Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Masih Ada Cara Lain


__ADS_3

Kemudian, Fani pun menceritakan semuanya, dari mulai dirinya saat bicara dengan Fathan, lalu Rayyan salah paham, lalu dari situ Fani pergi, tapi malah berujung kecelakaan dan membuat Fani keguguran. Juga Melisa yang datang menawarkan diri untuk menjadi madunya. Karena gadis itu bilang, Fani tak mungkin bisa melayani suaminya lagi, lantaran dirinya masih duduk diatas kursi roda.


Semua itu Fani ceritakan dengan deraian airmata, membuat Nindy pun sama, ia menangis seketika mendengar penuturan tersebut.


"Kurangajar sekali si Melisa. Biar aku yang kasih pelajaran sama dia." geram Nindy.


"Aku gak tau harus berbuat apa Nin, sementara Mas Rayyan juga butuh pelepasan, tapi aku ... " Fani menunduk dengan isakan yang memilukan.


"Kenapa kamu mikirin hal itu, aku yakin, Rayyan akan setia sama kamu Fan, aku minta kamu untuk tetap fokus sama kesembuhan kamu. Jangan mikirin yang aneh-aneh." ucap Nindy menasehati Fani yang malah terdengar minder.


"Tapi Melisa benar Nin." isak Fani.


"Kamu siap? Jika suami kamu beneran menikahi Melisa?" tanya Melisa sedikit kesal karena Fani terus saja seperti itu.


Fani menggelengjan kepalanya. "Aku gak siap Nin, aku gak siap." lirihnya.


"Maka dari itu, kamu harus kuat, kamu harus buktikan didepan Melisa. Bahwa kamu bukan wanita yang mudah putus asa, bila perlu kamu panas-panasin dia. Supaya dia tau, bahwa kamu gak bisa ia tindas begitu saja." kata Nindy membangkitkan semangat sahabatnya yang sempat padam.


"Dan satu lagi, saat suamimu pulang nanti. berusahalah untuk senangkan suamimu dengan cara lain, bukan harus selalu cara yang sama kan? Pasti ada cara lain. Kamu paham kan, maksud aku?" tambah Nindy.


Fani tersenyum menatap sahabatnya. "Kamu ternyata sangat pintar Nin, padahal kamu sendiri belum menikah. Sedangkan aku yang sudah lama menikah, masih bodoh saja." kekeh Fani yang sudah mulai tersenyum.


"Aku belajar dari mama ku, saat mereka bertengkar dengan papa dulu." jawab Nindy.


Nindy melihat jam di tangannya. "Rayyan suka pulang dulu gak, kalau siang?" tanyanya menatap wajah Fani yang sudah tidak sedih lagi seperti tadi.


"Biasanya sih pulang dulu." jawab Fani.


"Nahh, cocok. Ayo, aku mau ke kamar kalian." ajak Nindy.


"Ehh mau ngapain?"


"Udaaahh nurut aja. Gak ngapa-ngapain kok, tenang aja."


Nindy pun mendorong kursi roda itu, dan masuk kedalam kamar. Kemudian ia membuka lemari pakaian. "Maaf ya, aku buka sebentar, mau cari sesuatu." kata Nindy.


Sementara Fani hanya menatap Nindy dengan keheranan.


"Naahh ini dia." kata Nindy sambil menatap pakaian dinas malam milik Fani.


Lantas, Nindy pun mendekat kearah Fani. "Nahh, sekarang kamu pakai ini ya?" titahnya sambil memberikan pakaian dinas malam tersebut.

__ADS_1


"Hah? Aku pakai ini? Untuk apa?" Fani membelalakan matanya.


"Untuk senangkan suamimu lah! Udah sini biar aku yang pake-in."


"Ih ogah ah malu." tolak Fani.


"Ngapain musti malu sih! Dia kan suami kamu."


"Tapi aku malu Nin."


"Terus, kenapa kamu bisa punya baju ini? Katanya malu."


"Itu Mas Rayyan yang beli-in, itu juga hanya satu kali aku pakai."


"Nah cocok, sekarang kedua kali kamu pakai, pasti suami kamu senang lihat kamu seperti ini. Ingat! Kamu gak mau kan? Suami kamu jatuh ke pelukam orang lain?" Tekan Nindy membuat Fani pun pasrah dengan permintaan sahabatnya.


Setelah usai ganti baju, lantas Fani pun meminta selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Gak boleh." tegur Nindy.


"Nin, malu." rengek Fani.


"Udah ah, aku mau pergi, selamat bersenang-senang." pamit Nindy tersenyum sambil melambaikan tangan. Lantas ia pun keluar dari dalam kamar, dan melangkah menuju pintu, ia pun keluar dari rumah itu, dan naik kedalam mobil, setelah itu pergi.


