
Rayyan dan Fani sudah berada didekat mobil mereka. Lalu tangan Rayyan hendak mau membukakan pintu mobil untuk Fani. Tapi tangannya ditahan oleh Fani.
"Udah mas gak usah. Aku bisa sendiri" ucap Fani. Lalu Fani pun membuka pintunya dan kemudian masuk.
Ada semburat rasa kecewa dalam diri Fani pada suaminya dimana atas kejadian didalam caffe tadi.
Rayyan yang mengerti dengan sikap Fani pun akhirnya hanya bisa pasrah. Ia harus menjelaskannya sekarang juga. Karena kalau ditunda tunda. Takut sang istri malah mulai menjauhinya kembali seperti awal menikah.
Rayyan juga sudah masuk dan duduk bersiap untuk menjalankan mobil.
Mobilpun akhirnya melesat menelusuri jalanan. Fani yang sedari tadi hanya diam membisu dan netranya menatap kosong.
Rayyan bingung harus mulai darimana untuk menjelaskannya pada sang istri. Ia pun mengusap kasar wajahnya dan mengambil nafas kasar lalu membuangnya begitu saja.
Ia menoleh pada Fani, netra Fani masih tetap menatap ke arah depan.
"Fan... Mas.... akan jelaskan semuanya. Tolong kamu percaya sama Mas. Ini tidak seperti yang kamu lihat." Ujar Rayyan pada akhirnya.
Fani hanya diam saja tak menanggapi apapun. Hanya ada setitik bening disudut matanya, kemudian dia usap dengan jari tangannya.
Rayyanpun menjelaskan kembali kejadian yang sebenarnya. Ya Rayyan mengakui Melisa adalah kekasihnya yang dia tinggalkan begitu saja demi menuruti keinginan sang ibu untuk menikahi Fani. Rayyan juga mengakui hubungannya dengan Melisa sudah lama tidak ada kecocokkan yang dimana sifat agresif Melisa juga cara berpakaiannya sungguh Rayyan begitu risih. Ia hanya ingin wanita yang berpenampilan seperti itu dan sifat agresifnya adalah wanita yang telah sah menjadi istrinya bukan masih sebagai kekasih.
"Lalu apa bedanya kamu dengan Dio?" Tanya Fani pada akhirnya yang masih enggan menoleh pada suaminya.
"Ya aku akui... aku salah. Ketika kita sudah menikahpun aku belum juga memutuskan hubungan dengan dia." Ucap Rayyan dengan raut wajah menyesal.
"Karena kamu masih mencintainya kan? Makanya kamu masih mempertahankannya. Dan jika kamu berhasil membuat aku berubah. Dan tugaspun juga sudah selesai. Kamu akan meninggalkanku kan? Kamu menikahiku juga atas dasar kasihan dan ingin memenuhi keinginan orangtuamu dan juga orangtuaku. Begitu kan?" Ucap Fani menoleh pada suaminya. Dan airmata pun tak hentinya berjatuhan.
Rayyan hanya menggelengkan kepalanya sembari sesekali melihat kedepan karena sambil berkendara.
Rayyan akui memang atas dasar kasihan dan karena keinginan orangtua juga. Tapi Ia juga mengakui setelah ijab qabul dia ucapkan. Dan malam malam yang telah mereka lalui Rayyan sudah mulai menyukainya.
"Dan kini kamu sudah berhasil. Jadi... aku ikhlas jika kamu menceraikan aku dan kembali pada perempuan itu."
Ciiiittt
Rem mobil itupun membunyikan suara karena Rayyan berhenti mendadak. Kaget dengan ucapan sang istri. Lalu Rayyan pun kembali menjalankan mobil untuk menepi. Dan berhenti disisi jalan.
Rayyan meraih tangan sang istri yang telah basah karena terus terusan mengusap airmatanya.
"Jika aku memang masih menginginkannya. Sudah dari kemarin aku lakukan. Dan selama kamu disisiku, apa aku ada gelagat mencurigakan? Bermain dibelakangmu?"
Fani hanya menggelengkan kepalanya.
"Dan jangan katakan itu. Aku tidak akan meninggalkanmu sekalipun kamu yang meminta." Ucap Rayyan sembari memegang tangan Fani.
"Lalu kenapa. Kamu belum juga memutuskan hubunganmu dengan perempuan itu?" Tanya Fani menatap netra suaminya lekat lekat. Ia ingin melihat kejujuran dimata suaminya.
