Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
9. Curiga


__ADS_3

Rayyan menelan rotinya, lalu ia minum segelas susu hangat tersebut.


Ia pejamkan matanya "apa aku sudah keterlaluan sehingga membuat kamu menangis seperti ini" ungkap Rayyan dalam hati.


Rayyan meraih kedua tangan Fani, ia tarik tangan itu lalu ia peluk, ie dekap erat punggungnya. Fani pun menghambur ke dalam dekapan suaminya, ia menangis terisak.


Rayyan tak mau bicara sepatah kata pun, ia hanya memeluk sang istri, mengusap kepalanya berulang ulang dan mendengarkan tangisannya sampai istrinya merasa lega.


Setelah tangisan itu benar benar berhenti, Rayyan melepas pelukannya dan ia tatap wajah sang istri yang matanya sudah merah sembab, Rayyan angkat kedua tangannya, ia tempelkan di pipi kiri kanan istrinya.


"Maafin mas" ucap Rayyan sembari menghapus lelehan bening dipipinya dengan kedua ibu jarinya.


Fani hanya mengangguk lemah. Sudah kembalikah Rayyan yang kemarin, suami yang manis dan perhatian, tidak dingin seperti semalam.


Fani kembali memeluk suaminya, kali ini dia benar benar tidak ingin jauh dari Rayyan.


"Sudah ya, kamu sarapan dulu, belum di makan kan itu roti panggangnya, sini mas yang suapin" ucap Rayyan tersenyum.


"Iiihh gak usah" kekeh Fani manja sembari melepas pelukannya. "Aku bisa sendiri" ucapnya tersenyum.


"Gak mau nangis lagi kan?" Canda Rayyan.


"Kalau mas dingin lagi, baru deh aku nangis lagi" jawab Fani sembari mengunyah makanan.


"Kamu ini" Rayyan mengusap kepalanya.


"Lagian kenapa sih semalam dingin banget?" Ucap Fani merengek.


Rayyan diam, tak langsung menjawabnya, apa harus dipertanyakan sekarang? Kenapa bisa ada Dio disana.


"Mas iihh tuh kan diam lagi" ucap Fani ngambek.


"Nggak, mas cuma......"


"Cuma?"


"Nggak, gak jadi" kekeh Rayyan.


Rayyan berpikir, ia harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


"Mas kalau ngomong yang bener"


"Iya,,, gak ada apa apa kok"


"Nanti mas berangkat kerja jam berapa?"


"Kenapa emang?" Jawab Rayyan.


"Yaaa nggak sih, kalau mas mau berangkat sekarang nggak apa apa, biar aku yang jemput bapak sama ibu"


"Mungkin nanti agak siangan, karena mas sengaja ngerjain tugas dulu semalam, jadi bisa gak berangkat pagi, karena mas mau jemput ibu bapak dulu, setelah itu baru mas berangkat kerja"


"Sesantai itu ya kerjanya. Emang gak takut kalau dimarahin boss?"


"Boss?"


"Iya, boss, mas dikantor punya boss kan?"


Rayyan baru sadar, istrinya belum tau dia bekerja dimana, bahkan suaminya lah sang pemilik resto.


"Iya gampang nanti mas kasih tau boss kalau ada urusan keluarga dulu dan ini tidak bisa ditinggalkan"


"Hah? Sebaik itukah boss kamu Mas?" Tanya Fani serius.


"Ohh baik, baik banget malah" padahal Rayyan membicarakan dirinya sendiri, karena kata karyawannya juga ia boss paling baik.


"Aku jadi penasaran siapa sih boss kamu, memang ada lagi yaa orang yang sebaik Mas"


"Jadi,,, Mas baik gitu?"


Ehhh,,,,


Fani reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tanpa sadar ia sudah memuji suaminya, karena selama ini sama sekali tidak pernah.


"Ia Mas tau kok kalau Mas baik, akui saja" kekeh Rayyan.


