
Keesokan paginya. Fani bangun terlebih dahulu. Lantas Ia mengambil beberapa pakaian dari lemari. Kemudian ia lipat untuk dimasukkan kedalam tas besar. Setelah selesai, ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Rayyan terbangun dan matanya menoleh ke sisi kanan. Tidak ada sang istri disana. Lalu matanya menangkap tas besar dan ia pun bangkit kemudian membuka tas besar itu.
Rayyan kaget karena didalamnya terdapat beberapa baju sang istri. Setelah itu ia keluarkan pakaian itu dan membereskannya lagi kemudian ia masukkan lagi ke tempat semula.
Fani sudah selesai dan ia membuka pintu kamar mandi. Ia terkejut melihat suaminya sedang menaruh kembali pakaiannya. Dan ia lupa tidak memakai pakaian ganti di dalam kamar mandi padahal sudah ia siapkan. Alhasil Fani hanya mengenakan handuk yang pendeknya hanya sepaha.
Fani segera mendekat dan menghentikan tangan suaminya membuat Rayyan menoleh.
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik." Rayyan memohon menatap wanita yang sangat dicintainya.
"Aku mau kerumah ibu dulu Mas, tolong jangan halangi aku."
"Ini namanya bukan menyelesaikan masalah sayang. Malah makin tambah runyam." Kata Rayyan sambil melangkah mendekat tapi justru Fani malah mundur.
"Aku hanya mau menenangkan diri saja. Jadi sekarang tolong minggir." Tekan Fani.
"Sayang please." Rayyan memohon tapi tetap melangkah perlahan dan Fani mundur perlahan juga.
"Mas, stop." Kata Fani sambil mengangkat satu tangannya.
Tapi Rayyan malah semakin maju dan Fani mundur. Dan kini Fani telah berada di ujung tembok membuat ia tidak bisa kemana-mana lagi.
Saat suaminya semakin mendekat. Ia hanya meringis lalu memejamkan matanya.
"Kenapa takut? Bukankah kita sudah sering melakukannya?" Bisik Rayyan dan Fani sedikit mendorong tubuh Rayyan.
"Jangan Mas."
"Kenapa?" Bisiknya.
"Karena aku sedang marah sama kamu." Balas Fani yang terus meringis.
"Justru kalau kamu marah. Kamu semakin terlihat seksi." Godanya sambil matanya menangkap yang ada dibalik handuk.
Fani terkesiap. Ia menunduk dan ia baru sadar dirinya hanya mengenakan handuk.
Lalu Fani mendorong tubuh Rayyan dengan keras, lantas ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
setelahnya Fani pun keluar dari kamar mandi, kali ini dengan pakaian lengkap.
"Niat banget." Kata Rayyan.
"Apa sih?" Tanya Fani sinis.
__ADS_1
"Sayang udah ah marahnya."
Fani memilih diam dan kembali mengambil pakaian yang tadi sempat ia masukkan kedalam tas.
Rayyan tak mau kalah. Ia segera merebut pakaian itu dan membuangnya begitu saja.
"Mas." Sentak Fani.
"Sayang ku mohon, tetap disini. Bukan begini cara menyelesaikan masalah. Sekarang ayo kita selesaikan dengan kepala dingin." Ujar Rayyan membuat Fani melangkah keluar dari kamarnya dan memilih duduk di dekat kolam.
Rayyan mengejarnya dan langsung menghambur memeluk sang istri dari belakang.
"Maafin aku, lagi-lagi aku buat kamu sedih." Lirih Rayyan.
"Lepasin Mas." Kata Fani yang justru dekapan itu semakin erat.
"Tapi tolong jangan tinggalin aku sendiri." Desisnya. Lalu ia melerai pelukannya dan duduk di sisi sang istri.
"Jujur, aku masih kecewa banget sama kamu. Tapi ... Rasa cinta ini malah semakin dalam." Fani menundukkan kepalanya.
"Aku tau. Tapi apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkan aku."
"Aku gak tau." Kata Fani sendu.
"Setiap rumahtangga pasti ada saja ujian, dan kita harus bisa melewatinya bersama-sama dalam suka mau pun duka. Bukan dengan pergi dari sini. Dan itu bukannya malah makin membaik. Yang ada akan memperkeruh suasana." Papar Rayyan dan Fani menangis tersedu didalam dekapannya.
"Menangislah sepuasnya agar hatimu lega. Aku tetap akan seperti ini sama kamu. Tak akan membiarkan kamu menjauh dariku." Ujar Rayyan.
