Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Sikap Lembut Rayyan.


__ADS_3

Hari ini, Rayyan dan Sakti akan ke kantor polisi, ingin tau, siapa yang telah menabrak istrinya.


Saat tiba dikantor polisi. Mereka pun masuk. Dan langsung saja menemui kepala kantor itu.


Mereka berdua menjelaskan tujuan mereka datang kesana.


Sang kepala kantor bernama Miftah mengangguk-anggukkan kepalanya. Lantas ia memberitahukan nama yang telah menabrak Fani.


"Dio?" tanya Rayyan sambil mengerutkan dahinya.


"Ya, dia laki-laki, namanya Dio Devanka. Berusia dua puluh lima tahun. Dan sedang menempuh pendidikan kuliah di jakarta." papar Miftah.


Rayyan menoleh pada Sakti. "Jangan-jangan dia ... Dio mantannya istriku. kurang ajar." umpatnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Tenang dulu, siapa tau, dia orang lain, kebetulan namanya aja sama. Dio." tukas Sakti menenangkan.


"Meski aku gak tau nama kepanjangan dia, tapi aku yakin, dialah orangnya." balas Rayyan sangat emosi.


"Pak, boleh aku bertemu dengannya?" tanya Rayyan.


"Tentu saja, tapi ingat, jangan buat keributan." titah Miftah dan dibalas anggukkan kepala oleh Rayyan.


Rayyan dan Sakti melangkah keruangan husus untuk menjenguk para napi disana. Mereka duduk menunggu.


Setelah beberapa menit, lantas, muncul lah lelaki yang lumayan tinggi itu, lantas duduk dengan menundukkan kepalanya.


Rayyan dan Sakti mengangkat wajah secara bersamaan, mereka terkejut setelah tau pemilik wajah itu. Lantas, Rayyan bangkit dan langsung melayangkan pukulan.


"Kurang ajar."


Bughhh


Sebuah pukulan tepat mengenai mulut bagian pinggir lelaki itu, sampai mengeluarkan darah karena cukup keras.


"Rayyan, ingat! Ini dimana?" tegur Sakti sambil memegang tubuh Rayyan.


"Biarkan saja, orang ini kena hukuman, lelaki macam dia tak pantas hidup tenang." teriak Rayyan.


Sementara Dio mengerti kenapa Rayyan sangat marah padanya. " Maafkan aku Rayyan, aku gak sengaja." ucap Dio menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sengaja ataupun tidak. Kamu tetap salah, istriku harus menjalani perawatan sampai dia sembuh, jalanpun, dia harus pakai kursi roda. Bahkan kamu pun telah membunuh anak kami. Istriku harus keguguran akibat kecelakaan itu, dan itu semua gara-gara kamu. Gara-gara kamu." Rayyan berteriak tak kuasa menahan amarahnya.


Polisi yang berjaga pun ikut menenangkannya. "Sudah Pak, dia sudah kami hukum sesuai ketentuan." ujar penjaga polisi itu.


"Tapi saya tidak puas Pak, dia harus dikasih pelajaran." Rayyan kembali melayangkan pukulan, namun kali ini tangannya berhasil dicekal oleh Sakti.


"Rayyan, aku tau kamu sangat marah, tapi jika kamu terus-terusan memukulnya, yang ada nanti kamu malah kena pasal. Ingat sama istri kamu dirumah, jika kamu tak ada disampingnya, lalu siapa yang akan merawat istri kamu." papar Sakti mengingatkan.


"Oke. Fani masih punya kedua orangtua. Tapi jelas beda jika yang selalu berada disampingnya itu kamu, suaminya sendiri." kata Sakti membuat Rayyan memejamkan matanya, dan perlahan melemah.


"Tenangkan dirimu. Polisi pasti akan melakukan hukuman sesuai tindak kejahatan para pelaku." kata Sakti.


"Bawa dia lagi Pak, saya muak lihat mukanya." titah Rayyan pada penjaga polisi disana.


Rayyan dan Sakti pun keluar dari ruangan itu. Lalu berpamitan pada Miftah juga polisi yang lainnya, setelah itu mereka pun naik kedalam mobil dan melesat meninggalkan tempat itu.