Benar saja, suara deru mobil pun terdengar dari luar. Membuat degupan jantung Fani tak baik-baik saja. Meski mereka sudah tau satu sama lain. Tapi Fani saat ini beneran sangat malu karena sudah lama tak melakukan itu dengan suaminya.


"Sayang, aku pulang nih, dimana kamu sayang." panggil Rayyan. Lalu melonggarkan dasinya karena terasa sesak.


Ia pun mencari sang istri ke taman, karena biasanya selalu berada disana.


Namun tak ada. Lalu ke ruang tv, tetap tidak ada.


"Sayang, kamu dimana?" teriak Rayyan memanggil istrinya, namun tetap tak disahut.


Rayyan pun melangkah kedalam kamar. Ia buka pintunya lalu masuk. Dan tatapan Rayyan langsung tertuju pada sang istri yang sedang duduk menghadap jendela kamar. Namun tubuhnya ditutup selimut. Membuat Rayyan panik, karena ia pikir, istrinya sedang sakit.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Rayyan mendekat dan berjongkok disamping Fani lalu tangan Rayyan memegang kening Fani. "Tapi gak panas kok."


"Aku gak sakit Mas." ucap Fani.


"Tapi kenapa tubuhmu ditutup selimut? Kamu kedingina" tanya Rayyan memeluk sang istri.

__ADS_1


"Ihh Mas, lepasin, aku malu." keluh Fani, dan Rayyam melerai pelukannya.


"Malu?" tanya Rayyan menyipitkan mata dan Fani mengangguk.


Lalu mata Rayyan menatap selimut yang terus digenggam erat oleh Fani. Dan tangan itu pun perlahan mendekat pada selimut itu lalu Rayyan memegangnya, dengan perlahan ia pun membuka selimut yang dari tadi menutup tubuh istrinya. Seketika Rayyan menalan paksa salivanya menatap tubuh sang istri yang hanya memakai gaun yang sangat tipis.


"Ihhh tatapanya gitu amat." kata Fani memeluk tubuhnya sendiri.


"Aku suka sayang, kok malah ditutup." puji suaminya memegang tangan sang istri agar tidak menutup tubuhnya sendiri.


"Ide siapa ini?" tanya Rayyan membelai surai panjang milik sang istri.


"Nindy." kata Fani menunduk. "Dia tadi datang kesini. Katanya harus senangkan suami."


"Dia benar sayang, aku suka lihat kamu seperti ini." kata Rayyan tersenyum.


"Ihh tapi kan ini idenya Nindy bukan ide aku. Udah sana jangan dekat-dekat." tegur Fani memanyunkan bibirnya.


Rayyan pun tersenyum karena tau sang istri tengah cemburu. Lantas ia pun berdiri dan menggendong sang istri ala bridal style.


"Eh ehh kok." kata Fani terkejut didalam gendongan suaminya.


Rayyan tak peduli akan ocehan istrinya. Ia pun merebahkan sang istri dengan pelan. Lantas ia sendiri tidur disampingnya dengan posisi meringkuk menghadap Fani.


Seketika Rayyan memeluk Fani sambil tangannya menyentuh setiap inci bagian tubuh yang biasa ia sentuh. Membuat Fani mengeluarkan suara yang membuat suaminya semakin bergairah.


"Mas." lirih Fani menatap suaminya yang sedang bermain diatas tubuhnya.


"Kenapa sayang?" tanya Rayyan dengan napas berat.


"Aku belum bisa melayani kamu seperti biasa." bisik Fani sambil memalingkan pandangan, tak kuasa melihat sang suami sedang dalam ON, sementara ia sendiri belum bisa melayani sepenuhnya lantaran kakinya belum sepenuhnya bisa digerakkan.


"Kita pakai cara lain." bisik Rayyan ditelinga Fani, dan kini keduanya sudah tidak mengenakan pakaian apapun.


"Maksud Mas?"


Lalu tangan Rayyan meraih tangan Fani, menuntunnya agar dirinya bisa melepaskan hormon testosteronnya.


Fani pun tersenyum dan mengangguk. Baru kali ini ia paham. Lantas suaminya kembali menikmatinya meski dengan cara lain, tapi buatnya itu sama saja, meski beda sedikit dengan biasanya.


Setelah usai. Rayyan pun kembali rebahan dengan nyaman disamping Fani. Namun terdengar bunyi dari dalam perutnya.

__ADS_1


"Ya ampun, tujuanku pulang siang kan ingin makan siang sama istri. Ehh malah istrinya sendiri yang dimakan." kekeh Rayyan menepuk keningnya. Membuat Fani tertawa geli sekali.


Benar! Rayyan memang lupa tujuan dia pulang, gara-gara melihat keindahan didepan matanya.


__ADS_2