Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Kondisi Fani


__ADS_3

Melihat hal itu, Sakti langsung memapah Rayyan dan di letakkan di kursi tunggu lantas segera membangunkannya.


Selang waktu lima belas menit. Akhirnya Rayyan tersadar dan membuka matanya perlahan.


"Fani, Fani ... Dia gak papa kan? Dia baik-baik saja kan? Aku harus melihat istriku." desisnya dan bangkit.


"Nak, percayalah Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan istrimu. Bersabarlah, Fani pasti akan baik-baik saja." ujar Mirna mencegah sang anak untuk tidak masuk ke dalam ruangan itu.


"Tapi Fani bu, aku akan merasa berdosa sekali jika terjadi sesuatu dengannya. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri." lirih Rayyan sambil menggelengkan kepalanya.


"Ibu mengerti perasaanmu, ibu tau! Tapi kamu juga harus tenang, percayalah Fani mu akan baik-baik saja." Tukas Mirna dan Rayyan kembali duduk.


Lusi menyeka sudut matanya, bahagia sekaligus terharu akan kecintaan Rayyan pada anaknya.


Dokter pun keluar dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Rayyan segera bangkit dan mendekat ke arah sang Dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Rayyan cemas.


"Anda suaminya?" tanya Dokter itu bernama Hendrik.


"Iya Dok, saya suaminya." jawab Rayyan dengan perasaan tak sabar akan keadaan sang istri.


"Baik, saya harus sampaikan ini kepada anda. Mari ikut keruangan saya."titah Dokter Hendrik.


Rayyan mengikuti kemana langkah Dokter itu. Dan mereka berdua sudah ada didalam ruangan.


"Silakan duduk, maaf dengan Bapak?" tanya Dokter Hendrik.


"Rayyan." katanya dengan mengangguk sopan.


Rayyan duduk dengan perasaan cemas takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Baik Pak Rayyan. Jadi begini, saya akan menjelaskan secara detail mengenai kondisi istri anda." papar Dr Hendrik membuat Rayyan menarik napas berat.


"Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Ternyata istri anda sedang hamil. Dan sudah memasuki minggu kedua." papar Dr Hendrik serius.


Rayyan terperanjat. "Hamil Dok?" tanyanya.


"Ya, tapi sayangnya janinnya sudah tidak tertolong mungkin karena kecelakaan yang istri anda alami sehingga mengalami pendarahan yang cukup hebat, dan terpaksa kami melakukan kuretasi, karena jika di biarkan akan berdampak pada kesehatan istri anda sendiri." papar Dr Hendrik serius membuat Rayyan menunduk tak kuasa menahan airmatanya,

__ADS_1


"Semua karena kesalahan saya Dok, saya tidak bisa menjaga istri saya. Saya telah membunuh anak saya sendiri." katanya terisak.


"Bersabarlah Pak, ini semua sudah takdir yang kuasa, tidak ada yang perlu kita salahkan. Tapi ada satu hal lagi yang harus saya kasih tau, soal kondisi istri anda." ujar Dr Hendrik dan Rayyan langsung mengangkat wajahnya.


"Mungkin untuk sementara waktu istri anda akan sulit untuk berjalan, karena ada cidera yang cukup serius didalam organ pinggulnya akibat benturan cukup keras."


Rayyan tercekat mendengar penuturan sang Dokter, ia pun semakin merasa bersalah atas kebodohan dirinya sendiri.


"Apa istri saya mengalami kelumpuhan Dok?" tanya Rayyan dengan bibir gemetar.


"Dari yang saya amati, Mungkin untuk sementara waktu ... ya."


"Allah ... " desis Rayyan dengan mengusap kasar wajahnya.


"Itu masih kemungkinan Pak, semoga saja tidak terjadi demikian." papar Dr Hendrik sambil menepuk pundak lelaki di hadapannya.


"Apa nanti bisa normal lagi Dok?" tanya Rayyan.


"Bisa, asal istri anda rutin melakukan terapi, dan harus selalu semangat, jaga pola makan juga jangan stres." papar Dr Hendrik.


"Dan ini resep obatnya." kata Dr Hendrik sambil memberikan resep obat itu.


"Iya sama-sama. Semoga istri anda cepat sembuh. Dan bisa melayani anda kembali karena sepertinya Pak Rayyan sangat mencintai sanh istri." ujar Dr Hendrik tersenyum.


