
Rayyan sudah berada dikediaman sang mertua lalu melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
Ia buka pintunya perlahan. Tapi sosok yang dicintainya itu tidak ada didalam kamar. Rayyan mencari kedalam kamar mandi tapi juga tidak ada. Lalu ia mencari ke kamar sebelah tapi juga tidak ada. Lalu kembali menuruni tangga. Mencarinya kesetiap sudut ruangan hingga muncul sosok sang istri yang berada ditaman samping dapur dengan duduk didalam bangku sembari menatap kosong.
Rayyan pun mendekat dan menyentuh bahunya sebelah kanan dari belakang.
Fani yang merasa ada tangan menempel dibahunya itu pun menoleh kearah kanan dimana terdapat tangan yang masih diatas bahunya.
Rayyan kemudian duduk disebelah kiri disisi sang istri.
"Maaf" hanya kata itu yang lolos dari bibir Rayyan. Setiap melihat istrinya bersedih karena dirinya.
Fani hanya memejamkan matanya.
"Mas tadi ditelepon sama ibu, ngasih tau bagaimana tadi siang, ibu bilang sesuatu kan? Dan itu... ya dia Melisa. Mas juga gak tau kalau dia ada disana. Mas cuma beli bunga untuk kamu. Tapi bunga itu dia ambil, dan pada saat mas mau mengambilnya, bunga itu kemudian dia buang, lalu mas langsung pergi meninggalkannya, lalu pada saat masih ditempat kerja, mas sampai gak fokus kerja kepikiran kamu terus, makanya sesegera mungkin mengerjakan pekerjaan agar cepat pulang" ujar Rayyan menjelaskan bagaimana yang sebenarnya. Sembari tangan kanannya yang masih berada diatas bahu kanan sang istri.
Fani hanya diam saja tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Bicaralah sayang, jangan diemin mas begini."
Fani seketika menoleh menatap manik mata suaminya.
"Mas ingin aku bicara? Untuk apa? Jika mas masih selalu berhubungan dengan perempuan itu"
"Tidak sayang, mas sudah tidak ada hubungan lagi sama dia, percayalah sama mas".
"Sudahlah mas, jika mas ingin kembali padanya aku ikhlas". Ucap Fani sembari menundukkan kepalanya, ia tak mampu menatap suaminya saat berucap seperti itu, karena dihatinya tidak mengatakan itu.
"Kamu ini ngomong apa sih? mas sudah bilang jangan katakan itu lagi. Dan gak mungkin mas kembali sama dia. Jujur mas sangat mencintai kamu bahkan saat ijab qabul itu mas ucapkan mas sudah ada rasa untuk kamu." Rayyan pun akhirnya mengungkapkan perasaannya yang selama ini dia pendam.
Fani yang mendengar itu pun menoleh lagi kearah suaminya.
"Sungguh?" Tanya Fani.
"Ya. Mas tidak bohong" jawab Rayyan dan mereka saling menatap satu sama lain.
"Kalau begitu jauhi dia dan putuskan kontak dengannya"
"Ya mas akan lakukan itu"
"Sekarang!"
"Iya iyaa ini" ucap Rayyan sembari mengambil ponselnya didalam saku celananya lalu memblokir nomor Melisa sekaligus akun sosial medianya.
"Ini udah" ucap Rayyan memperlihatkan ponselnya pada Fani.
Fani pun tersenyum dan seketika matanya ikut berembun, begitu banyak rasa didalam hatinya, rasa bahagia karena kini sang suami mengakui perasaannya dan rasa kesal karena mengingat perempuan itu yang masih saja mengejar suaminya. Juga rasa bersalah karena dirinya sempat juga mengecewakan sang suami. Tapi kali ini tidak, Fani berjanji akan menjadi istri yang patuh dan taat sekaligus memenuhi keinginan suaminya.
Keduanya berpelukan yang kali ini dengan didasari cinta dari keduanya. Cinta yang tulus yang akan mereka jaga sampai maut memisahkan.
Setelah keduanya puas, mereka akhirnya beranjak dari taman lalu kembali masuk kedalam rumah dengan bergandengan tangan. Juga raut muka bahagia dari keduanya.
"Kayaknya ada yang lagi bahagia nih?" Sindir sang ibu yang melihat keduanya tak biasanya seperti itu.
"Sudah baikkan?" Tanya Lusi.
"Apa sih bu? Siapa juga yang bertengkar" ucap Fani, ia tak mau merusak suasana bahagianya.
"Ya bagus kalau begitu, jangan lama lama kalau lagi sensi. Bahaya. Dan ibu juga mau minta maaf. Gara gara ibu kalian jadi bertengkar" tukas Lusi sembari mengajak mereka untuk duduk diruang santai keluarga yang dimana disana sudah ada Wahyu.
Mereka pun duduk disofa dengan ditemani beberapa cemilan diatas mejanya.
Ketika duduk pun Rayyan dan Fani belum juga melepaskan genggaman tangan mereka, ya seperti tak terpisahkan.
