Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
7. Mendiamkannya


__ADS_3

Rayyan melamun, tengah berpikir yang tidak tidak.


"Mas, ayo,,, katanya tadi belum makan" ajak Fani sambil meraih tangan Rayyan


Ya Fani sedikit mulai terbuka hatinya, dia mau mencoba untuk menerima suaminya.


Karena kebaikan suaminya selama ini, yang selalu sabar menghadapinya.


"Bu, Fani sama mas Rayyan ijin keluar dulu ya, kalau ada apa apa sama bapak, tolong hubungi kita, ibu juga belum makan kan?" Sekalian nanti Fani bawain untuk ibu sama bapak" titah Fani pada ibunya.


"Iya nak" jawab Lusi tersenyum


Mereka pun keluar kamar rawat, lalu sholat dzuhur terlebih dahulu, kemudian setelahnya mencari tempat untuk makan siang


Setelah usai, mereka berjalan hendak kembali lagi ke kamar rawat dimana sang bapak terbaring disana


"Kamu makan banyak banget, gak enek emang?" Tanya Rayyan sambil menggelengkan kepalanya


"Banyak gimana? Aku biasa makan segitu kok, tadi mas lihat aku juga gak minta nambah kan?" Jawab Fani merasa heran


"Dua piring malah kamu habiskan" ucap Rayyan.


Karena berpikir, satu piring bersama Dio, satu piring lagi dengannya.


"Hah? Kamu akhir akhir ini aneh deh mas, kamu pusing?" Tanya Fani dengan menempelkan punggung tangannya di dahi suaminya.


Tapi tangan Fani segera dia turunkan.


"Kamu kenapa sih, ada apa?"


Rayyan hanya diam saja


"Mas, jawab, ada apa?"


Sampai akhirnya, mereka tiba didepan pintu, Rayyan hendak membukanya tapi tangannya di cegah Fani


"Mas" ucap Fani sedikit meninggi


"Sudahlah, aku sedang tidak ingin bicara kali ini" jawab Rayyan dingin, kemudian buka pintu dan masuk lebih dulu


Fani berdiam diri mematung, dia bingung, karena merasa tak punya salah padanya, tak biasanya Rayyan bersikap seperti itu.


Fani tidak mau menduga duga kalau Rayyan beneran sudah tau bagaimana dia tadi siang


"Bu, ini aku bawakan makan untuk ibu sama bapak, dimakan ya" titah Fani yang sudah masuk


"Iya, makasih nak, nanti ibu makan"


Beberapa menit kemudian, Wahyu sadar


"Fan, bapak sadar Fan,,, Alhamdulillaahh Ya Allah" ucap Lusi yang ada disisi suaminya dengan lelehan bening dimatanya.


"Bapak, Maafin Fani, tidak bisa menjaga bapak" isak Fani mendekat sembari memeluknya.


"Bapak baik baik saja nak" jawab Wahyu kemudian melirik ke arah Rayyan.


"Alhamdulillah" ucap Rayyan mendekat

__ADS_1


Dokter memasuki ruangan tersebut, untuk memeriksa ulang, takut belum pulih sepenuhnya, tapi semuanya membaik, lalu diharuskan menginap satu malam dan diperbolehkan pulang esok hari, karena harus benar benar pulih


"Terimakasih Dok,,"ucap Fani


Sang dokter keluar setelah memberi resep obat yang harus diminum


Rayyan ijin pamit keluar menuju administrasi untuk melakukan pembayaran sekaligus apotik untuk mengambil obat.


"Bapak makan dulu ya, Fani yang suapin, Fani gak mau bapak sampai telat makan lagi"


"Bapak bisa sendiri kok Nak.."


Tapi Fani kekeh ingin menyuapinya, akhirnya Wahyu pun mengiyakan.


"Pokoknya bapak harus ingat, gak boleh telat lagi kalau makan" titah Fani sambil menyuapinya yang ke tiga kali


"Iya, bapak ngaku, sudah berapa hari bapak telat makan" jawab Wahyu sembari mengunyah makanan dimulutnya.


"Tuh kaann, memangnya bapak ada masalah sampai bisa telat makan?"


"Tidak adak nak, mungkin lagi nggak selera saja"


"Tapi jangan di ulangi lagi ya. Janji?" Ucap Fani sembari mengacungkan jari kelingking


Lusi yang sedang makan pun tersenyum, melihat kedekatan Fani dengan bapaknya, dia teringat dengan adiknya Fani, andai Faiza masih hidup pasti akan ikutan berkumpul disana.


Ya Faiza meninggal di usia yang masih sangat kecil, satu tahun, beda lima tahun dengan Fani, karena sakit panas yang tak kunjung sembuh, dan mungkin sang pencipta memang lebih sayang Faiza, makanya diambil duluan.