"Aku ingin menunggu waktu yang pas. Dan karena aku tidak ingin ada yang mengganggu rumahtangga kita berdua" jelas Rayyan.
"Bohong"
"Aku jujur sayang. Untuk apa mas bohong."
Ada rasa senang dalam hati Fani karena ia mendengar kata sayang lagi dari mulut suaminya, setelah peristiwa di caffe tadi. meskipun suaminya telah menunjukkan sikap begitu perhatiannya selama ini. Tapi ucapan sayang itu tidak pernah Rayyan ucapkan. Dan Fani melihat netra Rayyan juga tidak berkata bohong. Tapi Fani ingin tau lebih jelas lagi.
"Udah lah akui saja. Lagipula dia sangat cantik dan seksi. Lelaki manapun pasti tergoda melihatnya."
"Dan itu tidak berlaku untukku sayaaangg." Jawab Rayyan manja. Berusaha mencairkan suasana.
"Udahlah aku mau pulang. Aku capek." Ucap Fani kemudian hendak membuka pintu mobil untuk keluar. Padahal hatinya sedang tersenyum mendengar kata sayang lagi.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Pulang" sentak Fani.
"Istriku kalau lagi ngambek gemesin" ucap Rayyan sembari tersenyum.
"Tolong buka kunci pintu mobilnya." Pinta Fani.
"Tidak akan."
"Mas." Ucap Fani menatap tajam pada suaminya.
"Biar mas yang antar."
"Nggak. Mas harus kerja."
"Kerja mah belakangan. Yang penting istri mas yang gemas ini." Ucap Rayyan sembari mencubit pipi sang istri.
"Ishh apaan sih. Memangnya mas kerja apaan sihh sesantai itu. Pulang pergi semaunya."
"Hmmm apa ya?" Jawab Rayyan sembari pura pura berpikir dan netranya pun melihat keatas.
"Nyebelin." Timpal Fani.
Mobil kembali jalan mengantarkan sang istri untuk pulang. Dan mereka akhirnya sampai. Fani turun sendiri dan langsung membuka pintu gerbang kemudian masuk lebih dulu dan disusul suaminya.
Tak ada sesiapa dirumah. Karena Lusi sedang kepasar belanja sayuran. Lalu Wahyu sedang istirahat didalam kamarnya.
Rayyan dan Fani langsung menaiki tangga menuju kamar mereka. Lalu keduanya masuk kedalam kamar.
"Ngapain ikut kesini." Tanya Fani sedikit sinis.
"Iya tau ini kamar mas. Tapi kan ini sudah siang. Sana pergi nanti dicariin boss. Dipecat tau rasa entar."
"Kerja lagi... kerja lagi..."
Ucap Rayyan sembari mendekat ke arah Fani.
"Ihhh sana jauh jauh."
"Memangnya kenapa sayang hemmm. Kamu halal untuk mas sentuh bukan.?"
Fani terkesiap mendengar ucapan suaminya. Kenapa Rayyan jadi seberani itu.
"Tidak mas. Jangan sekarang." Ucap Fani sembari mundur perlahan. Tapi sayangnya ia tidak bisa mundur lagi karena sudah mentok didinding kamar.
"Memang kita mau ngapain?" Tanya Rayyan tersenyum sembari satu tangan kirinya menyangga ke tembok dan menaruhnya disisi kepala Fani.
Fani hanya menggeleng. Lalu tangan kanan Rayyan meraih tangan Fani yang sudah berkeringat dingin. Tapi Fani menepisnya.
"Kenapa sayang? Kenapa tidak mau aku sentuh hanya tangan ini, sedangkan kemarin kamu terlihat begitu menikmatinya disentuh lelaki yang bukan suamimu saat di resto kemarin. Apa karena dia lelaki yang kamu cinta?"
Fani membelalakkan matanya. Berarti selama ini dugaannya benar. Rayyan bersikap tak biasanya karena ada sesuatu dibalik sikap dinginnya. Ya karena Rayyan akhirnya tau tangan Fani yang sempat disentuh oleh Dio.
"Kenapa diam?" Tanya Rayyan berbisik ditelinga Fani. Yang dimana telah membuat Fani sedikit geli sekaligus gelisah karena hembusan nafasnya yang begitu terasa ditelinganya.