"Oh iya ibu belum kasih tahu kan sama kalian.? Kalau nanti malam bu Mirna sama pak Farhan mau datang kesini untuk makan malam, sekaligus kangen katanya sama anak dan mantu" ucap Lusi tersenyum.
Fani kaget mendengarnya, ia pun membayangkan selama ini bahwa dirinya selalu berbuat tak menyenangkan pada suaminya. Dia merasa bersalah juga malu untuk bertemu mertuanya.
__ADS_1
"Fani... kenapa?" Tanya ibunya karena terlihat melamun.
Fani seketika tersadar dari lamunannya karena mendengar ada yang memanggil namanya.
"Eh nanya apa tadi?" Tanya Fani sembari melihat pada suaminya. Ibunya lalu bapaknya. Ingin tahu siapa tadi yang memanggilnya.
Rayyan yang mengerti dengan keadaan sang istri itupun akhirnya ia yang menjawab pertanyaan ibunya, bahwa Fani masih malu bertemu sang mertua.
"Gak usah malu fan... dia itu juga mertua kamu ibu kandung suamimu. Yasudah nanti setelah maghrib kamu bantu ibu sama bik Rumi memasak ya untuk nanti makan malam. kalau begitu kita sholat maghrib dulu" Lusi pun beranjak kekamar mandi untuk berwudlu.
Setelah usai sholat maghrib, mereka pun mengaji dikamar masing masing. Lalu setelahnya Fani dan ibunya bergutat didapur membuat menu makanan spesial untuk menyambut besan dan juga mertua sang anak tercinta.
Setelah satu jam lamanya akhirnya selesai juga. Fani bergegas mencuci tangan kemudian melangkah menuju kamarnya.
Pintu ia buka, terlihat sosok pria tampan nan teduh wajahnya itu sedang duduk disofa dengan laptop yang menyala diatas mejanya.
Fani mendekat dan duduk disisi Rayyan.
"Mas"
"Ya"
"Aku......"
Rayyan yang sedang mengetik dilaptopnya pun berhenti lalu menutupnya kemudian menoleh pada sang istri.
"Kenapa?" Tanya Rayyan lembut.
"Aku masih malu bertemu orangtua kamu, karena mengingat bagaimana aku kemarin sama kamu. Terlebih mereka sangat baik padaku saat kemarin kesini". Ucap Fani.
Orangtua Rayyan pernah sekali berkunjung kerumah orangtua Fani. Tapi setelah itu gak pernah datang lagi. Dikarenakan sibuk diantara keduanya.
"Sudah, jangan dipikirin. Lagian juga mereka gak mungkin bertanya macam macam kan? Kamu tenang saja." Ucap Rayyan sembari mendekap Fani.
Fani hanya menganggukkan kepalanya, membalas dekapannya itu. Yang merasa lebih tenang didalam dekapan suaminya ini.
Fani yang mendengarnya pun seketika melepas dekapan suaminya. Lalu menatapnya sambil tersenyum dan kembali mendekap suaminya lagi bahkan lebih erat.
"Duuhhh pengap ini... kuat banget" kekeh Rayyan.
"Iiihhh segitu doang" cebik Fani memajukan bibirnya sembari melepas pelukannya.
"Canda sayang, ayo sini peluk mas lagi" kekeh Rayyan menatap Fani tanpa berkedip, bahkan jarak diantara keduanya kini semakin dekat.
"Lihat mas" ucap Rayyan pelan karena istrinya mununduk terus.
Rayyan sentuh dagu sang istri menggunakan jari telunjuk. Lalu ditariknya keatas supaya bisa melihat netra cantiknya.
Kini keduanya saling bertatapan yang dihadiri rasa cinta yang begitu menggebu dan ingin tahu lebih jauh.
Rayyan medekatkan kepalanya, semakin dekat. Lalu kening, kemudian bibir mereka menempel, Fani awalnya diam saja tapi kemudian karena reaksi tubuh alaminya mengingikannya juga. Ia pun membalasnya dan kini mereka saling berpagutan. Cukup lama diposisi itu hingga sesekali terlepas untuk mengambil oksigen lalu memulai lagi seolah belum puas, dan malah rasa penasaran yang lainnya pun begitu mendominasi.
Tangan Rayyan meraih ceruk leher sang istri lalu turun kepundak dan turun lagi hingga menyentuh bagian depan sensitifnya dibalik pakaian gamisnya. Sempat ada penolakan dari istrinya. Tapi ia terus membuat sang istri terbuai olehnya. Yang sesungguhnya Fani juga menginginkannya lebih jauh. Fani hanya bisa pasrah menerima sentuhan itu yang cukup lembut tapi membuatnya tak mau mengakhirinya.
Tangan Rayyan masih bermain disana, sungguh mereka begitu menikmatinya. Sehingga suara pintu terdengar diketuk.
Mereka segera melepaskan apa yang telah mereka lakukan, seolah bukan pasangan halal saja mereka buru buru merapikan pakaian yang sedikit berantakan. Bahkan kerudung Fani sudah tidak berbentuk semula diwajahnya.
Benar benar suasana menegangkan bagi mereka karena ketukan pintu yang belum juga mau berhenti.
Rayyan akhirnya membuka pintunya. Sementara Fani masih merapikan kerudungnya.
