
"Ku kira kamu beneran sakit. Ternyata semua hanya akal-akalan kamu saja kan? Supaya dapat perhatian dari Rayyan." timpal Melisa.
"Maksud kamu apa?" tanya Fani heran.
"Kamu tidak kecelakaan kan?" selidik Melisa.
"Ohhh aku ngerti sekarang kenapa kamu tiba-tiba masuk dan langsung ngomong kayak gitu. Ehh Melisa. Dia ini suami aku, terserah kita mau ngapain aja halal kok. Memangnya kamu yang sudah .... " Fani menjeda sambil melihat dari atas kebawah. Lalu menoleh pada sang suami.
"Ya, kami memang sudah melakukannya. Ya kan sayang?" Melisa mendekat ke arah Rayyan dan merangkulnya.
"Apaan sih kamu? Lepasin." bentak Rayyan.
"Udah sayang, ngaku aja, kamu waktu itu sangat menikmati sekali kan permainanku? Kamu sampai ketagihan lho." kekeh Melisa.
"Cukup perempuan licik." teriak Rayyan.
"Sayang, jangan dengarkan dia. Tolong percaya sama aku. Aku gak pernah melakukannya dengan siapapun, apalagi sama perempuan licik itu." papar Rayyan menatap tajam pada Melisa.
"Tenang sayang, aku akan mengetes perempuan yang kamu sebut licik itu." kekeh Fani.
__ADS_1
"Coba katakan, dimana suamiku memiliki tanda lahir, karena memang hanya aku yang bisa melihatnya karena aku istrinya, kecuali kamu benar-benar telah melakukannya dengan suamiku."
Melisa terkesiap mendengar pertanyaan itu, karena memang dia gak tau di mana Rayyan memiliki tanda lahir.
Sementara Rayyan mengulum senyum. Karena pasti Melisa tidak bisa menjawabnya. Padahal ia pun tidak tau letak tanda lahirnya sendiri.
"Kenapa diam? Cepat katakan." Fani sudah sangat geram pada Melisa.
"Mmmm itu.... Itu.... Yang pasti aku sudah lupa karena kejadiannya sudah sangat lama." elak Melisa.
"Bilang saja gak tau kenapa susah amat sih?" timpal Fani.
"Kenapa kamu jadi sewot? Aku bicara baik-baik dari tadi." ujar Fani
"Kamu yang memancing duluan." timpal Melisa.
"Kalimat mana yang memancing? Kamu sendiri yang main masuk aja tanpa salam sama sekali."
Namun sang dokter masuk, untuk memeriksa kondisi pasien. Dan Melisa masih di ruangan itu.
__ADS_1
"Apa kaki anda sampai sekarang masih belum bisa di gerakkan?" tanya dokter.
"Iya Dok." jawab Fani.
"Baiklah. Dan mungkin untuk sementara waktu anda harus pakai kursi roda dulu sampai bisa berjalan dengan normal." papar sang dokter.
"Apa gak akan lama Dok?" tanya Fani cemas.
"Sejauh ini sih kondisi di dalam panggul anda tidak mengalami luka yang cukup serius, jadi mudah-mudahan bisa cepat kembali normal. Yang semangat ya, harus terus berusaha dan berdo'a. Karena semua atas kehendaknya." papar dokter itu lagi.
"Kalau begitu, besok diperbolehkan pulang. Dan ingat jangan setres." kata dokter itu. Dan ia pun pamit keluar.
"Jadi kamu lumpuh?" tanya Melisa.
Tapi Fani hanya diam membisu. Pikirannya berkecamuk, "bagiamana kalau sepangjang hidupku hanya bisa berjalan pakai kursi roda sedangkan diriku sudah bersuami yang setiap hari harus melayani dia." gumam Fani dalam hati.
"Kalau lumpuh, kasihan nanti suami kamu gak ada yang ngurus." ujar Melisa. "Tapi aku siap kok melayani dia diranjang, kamu hanya tinggal duduk aja dikursi roda lihatin kita, gimana? Jadi kamu gak usah cape-cape kan karena kamu gak harus melayani suami kamu."
"Cukup Melisa," teriak Rayyan. "Sekarang juga kamu keluar dari sini, keluar."
__ADS_1
"Kasihan sekali nasibmu Fan. Setelah kehilangan kaki, kamu pun harus rela berbagi suami dengan aku, kita lihat saja nanti, karena pasti suami kamu pun akan sangat butuh perempuan untuk mengeluarkan hormon stresnya. Karena istrinya sendiri sekarang tidak mampu." ejek Melisa, membuat mata Fani berembun.