Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Ungkapan Isi Hati Fathan


__ADS_3

"Kamu ngapain disini. Kok sendirian? Maksudku biasanya kamu selalu barsama Nindy." Ujar Fathan. Ia tak tau kalau Fani sudah menikah.


"Aku lagi main aja disini. Nindy sudah lama kita tak bertemu."


"Eh! Kenapa?"


"Ia pergi ke kampung Uwa nya bersama ibunya."


"Ohh... kamu haus gak?" Tanya Fathan sambil melirik pada pedagang es yang ada disana.


Tapi Fani hanya diam saja, ia menghiraukan pertanyaan Fathan, karena pikirannya terus pokus pada masalah yang dia hadapi.


Fathan tak mempedulikannya. Ia bangkit menuju pedagang es itu dan memesan dua porsi. Lalu ia kembali dan duduk disebelah Fani.


"Ini. Enak lho siang-siang gini makan es cendol." Ujar Fathan sambil menyodorkan es yang dia beli.


Fani meraih es itu dan meminumnya. Ada rasa lega didalam tenggorokannya setelah meneguknya.


"Gimana enak?" Tanya Fathan.


Fani menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kabar kamu selama ini? Aku lihat sekarang, kamu sepertinya tidak baik-baik saja." Ujar Fathan menatap wajah Fani dari samping.


"Aku hanya sedang ada sedikit masalah saja." Jawab Fani menunduk.


"Boleh aku tau? Siapa tau aku bisa bantu."


"Maaf ini private."


"Ohh baiklah. Kamu gak mau tanya gimana kabar aku?"


Fani menoleh menatap lelaki disampingnya.


"Kenapa kamu sekarang jadi banyak bicara? Beda dengan yang dulu." Ujar Fani.


"Oh ya? Perasaan aku dari dulu begini. Tapi kata teman-temanku juga iya sih."


Fani hanya tersenyum menanggapinya, ia tidak mau terlalu dekat dengan lawan jenis. Karena sadar sudah bersuami.


"Kamu tau gak. Semenjak aku kuliah diluar negri aku terus terbayang wajahmu saat kita masih satu kelas. Tapi sekarang kamu malah ... makin cantik." Fathan tersenyum menatap Fani dan membuat Fani menoleh mengerlingkan matanya.


"Ya, aku akui aku mencintaimu, bahkan saat kita masih satu kelas dulu, rasa ini masih ada untukmu sampai saat ini." Ungkap Fathan membuat Fani terkejut mendengar pengakuan itu. Lalu Fani menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Ada yang salah dengan perasaanku sama kamu?" Tanya Fathan karena justru Fani malah sedikit menghindar.


"Aku tau kamu pun tak bisa menjawabnya sekarang, aku akan selalu menunggu jawaban kamu kapan pun itu, tapi aku harap jangan lama-lama."

__ADS_1


"Kamu salah telah mencintaiku Fathan." Ujar Fani dan kembali menundukkan kepalanya.


"Salahnya dimana? Aku bicara jujur sama kamu." Fathan terus menatap manik mata perempuan yang ada disampingnya yang terus menundukkan kepalanya.


"Kamu gak boleh cinta sama aku. Karena aku ... "


Tiba tiba ponsel milik Fathan berdering. Dan itu membuat Fani tak melanjutkan kata-katanya lagi. Karena Fathan langsung menerima telepon itu dan sedikit menjauh.


Setelah selesai menerima telepon. Fathan kembali lagi.


"Baiklah aku pergi dulu karena ada urusan. Aku harap besok pagi sudah dapat jawaban. Assalaamu'alaikum." Kata Fathan pamit undur diri tanpa mendengar lagi jawaban yang akan Fani utarakan.


"Wa,alaikumsalam." Balas Fani


"Bagaimana ini? Kenapa jadi begini." Gumam Fani sambil mengambil napas berat.


Tak terasa hari sudah sore. Ia memutuskan untuk pulang. Namun ponselnya berdering. Ia melihat siapa kini yang menghubunginya. Terlihat nama sang suami. Ia enggan mengangkatnya.