Rayyan kembali setelah semuanya beres


"Ray, kalau mau pulang, pulang saja, tapi ajak Fani, nggak apa apa kok ibu sendiri yang jagain bapak" ujar Lusi


"Tidak apa apa Ray, kamu pasti capek, pulang kerja langsung kesini, iya kan pak?" Ucap Lusi menoleh pada suaminya.


"Iya bapak juga baik baik saja" jawab Wahyu


"Baiklah pak bu, kalau gitu Rayyan pamit pulang dulu, dan besok kesini lagi jemput kalian"


"Tapi bu, Fani pengen disini jagain bapak juga" ucap Fani


"Nurut sama suamimu Fan, ayo pulang, bapak juga sembuh, lihat, dan besok juga sudah dibolehin pulang" titah Lusi


Akhirnya mereka pamit untuk pulang, setelah menunaikan sholat maghrib disana, dan setelah satu jam perjalanan, mereka berhenti dulu dimesjid, sama, untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Sholat isya.


Setelah usai, mereka memilih berhenti dulu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuju ke kediaman rumah orangtua Fani.


Karena mereka belum memiliki rumah sendiri, Rayyan berencana akan membeli rumah untuk mereka berdua dalam waktu dekat ini.


Tapi setelah mengingat bagaimana kejadian tadi siang, dia tahan dulu keinginannya.


Didalam mobil. Fani sesekali menoleh pada suaminya yang diam saja sejak tadi.


Rayyan juga sadar akan hal itu, tapi dia memilih diam, ingin tau bagaimana reaksinya jika dia mendiamkannya dan pura pura bersikap dingin.


"Kamu harus aku kasih pelajaran, dengan cara seperti ini. Itu saja." batin Rayyan


Mereka pun sampai, tapi Rayyan melangkah lebih dulu dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Fani hanya diam saja, menatap punggung suaminya yang sekarang menghilang dibalik pintu.


Di diamkannya seperti itu Fani sangat sedih, ingin kembali Rayyan yang dulu, yang bawel, baik dan penuh candaan.


Rayyan sudah berada didalam kamar dan langsung merebahkan dirinya diatas kasur, dengan menatap langit langit kamar.


Kembali ingatannya mengenai foto itu, haruskah dia mundur atau terus maju.


Rayyan pun mengusap kasar wajahnya, sembari mengacak ngacak rambutnya, tak tau harus bagaimana.


Dia sudah begitu mencintai istrinya, tapi hatinya telah kecewa.


"Mas" sapa Fani yang sudah masuk kedalam kamar.


"Aku boleh tanya sesuatu? Tapi mas harus jawab"


Rayyan hanya menoleh dan diam saja.


"Kenapa mas diamkan aku terus dari tadi, apa salahku sama mas? Jawab mas?"


Namun bukannya Rayyan menjawabnya, justru bangkit dan masuk ke kamar mandi.


"Mas" pekik Fani


Lelehan bening itupun akhirnya lolos dari sudut mata Fani.


"Kenapa rasanya sakit sekali di gini in sama kamu mas" isaknya pelan.


Dia pun mengambil handphone didalam tas nya, karena terdengar berbunyi.


"Hallo"


"Sudah sadar kok Nin, ini aku sudah dirumah"


"Iya aku gak nginap, disuruh temenin suami sama ibu"


"Iya. Wa'alaikumsalam"


Rayyan sudah berdiri ditengah pintu kamar mandi, menatap Fani yang sedang menerima telepon.


Dia juga penasaran, kenapa Fani hanya sendiri direstonya, tidak ditemani Nindy.


Ada apa sebenarnya, tapi semakin dia memikirkan semua itu, kepalanya semakin dibuat pusing


Rayyan pun sudah berganti pakaian didalam kamar mandi, dan langsung tiduran disana dalam posisi terlentang.


Sementara itu, Fani hanya berdiri menatapnya, kemudian pergi ke kamar mandi membersihkan diri juga.


Setelah selesai dan memakai pakaian ganti dan juga kerudung, Fani ikut tiduran di sisi Rayyan dalam posisi meringkuk menghadap Rayyan.


Di lingkarkannya tangannya itu, diatas perut suaminya, sedangkan tangan Rayyan masih diposisi semula, dua duanya diatas kepalanya. Fani sendiri sudah merasa nyaman didekat suaminya.


Sudah lama dalam posisi itu, hingga Fani tak sadar bahwa suaminya sudah terlelap duluan.


Fani bangkit, dan ditatapnya lamat lamat wajah milik suaminya itu, wajah yang begitu teduh, baik, penyayang, apalagi memang yang diinginkannya.


Dia usap janggut tipisnya. Kumis yang juga sedikit tumbuh, Kemudian bibirnya, dia mulai sedikit berani.

__ADS_1


Seulas senyum terbit diwajahnya, Fani mulai sadar, dirinya sudah mulai mencintai suaminya sejak saat ini.


Ya sejak suaminya bersikap dingin padanya. Kemudian dia peluk lagi, dan mulai tertidur.


__ADS_2