
Sementara itu Kinan yang berada di kediamannya kembali terisak. Dimana teringat Dio yang tak juga menemuinya sampai saat ini selepas menurunkannya ditengah jalan.
Ya Kinan dan Dio bertengkar hebat didalam mobil. Dan saat berada ditengah jalan. Dio menyuruh Kinan untuk turun dari mobilnya dan Dio langsung pergi begitu saja. Untung ada Nindy yang mau kasih tumpangan untuk Kinan.
"Sudahlah Kin, untuk apa kamu menangisi lelaki plin plan seperti Dio. Dia tidak baik untuk kamu. Masih banyak lelaki diluaran sana yang lebih baik dan tanggungjawab dari lelaki itu." Ujar sang ibu yang menghampirinya didalam kamar Kinan.
"Tidak bu. Ibu tidak tau masalahnya. Jadi cukup diam saja."
"Jadi begitu? Ibu tidak boleh ikut campur saat melihat anaknya menangis karena laki-laki? Ibu tak setega itu Kinan membiarkan anak yang telah ibu kandung dan ibu lahirkan lalu dibesarkan dengan penuh kasih sayang, lantas ibu diam saja?"
"Ibu tidak mau kejadian pada ibu dulu terulang lagi padamu Kinan. Ibu tidak mau." Ucap Kanita sembari memeluk Kinan.
Kanita hanya tak tau bagaimana Kinan yang sekarang sudah hilang kehormatan akibat ulah Kinan sendiri.
Kinan juga tidak tau apa benih itu akan tumbuh dirahimnya atau malah sebaliknya. Lalu Kinan tiba tiba mengusap perutnya.
"Kenapa Kin. Perutmu sakit?" Tanya Kanita cemas karena Kinan terus saja memegang perutnya.
Tidak, Kinan tidak mau ibunya tau apa yang telah Ia perbuat bersama Dio. Kinan tak mau membuat ibunya sedih. Kehidupannya sudah berada dibawah. Ia tak mau menambah masalah lagi pada ibunya. Sehingga Kinan hanya menggelengkan kepalanya.
"Yasudah ibu keluar dulu mau masak untuk makan siang."
"Emang mau masak apa bu?"
Kanita yang mendengar pertanyaan Kinan pun kembali memejamkan matanya.
"Kenapa sih bu? hidup kita nelangsa dari dulu semenjak ayah tiada. Kinan ingin kehidupan seperti teman teman Kinan. Kinan capek bu selalu berada digaris kemiskinan." Keluh Kinan dangan kesal.
"Sayang, ada saatnya orang dibawah dan ada saatnya orang diatas nak. Sekarang kita boleh saja dibawah. Tapi kedepannya kita takkan pernah tau. Ibu masak seperti biasa tempe goreng, lalapan, sambal itu sudah membuat perut kita kenyang jika kita bersyukur." Tukas Kanita sembari mengusap kepalanya.
"Selalu itu" jawab Kinan kesal.
Kanita hanya menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari kamar Kinan. Ya kehidupan mereka sekarang pas-pasan semenjak ditinggal Shanjaya. Sempat memiliki tabungan yang lumayan tapi sudah habis untuk kebutuhan dan untuk menutupi hutang hutang mereka. Jadilah mereka hanya bergantung pada jualan sayur keliling, karena Kinan belum mau mencari pekerjaan. Pikirnya hidup harus dinikmati bukan untuk capek kerja.
Dan bukannya Kanita memanjakan sang anak. Tapi memang Kinan yang susah diatur. Kanita juga pernah menyuruh Kinan untuk mencari pekerjaan. Tapi Kinan hanya bilang malas.
***
Sementara itu Rayyan berada ditoko bunga yang tak jauh dari pasar. Rayyan membeli bunga mawar kesukaan Fani yang akan dia kasih jika pulang kerja. Rayyan sengaja membelinya dahulu karena ingin bunga itu menemaninya saat diruangan kerja karena berasa istrinyalah yang ada disana.
Tapi pas Rayyan keluar dari toko tersebut, dia dikejutkan dengan perempuan yang berdiri disamping mobilnya. Melisa. Perempuan itu adalah Melisa. Tapi sekarang Melisa berpenampilan sedikit sopan. Ia mengenakan celana jeans dan dipadu dengan tunik yang panjangnya selutut, lalu rambut yang di kuncirnya sedikit.
Ya karena melisa setelah pergi dari caffe tadi ia sempat ke mall untuk membeli pakaian dan langsung ia kenakan saat itu juga.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Rayyan yang sudah menghampirinya.
"Ohh Rayyan sayang akupun masih ingat ini mobilmu, makanya Kita ketemu lagi sekarang. Lihatlah kita memang jodoh bukan? Uppss" ucap Melisa sembari menutup mulut dengan kedua tangannya. Lalu netranya fokus menatap bunga yang ada ditangan Rayyan. Kemudian Melisa rebut bunga itu dan berhasil dia pegang.
