Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
22. Perdebatan


__ADS_3

Melisa yang sudah berada didepan pintu itupun ia membukakan pintunya, terlihat sepasang suami istri sedang bermesraan yang memang Rayyan lupa untuk mengunci pintunya.


Rayyan dan Fani terkejut, dan melepaskan pagutannya lalu menoleh pada siapa yang datang.


Melisa membuang pandangannya. dan menoleh lagi kearah mereka.


Sakti sudah berada dibelakang Melisa. "Maaf tadi dia maksa untuk datang keruangan ini, dan berlari, saya kejar tapi karena ada pelanggan yang bertanya, jadi saya berhenti dulu melayaninya." Papar Sakti tak enak hati.


"Tak apa." Ucap Rayyan.


"Mau apa kamu kesini? Tidak ada sopan-sopannya langsung masuk saja." Ujar Rayyan.


"Aku kesini mau menagih janji istrimu." Jawab Melisa menoleh kearah Fani.


"Janji?" Tanya Rayyan menatap Melisa, lalu Fani.


"Tidak mas, aku tidak ada janji sama dia." Ujar Fani memegang lengan Rayyan.


"Kamu lupa chat kita tadi malam?"


"Tapi aku tidak buat janji sama kamu."


"Baiklah mungkin disini saja." Ujar Melisa.


"Mau apa kamu?" Tanya Rayyan kesal.


"Santai dong, kalau gak bikin salah harusnya santai." Kata Melisa menyunggingkan senyuman.


Melisa mengambil ponsel yang ada didalam tasnya, lalu ia mencari dimana foto yang akan dia tunjukkan pada Fani.


Rayyan tahu apa yang akan diperlihatkan oleh Melisa karena semalam membaca chat mereka. Iapun merebut ponsel itu.


"Siniin gak?" Melisa berusaha mengambil ponselnya, tapi sayang tubuhnya tidak setinggi Rayyan, karena Rayyan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.


"Lihatlah suamimu, kalau dia merasa tidak melakukan sesuatu, harusnya tidak melakukan itu." Melisa tersenyum sambil menatap kearah ponselnya.


"Mas, balikin." Pinta Fani. Karena Melisa benar, harusnya Rayyan tidak melakukan itu jika dia diposisi yang benar.


"Tidak sayang mas tidak akan mengembalikannya."


"Berarti ucapan Melisa benar, bahwa mas ada sesuatu."


"Tidak sayang, jangan percaya padanya. Dia perempuan gak benar."


"Gak benar katamu?" Cebik Melisa, "lalu apa sebutan yang pantas untuk kelakuan kamu yang dulu."


"Itu masalalu, tidak usah diungkit-ungkit."

__ADS_1


"Justru aku ingin mengungkitnya agar kamu sadar bahwa kamu pun dulunya bukan lelaki baik-baik." Tukas Melisa.


"Mas, tolong balikin gak?" Tangan Fani meminta pada Rayyan untuk mengembalikan ponsel milik Melisa.


"Nggak sayang."


"Mas, kalau kamu benar-benar mencintaiku dan masih ingin disisiku, tolong balikin." Pintanya lagi.


Mendengar hal itu Rayyan terpaksa mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.


Melisa tersenyum puas karena Fani lebih percaya padanya. Iapun tak akan menunggu waktu lagi, lalu dengan sekali tekan foto itu langsung muncul dan ia kasihkan ke Fani.


Fani menerima ponsel itu dan menatap foto itu, ia tak percaya dengan kelakuan suaminya meski itu masalalu, kini yang ada di pikirannya Rayyan saat menikah dengannya berarti sudah berhubungan terlebih dahulu dengan Melisa, padahal itu salah, itu hanya kelakuan Melisa saja.


"Mas." Ucap Fani menatap wajah suaminya sendu. Ada bulir bening disudut matanya.


"Apa benar difoto ini mas?" Tanya Fani menahan isakan. Sakit sungguh sakit yang kini ia rasakan.


"Tidak sayang, mas tidak pernah melakukan itu dengan dia, dengan perempuan manapun." Rayyan mencoba menjelaskan.


"Tapi foto ini, jelas ini bukan foto rekayasa." Akhirnya Fani terisak, tak kuat menahannya lagi. Ia pun rubuh dan ponsel itupun terjatuh.


Melisa tersenyum puas melihat perdebatan keduanya


"Puas kamu." Bentak Rayyan.


"Dasar perempuan licik, dosa apa aku dulu sehingga bisa mengenal perempuan licik sepertimu." Teriak Rayyan hendak melayangkan tangannya, namun...


