Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Sensitifnya Fani


__ADS_3

"Sayang, jangan dengarkan dia, kumohon." kata Rayyan sambil memeluk Fani.


"Melisa benar Mas, aku sekarang tidak akan bisa melayani kamu sepenuhnya. Bahkan aku pun tidak bisa menjaga anakku sendiri. Jadi-"


"Nggak sayang, nggak, aku tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun. Nggak akan." lirih Rayyan dengan mata berkaca-kaca.


Sementara Melisa tersenyum. Merasa sudah sedikit berhasil menghasut Fani.


Rayyan melerai pelukannya lalu menoleh pada Melisa.


"Keluar kamu, atau aku akan seret paksa untuk keluar dari sini." Rayyan berteriak dengan rahang mengeras. "KELUAAARRRR."


Melisa pun takut melihat Rayyan seperti kesetanan. Ia segera beranjak keluar dari ruangan itu.


Fani memilih meringkuk memunggungi suaminya. Rayyan mendekat dan mencoba sabar dalam menghadapi sang istri.


Rayyan mengelus kepala istrinya dengan lembut. Sementara Fani diam membisu tak bereaksi apapun, pikirannya tertuju bagaimana nanti nasib suaminya, apalagi soal masalah ranjang yang notabene Rayyan termasuk libidinya sangat tinggi.


"Lantas Rayyan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Sambil berbisik di telinganya. "Sampai kapanpun, hanya kamu yang akan menjadi istriku satu-satunya, aku sangat sayang sama kamu. Aku menerima kamu apa adanya. Biar kata Dokter harus memakai kurai roda, aku tak masalah. Aku akan merawat kamu dengan segenap jiwa dan ragaku. Hatiku hanya mililmu. Tak akan ada yang lain, karena tidak akan pernah ada. Aku mencintai kamu istriku." bisiknya tepat ditelinga sang istri.


Fani membalikkan badan, ia kini berbaring dan menatap manik mata suaminya yang masih berembun.


"Jangan nangis." ucap Fani. lalu tangannya menghapus airmata suaminya.


"Aku menangis bukan karena keadaan kamu. Aku menangis karena aku gak mau kehilangan kamu sayang. Kamu harus kuat. Kita berjuang bersama untuk kesembuhan kamu." papar Rayyan yang dibalas anggukkan kepala oleh sang istri.


***


Ditempat lain, Kinan akan menjenguk Fani kerumah sakit. Ia tidak tau kalau Fani hari ini akan pulang.

__ADS_1


Saat diparkiran rumah sakit. Matanya melihat Fani yang berjalan memakai kursi roda yang sedang di dorong oleh suaminya.


Kinan pun lebih dekat lagi, ingin melihat mereka berdua.


Fani dibopong oleh Rayyan dan masuk kedalam mobil. Lalu Rayyan melipat kursi roda itu lantas dimasukkannya kedalam mobil dibelakang. Rayyan pun masuk dan mobilpun meninggalkan rumah sakit itu.


Kinan terus menatap kepergian mereka. "Kondisi si Fani gimana sih? Kok paksi kursi roda segala." gumamnya.


"Aku harus bertanya pada pihak rumah sakit." kata Kinan. Lalu melangkah masuk kedalam rumah sakit itu.


"Maaf Mbak. Apa dirumah sakit ini ada pasien yang bernama Fani?" tanya Kinan pada karyawan yang bekerja disana.


"Fani? Nama kepanjangannya apa ya? Karena pasien disini banyak yang bernama Fani." ujar karyawan.


"Namanya Fani Rosmala." balas Kinan.


"Sebentar, saya cek dulu ya." kemudian di cek nama itu, dan memang ada. "Pasien atas nama Fani Rosmala kebetulan sudah keluar dari rumab sakit ini. Baru saja." paparnya.


"Maaf, pihak rumah sakit tidak akan memberikan informasi terkait apapun itu, karena ini sudah ketentuan rumah sakit ini." balas karyawan itu.


"Dengar, saya bisa membayar kamu lebih, sekarang cepat kasih tau. Apa penyakit dia." bisik Kinan dengan pelan.


"Sekali lagi maaf mbak. Saya tidak mau mendapatkan uang dengan cara yang tidak halal. Simpan saja uangmu itu atau sedekah untuk orang yang tidak mampu."


"Hari gini masih mikir halal dan haram? Ckck dasar munafik. Mana ada orang yang benar-benar suci di jaman modern ini. Sungguh konyol." kekeh Kinan. "Permisi." pamitnya dan karyawan itu menggelengkan kepalanya.


Fani dan Rayyan. Masih didalam mobil. "Mas, aku lapar.", keluh Fani menoleh pada suaminya yang sedang fokus menyetir.


"Oke. Kita berhenti di restoran kita ya?"

__ADS_1


Mobilpun berhenti di resto Ray's Food. Rayyan pun turun lalu melangkah dan membukakan pintu untuk mengambil kursi roda. Setelahnya ia membukakan pintu untuk Fani. Lalu kembali membopongnya dan di dudukkan diatas kursi roda.


Lantas Rayyan mendorongnya dan mereka pun masuk.


Saat masuk. Semua karyawan disana tersenyum senang melihat sang majikan baik-baik saja.


Sakti pun mendekat. "Sehat Bu Rayyan?" tanyanya pada Fani.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat." jawab Fani tersenyum.


Rayyan pun membawa Fani keruangan miliknya. "Ehhh kok kesini sih Mas?" tanya Fani heran.


"Kita makan diruangan aku saja ya?"


Fani pasrah dan terserah mau makan dimana saja karena sudah sangat lapar.


Hidangan pun diantarkan keruangan itu. "Aku suapi ya?" tawar suaminya.


"Nggak ah, aku sendiri aja." jawab Fani.


"Jangan menolak keinginan suami." canda Rayyan. Namun candaan itu justru diambil serius oleh istrinya. Membuat Fani urung untuk makan.


"Kenapa sayang? Katanya tadi lapar?" tanya Rayyan saat hendak memasukkan suapan nasi itu kedalam mulut istrinya. Namun Fani menolaknya.


"Kamu bilang, jangan menolak keinginan suami. Lantas bagaimana jika aku tidak bisa memenuhi keinginan kamu saat harus melepaskan hormon? Aku perempuan gak beguna sama sekali. Gak berguna." akhirnya Fani terisak.


"Tidak sayang, bukan itu maksud aku." Rayyan menggelengkan kepalanya. Dan meletakka sendok itu lalu memeluk Fani dengan sangat erat.


Rayyan merasa bersalah, seharusnya dia tadi tidak mengatakan hal itu, karena istrinya kini berada dalam fase sensitif.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, maafkan aku." bisiknya pelan sambil sesekali mencium pipi sang istri yang tak hentinya terisak.


__ADS_2