Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Fani Tersadar


__ADS_3

Hari ini, dimana hari ketiga Fani di rumah sakit, namun ia tak kunjung sadar juga Membuat kedua orangtuanya dilanda kecemasan, apalagi suaminya.


Sang dokter yang menangani Fani pun masuk, mengecek kembali kesehatan Fani.


"Dok, kenapa istri saya belum juga sadar?" tanya Rayyan cemas.


"Maaf, sepertinya istri anda mengalami koma." ujar Dokter Hendrik.


"Kenapa Dokter baru bilang sekarang?" tanyanya lagi.


"Sekali lagi saya minta maaf, karena baru terdeteksi." ucap Dokter Hendrik. "Tapi sepertinya tak akan lama kok, karena sekarang semuanya sudah normal, yang penting kita berdo'a untuk kesembuhannya." katanya sambil mengusap bahu Rayyan.


Setelah selesai pemeriksaan. Dokter hendrik keluar dari ruangan itu.


"Sabar Nak, ibu yakin Fani akan segera sadar." ujar Lusi. Padahal dirinya juga sangat cemas namun demi membesarkan hati menantunya ia harus terlihat tegar.


Orangtua Fani ijin menunggunya diluar, karena sang bapak tidak begitu kuat jika mencium aroma obat atau semacam yang lainnya yang ada dirumah sakit.


Selang beberapa menit. Jari telunjuknya bergerak. Membuat Rayyan terkejut melihatnya.


"Fani sayang, bangun sayang." ucap Rayyan tak sabar.


Mata itu perlahan terbuka. Dan melihat ke sekitar.


"Mas, Mas Rayyan." panggilnya.


"Iya sayang, ini aku disini. Alhamdulillaahh Ya Allah akhirnya kamu sadar juga." Rayyan mengucap syukur sampai tak terasa airmatanya menetes.


"Aku dimana Mas? Kenapa kepalaku terasa pusing sekali." keluh Fani.


"Kita ada dirumah sakit sayang, sebentar aku panggilkan Dokter ya?"


Rayyan beranjak keluar dan langsung memanggil sang Dokter.


"Fani kenapa Nak?" tanya Wahyu.


"Alhamdulillaahh Pak, Fani sudah sadar." jawab Rayyan.


"Alhamdulillaahh Ya Allah. Ayo Pak kita masuk." ajak Lusi.


Mereka bertiga pun masuk, dan disusul Dokter Hendrik.


Serangkaian pemeriksaan dilakukan lagi. Dan semuanya membaik.


"Alhamdulillaah Pak Bu. Fani sudah semakin membaik. Dan nanti bisa di pindahkan ke ruang rawat ya." papar Dokter Hendrik.


"Iya, terimakasih Dok." kata Lusi.


"Sama-sama bu." jawabnya.

__ADS_1


"Tapi kenapa istri saya katanya masih pusing Dok?" tanya Rayyan heran.


"Itu hal yang wajar, karena ia tidur selama tiga hari. Efek dari sana bisa jadi." papar sang Dokter.


"Kalau begitu saya pamit ya? Nanti ada perawat yang akan membawa pasien pindah ke ruang rawat."


Dokter Hendrik pun keluar. Dan kini tinggal mereka berempat.


"Ibu Bapak." lirih Fani.


"Iya Nak, ini ibu. ibu senang kamu udah sadar." kata Lusi sambil menyeka sudut matanya.


Dua perawat pun masuk sambil membawa brankar, lalu melepas selang oksigen itu karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan meminta Rayyan untuk memangku Fani agar dipindahkan ke brankar yang telah disiapkan.


Dengan sangat hati-hati Rayyan melakukannya.


Setelah dibaringkan, Fani dibawa ke kamar rawat. Disusul Rayyan dan juga orangtuanya berada dibelakang.


Setelah tiba di kamar itu. Fani tersenyum menatap suaminya. Membuat Rayyan mendekat.


"Ada apa sayang? Sekarang sudah benar-benar sembuh ya?" tanya Rayyan sambil mengusap puncak kepalanya.


"Maafin aku Mas, mungkin ... Ini karena aku sudah keterlaluan sama kamu, sehingga mendapat balasan seperti ini." ujarnya yang hampir menangis.


"Tidak sayang, seharusnya Mas yang minta maaf, Mas udah berani membentak kamu. Dan Mas janji, mulai sekarang Mas tidak akan mengulanginya lagi. Dan Mas akan selalu percaya sama kamu." papar Rayyan.


