Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
14. Melakukan Apa yang Seharusnya Dilakukan


__ADS_3

Melihat sang istri memoles wajahnya. Rayyan langsung beranjak mendekatinya.


"Kamu pakai apa?" Basa basi Rayyan, padahal sudah tau istrinya memakai apa.


"Ya make-up lah mas. Emang gak tau ini apa?" Jawab Fani yang terus menuangkannya untuk diaplikasikan kewajahnya.


"Ya mana mas tau. Emang mas pernah lihat kamu pakai apa?"


Fani yang mendengar jawaban suaminya itupun tangannya seketika terhenti. Ia pun memejamkan matanya mengingat bagaimana sikapnya diawal menikah. Yang hanya memakai bedak pun ia enggan memakainya didalam kamarnya sendiri. Ia selalu memakainya dikamar mandi. Dengan alasan malu jika suaminya bertanya. Padahal karena ia belum bisa menerima Rayyan. Tapi kali ini tidak akan ia lakukan. Ia akan melakukan aktifitas apapun didalam kamarnya sekalipun ada suaminya.


"Kenapa?" Tanya Rayyan karena melihat Fani hanya diam saja.


Fani berdiri membalikkan badannya dan menatap suaminya. Lelehan bening itupun lolos dari sudut matanya.


"Kok nangis?" Kadua tangan Rayyan memegang pundak Fani.


"Aku jahat ya mas?" Fani menundukkan kepalanya.


"Kenapa tanya gitu?"


"Jawab mas. Aku jahat kan?" kata Fani meremas ujung kerudungnya.


"Lihat mas" Telunjuk Rayyan terhulur dan mengangkat dagu sang istri. "Kamu nanya apa sih? Nggak. Kamu gak jahat. Istri mas sangat baik. Makanya mas masih berdiri disampingnya."


Seketika Fani menghambur memeluk Rayyan. Ia baru menyadari betapa baiknya suaminya ini. Yang telah menerima kekurangan dirinya. Setia dalam keadaan apapun. Ada rasa tak pantas dalam dirinya untuk lelaki sebaik Rayyan.


"Makasih mas. Makasih banyak, sudah setia disisiku meski tau sikap aku sangat menyebalkan. Makasih yang selalu sabar membimbing aku, menerima semua kekurangan aku. Makasih atas semuanya. Yang bahkan akupun tak akan bisa membalas satu persatu kebaikan kamu selama ini". Ucap Fani pelan sambil menatap manik mata suaminya.


"Cukup dengan taat dan patuh padaku. Itu sudah lebih dari cukup. Selagi dalam jalan kebenaran."


Siapa yang tidak senang mendengarnya. Wanita manapun akan terhanyut olehnya.


Kini keduanya memeluk begitu erat, menuangkan rasa yang ada dalam diri masing-masing.


Rayyan melerai pelukannya, kemudian mengusap lelehan bening sang istri dengan kedua ibu jarinya.


"Maaf" ucap Rayyan.


"Untuk?"


"Mas selalu buat kamu nangis."


"Seharusnya aku yang terus terusan minta maaf. Mas gak salah."


"Begitu?"


"Iya,"


"Mas boleh minta sesuatu?"


"Boleh. Selagi aku mampu, aku akan menuruti semua keinginanmu."


"Kamu ingat pas tadi makan malam? Ibu menginginkan sesuatu kan?"


Fani menganggukkan kepalanya.


"Maukah istriku yang cantik ini untuk memenuhi keinginan suaminya juga sang ibu mertua?" Goda Rayyan.


Lagi dan lagi, Fani hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu. Bolehkah mas...." bisik Rayyan ditelinga Fani dengan nafas berat. Fani hanya menganggukkan kepalanya sembari mengedipkan matanya perlahan. Ia mengerti kemana arah permintaan suaminya itu.


Rayyan menangkup pipi perempuan yang sangat dicintainya. Ia dekatkan kepalanya. Lalu kening mereka saling bersentuhan, lalu bibir itu..... hingga tak ada jarak dari keduanya. Dan......... Nafas keduanya kini saling menyatu. sembari tangan Rayyan memeluk punggung sang istri.


