Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
18. Sebuah Foto


__ADS_3

Rayyan beranjak begitu saja dari hadapan Dio. Ia tidak mau memperpanjang masalah. Apalagi cuma hal sepele. Ia pun masuk kedalam mall. Menuju sebuah tempat yang menyediakan pakaian untuk wanita. Sementara Dio dibelakang terus terusan mengumpat karena keinginannya tidak Rayyan kabulkan untuk meminta maaf padanya.


Rayyan pun sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Akhirnya dia kembali keluar lalu masuk kedalam mobilnya. Ia kembali ke restoran miliknya. Lalu sakti rekan kerjanya mendekat dan kasih tau pada Rayyan kalau Melisa sekarang ada didepan rumah orangtua Fani. Melisa menghubungi Sakti karena ponsel milik Rayyan tidak aktif dari tadi.


"Mau apa dia." Ucap Rayyan kesal.


"Menurutku sihh kamu selesaikan dulu sama dia. Biar dia gak ngejar kamu lagi bro." Ucap Sakti.


Karena mereka memang sahabatan dari dulu. Bisa dibilang teman seperjuangan dalam mencari pekerjaan hingga sampai dititik sekarang ini.


"Aku sudah menyelesaikannya dari kemarin. Tapi dia yang gak tahu malu. Sudah tahu aku sudah beristri. Masih saja ngejar kayak gak ada cowok lain saja."


"Biasa lahh perempuan memang kadang suka gitu kalau merasa dia sangat mencintai kekasihnya." Kekeh Sakti yang malah mengajaknya bercanda.


"Dan itu berlaku hanya untuk dia. Karena tidak punya malu. Dan aku tekankan. Dia bukan kekasihku." Rayyan melirik pada Sakti sambil menyipitkan mata. "Kalau kamu mau. Ambil saja."


"Mengambil bekas bapak Direktur? Apa itu sopan?" Kekeh Sakti karena merasa Rayyan itu lucu. Umur sudah tua. Tapi menurutnya Rayyan belum lihai menyelesaikan masalah.


"Memangnya kenapa? Bekas saya juga yang penting belum saya apa-apakan." Ucap Rayyan yang malah sengaja menyebutnya kata saya.


"Santai bro. Gitu aja dianggap serius. Pantes hidupmu mendrama terus. Aku tau kamu lagi bingungkan? Menghadapi perempuan seperti Melisa. Gampang!" Ucap Sakti sambil menepuk bahu Rayyan.


Sakti pun berbisik ditelinga Rayyan. "Apa itu akan berhasil?" Tanya Rayyan.


"Dicoba saja. Sampai kamu berhasil berbuah, baru boleh kembali. Tenang saja yang disini biar aku yang kerjakan semuanya." Tukas Sakti.


"Memangnya mangga, berbuah. Tapi saranmu boleh juga. Mengingat akupun belum bulan madu sama istriku." Kekeh Rayyan. "Tapi kalau aku kembali dan dia mengusikku lagi gimana?"


"Serahkan padaku." Ucap Sakti terlihat percaya diri. Padahal diapun masih bingung atas sarannya. Tapi karena melihat sahabatnya itu selalu dirundung masalah. Iapun sangat iba padanya.


"Thanks bro. Kamu memang sahabat terbaikku dari dulu. Aku pulang dulu. Takut istriku duluan ada disana. Bisa berabe nantinya."


Rayyan langsung beranjak menaiki mobilnya. Dan melaju dengan kecepatan tinggi. Hatinya benar benar sedang kalut. Iapun akhirnya sampai didepan rumah mertuanya. Dan benar sudah ada Melisa yang berdiri tepat didepan gerbang. Rayyanpun turun dari mobilnya lalu segera mendekat kearah Melisa.


"Mau apa lagi?" Tanya Rayyan berusaha tenang. Padahal hatinya dipenuhi amarah pada Melisa.


"Rayyan sayang. Ternyata benar ini rumah mertuamu?" Kekeh Melisa sambil melihat bagian depan rumah itu dari balik gerbang.