"Mas, hentikan." Fani yang masih duduk itupun ia mencoba untuk bangkit, lalu memegang tangan Rayyan meminta untuk tidak melakukan hal itu.


Rayyan pun menurunkan tangannya dan memejamkam mata. Menarik napas lebih dalam.


"Sayang kamu percaya sama mas, mas tidak pernah melakukan itu sama dia." Rayyan memegang kedua bahu Fani. Sementara Fani hanya diam membisu dengan isakan yang dari tadi keluar.


"Sakti tolong kamu bawa perempuan ini keluar." Titah Rayyan yang dibalas anggukkan oleh Sakti.


Melisa pun diajak Sakti untuk keluar dari ruangan itu. Melisa langsung menurutinya karena tujuannya sudah selesai. Iapun pergi.


Sementara didalam ruangan Fani masih terlihat shock dan ia memilih untuk duduk diatas sofa.


Rayyan mendekat hendak memegang bahunya.


"Jangan sentuh aku." Sentak Fani mengangkat satu tangannya.


"Sayang tolong percaya sama aku. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan." Rayyan duduk bersimpuh dihadapan sang istri.


Fani memalingkan pandangannya. Ia berdiri dan hendak melangkah. Namun tangannya dicekal oleh Rayyan.

__ADS_1


"Lepasin Mas." Fani mencoba melepaskan tangannya. Tapi tangan itu tidak mau melepasnya.


"Jangan pergi sayang aku mohon."


"Aku ingin pulang Mas, untuk menenangkan diri." Ujarnya dan tidak mau sedikitpun menatap wajah suaminya.


"Baiklah kalau itu maumu. Tapi tolong jangan tinggalin aku." Rayyan memejamkan matanya lalu lelehan beningpun tengah berada didepan matanya. Baru kali ini Rayyan menangis karena perempuan selain ibunya.


Fani pun beranjak dari sana dan langsung keluar menuju parkiran, tapi dia tidak jadi pulang, melainkan pergi ke suatu tempat yang menurutnya cocok untuk merenungi masalah yang ada.


Setelah sampai. Fani pun memilih duduk agak jauh, untuk menghindari keramaian. Ya Fani sedang berada disebuah taman, tak jauh dari resto suaminya berada.


"Kamu tega Mas, kamu tega." Gumam Fani menahan isakan, tangannya pun tak hentinya mengusap wajahnya.


"Apa yang harus aku lakukan Ya Rabb. Aku bingung, aku sangat mencintai Mas Rayyan, tapi aku sakit mengingat foto itu." Bahunya bergetar, isakan yang tadinya pelan kini mulai terdengar.


"Fani. Kamu Fani kan?" Tanya seorang lelaki yang berdiri dihadapannya. Lalu Fani mengusap wajahnya dan mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang.


"Iya kamu Fani kan?" Tanyanya lagi. Tapi Fani lupa dia siapa. Ia pun menatap wajah itu dengan mengerutkan dahinya, mengingat-ngingat siapa yang kini ada dihadapannya.


"Aku Fathan. Masa kamu lupa." Ujar lelaki itu.


"Fathan? Fathan Alhusayn?" Tanya Fani.


"Ya aku, siapa lagi."


"Ya ampun, jadi beneran ini kamu." Fani membekap mulutnya dan mulai tersenyum kembali.


"Kenapa memangnya? Ada yang beda? Aku rasa tidak ada." Ujar Fathan sambil melihat dirinya sendiri.


"Nggak. Cuma mungkin aku yang lupa saja karena sudah lama kita tidak pernah bertemu."


"Boleh aku duduk?"


Fani menganggukkan kepalanya.


"Kamu kenapa? Sepertinya habis nangis?"


Fani tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak kok, ini hanya kelilipan." Ujar Fani sambil mengucek matanya.


Tapi Fathan tidak bisa dibohongi. Ia tahu, pasti Fani habis nangis, matanya pun terlihat sembab dan merah. Tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh, takut tersinggung karena mungkin masalah pribadi.


Ya, Fathan dan Fani dulunya teman sekelas juga. Dan Fathan sempat menaruh hati padanya. Tapi karena terlihat Fani sangat mencintai Dio, iapun mundur, dan tidak mau merusak kebahagiaan Fani.


Tapi kini, ia harus kembali bertemu lagi dengan orang yang dulunya sangat ia cintai bahkan mungkin sampai sekarang rasa itu masih ada dihati Fathan.

__ADS_1


__ADS_2