"Da..darimana mas tau.? Tanya Fani sembari menjauhkan kepalanya dan netranya sedikit meringis menatap suaminya.
"Itu tidak penting sayang, yang terpenting sekarang mas ingin memiliki kamu seutuhnya."
"Tapi mas." Fani tersentak.
__ADS_1
"Tidak ada tapi tapian sayang hemm."
Sungguh kata sayang barusan yang kembali Rayyan ucapkan seperti bukan kata sayang sungguhan, tapi kata sayang seperti ejekan karena mengingat tangan itu yang sudah disentuh Dio dan Rayyan berpikir Fani diam saja dan menikmati sentuhannya.
"Aku belum siap mas. Aku mohon," ucap Fani dengan raut wajah memelas.
"Lalu kapan? Menunggu kamu diambil lagi olehnya begitu? Sungguh hatiku sakit saat melihat kalian berduaan lalu tangan itu........"
Rayyan memejamkan matanya dan tak berani melanjutkan kata katanya.
"Maaf, itu tidak seperti yang mas lihat. Aku sedang makan disana bersama Nindy. Lalu tiba tiba Dio datang dan..."
"Lalu kenapa disana hanya ada kamu dan dia?"
"Tenang. Aku akan jelaskan semuanya. Nindy tiba tiba mules lalu dia ijin ke toilet sebentar dan disaat itulah Dio mungkin mengambil kesempatan lalu meraih tanganku dan itu tidak lama karena aku tepis." Fani menjawab setenang mungkin. Padahal hatinya ada rasa takut.
"Bisa kebetulan gitu ya!" Ucap Rayyan sembari mengerutkan dahinya.
"Tolong percaya sama aku, aku tidak bohong."
Rayyan yang tadinya mengurung sang istripun akhirnya mundur dan berjalan ke dekat jendela kamar. Rayyan menatap langit dari jendela tersebut. Begitu rumit rumahtangganya. Seolah masalah tak kunjung usai.
"Aku pergi dulu." Rayyan membalikkan badannya dan langsung melangkah menuju pintu keluar kamar. Dan tidak pamitan sama sekali pada sang istri.
Fani melihat kebawah dari jendela kamarnya yang dimana sang suami sudah menaiki mobil lalu perlahan mobil itu hilang dari pandangan.
Fani duduk ditepian kasur dan tidak bersemangat sama sekali.
"Sikapmu aneh mas, barusan manis terus dingin lagi. Ada apa? Kalau mau kembali pada dia jujur saja dari sekarang. Aku ikhlas." Isak Fani pada akhirnya tak kuasa menahan tangisnya.
Pintu kamar terdengar diketuk, buru buru Fani mengusap airmatanya.
Fani berjalan lalu membukakan pintunya.
"Ibu"
"Mata kamu kenapa nak. Kok merah?" tanya Lusi karena melihat mata Fani memerah.
"Nggak bu. Ini hanya kelilipan." Jawab Fani berbohong sembari mengucek matanya.
"Ada apa bu.?" Tanya Fani karena malihat wajah ibunya seperti ingin kasih tahu sesuatu.
"Nak tadi ibu abis dari pasar. Terus ibu lihat kayak ada Rayyan diseberang jalan. Tapi....." ucap sang ibu yang masih berdiri didepan pintu.
"Tapi apa bu..?" Tanya Fani sedikit cemas.
"Dia... sama perempuan."
Lelehan bening itupun kembali lolos dari netra cantiknya.
"Loh kok nangis. Siapa tau itu saudaranya." Sang ibu menenangkan.
"Orangnya cantik kan bu? Seksi, Kulitnya putih. Dan... akhh....." Fani mengusap kasar wajahnya.
"Gak tahu ibu juga, cantik apa tidaknya karena lihat dari belakang. Kalau putih sih emang iya." Jujur sang ibu karena tidak tahu menahu ada masalah apa antara Fani dengan suaminya.
"Maaf bu. Biarkan Fani sendiri."
Fani langsung menutup pintu kamarnya. Ia pun luruh dibalik pintu kamar dengan menangis terisak.
Lusi yang panik mendengar sang anak menangispun akhirnya berniat menelpon Rayyan. Memberi tahukan kondisi Fani saat ini. Dan Lusi menyesali karena memberitahu Fani. Seharusnya ia tak melakukan itu.
__ADS_1