"Ibu." Fani merengek.


"Gak papa Nak. Ibu sama Bapak tunggu diluar saja ya? Puas-puasin. Pasti kalian udah pada kangen kan?" candanya lagi.


"Ibu bisa aja." kekeh Rayyan yang malah diberi cubitan oleh istrinya.


Akhirnya Orangtua Fani pun keluar. Dan di dalam tentu hanya ada mereka berdua.


"Sayang, kamu tau gak? Hidupku seakan berhenti saat melihatmu setiap hari terbaring lemah dan tak sadarkan diri." ujar Rayyan sendu.


"Tapi sekarang. Mas sangat bahagia sekali. Karena akhirnya sayang udah sembuh." kata Rayyan.


"Makasih Mas. Tapi aku ingin tau bagaimana kondisiku saat itu." ujar Fani membuat Rayyan teringat soal anaknya. Ia langsung menangis terisak.


"Ehh kok nangis Mas?" tanya Fani sedikit terkejut.


"Maafin aku sayang, aku membunuh anak kita sendiri. Maafin aku." ucapnya ditengah-tengah isakannya.


"Maksud Mas apa?"


"Dokter bilang kamu hamil dan sudah berumur dua minggu. Tapi terpaksa harus digugurkan karena kamu pendarahan hebat akibat kecelakaan itu." papar Rayyan tak kuasa menceritakan itu kembali.


"Aku hamil Mas? Aku pernah hamil?" ucap Fani berbinar, karena setiap kali ia tespeck selalu bergaris satu.

__ADS_1


"Sayang maafin aku." Rayyan bangkit dan langsung memeluk sang istri.


"Tidak Mas, semua bukan salah kamu. Ini sudah takdir kita, mungkin Allah lebih sayang padanya." Fani memejamkan matanya.


"Antar aku ke kamar mandi Mas."


Fani menggerakkan kakinya kebawah. Namun pada saat akan berdiri. Ia terjatuh dan duduk dilantai.


"Sayang, kamu gak papa?" Rayyan segera membangunkannya dan memapahnya untuk duduk lagi di atas ranjang.


"Kenapa kakiku sakit sekali Mas? kakiku terasa sakit saat.harus berdiri." Fani terisak.


"Sayang, tenanglah.tenang ya?"


"Gimana aku bisa tenang Mas, aku gak bisa jalan. Kakiku seperti lumpuh." isaknya.


Lalu Rayyan menceritakan semua apa yang dikatakan dokter Hendrik.


"Tapi kakiku bisa sembuh kan Mas?" tanya Fani.


"Bisa sayang, dengan melakukan terapi, dan jangan setres juga jaga pola makan." papar Rayyan.


Sementara Melisa sudah berada dirumah sakit dimana Fani dirawat. Ia segera menemui petugas rumah sakit menanyakan diruang mana Fani dirawat.


Petugas itu memberitahukannya, lantas Melisa segera bergegas kesana.


Saat sudah dekat dengan kamar itu, Melisa melihat sepasang suami istri yang sedak duduk di depan kamar itu.


"Apa itu orangtua Fani?" gumam Melisa sambil mengamati mereka berdua. Ia pun mendekat.


"Om, Tante." sapa Melisa mengangguk sopan.


Lusi dan Wahyu menoleh.


"Saya temannya Fani, apa Fani ada dikamar ini? Saya mau menjenguknya tante, apa boleh masuk?" tanya Melisa tersenyum.


"Silakan, tapi didalam masih ada suaminya." jawab Lusi.


"Saya juga temannya suaminya Fani kok tan." jelas Melisa membuat Lusi menautkan kedua alisnya.


"Kalau begitu saya masuk ya tan, permisi." Melisa berjalan melewati mereka berdua.


"Kamu yakin perempuan tadi teman merek berdua? Dari gelagatnya sangat mencurigakan sekali." papar Wahyu.


"Ibu juga Heran Pak. Perasaan Fani gak pernah bawa teman seperti dia, mukanya aja ibu baru kenal." kata Lusi mulai curiga.


Melisa membuka pintu itu, namun saat ia melangkah masuk bukannya Fani yang terbaring diranjang yang ia lihat. Melainkan pasangan suami istri itu saling memberikan napas. Sehingga mereka berhenti karena mendengar ada yang membuka pintu. Dan keduanya menoleh.


"Jadi gini ya kelakuan kalian?" tanya Melisa.

__ADS_1


__ADS_2