Sudah ke tiga kali Fani belum juga mau menerima telepon itu. Namun saat panggilan berikutnya ia pun akhirnya mau menerimanya.


"Sayang kamu dimana? Katanya tadi mau pulang. Tapi kok dirumah nggak ada." Tanya Rayyan terdengar panik.


"Aku tadi gak jadi pulang, maaf."


"Lalu dimana sekarang?"


"Baiklah, Mas kesana sekarang. Jangan pergi kemana-mana lagi. Tunggu Mas ." Rayyan menutup teleponnya dan segera berangkat menjemput sang istri.


Fani kembali duduk menunggu Rayyan datang. Bagaimanapun Rayyan suaminya dan harus patuh padanya.


Ia kembali meminum es cendol yang dibelikan Fathan. Lalu teringat dengan pengakuan yang tadi Fathan lontarkan.


Ada rasa kasihan pada Fathan jika jujur bahwa ia telah menikah, karena lelaki itu sangat baik padanya dari dulu. Tapi memang harus jujur bukan?


Mobil terlihat memasuki area parkir ditaman itu. Rayyan langsung turun dan mencari dimana kini istrinya berada.


Akhirnya Rayyan melihat Fani duduk dipojokan yang jauh dari keramaian. Ia pun mendekat dan merangkulnya dari belakang kemudian mengecup pucuk kepalanya.


"Maaf." Bisik Rayyan sambil memejamkan matanya dan duduk disamping Fani.


"Aku tau perasaan kamu saat ini. Karena aku pun mungkin sama jika berada diposisi kamu. Yang pasti, yang harus kamu ketahui. Aku tidak seburuk yang kamu sangka kan." Ujar Rayyan sambil memeluknya, menyandarkan kepala Fani di bahu miliknya.


Fani hanya diam membisu dan menatapnya lurus dengan tatapan kosong.


"Ya, aku dulu memang suka mendatangi club malam, saat aku lagi tersesat ke jalan yang tidak benar, tapi sungguh aku pun tidak pernah melakukan itu pada perempuan manapun. Bahkan aku pun baru melakukannya kemarin saat bersama kamu padahal kita nikah udah dua bulan bukan?" Tukas Rayyan sambil meraih tangannya, ia usap dengan sangat lembut.


Tapi Fani hatinya belum bisa menerima sepenuhnya. Masih ada rasa sakit disana. Ia bangkit dan melangkah perlahan lalu berhenti, sedikit memberi jarak pada suaminya.

__ADS_1


Rayyan mengusap kasar wajahnya, harus bagaimana lagi mengembalikan kepercayaan istrinya. Ia pun bangkit mendekat kearah Fani dan berdiri dihadapannya.


"Kita selesaikan dirumah kita. Mas sudah menyuruh orang untuk mengambil barang-barang milik kita dirumah ibu. Mulai sekarang kita akan tinggal dirumah kita sendiri." Ujar Rayyan meraih tangan Fani dan mengajaknya pulang.


Tetap Fani tidak mau bicara, tetapi ia tetap mengikuti kemana suaminya membawanya.


Didalam mobil pun mereka tak banyak bicara. Sesekali Rayyan menoleh kearahnya dan mengusap lembut tangan istrinya.


Mobil pun sudah tiba didepan rumah yang dituju. Lalu memasuki halaman yang cukup luas dan terdapat beberapa bunga bertengger disana, menambah suasana sejuk nan nyaman melihatnya.


Rayyan turun lebih dulu, tak lupa membukakan pintu untuk Fani. Keduanya sudah berdiri didekat mobil. Pandangan Fani tertuju pada rumah yang lumayan megah nan sangat bagus. Rumah yang memiliki dua lantai dengan cat berwarna putih kombinasi dengan warna coklat menambah kesan tersendiri. Bahkan disana terdapat satu buah mobil lagi yang Rayyan persembahkan untuk sang istri.