"Melisa jangan main main. Balikin gak?" Bentak Rayyan.
"Ini buat aku kan?" Tanya Melisa tersenyum sembari mencium bunga mawar tersebut.
"Melisa. Kamu!" geram Rayyan sembari mengepalkan tangannya.
"Apa! apa! Mau tampar aku lagi sayang? Tidak puaskah yang tadi" ucap Melisa dengan mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
Rayyan berusaha meraih bunga yang ada ditangan Melisa. Tapi bunga itu malah Melisa buang.
"Kenapa? Jika aku tidak bisa memilik kamu, maka istri kamu pun tidak boleh memilikimu" teriak Melisa dengan penuh amarah.
Rayyan hanya diam saja. Merasa percuma meladeni perempuan seperti Melisa.
"Ini kan yang kamu mau? Memakai pakaian sopan seperti ini? Atau ingin aku berhijab seperti istri kamu? Tapi untuk apa berhijab jika kelakuannya suka merebut punya orang" ucap Melisa dengan sorot mata tajam.
"Jaga ucapan kamu"
"Kamu yang harusnya dijaga Rayyan. Yang sangat keterlaluan memutuskanku begitu saja, apa salahku Rayyan. Apa?" Isak Melisa pada akhirnya.
"Maaf" ucap Rayyan karena tidak tega jika melihat wanita menangis apalagi itu karena dirinya.
"Hanya maaf kamu bilang? Sungguh tidak adil buatku".
"Lalu aku harus apa? Agar kamu mau memaafkan aku."
"Ceraikan istri kamu sekarang juga. Itu adil buatku karena sama sama tidak bisa memiliki kamu."
"Permintaan yang konyol" ucap Rayyan sambil menaikkan bibirnya kearah kiri.
"Atau hidup kalian tidak akan tenang."
"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan istriku. Dia cintaku hidup dan matiku."
Cuuiihhh
"Sungguh kau telah dibutakan oleh penampilannya. Asal kamu tau istri kamu yang sangat kamu cintai itu belum bisa move on dari mantan kekasihnya. Apa kamu mau hidup dengan wanita yang masih menyimpan lelaki masalalu didalam hatinya?" Ujar Melisa.
"Jangan ikut campur urusanku. Kita sudah selesai dan aku harap kamu tidak usah muncul lagi dihadapanku. Maaf aku harus pergi."
"Dan aku akan kasih tau bagaimana kita dulu." Ujar Melisa tersenyum.
Rayyan yang sudah melangkahpun berhenti mendengar ucapan Melisa.
"Maksud kamu?" Tanya Rayyan sembari membalikkan badannya.
"Aku akan kasih tau istri kamu. Bahwa kamu dulunya lelaki pemabuk. Juga kamu suka ke club malam untuk bersenang senang disana bersama para wanita." Kekeh Melisa yang merasa sudah diatas angin.
"Jangan macam macam kamu". Umpat Rayyan.
"Kenapa? Takut? Hahaha...." ucap Melisa disertai ketawa yang cukup keras. "Sebucin itu kamu sama dia. Rayyan Adhiwitama. Lagipula seorang Melisa tidak akan gegabah berbicara seperti ini. Karena aku punya buktinya. Kamu ingat pas kita dihotel malam itu?" Tanya Melisa tersenyum licik. "Ya kita sudah......."
"Cukup Melisa". Teriak Rayyan "Aku tidak pernah melakukan itu sama kamu. Sama wanita manapun. Tidak pernah" ucap Rayyan penuh emosi.
"Apa kau bisa jamin ucapanmu?" Ujar Melisa sembari memperlihatkan ponselnya yang dimana terlihat foto Rayyan dengan dirinya dalam keadaan Rayyan setengah telanjang dengan posisi tertidur dan Melisa disebelahnya yang tentunya memakai pakaian yang cukup terbuka.
Ya karena Rayyan mabuk berat saat itu. Lalu Rayyan dibawa Melisa kesebuah hotel. Tapi Melisa juga tidak berbuat apa apa. Dia hanya membuka kemeja yang dikenakan Rayyan lalu ia berfoto dengan posisi kepala Melisa berada diatas dada Rayyan. Dan foto itu jadi kesempatan untuk sekarang menghancurkan rumahtangga Rayyan dan Fani.
Sebenarnya Melisa ingin melakukannya saat itu juga, tapi mungkin setan belum berpihak kepadanya yang masih berpikiran waras.
Rayyan berhasil meraih ponsel dari tangan Melisa kemudian ia menghapus foto itu.
"Aku tidak sebodoh itu Rayyan. Yang kamu kira hanya menyimpan foto itu diponsel". Kekeh Melisa.
__ADS_1
"Dasar perempuan gila". Umpat Rayyan yang begitu saja berlalu dari hadapan Melisa dan langsung masuk kedalam mobil lalu pergi.
