." balas Rayyan. "Katakan ada apa?"
"Jadi lupa." kekeh Sakti.
"Jadi begini. Polisi baru saja menghubungiku memberitahukan bahwa pelaku yang menabrak istri kamu telah di amankan. Dab sekarang dia sudah di jebloskan kedalam penjara." papar Sakti.
"Itu info yang sangat bagus." kata Rayyan tersenyum.
"Tapi.... Maksudku. Apa kamu gak ingin tau siapa pelakunya?"
"Kamu benar, kenapa aku gak kepikiran kesana ya." balas Rayyan.
"Itu karena kamu sedang banyak pikiran. Jadi.... Kapan kamu akan kesana?"
"Besok, ya besok aku akan kesana. Aku sudah tak sabar siapa orang itu. Dan akan aku hajar dia." katanya emosi.
"Tenang, kamu harus tenang, jangan gegabah. Dia ada dikantor polisi. Jadi kamu harus tahan, jangan main hakim sendiri."
"Kamu gak tau perasaan aku, gimana hancurnya aku saat melihat istriku sendiri mengalami kecelakaan."
"Iya, tapi kamu juga harus sabar, harus tahan karena posisi kalian pasti ada dikantor polisi."
"Kalau tau begini, sebaiknya aku ikut, takut kamu melakukan yang tidak-tidak." jawab Sakti.
"Atur saja, jam berapa besok kita kesana."
"Baiklah." jawab Sakti, kemudian telepon terputus.
Kinan sudah berada diluar rumah sakit, dan matanya memindai dimana keberadaan Rayyan.
__ADS_1
Saat melihatnya, lantas ia tersenyum dan melangkah menghampiri Rayyan.