
Dengan langkah gontai, terpaksa Rayyan pergi dari resto miliknya, padahal niatannya mengawasi istrinya dari jauh.
Pada pukul 13:00 Setibanya dirumah ibu mertua, Rayyan langsung masuk kedalam rumah dan disuguhkan kondisi bapak mertua sedang duduk menyender diatas sofa ruang tamu dalam keadaan pingsan
"Bagaimana ceritanya bu, bapak bisa pingsan?" Tanya Rayyan
"Dulu sih pernah juga begini, pas saat bapak telat makan, tapi sampai sekarang gak pernah kambuh, baru kali ini" isak Lusi
"Kita bawa bapak ke rumah sakit, ayo"
Rayyan menggendong wahyu dibelakang punggungnya menuju mobil dan langsung mendudukkan wahyu didalam mobilnya, tapatnya dibelakang kemudi, kemudian diikuti Lusi, dan duduk disisi sang suami, sementara Rayyan yang menyetir
"Ray, Fani kemana, dari tadi ibu telepon kok tidak di angkat" tanya Lusi
"Tadi sih katanya ada janjian sama temannya bu"
Bagaimana mau diangkat, anaknya saja lagi bahagia bertemu si jantung hati, tapi Rayyan tidak mau kasih tau ibunya, cukup dia saja yang tau
"Nindy bukan?" Tanya Lusi sambil menoleh menatap Rayyan, karena seingat Lusi memang hanya Nindy yang dekat dengan Fani
Dulu sih sama Kinan juga, tapi tau kan gimana Kinan.
Rayyan mengangguk
"Yaudah gih telepon Nindy, kasih tau Fani kalau bapak pingsan, dan sekarang mau kerumah sakit" pinta Lusi
"Aku gak tau nomor teleponnya bu"
"Yaudah telepon Fani nya langsung"
"Tapi bu,,,"
"Kok ada tapi an, dia itu kan istri kamu"
"Bukan gitu maksud Rayyan bu, tadi kan ibu bilang, tidak diangkat, ya pasti Rayyan juga, mungkin dia sibuk" ucap Rayyan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal
Bagaimana mungkin dia kasih tau yang sebenarnya
"Ya siapa tau sekarang diangkat"
Sementara ditempat lain, sepasang manusia yang juga belum beranjak dari resto RRF
"Maaf yang tadi" ucap Dio, karena berani menggenggam tangan Fani
"Tolong sekarang juga kamu pergi" ucap Fani dengan kesal tapi tidak berani menatapnya
"Fan, please kasih aku kesempatan sekali lagi, aku mohon, aku akan perbaiki hubungan kita"
Dio tidak tau dengan pernikahan Fani dan Rayyan, karena memang diadakan secara sederhana dan tertutup, undanganpun tidak sembarang orang mereka undang, benar benar hanya dari keluarga dekat saja
"Nindy kemana sih, apa sengaja dia ke toilet selama ini, biar aku bisa berduaan dengan dia" ucap Fani dalam hati
"Fan,,,,"
"Dio, cukup"
Fani mengangkat kelima jarinya, supaya berhenti bicara, dia tidak mau terhanyut suasana, meski hatinya menginginkannya.
"Aduuhh maaf, perut aku sakit banget dari tadi" ucap Nindy datang tiba tiba
"Sengaja kan?" Tanya Fani menoleh
"Beneran Faniii,,, masa aku bohong, tadi lama karena aku sempet beli obat dulu untuk pereda mules, nih obatnya" jawab Nindy dengan memperlihatkan obat ditangannya yang barusan dia beli
"Yaudah, ayo kita pergi" ucap Fani
"Ehhh tapi kan belum selesai makan, apalagi makanan kamu masih utuh"
"Udah gak selera"
Fani langsung beranjak dari tempat duduk dan berjalan dengan cepat, berharap cepat menjauh dari Dio, tapi kemudian berhenti karena mendengar hanphone nya berdering
__ADS_1
"Hallo Assalaamu'alaikum mas"
"Wa'alaikumsalam, kamu dimana sekarang"
"Ini aku mau pulang mas,"
"Sendiri?" Tanya Rayyan
"Iyalah sendiri mas, sama siapa lagi, Nindy paling cuma antar sampai halte tadi, katanya dia ada urusan"
"Ohhh"
"Oh? Hanya itu?"
"Apalagi memangnya?"
"Tidak mau jemput aku gitu?"
"Mas kok diem" ucap Fani heran karena Rayyan diam saja
Fani dibuat bingung oleh Rayyan, ada apa sebenarnya, kenapa tanggapan suaminya seperti itu, jangan sampai Rayyan tau, kalau dia abis ketemu Dio
"Mas, ada apa sebenarnya?"
"Mas lagi menuju rumah sakit"
"Hah?? Siapa yang sakit?"
"Bapak"
"Bapak kenapa?" Tanyanya cemas
"Bapak tadi tiba tiba pingsan, setelah pulang kerja"
Ya pas saat masih kerja, Wahyu ijin duluan karena merasa pusing, jadi cepet pulang, pas tiba didalam rumah langsung pingsan
"Rumah sakit mana mas, aku segera kesana"
"Fan, ada apa?"
Tanya Nindy, yang sudah berdiri disampingnya.
"Bapak pingsan, dan sekarang lagi dibawa kerumah sakit"
"Kalau gitu, ayo kita kesana"
"Tapi kan kamu ada urusan"
"Ahh itu mah ntar gampang, yang penting kamu"
"Makasih ya Nin, kamu teman terbaik" ucap Fani tersenyum sambil memeluknya
"Yaelaahhh pake paluk peluk segala, cepetan langsung ke mobil"
Mereka pun menaiki mobil, menuju rumah sakit yang sudah dikirim alamat oleh Rayyan
Rumah sakit medical center
Sementara pria yang juga tidak beranjak dari duduknya, menatap punggung wanita yang dicintainya perlahan pergi menjauh
"Aku tidak akan menyerah Fan, tidak akan" gumam Dio
Seorang wanita dari kejauhan tersenyum kecut menatap Dio.