"Ya aku memang sudah gila karena kamu". Teriak Melisa karena melihat Rayyan yang sudah kembali kedalam mobilnya.
"Bagaimana ini kalau Fani sampai tau foto itu". Gumam Rayyan sembari mengemudikan mobilnya menuju Resto miliknya.
Rayyan melirik ponselnya yang berada disamping setir karena terdengar berdering.
Disana tertulis nama sang ibu mertua.
"Ibu! Ada apa telpon." Gumam Rayyan. Lalu dia angkat.
"Hallo bu Assalaamu'alaikum?".
"Hallo wa'alaikumsalam Ray. Sibuk tidak?" Tanya sang ibu mertua.
"Lagi dijalan bu menuju ke tempat kerja, ini sebentar lagi sampai"
"Wahh ibu udah ganggu ya. Yasudah deh gak jadi"
"Emang ada apa bu?" Tanya Rayyan penasaran. nalurinya mengatakan ada sesuatu.
"Mmm.... itu...."
"Bu. Ada apa?" Tanya Rayyan kembali dengan raut wajah cemas.
"Maafin ibu Ray. Tadi ibu bilang sama Fani kalau ibu lihat kamu sama perempuan didekat pasar. Pas ibu habis belanja dari pasar. Ibu gak sengaja lihat kamu. Tapi....."
"Astaghfirullah...... Tapi apa bu?"
"Fani tiba tiba nangis dan langsung menutup pintu kamarnya, Duuuhhh maafin ibu ya. Ibu gak tau kalau ini bakal jadi masalah untuk kalian. Dan memangnya sudah ada masalah ya diantara kalian karena tadi ibu lihat pas waktu dibukain pintu mata Fani sudah memerah. Kayaknya habis nangis" ucap Lusi tak enak hati.
Rayyan hanya memejamkan matanya. Sudah diduganya akan hal ini, karena Rayyan juga melihat sang ibu mertua berdiri dari kejauhan sedang menatap ia dan Melisa.
"Ray kalau ada masalah ibu harap jangan lari dari masalah dan harus menghadapinya bersama sama".
"Iya bu, terimakasih. Tapi Rayyan tidak bisa pulang sekarang. Mungkin nanti abis magrib."
"Iya ibu paham. Ibu cuma mau ngasih tau ini sama kamu. Karena gak enak. Semua gara gara ibu. Ibu seharusnya diam saja. Tapi ibu juga penasaran siapa perempuan itu."
"Gak apa-apa bu. Mengkin memang sudah seharusnya begini, dan Rayyan janji masalah ini akan segera usai". Ujar Rayyan sembari menutup telepon dan tak lupa ucap salam.
Rayyan sudah berada direstonya. Dan memasuki ruang kerjanya. Lalu memeriksa pemasukkan dan pengeluaran bulan ini. Cukup memuaskan untuknya.
Kepalanya mendadak pusing dengan rentetan masalah yang dihadapinya sekarang ini.
Dia mengingat bagaimana ia yang dulu seorang pemabuk dan suka main ke club malam hanya untuk bersenang senang dengan teman temannya. Dan disanalah dirinya bertemu Melisa. Sehingga Rayyan mendengar kabar yang cukup mengguncang hatinya. Ibunya yang bernama Mirna dilarikan kesebuah rumah sakit karena terkena serangan jantung. Dan dalam keadaan kritis. Hampir nyawanya tak tertolong sehingga Rayyan berjanji jika ibunya sembuh dia akan meningalkan dunia malamnya itu dan menjadi lelaki yang diinginkan ibunya.
Karena seburuknya Rayyan. Ia sangat mencintai kedua orangtuanya. Ia pun tadinya tidak pernah mabuk ataupun main ditempat club malam. Tapi karena terbawa pergaulan bebas jadilah ia seperti itu, orangtuanya pun sudah lelah menasihatinya.
Rayyan melirik arloji yang ada ditangannya. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia berencana pulang sekarang juga karena hatinya merasa tak tenang sedari tadi. Sebenarnya ada pertemuan dengan pemilik ikan lele menawarkan kerja sama makanan yang akan mereka kelola. Tapi Rayyan menyuruh sakti untuk menemuinya. Ia sangat percaya pada rekannya itu yang sudah menemani ia berjuang dari nol hingga sekarang ini.
Ia pun kembali menaiki mobil dan berniat membelikan sesuatu untuk sang istri. Ia melihat toko perhiasan dipinggir jalan lalu Rayyanpun berhenti. Dan setelah memilih apa yand dirasa cocok untuk sang istri. Ia pun kembali menjalankan mobilnya menuju rumah kadua orangtua Fani.
Ya Rayyan membeli kalung berlian yang sangat cantik. Yang ia akan kasihkan untuk sang istri sebagai hadiah permintaan maafnya yang selalu membuat sang istri menangis.
__ADS_1