"Berhenti ucapkan kata sayang. Kita bukan siapa-siapa lagi. Dan aku sudah beristri." Tekan Rayyan.


"Ohh iya lupa. Upss." Ucap Melisa sambil kedua tangannya menutup mulutnya.


"Apa maumu? katakan. Aku sudah capek terus-terusan kamu kejar." Ucap Rayyan kesal.


"Sabar sabaaarrr."


"Shitt. Orang sepertimu tidak pantas mengucapkan kata itu." Umpat Rayyan.


"Ternyata aslimu pemarah ya." Kekeh Melisa.

__ADS_1


"Ya, dan itu berlaku hanya padamu."


"Okeeyyy... aku kesini datang dengan baik-baik kok. Dan ingin meminta ijin baik-baik juga."


"Maksud kamu?"


"Aku kesini ingin meminta ijin pada istrimu sekaligus mertuamu. Untuk menjadi bagian dari hidupmu atau bisa dibilang menjadi madu istrimu." Ucap Melisa percaya diri.


"Berani sekali kamu! Tapi memang hanya orang gila yang akan melakukan itu." Tekan Rayyan.


"Ya aku sudah gila Rayyan. Dan itu karena kamu." Teriak Melisa yang tidak tahan karena terus-terusan Rayyan rendahkan. "Kalau kamu tidak mau. Aku tidak akan segan memberikan foto itu dihadapan mereka semua." Tekan Melisa.


"Foto? Foto apa?" Tanya Fani yang baru saja pulang dan sudah berdiri dibelakang suaminya.


Melisa pun tidak tau akan kedatangan Fani. Karena terhadang oleh tubuh Rayyan yang tinggi dan tegap.


Rayyan terkesiap mendengar pertanyaan itu. Karena ia pun mengenal pemilik suara itu. Ia pun menoleh kebelakang.


"Sayang sudah pulang? Kenapa gak kasih tau mas? Mungkin mas bisa jemput." Ucap Rayyan sambil memeluk tubuh sang istri lalu mengecup keningnya.


Melisa yang melihatnya. Iapun memalingkan pandangannya. Hatinya bergemuruh merasakan api cemburu yang begitu dalam.


"Mas foto itu? Apa maksudnya?" Tanya Fani kembali. Karena ia pun sangat penasaran.


"Sudahlah sayang. Bukan apa-apa kok. Kamu kan tau bagaimana sikap dia." Rayyan terus mengalihkan pembicaraannya.


"Terus kenapa mas sama dia bisa berduaan didepan rumah orangtuaku?" Ucap Fani sambil menoleh ke arah Melisa.


"Cukup Melisa." Tekan Rayyan.


"Kenapa mas. Biarkan dia berbicara dulu. Dia juga bilang kan? Datang kesini secara baik-baik." Ucap Fani.


"Nggak sayang. Kita masuk. Dan jangan hiraukan dia. Ayo." Rayyan menarik tangan Fani hingga keduanya masuk kedalam rumah. Lalu menutup pintu rapat-rapat.


"Okkeyy Rayyan. Untuk kali ini Kamu boleh lolos. Tapi nanti tidak akan." Gumam Melisa lalu pergi dari hadapan rumah Orangtua Fani.


"Mas. Kamu aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Fani yang kini keduanya sudah berada didalam kamar.


"Nggak sayang. Percaya sama mas." Ucap Rayyan memeluk Fani dan mengecupnya berulang-ulang. "Gimana tadi acaranya?"


"Lancar mas, karena memang cuma dihadiri sanak saudara Nindy doang."


"Kadonya?"


"Tante Shera suka banget kado dari aku." Ucap Fani yang sudah sedikit lupa dengan masalah tadi karena terhanyut perlakuan manis suaminya.


"Memang apa isinya?"


"Cuma satu set gamis doang."

__ADS_1


"Itu sudah sangat bagus sayang. Istriku pintar sekali dalam memilih." Puji Rayyan. Karena ia tau. Perempuan itu sangat ingin dipuji dari hal sekecil apapun.