"Kalian lagi ngapain sih? Lama banget buka pintunya. Mau ngasih tau. Itu mertua Fani sudah ada dibawah. Tapi kalian masih asik asikan didalam kamar. Nanti saja bikin bayinya kalau sudah malam, Ayo turun. Mereka nanyain kalian terus" ujar Lusi.
Rayyan terperangah mendengar kalimat bikin bayi. Ia pun tersenyum.
Semua keluarga Rayyan dan Fani sudah berada diruang makan untuk makan malam.
__ADS_1
Fani mencium tangan Mirna kemudian berpelukan melepas rindu dari keduanya karena jarang bertemu, selanjutnya pada Farhan sang papa mertua. Lalu semuanya duduk berhadapan untuk memulai makan malam.
"Bagaimana kabar kalian? Bu Lusi, Pak Wahyu? Maaf kami jarang berkunjung karena sedikit sibuk" ucap Mirna buka suara terlebih dahulu. Dan mereka sambil menikmati makanannya.
"Baik alhamdulillah bu Mirna, kabar kalian juga gimana?" Tanya Lusi balik.
"Alhamdulillah baik juga, eehhh kita seperti orang baru kenal saja ya pakai kata Bu, padahal udah kenal sedari kecil ya kan? Kekeh Mirna.
"Tak apa Mir, yang senyamannya saja" jawab Lusi tersenyum.
"Oh iya, bagaimana kabar menantu cantikku ini? Sudah ada kabar belum?" Tanya Mirna menatap Fani dengan tersenyum.
"Anak sendiri gak ditanyain bu?" Canda Rayyan.
"Ahh kamu mah ibu lihat baik baik saja kan?" Kekeh Sang ibu.
"Baik kok bu! Ibu sendiri gimana kabarnya? Maaf Fani belum sempat main kerumah ibu" ucap Fani merasa tak enak hati.
"Nggak apa apa Nak, pintu rumah kami selalu terbuka kapanpun kamu mau kesana" Mirna terus tersenyum. "Dan ibu ingin tahu kabar yang lain".
"Kabar apa bu?" Tanya Fani.
"Kalian nikah sudah sebulan lebih kan? Bahkan hampir dua bulan. Gimana? Sudah ada tanda tanda belum?" Tanya Mirna sedikit antusias karena tak sabar ingin menimang cucu.
Fani yang sedang mengunyah makanan itu pun tersedak mendengar jawaban ibu mertuanya. Rayyan pun membantunya mengambilkan minum.
"Pelan pelan sayang kalau lagi makan" ucap Rayyan sambil mengusap punggungnya.
"Hati hati Nak". Ucap Mirna.
"Iya bu maaf" jawab Fani.
Fani menoleh pada Rayyan. Ia memberi isyarat pada suaminya bahwa ia bingung harus jawab apa.
Rayyan pun yang memang peka dengan istrinya. Akhirnya Rayyanlah yang menjawabnya.
"Belum bu! Do'akan saja supaya cepat dikasih keturunan". Ucap Rayyan.
"Iya ibu selalu mendo'akan kalian, pengen cepat cepat punya cucu, rumah jadi sepi semenjak kamu nikah Ray". Ujar Mirna.
"Makanya bikin lagi bu!" Kekeh Rayyan sembari mendapatkan cubitan dipinggangnya oleh Fani.
"Kalau bikin mah sering lah Ray" ucap Mirna yang malah meladeninya.
"Kalian ini ibu sama anak sama saja ya" kekeh Lusi dengan menggelengkan kepalanya.
"Pak Farhan sibuk apa nih sekarang?" Tanya Wahyu.
"Biasa lah pak Wahyu. Urusan dikantor". Jawab Farhan. "Bapak sendiri gimana?"
"Saya masih bekerja dipabrik pak".
"Mmmm mau tidak bekerja diperusahaan saya? Nanti saya rekomendasiin buat kerja dibagian apa". Tawar Farhan.
"Tidak usah repot repot pak Farhan! terimakasih. Biar saya kerja dipabrik saja. Bukannya saya tidak mau. Hanya saja saya sudah sangat lama bekerja disitu, jadi rasanya berat kalau keluar darisana".
"Iya saya paham, tapi kalau suatu saat berubah pikiran. Hubungi saya ya?"
"Baik terimakasih" jawab Wahyu mengangguk.
Mereka semua asik mengobrol membahas keseruan masing masing. Hingga tak terasa makan malam pun sudah selesai. Hingga kini Mirna dan Farhan pamit untuk pulang.
Lalu Fani dan ibunya membantu bik Rumi membereskan tempat meja makan. Setelah usai. Fani ijin pada ibunya untuk kekamar lebih dulu.
Rayyan dan Fani sudah berada didalam kamar. Bergantian membersihkan diri. Lalu setelah keduanya usai, mereka sholat isya berjamaah.
Setelah usai melakukan sholat. Fani beranjak untuk menyimpan mukenanya. Lalu melangkah menuju meja rias. Kali ini dia ingin memakai krim malam didalam kamarnya, bukan lagi didalam kamar mandi.
__ADS_1