
Kaget, itu yang dirasakan Rayyan karena tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang, Rayyan menoleh. Seketika tangannya reflek mendorong tubuh Melisa, membuat gadis itu limbung ke belakang.
"Melisa. Apa apaan kamu." bentak Rayyan menatap Melisa dengan mata tajam.
"Aku kangeeeen." balas Melisa sambil bergelayut manja dilengan Rayyan.
"Melisa, lepasin." tegur Rayyan.
"Gak, aku mau kayak gini terus sama kamu." kata Melisa yang tak peduli.
"Kamu sudah mulai kurangajar ya, lepasin gak! Atau aku akan seret kamu untuk keluar dari sini sekarang juga." tekan Rayyan dengan sangat emosi.
Dengan terpaksa, Melisa pun melepaskannya dan berdiri tak jauh dari Rayyan.
"Pergi kamu." bentak Rayyan.
"No! Aku gak mau." tolak Melisa.
"Pergi KATA KU." Rayyan berteriak dengan suara yang cukup keras.
"Disaat itu juga, Kinan masuk karena pintunya pun tak Melisa tutup dengan Rapat.
"Lain kali, kalau mau masuk ketuk pintu dulu." umpat Melisa menoleh ke arah kedatangan Kinan.
__ADS_1
"Lain kali, pintu ditutup agar orang lain gak masuk gitu aja." ucap Kinan yang tak mau kalah.
"Meskipun begitu, harusnya kamu permisi dulu, kamu itu punya adab sopan santun gak sih?" cibir Melisa.
"Ohh tentu punya doongg, memangnya situ yang main nyelonong aja deketin suami orang, apa itu yang dinamakan sopan santun? Sungguh miris negri ini, jika semua orang berpenghuni seperti anda nona." tekan Kinan.
"Kamu." Melisa geram atas umpatan yang Kinan ucapkan untuk dirinya.
"Apa. Apa? Berani kamu?" tantang Kinan.
Bukannya ketenangan yang Rayyan dapatkan, tapi Rayyan malah dibuat pusing oleh keduanya.
Karena Melisa dan Kinan terus saja saling melemparkan umpatan dan kata-kata kotor. Hingga Rayyan pun yang mendengarnya sudah tidak tahan lagi.
"DIAAAMM." Rayyan berteriak dengan suara yang menggelegar. Membuat Melisa dan Kinan bungkam seketika.
"Rayyan." lirih Melisa.
"Aku bilang PERGIII." Rayyan semakin emosi.
Lantas, dua gadis itu pun segera keluar dari ruangan itu. Langkahnya cepat menelusuri resto itu, lalu duduk untuk memesan minuman.
"Buatkan aku minum. Cepat." titah Melisa pada Kinan.
__ADS_1
"Iwwhhh amit-amit, emang situ siapa?" cibir Kinan.
"Bukannya Kamu karyawan disini. Cepat ambilkan minum." kata Melisa dengan sedikit tekanan.
"OGAH.." tolak Kinan, dan malah melengos meninggalkan Melisa seorang diri.
Lantas, Melisa pun pergi dengan perasaan kesal, sudah banyak cara yang ia lukakan untuk mendapatkan Rayyan kembali, namun lelaki itu tak juga tertarik padanya. Hingga sebuah ide pun muncul diotaknya.
"Semoga dengan ini, aku akan berhasil mendapatkan kamu lagi Rayyan Adhitama. Tunggulah Melisamu ini yang selalu kau puji-puji saat kita masih bersama." gumamnya dan seulas senyum pun terbit dari bibirnya.
Sementara itu, Nindy datang ke kediaman Fani, namun ia terkejut karena Fani berjalan pakai kursi roda yang hendak menutup pintu rumahnya.
"Fani! Kamu kenapa? Siapa yang buat kamu seperti ini?" tanya Nindy mendekat. Ia benar-benar tidak tahu akan sahabatnya, karena ia baru saja kembali setelah lama tinggal diluar kota menemani tantenya.
Fani pun menoleh. "Nindy? Kapan datang ya ampuuunnn aku kangen banget sama kamu." ucap Fani tersenyum binar bahagia melihat Nindy kembali.
"Aku baru saja tiba tadi pagi, aku juga kangen banget sama kamu." jawabnya sambil memeluk Fani sesaat.
"Sekarang kita masuk." ajak Nindy sambil mendorong kursi rodanya. Dan pintu pun ditutup.
Lantas Nindy duduk berhadapan dengan Fani.
"Sekarang ceritakan, kenapa kamu bisa seperti ini? Apa yang terjadi Fani? Kenapa kamu gak cerita sama aku. Meski kita jauhan, tapi kan bisa lewat telepon." tanya Nindy dengan banyak pertanyaan. Ia merasa sangat bersalah karena tidak mendampingi sahabatnya disaat kesusahan.
__ADS_1
Nindy pun memeluknya dengan airmata yang ia tahan sejak tadi namun ternyata ia tak kuasa menahannya lagi.
"Fani, aku sayang banget sama kamu. Aku sudah menganggap kamu sebagai adikku. Maka saat lihat kamu seperti ini, rasanya aku gak sanggup, aku menyesal kenapa disaat-saat kamu kesusahan aku malah tidak mendampingi kamu. Maafkan aku." kata Nindy dengan isakan pelan.