"Sebegitu cintanya kah kamu sama dia, sampai apa yang pernah kita lakukan, seperti tak ada apa apanya" ucap Kinan sambil menyeka sudut matanya
Dia pergi dengan membawa rasa sakit dihatinya, pria yang dia perjuangkan tak juga dia dapatkan hatinya
Sungguh kecewa dengan nasibnya, mengapa semua orang seolah selalu berpihak pada Fani
"Kenapa Tuhan, kenapa? Kenapa nasibku tidak seberuntung dia" isaknya pelan
__ADS_1
Kinan ingat dengan masa lalu ibunya, ibunya sempat memiliki hubungan dengan Wahyu, tapi ditinggalkannya begitu saja, karena orangtua wahyu tidak setuju dengan ibunya Kinan, lalu dijodohkanlah Wahyu dan Lusi, lambat laun mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah
Tapi tidak untuk Kanita ibunya Kinan, dia terus saja menangis sepanjang hari, sampai akhirnya dipertemukan dengan lelaki yang perlahan mau membantunya bangkit dari masalahnya, lalu keduanya komitmen untuk menikah, dan akhirnya menikah, kemudian punya anak. Yaitu Kinan.
Tapi sepanjang pernikahan mereka, Kanita tidak bisa melupakan Wahyu, lalu suaminya menemukan foto Wahyu dibawah bantal, sampai akhirnya marah besar, karena saat ditanya, Kanita mengakui kalau dia masih mencintai Wahyu
Dia pikir istrinya sudah melupakan Wahyu dan sudah mencintainya, tapi dia merasa dihina seolah jadi pelarian istrinya, kemudian pergi dari rumah dengan motornya, tapi ditengah perjalanan. Suaminya terjadi kecelakaan dan meninggal ditempat
Dan saat itu usia Kinan masih tujuh tahun, sampai akhirnya mereka pun harus banting tulang mencari nafkah demi kelangsungan hidup, dengan jadi tukang sayur keliling, karena sang pencari nafkah telah tiada
Ayah Kinan hanya pekerja bangunan, meski dikasih uang pesangon oleh boss nya, tapi siapa yang akan memberi mereka uang lagi, kalau mereka tidak bekerja, bukan kah uang pesangon juga jika lama kelamaan akan habis tak bersisa untuk kehidupan mereka
Sesekali Kinan ikut berjualan dengan ibunya, bahkan bila ibunya membuat gorengan. Kinan lah yang menjajakkan jualannya
Pikir Kinan, semua berawal dari Wahyu, hingga menyebabkan sang ayah tiada
Maka dari itu dia sangat benci dengan keluarga Fani.
***
"Ibu, bapak kenapa bu??" Tanya Fani khawatir dengan keadaannya setelah tiba diruang rawat dengan Nindy
"Bapakmu baik baik saja nak, kata dokter dia hanya kelelahan juga telat makan, karena kata dokter asam lambungnya kumat" jawab Lusi
"Alhamdulillaahh syukurlah, tapi kenapa sekarang kambuh lagi bu, bukannya dari dulu bapak sudah sembuh, karena tidak pernah kambuh lagi?" Tanya Fani serius
"Ibu juga tidak tahu, tapi nanti kita tanyakan sama bapak, setelah bapak siuman"
Lusi menoleh ke arah wanita yang berdiri disamping anaknya.
"Nindy kan?" Tanya Lusi
"Iya tante" jawab Nindy tersenyum
"Sudah lama kita tidak ketemu, kenapa tidak pernah main lagi kerumah tante?" Ucap Lusi tersenyum
"Iya tante, maaf sedikit sibuk, lain kali aku main kerumah tante" jawab Nindy tersenyum juga
"Dengan senang hati,,, rumah tante selalu terbuka buat kamu, kapanpun kamu mau"
"Iya,, makasih tante, semoga suami tante cepat sembuh, kalau gitu aku pamit dulu ya tan, ada urusan" ucap Nindy mengangguk sopan
"Iya silahkan, terimakasih sudah mau direpotkan antar anak tante kesini"
"Tidak direpotkan kok tan, malahan senang bisa ketemu lagi sama tante Lusi, kalau begitu aku pamit dulu, Fan aku duluan, Assalaamu'alaikum"
"Iya makasin Nin, Wa'alaikumsalam"
Setelah Nindy pergi, mereka mengobrol membahas apa yang dikatakan dokter tadi
"Bu, mas Rayyan mana?" Tanya Fani karena baru sadar suaminya tidak ada didalam
"Tadi sih ijin ke toilet"
Pintu pun perlahan terbuka, dan datanglah sosok pria tampan dengan jambang yang sedikit dipotongnya, terlihat begitu mempesona dimata wanita diluar sana, tapi bagi Fani seolah biasa saja
Fani menoleh ke arah pintu
"Mas" ucap Fani mendekat. Lalu mencium punggung tangannya. "Dari mana?"
"Toilet sebentar"
"Sudah makan?"
"Belum" jawab Rayyan dengan senyum paksa
Hatinya masih sakit mengingat Foto itu
"Kalau gitu kita makan dulu, aku juga belum makan dari tadi siang"
Belum makan? bukannya tadi pergi ke resto dan makanan ada dihadapannya
__ADS_1
Rayyan berpikir Fani membohonginya lagi, supaya tidak ketahuan kalau dia habis berduaan dengan Dio.