Rayyan mengajaknya masuk, dan kembali Fani disuguhkan dengan ruang tamu yang cukup luas, ada televisi juga disana. Lalu Rayyan mengajaknya menaiki tangga menuju kamar mereka.


Knop pintu dibuka dan ruangan yang cukup luas itu berisikan kasur yang ukurannya dua kali lipat dibanding kasur yang berada dirumah sang ibu. Dan tak lupa ada sofa yang sangat empuk dan nyaman, juga jendela yang mengarah kearah jalan raya, karena kamarnya berada diatas. Juga kamar mandi yang bilamana orang masuk pun pasti akan betah berlama-lama didalamnya.


"Bagaimana, suka?" Tanya Rayyan sambil merangkulnya dari belakang. "Bicaralah agar aku merasa lega berarti kamu masih peduli sama aku." lirihnya.


"Aku..... gak tau harus seperti apa. Jujur aku pun sangat senang mendapatkan semua ini dan aku ucapkan banyak terima kasih, tapi........." Fani menundukkan kepalanya yang tubuhnya diputar oleh Rayyan agar berbalik menghadapnya.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan! ungkapkan semua isi hatimu agar kamu merasa lega, dan aku pun akan diam mendengarnya sampai kamu merasa puas. Setelah itu aku pun tidak akan banyak bicara, yang aku ingin lakukan adalah merangkulmu mendekapmu seperti biasa." Ujar Rayyan memegang kedua bahu istrinya.


Fani kemudian terisak karena menahan sesak sedari tadi saat ia berada di taman.


Dan Rayyan merangkulnya mengusap dan mengecup pucuk kepalanya. Ia tidak mau bicara sepatah kata pun, sebelum sang istri berbicara mengungkapkan isi hatinya.


"Jujur hatiku masih sangat sakit." Isak Fani. "Tapi kenapa rasa cinta ini malah semakin dalam."


Rayyan memejamkan matanya lalu menganggukkan kepalanya pertanda ia pun mencoba mengerti keadaan isi hati sang istri.


"Biarkan aku tidur dulu. Aku lelah. Dan jika aku terbangun, aku harap hatiku sudah sedikit tenang." Ucap Fani melerai pelukan suaminya.


Rayyan pun terpaksa menuruti keinginannya, padahal bukan itu yang dia inginkan. Tapi semua demi sang istri jadi harus sabar.


Fani merebahkan dirinya diatas kasur putih itu dan menyelimuti dirinya, selang beberapa menit ia pun terlelap.


Rayyan mendekat dan duduk disampingnya. "Bahkan aku berpikir ada malaikat kecil disana." Gumamnya pelan sambil mengusap perut istrinya. "Karena kamu tak pernah sesensitif ini dan tidak pernah bisa lama jika kamu marah padaku. Semoga dugaanku benar Ya Rabb. Jagakan ibunya dan bayiku disana." Ujar Rayyan mengecup kening istrinya.


Setelahnya Rayyan bangkit hendak masuk ke kamar mandi. Namun terdengar suara ponsel. Ia pun mencarinya terlebih dahulu dan ponsel itu berada didalam tas milik sang istri.


Rayyan ambil dan melihat siapa yang menghubunginya. Terlihat nomor baru disana.


"Siapa ini." Gumam Rayyan tak berani mengangkatnya. Namun ponsel itu terus berdering membuat ia pun penasaran lalu mengangkatnya.


"Hallo, ini Fani kan? Aku Fathan, ini nomorku, aku tau nomor kamu dari Nindy. Besok kita ketemuan ya, biasa ditempat kemarin." Ujar Fathan diseberang telepon, tapi Rayyan memilih diam saja dan memutuskan teleponnya sepihak.


"Fathan? Ketemuan lagi? Berarti sebelumnya mereka pernah bertemu. Siapa lagi dia." Ucap Rayyan berbicara sendiri. Dan perasaan cemburu kini hinggap lagi dihatinya.

__ADS_1


__ADS_2