
"Pak Rayyan?" sapa Kinan saat sudah berada di belakangnya. Dan Rayyan pun menoleh ke belakang.
"Bapak ngapain disini? Mmm... Maksud saya, bapak gak kembali lagi lihat istri bapak?" tanya Kinan gugup.
"Iya sebentar lagi." jawab Rayyan, tapi matanya menatap pada ponselnya.
"Bapak kapan bekerja lagi?" tanya Kinan.
"Untuk sementara waktu Sakti yang menghandle pekerjaan saya." jawab Rayyan sambil melihat ke arah jalan.
"Bapak cari siapa?" tanyanya lagi, ia tak mau putus asa, dan terus mencari cara agar bisa dekat dengan atasannya. Membuat Rayyan menoleh.
"Kamu kenapa ingin tau urusan saya?" cetus Rayyan.
"Maaf Pak, jika saya sudah lancang." jawab Kinan menundukkan kepalanya. "Kalau begitu saya permisi." ujarnya, lalu ia melangkah melewati atasannya. Namun pada saat berada dihadapannya, kaki nya tersandung dengan sendal hak tinggi miliknya, membuat Kinan jatuh dan untung saja Rayyan menangkapnya dari belakang. Kini keduanya saling bersitatap.
Dan saat itu juga Sakti datang dan melihat adegan itu. Lalu ia mendekat.
"Kalian ngapain?" tanya Sakti sedikit terkejut. Rayyan menoleh dan reflek melepaskan tangannya sehingga Kinan terjatuh.
"Awww." pekiknya.
Namun Rayyan sama sekali tak membangunkannya. Apalagi minta maaf. Ia malah mengajak Sakti untuk pergi dari sana.
"Sial. Lagi-lagi dia cuekin aku." umpat Kinan. "Tapi tatapannya .... Sungguh menggoda sekali. Aku sudah tak sabar ingin memilikinya." Kinan terkekeh.
"Kamu gak ada main kan sama dia?" tanya Sakit saat sudah berada di depan ruangan IGD.
"Maksud kamu? Kinan?" Rayyan balik bertanya.
"Iya, terus ceritanya gimana sih? Kok kamu bisa meluk dia begitu?" tanya Sakti penasaran.
"Enak saja meluk. Jadi tuh awalnya dia lewat terus kakinya kesandung atau apa jadi deh dia jatuh tapi pas banget jatuhnya di hadapanku. Ya ... Gitu akhirnya seperti yang kamu lihat. Jadi jangan biasakan mengambil kesimpulan sendiri kalau belum tau kebenarannya." papar Rayyan.
"Iya maaf." kekeh Sakti. "Tapi tatapan dia beda sangat beda lho sama kamu."
"Biarin aja mau tatapannya kayak gimana pun ya... Terserah dia, yang penting aku biasa aja sama siapa pun. Hatiku sudah terkunci oleh sesosok bidadari yang tak kan pernah tergantikan." ujar Rayyan sambil membayangkan saat dirinya berduaan dengan sang istri.
"Iya percaya. Tapi gak harus membayangkan juga kali. Orangnya masih terbaring lemah. Kamu malah membayangkan hal itu." kata Sakti sambil menggelengkan kepalanya
"Kadang gimana ya, aku memang kasihan banget sama istriku, tapi saat melihat dia saja reaksi dalam tubuhku berbeda. Apalagi berdekatan, meski istriku belum juga sadarkan diri." jelas Rayyan.
"Kamu kayaknya harus periksa ke dokter deh Ray." ujar Sakti.
"Ehh ngapain? Aku sehat-sehat saja. Kamu lihat sendiri kan?"
"Iya kamu sehat, tapi reaksi alamimu yang gak sehat, kamu tuh terkena libido yang sangat tinggi. Aku gak bisa bayangin kalau harus jadi istri kamu, pasti kewalahan banget saat melayani kamu." kekeh Sakti yang langsung mendapatkan tinju di lengannya dan tidak terlalu keras. Tapi masih meninggalkan sakit yang gak seberapa.
"Iya iya maaf, gitu aja sewot." kekeh Sakti.
__ADS_1
Lantas mereka berdua pun masuk dan Fani tetap saja tak mau membuka matanya.
"Kondisi terakhir dokter bilang apa Ray? Kenapa Fani belum sadar juga?" tanya Sakti iba melihat kondisi istri sahabatnya.
Lalu Rayyan menceritakan semua yang dokter bilang, membuat ia semakin iba pada Fani.