"Gombal."


"Gak gombal sayang. Serius." Rayyan gak mau melepaskan pelukannya.


"Mas. Pengap aduuhh peluk mulu dari tadi." Fani berusaha melepaskan pelukan suaminya. Namun suaminya malah menggendongnya berjalan menuju tempat tidur. Lalu keduanya duduk dengan posisi Fani ada dipangkuan Rayyan.


"Mas." Cegah Fani karena kini tangan itu berusaha melepaskan resleting gamis yang dikenakan Fani.


Nafas Rayyan terdengar begitu berat. Dan matanya menatap bibir Fani tanpa berkedip.


"Mas sudah. Masih sore ini. Masa sekarang."


"Memangnya kenapa? Hmm?"


"Nggak. Nanti malam saja mas. Sekarang kayak gak tenang. Sebentar lagi maghrib."


"Baiklah. Tapi mas ingin bersenang-senang dulu sebentar. Gak harus melepaskan hormon kok."


Fani pun pasrah melayani keinginan suaminya. Karena ia juga sangat senang dengan perlakuan suaminya.


***


Sementara itu ditempat lain. Melisa masih saja berpikir bagaimana caranya merebut Rayyan kembali dan memisahkannya dengan Fani. Ia mencari cara untuk menunjukkan foto itu dihadapan Fani. Iapun akhirnya memiliki sebuah ide.


"Semoga kali ini berhasil. Lalu kepercayaan istrimu padamu tiada guna lagi. Aku yakin. Istrimu akan meninggalkanmu." Gumam Melisa tersenyum membayangkan jika foto itu benar-benar berhasil ia tunjukkan.


Melisa yang sudah lama didalam caffe itu pun akhirnya keluar. Lalu menaiki mobilnya. Namun saat akan dikemudikan mobilnya terasa beda. Iapun turun dan mengeceknya. Dan benar saja. Roda belakang mobilnya terlihat kempes.


"Duuhhh kok kempes sih." Ucap Melisa terlihat bingung. Karena ia tidak bisa mengganti ban mobilnya meskipun bawa ban untuk cadangan. Pergi kebengkelpun sangat jauh.


"Gimana ini pulangnya." Ditengah kebingungannya, muncul seorang lelaki yang lewat disamping mobilnya.


"Mas mas." Panggil Melisa pada Dio. Dio pun berhenti dan menoleh. "Bisa bantu saya gak? Ban nya kempes. Dan tolong gantikan dengan yang ini." Tukas Melisa sambil memperlihatkan ban mobil yang ia bawa.


Namun Dio tidak peduli dan berjalan kembali. Tapi Melisa terus memanggilnya karena hanya Dio yang kebetulan lewat. Dio pun menoleh kembali dan beranjak mendekat kearah Melisa,


lalu begitu saja tangannya meraih ban untuk dia ganti. Dan tangan itu sangat cekatan, sehingga tak terasa sudah selesai Dio kerjakan.


"Ini." Ucap Melisa sambil menyerahkan beberapa lembar kertas berwarna merah.


"Tidak usah." Ucap Dio dan beranjak pergi meninggalkan Melisa yang terlihat mematung.


"Cowok aneh. Secara jaman sekarang. Dikasih duit tidak mau." Gumam Melisa yang tentu tidak didengar oleh Dio karena sudah jauh. Melisa pun akhirnya bisa pulang.


Masih sepasang suami istri yang rupanya sudah selesai bersenang-senang. Rayyan kembali merapatkan kancing kemejanya dan langsung beranjak kekamar mandi. Begitu juga Fani membenarkan gamisnya yang sudah tidak beraturan.


Disaat itu ponsel Fani terdengar berbunyi. Ada notifikasi pesan. Iapun meraih ponselnya. Lalu membukanya.

__ADS_1


"Penasaran sama foto itu? Temui aku besok." Sebuah pesan tulisan dari seseorang. Lalu mengirim lokasi dimana mereka harus bertemu.


__ADS_2