Dirumah, Fani seorang diri, ia merasa kesulitan saat akan bangun, apalagi, ia mau kekamar mandi karena tak tahan ingin buang air kecil.


Alhasil, Fani mencoba berjalan sendiri. Namun sia-sia, karena ia terjatuh, sehingga terus diulang dan tetap gagal.


Padahal kursi roda juga ada disana. Namun ia sengaja tidak memakainya karena ingin mencoba berjalan. dan tetap saja pasti terjatuh.


Namun ia teringat akan kata-kata Melisa yang menawarkan diri untuk menjadi istri suaminya.


"Apa aku ikhlaskan saja Melisa untuk suamiku. Tapi ... Aku benar-benar belum ikhlas." desisnya.


Suara klakson mobil terdengar, menandakan Rayyan sudah pulang.


Lelaki itu turun, dan ia segera masuk kedalam rumah, langkahnya tentu menemui sang istri terlebih dahulu.


Pintu ia buka, Rayyan terkejut melihat Fani yang sedang duduk diatas lantai.


Lantas ia pun mendekat. "Kamu ngapain disini sayang?" tanya Rayyan, kemudian membopong tubuh Fani dan meletakkannya diatas kasur.


"Apa kamu butuh sesuatu? Makanya bisa duduk dibawah." tanya Rayyan dan Fani mengangguk lemah.


"Memangnya sayang, butuh apa? Nanti Mas ambilkan, jangan berjalan sendiri lagi ya?" titahnya.


"Aku hanya ingin kekamar mandi Mas, itu saja. Tapi aku berusaha untuk berjalan sendiri. Terus berusaha dan Nyatanya kakiku tetap tidak bisa, lagi-lagi aku terjatuh." jawab Fani.

__ADS_1


"Sayang, panggil Mas, jika butub sesuatu atau ingin pergi kemanapun." kata Rayyan mengingatkan.


"Tapi kan kamu sedang keluar Mas." balas Fani.


"Kamu bisa telepom aku sayang, gak harus kayak gini." kata Rayyan sambil merangkul sang istri.


"Maafin aku Mas, aku selalu nyusahin kamu." ucap Fani menunduk.


"Ehh kok nyusahin sih? Kamu gak pernah nyusahin Mas, sayang." Rayyan tersenyum manis menatap sang istri.


"Mas, aku boleh minta sesuatu?" tanya Fani menoleh.


"Tentu saja, apa itu?"


"Tapi Mas janji mau menuruti keinginan aku?"


"Selagi Mas mampu dan bisa, Mas akan penuhi semua keinginan kamu. Kecuali ... Kamu meminta Mas menikahi perempuan lain dengan beralasan kamu tidak bisa melayani Mas lagi. Itu sungguh menyakitkan perasaan Mas, sayang." papar Rayyan sudah tau arah pembicaraan sang istri.


"Dengar! Sampai kapanpun, Mas hanya akan beristrikan kamu. Tidak akan ada perempuan lain, selain kamu." kata Rayyan penuh penekanan.


"Maafkan aku Mas, aku sudah sangat lancang sama kamu." lirih Fani.


"Gak papa sayang, lain kali jangan diulangi lagi ya?" kata Rayyan mengingatkan dan Fani menganggukkan kepalanya.


"Sayang udah mandi?" tanya Rayyan.


"Belum." jawab Fani.


"Kita mandi bareng yuk?" ajak sang suami.


"Ihh apaan sih Mas, malu tau." Tolak Fani yang tersipu malu.


"Kenapa malu, aku sudah tau kamu luar dalam." goda suaminya.


"Ishh, mulai." ujar Fani.


Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri. Rayyan pun segera membopong Fani menuju kamar mandi. Mereka berdua akan berendam bersama.


Karena sebuah masalah akan mencair jika yang satu tetap mengalah dan terus mengingatkan. Hingga akhirnya harus berakhir dengan pelepasan hormon meski tidak seperti biasanya mereka lakukan. Karena sang istri belum bisa melayani sang suami seperti selayaknya. Mereka lakukan itu dengan cara mereka sendiri. Dan hanya mereka berdua yang tau.

__ADS_1


__ADS_2