Cukup lama dalam posisi itu. Kemudian Rayyan melerai pelukannya, lalu mengajak Fani menuju ke pembaringan. Keduanya duduk diatas permadani indah nan empuk itu.

__ADS_1


"Boleh mas lepasin?" Tanya Rayyan yang ingin melepas kerudung yang dipakai sang istri.


Fani lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.


Rayyan dengan perlahan melepaskan kerudung yang melekat diwajah cantik sang istri. Lalu melemparkannya ke sembarang arah. Setelah dibuka terlihat jelas rambut yang dikuncir penuh.


Lalu Rayyan pun melepaskan ikatannya. Nampaklah rambut sebahu yang tergerai sangat indah nan hitam itu. Rayyan yang melihatnya pun sampai tak mau berkedip, dan terus menelan paksa salivanya. Hanya satu kata yang mampu Rayyan ucapkan 'cantik' Sungguh indah ciptaan tuhan ini. Rayyan terus bersyukur karena diberikan jodoh sesempurna ini. Memang didunia ini tidak ada yang sempurna, tapi bagi Rayyan istrinya itu terlihat sempurna.


Tak menunggu waktu lama. Kini keduanya kembali mengulang apa yang tadi sempat tertunda. Dengan perlahan Rayyan membaringkan sang istri dan ia langsung mengukungnya.


"Boleh sekarang?"


Tapi Fani menggelengkan kepalanya.


"Tapi mas udah gak kuat" lirih Rayyan.


Fani tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Lakukanlah apa yang menjadi inginmu selama ini."


"Sayang memang gak ingin? Hmm?"


"Tidak."


"Begitu? Awas ya! Jangan minta berhenti sebelum aku puas."


"Ya ampun. Suamiku ini." kata Fani tersipu.


Fani tersenyum malu dan hanya bisa pasrah apa yang akan dilakukan suaminya. Karena dia juga tidak mau munafik. Ia juga begitu menginginkannya. Terlebih karena bersama dengan lelaki yang dicintainya. Ya kini Fani sangat mencintai suaminya.


Hingga tanpa disadari. Satu persatu pakaian yang ada ditubuh Fani pun sudah tidak dikenakannya lagi. Entah ada dimana. Karena Rayyan melemparkannya begitu saja. Dan kini terpampang jelas bagian yang selama ini terjaga. Tapi sekarang harus rela dilihat lawan jenis. Dan itu hanya untuk suaminya. Pasangan halalnya.


Jelas ada semburat rasa malu, sehingga kedua tangan Fani terus menutupi wajahnya dan meminta lampu untuk dimatikan.


Rayyan pun bangkit untuk mematikan lampu itu. Dan hanya menyisakan lampu tidur yang ada disamping ranjang. Lalu Rayyan juga melepaskan semua pakaian yang ia kenakan.


"Jangan menyesal jika sudah terjadi. Karena mas tidak bisa mengembalikannya apa yang selama ini kamu jaga". Bisik Rayyan ditelinga sang istri.


"Lakukanlah sayang" ucap Fani tersenyum. Tapi tangannya pun belum ia turunkan dari wajahnya. Sungguh sangat malu.


"Apa tadi bilang? Coba ulangi." Ucap Rayyan sambil tangan kanannya memegang tangan Fani meminta untuk dibuka supaya bisa melihat wajahnya yang cantik itu.


"Lakukanlah sayang sesuka hatimu. Aku akan menerimanya dengan sepenuh hati." Fani tersenyum sembari tangannya perlahan ia jauhkan dari wajahnya. Lalu tangan Fani meraih ceruk leher suaminya. Kali ini tidak ada lagi rasa malu. Yang ada keinginan itu semakin menggebu.


Rayyan mengecup kening Fani lalu berdo'a sebelum aktifitas keringat itu dimulai.


Keduanya kembali menyatukan nafas. Hingga sesekali berhenti untuk mengambil oksigen, lalu memulainya lagi. Kemudian tangan itu pun bergerak mencari ke setiap inci bagian tubuh Fani yang tadi sempat disentuhnya sebelum makan malam. Fani menggigit bibir bawahnya merasakan setiap sentuhan tangan dan bibir sang suami yang begitu lembut dan hati-hati. Dan membuat Fani seakan melayang jauh.