"Iya iyaaa aku akui Mas memang baik, makanya itu aku nggak mau kalau mas ninggalin aku"


Rayyan mengerutkan dahinya, apa benar dugaannya, kalau Fani sudah mulai ada rasa padanya.


"Bapak sama ibu pulang jam berapa nanti?" Tanya Rayyan mengalihkan bahasan, dia tak mau terhanyut suasana. Takut salah.


"Tadi telepon katanya jam tujuhan, itu baru jam enam" jawab Fani sambil melihat jam yang ada di dinding.


"Kalau gitu kita berangkat sekarang, tapi kamu mandi dulu sana, belum kan? Mas tunggu dibawah".


Fani menganggukkan kepalanya, segera ia beranjak ke kamar mandi.


Setelah usai, Fani langsung turun ke lantai satu yang dimana sudah ada suaminya menunggu disana.

__ADS_1


"Mas, maaf la...." Ucap Fani.


"Maaf, aku gak bisa Mel" ucap Rayyan menjawab dari seberang telepon dan kemudian menutupnya.


Fani terkejut mendengar jawaban suaminya. Mel? Siapa Mel? Baru saja Fani merasa senang karena suami manisnya kembali. Tapi apa ini? Mungkinkah Fani harus kembali merasakan sakit hati lagi.


Rayyan yang tidak sadar akan Fani yang sudah ada di belakangnya pun akhirnya menoleh kebelakang.


"Sudah siap?" ajak Rayyan sembari meraih tangan Fani.


"Kok bengong, ada apa? Bapak jadi kita jemput kan?"


Fani hanya menganggukkan kepalanya.


Keduanya sudah berada didalam mobil. Menuju rumah sakit.


"Fan"


"Mas"


Ucap keduanya bersamaan. Mereka pun saling menoleh.


"Kamu duluan"


"Mas aja yang duluan"


"Kamu aja"


"Mas aja"


"Baiklah" ucap Rayyan mengalah.


"Mas cuma mau bilang, mungkin nanti mas telat pulang, karena ada urusan"


"Urusan apa sampai bisa telat?"


"Urusan pekerjaan, ada masalah keuangan yang harus diselesaikan secepatnya"


Rayyan berbohong, padahal ia mau mengurus persiapan membeli rumah untuk mereka tinggali. Rayyan mau kasih kejutan untuk sang istri. Tadinya mau nanti saja, tapi Rayyan ingin segera pindah dan berduaan hanya dengan istrinya saja.


Tapi Fani, hatinya sedang tidak baik baik saja, ia merasa cemburu pada siapa yang sudah telepon tadi pagi dengan suaminya. Namanya Mel, dan itu sudah pasti nama seorang perempuan.


"Hey, kenapa diam" tanya Rayyan heran.


"Aku mau ikut"


Rayyan terkejut dengan jawaban istrinya, tak biasanya menawarkan diri untuk ikut bersamanya.


"Kenapa gak bisa, aku kan istrimu" ucap Fani sedikit emosi.


"Lho kok kayak marah, maksud Mas, bapak kan juga baru pulang dari rumah sakit, jadi kamu harus jagain bapak dulu dirumah sampai bapak beneran sembuh"


"Iya iyaa aku gak jadi ikut, puas"


Rayyan heran dengan istrinya, kenapa tiba tiba marah.


"Kamu ini kenapa sih dari tadi. Lagi PMS?"


Fani menepis tangan Rayyan yang hendak menyentuhnya. Fani malu bertanya siapa itu Mel, nanti dikira cemburu, tapi emang beneran cemburu kan?.


"Perempuan memang susah ditebak" gumam Rayyan.


Mobil mereka pun sudah berada di halaman rumah sakit, dan disana sudah ada kedua orang tua Fani sedang duduk menunggu jemputan.