"Kamu yang sabar ya? Aku yakin, istrimu sebentar lagi akan sadar." ujar Sakti sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Iya, semoga saja." jawab Rayyan lirih.
"Besok jadi gak kita ke kantor polisi?"
"Ya jadi lah, atur saja jam berapanya." balas Rayyan.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit kembali ke resto." ujar Sakti dan Rayyan membalas dengan senyuman sambil mengusap bahunya.
"Nanti aku kasih bonus karena usaha kamu menghandle semua pekerjaanku." kata Rayyan.
"Ah terimakasih, atur saja kalau begitu." jawab Sakti. Kemudian ia keluar dari ruangan itu.
Sementara ditempat lain, Melisa mendatangi resto Ray's Food. Tentu saja ia ingin bertemu dengan Rayyan.
"Susi."panggil Melisa pada karyawan disana.
"Rayyan hari ini kemana? Aku cari kemana-mana kok gak ada.
"Kecelakaan?"
"Iya, dan sekarang masih dirumah sakit." jawab Susi lagi.
"Kamu tau alamat rumah sakitnya?" tanya Melisa antusias.
"Maaf bu, kalau itu saya beneran gak tau." jawabnya sopan.
"Kabar yang sangat bagus." gumam Melisa dalam hati sambil tersenyum.
Lantas Melisa kembali keluar, dan pada saat ia masuk ke dalam mobil. Pandangannya tertuju pada kedatangan Sakti. Ia pun turun lagi dan mendekat ke arah Sakti.
"Sakti." teriak Melisa dari kejauhan.
Sakti pun berhenti dan menoleh pada sumber suara itu.
"Kamu dari rumah sakit kan?" tanya Melisa yang sudah berada di dekatnya.
"Ngapain kamu nanyain hal itu?" bukannya menjawab, Sakti malah balik bertanya.
"Aku ingin tau keadaan Fani. Katanya habis kecelakaan. Apa itu benar?"
"Kalau benar, terus kamu mau apa?"
__ADS_1
"Pertanyaanmu gitu amat." cetus Melisa.
"Udah, sebaiknya kamu pergi. Ngapain ada disini." tukas Sakti.
"Tolonglaahhh, kasih tau dimana Fani dirawat." Melisa memohon. Namun sakti tak mengindahkannya dan malah pergi ke ruangan Rayyan.
"Sshittt. Gitu aja pelit. Dasar bujang lapuk." umpat Melisa.
Lalu Melisa melintas dihadapannya.
"Ehh tunggu." panggil Melisa dan Kinan pun berhenti.
"Kamu orang baru disini?" tanya Melisa melangkah dan berdiri dihadapan Kinan.
Tapi Kinan menatap Melisa dari atas kebawah.
"Hehh ada apa dengan penampilanku?" cetus Melisa. "Jawab! Kamu orang baru kah disini?"
"Kalau iya memangnya kenapa?" tanya Kinan.
"Kamu karyawan disini kan, terus kamu tau dong soal Fani." ujar Melisa membuat Kinan menautkan kedua Alisnya.
"Ayolaahhh kasih tau aku, dirumah sakit mana dia dirawat." ujar Melisa.
"Dari cara kamu berbicara, sepertinya kamu kenal dekat dengan mereka." ujar Kinan yang terus menatap Melisa.
"Yupss kamu benar. Aku memang kenal dekat dengan mereka, apalagi dengan Rayyan suaminya Fani." jelas Melisa membuat Kinan menerka-nerka.
"Apa kamu mantannya Rayyan? Karena aku pernah tak sengaja mendengar mereka membicarakan kamu." papar Kinan.
"Lalu tunggu apalagi, sekarang kamu sudah tau kan siapa aku? Sekarang cepat kasih tau dimana Fani sekarang." tekan Melisa.
"Baiklah, tapi apa keuntungannya buatku jika aku kasih tau alamat rumahsakit itu." ujar Kinan.
"Aku akan kabulkan satu permintaan kamu. Apa saja." jawab Melisa.
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu." balas Melisa.
"Sayangnya aku ingin yang lain juga." papar Kinan.
"Apa mau kamu? Cuma kasih tau aja permintaannya banyak banget." keluh Melisa.
"Yasudah kalau gak mau, aku pergi." ujar Kinan lalu ia hendak melangkah, namun ...
"Iya iya aku akan kasih lebih. Cepat katakan dimana." tekan Melisa tak sabar.
Kinan akhirnya tersenyum, dan ia langsung memberitahukan dimana Fani dirawat.
__ADS_1