Keduanya merasakan gairah yang begitu panas. Padahal AC kamar pun tidak mereka matikan.


"Jangan takut. Rileks" ucap Rayyan karena secara tak sengaja ada penolakan dari sang istri ketika akan melakukan penyatuan.


"Pertama memang sakit. Tapi seiringnya berjalan dengan waktu, semua akan terasa nikmat." Bisiknya ditelinga sang istri.


"Kok tau?"


"Aku semenjak menikah dengan kamu, mempelajari hal hal yang bersifat manusiawi, termasuk melakukan malam yang sakral ini. Jadi gak boleh tegang, harus rileks, biar sama sama menikmati."


"Kamu nakal ya?"


"Bukan nakal. Karena aku ingin memperlakukan istriku dengan baik dan lembut."


"Meleleh."


"Seperti aku yang akan melelehkan tembok yang selama ini tertutup rapat."


"Tapi haruskah seperti ini?"

__ADS_1


"Semua pasangan halal, pasti seperti ini sayang. Jadi diamlah. Jangan banyak bicara. Okey."


Lalu keduanya kini tengah menikmati apa yang menjadi idaman setiap pasangan suami istri. Meski terlambat melakukannya karena suatu masalah, tapi mereka begitu menikmatinya.


Tangan Fani mencengkram kuat punggung Rayyan karena merasakan sakit. Rayyan tak peduli jika ada goresan luka dipunggungnya. Ia senang karena itu ulah istri yang sangat dicintainya. ia terus fokus untuk tiba ditujuan.


Bulir keringat terus menetes dari dahi keduanya. AC dikamarpun tak mampu menawarnya. Seolah tak berguna.


Hingga kini rasa penasaran yang mendominasi dua insan itu terbayarkan. Rayyan mengecup kepala sang istri dan mencium pipinya berulang ulang.


"Semoga apa yang telah kusemai malam ini. Menjadi cikal bakal anak anak yang soleh dan solehah. Dan semoga aku gak menyakiti kamu." ucap Rayyan tersenyum sambil mengatur nafasnya.


Rayyan merebahkan dirinya disamping Fani. Lalu keduanya meringkuk saling berpelukan didalam satu selimut.


"Makasih untuk malam ini. Dan malam malam selanjutnya" ucap Rayyan tersenyum.


"Selanjutnya? Memang mau ngapain?"


"Ya olahraga malam lagi lah." kekeh Rayyan.


"Harus gitu tiap malam?"


"Hadits bilang jangan menolak keinginan suami."


"Tapi aku masih sakiiiit."


"Kalau kita coba lagi, pasti gak sakit."


"Emang gitu?"


"Iya, makanya harus sering sering melakukannya biar gak sakit." kekeh Rayyan.


"Modus." ucap Fani tersenyum.


"Kok modus sih?"


Kini tatapan keduanya saling mengunci kembali, seolah ingin memulainya lagi, dan kini mereka seperti satu kesatuan yang tak akan terpisahkan.


***


Dio mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran yang sempat Fani kunjungi. Ya Dio sekarang ada di resto milik Rayyan. Sengaja karena ingin bertemu dengan Fani. Tapi yang dicari justru tidak ada karena sedang melakukan aktifitas dimalam hari.


Bukannya Dio tak tahu ini sudah malam, tapi Dio terus terusan kepikiran Fani. Sehingga pergi lagi ke resto tersebut, karena masih berharap Fani ada diresto ini lagi.


"Fani kamu dimana?" Dio menyesal karena telah meninggalkan Fani, yang jelas jelas hanya Fani yang Dio cinta.


Ting


Sebuah notifikasi pesan di aplikasi berwarna hijau. Dio pun langsung membukanya.


"Aku ingin kita ketemu." sebuah pesan dari Kinan.


"Untuk apa? Kita udah selesai."


"Aku ingin bicara soal..... pas kita dihotel malam itu."


"Itu semua atas keinginanmu sendiri. Bukan keinginanku." Tekan Dio.


"Tapi kamu juga menikmatinya."


"Itu semua diluar kendaliku. Karena kamu memasukkan sesuatu kan kedalam minumanku."


"Semua sudah terjadi." Balas chat dari Kinan.


Namun Dio tak membalasnya lagi. Ia sangat kesal dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2