"Bapak ibu kok sudah disini, maaf kami agak telat, emang sudah diurus semuanya bu?" Tanya Fani yang sudah turun dari mobil lalu menghampiri orang tuanya.


"Sudah nak, semalam kan suami kamu yang urus semuanya sebelum kalian pulang, jadi kita tinggal beres beres saja". Jawab Lusi.


Fani menoleh pada Rayyan dan tersenyum, Rayyan hanya menganggukkan kepalanya.


Ahh suami manisnya ini tolong jangan dibikin pergi. Tapi kenapa harus ada Mel Mel siapa lagi itu.


Mereka berempat masuk kedalam mobil, dan berjalan keluar halaman rumah sakit, lalu berhenti sebentar di Resto milik Rayyan untuk mengambil makanan untuk dibawa kerumah, takut kedua mertuanya belum makan.


"Tunggu disini ya" titah Rayyan "aku mau ambil makanan dulu buat bapak sama ibu, kalian belum makan kan?"


"Kok ambil Mas, gak beli?" Tanya Fani heran.


"Ehh iya maksudnya beli"


Rayyan pun masuk ke Restonya, dan mengambil lauk pauk juga nasi untuk dibawa ke rumah.


Setelahnya mereka pun kembali menuju ke kediaman orangtua Fani, karena Rayyan belum memiliki rumah sendiri.


Wahyu turun dengan perlahan dan melangkah memasuki rumahnya.


"Hati-hati pak" ucap Fani


Lalu mereka masuk kedalam rumah, dan duduk ditempat keluarga untuk bersantai setelah lelah satu hari satu malam berada dirumah sakit.

__ADS_1


Fani menyiapkan makanan yang sudah dibawa suaminya.


Tapi Rayyan ijin pamit untuk mengurus keperluan membeli rumah, dia akan membelinya di komplek sebelah yang akan mereka tinggali. Rayyan juga tau tak mungkin membeli rumah yang jauh dari kediaman sang mertua, karena Fani anak tunggal. Maka dari itu hanya beda jalur saja, Rayyan berada dijalur ujung kanan dan dekat dengan jalan raya, sedangkan sang mertua berada dijalur kiri, tapi teletak ditengah-tengah perumahan.


"Pak Bu. Aku pamit dulu, dan Fan, kamu gak usah ikut ya, jaga bapak dirumah" ucap Rayyan.


"Lho emang mau berangkat sekarang? Ini jam berapa?? Ibu kira kamu cuti dulu seharian ini karena mengingat ini sudah siang" ucap Lusi.


"Nggak bu, Rayyan sengaja berangkat agak siang, ingin jemput ibu sama bapak dulu"


"Ibu jadi gak enak nih, gara gara ibu, kamu jadi kesiangan" ucap Lusi tak enak hati.


"Gak apa-apa kok bu, kalau begitu aku pamit dulu. Assalaamu'alaikum." Ucap Rayyan sembari mencium kedua tangan mertuanya dan juga Fani.


"Wa'alaikumsalam."


Rayyan keluar dan menaiki mobil, lalu melaju menuju caffe, karena ada janji disana dengan pemilik rumah yang akan dibelinya.


Sementara itu, Fani hanya diam tak membalas ucapan suaminya, hatinya curiga sekaligus cemburu dengan suaminya.


"Fan, kamu kenapa diam saja dari tadi, itu suamimu salam juga kok gak dijawab, sama suami gak boleh begitu nak, harus patuh nurut apa kata suamimu, dan juga selalu tersenyum dihadapannya, bukannya malah cemberut gitu kayak udang kejebak batu"


"Ihh apaan sih bu, aku ke kamar dulu"


"Sebentar nak, ibu masih ingin bicara dulu"


"Iya kenapa bu?" ucap Fani yang hendak berdiri tapi duduk lagi dengan malas.


"Memang suamimu kerja dimana? Kok kelihatan santai banget".


"Aku juga gak tau bu."