Fani terus terisak, sungguh hatinya masih terasa nyeri membayangkan jika yang difoto itu benar Rayyan telah melakukannya dengan Melisa.
"Yang terpenting kamu jangan ingat-ingat lagi foto itu." Ujar Rayyan.
"Sayangnya aku selalu ingat dan itu membuatku terasa sangat sesak apalagi jika benar foto itu ... " Fani tak melanjutkan kata-katanya lagi.
"Meyakinkan orang yang kita sayang memang sangat sulit sekali. Apalagi dengan adanya bukti, padahal bukti itu tidaklah nyata, dan tidaklah seperti yang kamu lihat." Kata Rayyan.
"Lihat aku." Desis Rayyan dan Fani mengangkat wajahnya menatap suaminya.
"Apa ada kebohongan dimata aku?" Tanya Rayyan. Membuat Fani menatap matanya lekat-lekat lalu menggelengkan kepalanya.
"Lalu, apa yang membuat kamu ragu?"
Fani hanya menggelengkan kepalanya.
Rayyan tersenyum dan mengecup keningnya.
__ADS_1
"Mungkin kita butuh liburan. Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?" Ujar Rayyan dan Fani mengangguk.
Setelah obrolan yang panjang itu mereka akan berniat liburan untuk melupakan sejenak pada masalah yang ada.
Di restoran, Kinan mencari keberadaan Rayyan. Karena ia merasa bahagia saat melihatnya.
"Saat melihatnya saja aku merasa nyaman dan bahagia. Apalagi di dekatnya. Ahhh beruntung sekali si Fani dapat cowok tampan dan tajir seperti dia. Apa aku gaet saja ya dengan cara sama seperti ke Dio dulu. Tapi ... apa itu akan berhasil?" Gumamnya lalu membayangkan dirinya bersama Rayyan dalam satu selimut, membuat ia memejamkan mata dan tersenyum.
"Ehh kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Tanya Sakti saat melintas dihadapannya.
Mendengar sapaan itu. Kinan melebur senyumannya dan membuka matanya. "Maaf Pak." Katanya sambil menundukkan kepalanya. Lalu Sakti pun berlalu tapi Kinan berlari mengejarnya.
"Tunggu Pak." Panggil Kinan membuat Sakti berhenti dan menoleh.
"Ada apa?" Tanya Sakti.
"Pak Rayyan hari ini gak masuk?"
"Ada apa tanya-tanya dia?"
"Ya gak papa sih Pak, pengen tau aja." Kinan menggaruk lehernya yang gak gatal.
"Hari ini dia sengaja cuti. Ingin menghabiskan waktunya bersama dengan istrinya." Papar Sakti. Lalu kembali pergi dari hadapan Kinan.
"Sial, lagi-lagi si Fani selalu beruntung." Timpal Kinan.
Sementara itu di tempat lain. Fathan menunggu kedatangan Fani di taman tempat kemarin mereka bertemu. Namun yang di tunggu-tunggu tak datang juga. Sudah satu jam ia disana dan akhirnya ia pun pergi dari tempat itu.
Fathan melajukan mobilnya dengan perasaan tak menentu, antara rasa kecewa karena Fani tak kunjung datang, juga rasa bahagia akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya. Bahkan ia lebih bahagia lagi karena telah mengungkapkan isi hatinya.
Namun pada saat melewati jalanan kawasan ancol. Matanya menangkap sosok perempuan yang ia tunggu. Lalu Fathan mempertajam penglihatannya.
"Itu Fani. Ya itu Fani. Kenapa dia ada disini." Gumamnya lantas mobilnya menepi. Lalu ia turun dan langsung menghampirinya.
"Fani?" Sapa nya, membuat Fani menoleh dan terkejut akan kedatangannya.
"Tuh kan benar, kamu ngapain disini? Sendirian lagi! Aku tunggu kamu dari tadi, kenapa gak datang?" Tanya Fathan.
Fani membelalakan matanya karena ia merasa tak ada janji dengannya.
"Sekarang ayo ikut aku." Ajak Fathan sambil tangannya meraih tangan Fani. Membuat ia panik karena melihat suaminya semakin mendekat.
"Ada apa ini?" Tanya Rayyan. Namun tatapannya langsung tertuju pada tangan istrinya yang di genggam begitu erat. Dan ia langsung melepaskan kedua tangan itu.
"Lepasin."
__ADS_1