"Anda benar Dok, saya sangat mencintai istri saya, makanya saya gak mau kehilangan dia." katanya.


"Luar biasa, tapi jangan sampai Allah cemburu karena cintanya lebih besar kepada istri anda. Dibanding sang pencipta." kata Dr Hendrik mengingatkan.


"Astaghfirullaahh kata-kata anda sangat menyentuh sekali. Mungkin iya karena cinta saya lebih besar kepada istri saya, makanya diberikan ujian seperti ini. Terimakasih Dok, sudah mengingatkan saya." kata Rayyan menunduk lemah.


"Kalau begitu saya pamit Dok. Terimakasih." katanya, lalu pamit dan keluar dari ruangan itu lantas kembali ke tempat dimana istrinya itu berada.


***


Sakti sudah kembali lagi bekerja, sementara Rayyan untuk sementara waktu akan cuti lama mengingat sang istri masih terbaring dirumah sakit. Jadi mau tak mau Sakti yang akan mengurus semuanya.


"Bapak sudah pulang? Bagaimana keadaan Fani?" tanya Kinan saat melihat kedatangannya.


"Sebelum saya kesini. Fani masih tak sadarkan diri." ujarnya.


"Memang separah apa sih Pak?"

__ADS_1


"Do'akan saja, semoga lekas membaik dan segera sadar." ujar Sakti lalu ia melangkah menuju ruangan Rayyan.


"Kesempatan bagus, aku harus menjenguknya dan pura-pura peduli. Padahal tujuanku tentu saja ingin ketemu Rayyan. Ohh wahai kamu yang ada disana. Pesonamu sungguh membuatku tak bisa melupakanmu." kekehnya dengan tersenyum memeluk dirinya sendiri sambil membayangkan jika menjadi istri dari Rayyan Adhiwitama.


Masih tentang rumah sakit. Semua orang yang ada disana langsung menoleh dengan kedatangan Rayyan dan menanyakan kondisi yang di alami Fani.


Rayyan pun menjelaskan semuanya apa yang tadi Dokter Hendrik bilang. Dengan sedikit isakan karena ia tak tahan menahan airmata yang sedari tadi ingin kaluar.


Lusi, Wahyu, Mirna dan juga Farhan terdiam mendengar penuturan Rayyan. Dan saling memeluk satu sama lain. Tentu mereka sangat mencemaskan Fani.


"Sakti gak ada?" tanya Rayyan disaat isakannya sudah mulai reda.


"Tadi dia ijin pamit, katanya ada kerjaan yang gak bisa ditinggalkan." Jawab Lusi.


Lalu Rayyan menoleh pada perawat yang keluar dari ruangan itu.


"Sus. Saya boleh masuk?" tanya Rayyan.


"Silakan Pak, tapi satu orang dulu ya? Dan harus ganti baju dulu pakai pakaian khusus." papar suster itu.


"Baik Sus, terimakasih." balas Rayyan.


Ia pun memasuki ruangan untuk mengganti baju yang sudah disiapkan disana untuk mengunjungi pasien.


Setelah usai, ia langsung melangkah memasuki ruangan dimana ada sang istri disana.


Ia buka knop pintu itu, dan matanya langsung melihat pemandangan yang sungguh tak dia pikirkan akan terjadi sesuatu seperti sekarang ini.


Rayyan mendekat perlahan dengan tatapan sendu menatap sang istri yang terbaring lemah tak berdaya.


Ia sentuh tangan sang istri, ia kecup perlahan dan akhirnya lelehan bening itu pun kembali keluar mengenai pipinya.


"Maafkan aku, maafkan aku." lirih Rayyan dengan mata berembun.


lalu ia kecup keningnya dalam-dalam, lalu bibirnya yang selalu ia rindukan saat bertemu dengannya.


"Aku janji, aku akan selalu menjaga kamu, aku tidak akan meninggikan suaraku lagi. Aku akan selalu membuatmu tersenyum bahagia, bukan lagi tangisan seperti kemarin." ujarnya sambil terus menatap wajah sang istri.


Namun ... ada yang membuka pintu. Dan berdiri seorang lelaki yang baru saja Rayyan temui kemarin. Pintu pun di tutup oleh lalaki itu.


"Kalau kamu tak bisa menjaganya, biar aku saja yang menggantikan posisimu." Ujar lelaki itu membuat Rayyan menoleh.

__ADS_1


__ADS_2