"Fani... masa suami sendiri gak tau kerja dimana, gimana sih kamu, selama ini kamu ngapain aja sama suami kamu, diam aja gitu pas lagi berdua gak ngobrol ngalor ngidul bahas ini itu" ucap Lusi yang tak menduganya, dikira hubungan keduanya baik baik saja, bak romantis yang ada di sinetron yang Lusi tonton. Tapi ternyataaa masalah kerja dimana pun Fani tak tau.


"Ya mana Fani tau, udah lah bu aku capek" ucap Fani yang sebenarnya kesal pada suaminya bukan pada ibunya.


"Kenapa sih tu anak"


Lusi heran dengan sikap Fani, kemarin manis sekarang garang lagi pada suaminya.


Sementara Fani yang sudah berada didalam kamar, cukup lama dia memikirkan sesuatu, bagaimana caranya supaya dia tau siapa perempuan yang bernama mel itu.


Diapun menggamit tas dan hendak pergi keluar.


Lusi yang melihat Fani sedikit tergesa gesa itu pun berdiri menghampiri Fani yang sedang menuruni satu persatu anak tangga.


"Kamu mau kemana nak, kok kelihatan buru buru gitu" tanya Lusi.


"Aku pamit bu, ada urusan sebentar."


"Itu makanannya gimana?? Ibu sama bapak sudah makan barusan, ayo makan dulu."


"Nggak usah bu, aku udah sarapan tadi pagi sama mas Rayyan"


Fani pun mencium kedua tangan orangtuanya, kemudian pamit pergi dengan mengendarai motor matic miliknya.


Membelah jalanan kota jakarta yang cukup panas dan terik dibawah sinar matahari, Fani harus tau kemana suaminya itu pergi, tapi bagaimana caranya, karena Dia juga tidak tau Rayyan bekerja dimana, sebagai apa. Mau tak mau dan satu satunya cara dia harus menelepon suaminya.


Sementar itu Rayyan sudah berada didalam caffe bersama dua orang yang akan menjual rumah yang akan dibeli oleh Rayyan.


"Bagaimana pak sudah cocok dengan rumah tersebut?? Ucap pak Darman yang telah memperlihatkan rumah beserta isinya didalam foto.


"Tapi kalau mau lebih jelas, bapak bisa datang besok kerumah saya itu, karena kalau hari ini saya gak bisa, ada urusan."


"Dengan lihat foto foto ini pun saya sudah menyukainya, tapi yaaa mungkin saya juga harus datang kerumah bapak untuk mengetahui apa apa saja yang ada didalam dan dekorasi rumah tersebut"


"Baiklah kalau begitu sampai ketemu besok" ucap pak Darma lalu berjabat tangan


Keduanya kemudian pak Darma dan satu rekannya pamit pergi dari caffe tersebut.


Sementara Rayyan masih duduk disana, dan melihat lihat kembali foto rumah tersebut.


Drrrtt Drrrtt


Kembali handphone Rayyan berdering, dia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya sekarang ini.


"Hallo"


"Kamu dimana mas?"


"Aku di caffe, ada apa?"


"Di caffe?? Katanya tadi mau kerja kok ke caffe?"


"Iya mas kerjanya di caffe dulu, tapi sebentar lagi mas pergi ini, karena udah selesai."


"Jangan dulu pergi mas, tunggu aku disana, dan tolong share lock" ucap Fani yang sudah tak sabar dan langsung menutup teleponnya begitu saja.


Gemuruh dihatinya benar benar membuat ada rasa sakit dihatinya, membayangkan sang suami berduaan dengan seorang perempuan.

__ADS_1


Fani pun mengingat bagaimana kemarin siang itu, mungkin inilah balasan untuknya harus merasakan hal yang sama. Pria yang sudah membuatnya kini tak baik baik saja tapi justru ada wanita lain lagi selain dirinya.


__ADS_2