
Pagi yang cerah, secerah hati pasangan suami istri. Keduanya sudah bersiap untuk pergi. Fani juga ijin pada orangtua untuk ikut dengan suaminya. Setelahnya mereka menaiki mobil dan mobilpun melesat menuju dimana resto Ray's Food berada.
Setelah sampai. Keduanya masuk dan langsung disambut para karyawan disana yang sudah pada berdatangan. Rayyan juga memperkenalkan Fani pada semua orang yang ada disana. Semuanya mengangguk sopan dan dibalas anggukan juga oleh Fani dengan senyuman yang tak hentinya Fani berikan.
Fani tercengang melihat tempat kerja suaminya. Ia pikir suaminya bekerja disebuah kantor dan menduduki kursi yang lumayan tinggi, seorang manager. Namun dugaannya salah. Tapi yang pasti Fani tetap bahagia dengan pekerjaan sang suami. Menurutnya yang penting halal dan bisa mencukupi semua kebutuhan rumahtangganya. Karena sejauh ini. Nafkah yang diberikan suaminya sangat cukup bahkan melebihi dari kata cukup.
Merekapun menuju ruangan yang selalu ditempati Rayyan.
"Mas, jadi kamu selama ini kerja disini?" Tanya Fani ketika keduanya sudah masuk dan Rayyan melepaskan jaketnya kemudian ditaruh dibelakang kursi.
"Memangnya sayang kira, Mas kerja dimana?" Rayyan mendekat dan mengajak Fani untuk duduk disofa.
"Dikantor." Fani menoleh. "Terus restoran ini punya kamu juga?"
"Bukan, ini punya kita sayang." Bisiknya lembut.
"Terus kalau sudah tahu Mas kerja disini? Sayang malu?"
"Ihhh kok malu sih Mas. Bukan gitu maksud aku." Fani memanyunkan bibirnya.
"Sayang terdengar manja banget nada biacaranya. Bikin aku......." Rayyan mendekap tubuh sang istri.
"Mas ingat! Ini dimana?"
"Ditempat kerja. Memangnya kenapa?"
"Kalau ada yang masuk gimana?"
"Aku kunci." Rayyan bangkit untuk mengunci pintu. Namun tangannya ditahan oleh tangan Fani.
"Mas. No!" Fani menggelengkan kepala. "Aku gak mau melakukan itu disini. Lagian juga kenapa pikiranmu selalu diisi dengan hal seperti itu terus. Semalam kan udah."
"Baiklah. Mas bisa apa." Kekeh Rayyan kembali duduk.
Pintu terdengar diketuk. Rayyan bangkit dan membukakan pintu.
"Maaf bro agak telat." Ucap Sakti tiba-tiba masuk. Memang hal itu sudah wajar karena mereka sangat dekat jadi tidak ada rasa sungkan.
Sakti kaget melihat wanita yang sedang duduk disofa. Pasalnya ia tidak hadir saat sahabatnya menikah. Karena memang nikahannya hanya dihadiri dari pihak keluarga masing-masing. Dan saat itu juga Sakti sedang berada dibandung. Mengunjungi resto milik Rayyan juga.
Fani yang melihatnyapun ia bangkit berdiri dan mengangguk sopan.
"Kenalkan ini istriku." Ucap Rayyan yang berada disamping Fani.
"Dari sekian lama kalian menikah, baru kali ini aku mengetahuinya." Kekeh Sakti yang juga mengulurkan tangan kanannya. "Sakti."
"Fani." Ucapnya membalas uluran tangan Sakti.
"Maaf bro. Karena memang istriku jarang keluar rumah." Rayyan menepuk pundak Sakti.
"Sudah isi?" Tanya Sakti terlihat akrab.
"Belum." Jawab Fani tersenyum.
"Tak apa. Pasti nanti isi. Rayyan termasuk libidonya tinggi. Jadi harus selalu siap." Bisik Sakti yang ditinju lengannya oleh Rayyan.
"Jangan dengarkan dia sayang." Ucap Rayyan dengan merangkul Fani.
"Kamu kesini mau apa? Sebaiknya segera keluar kalau tidak ada urusan penting." Ucap Rayyan.
"Baru kali ini diusir. Mentang-mentang ada istri." Kekeh Sakti tak memasukkannya kehati, karena itu sudah kebiasaan mereka.
"Baiklah. Aku kesini mau memberitahukan kalian. Ditempat santai para karyawan ada seseorang yang ingin melamar kerja disini. Dia masih menunggunya disana." Ujar Sakti.
"Siapa?" Tanya Rayyan.
Sakti mengangkat bahunya. "Dia perempuan." Katanya.
__ADS_1
"Memang kita butuh karyawan lagi ya Mas?" Tanya Fani.
"Gak juga sih. Menurutmu kita terima dia?" Tanya Rayyan menoleh pada Sakti.
"Kita lihat saja dulu. Meski kita sedang tidak butuh karyawan baru. Siapa tau perempuan itu ada bakat. Misal menarik para pengunjung atau bisa membuat makanan yang lebih enak." Papar Sakti.
Rayyan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, kita temui sekarang." Tukas Rayyan.
"Aku ikut Mas." Ucap Fani.
Mereka bertiga melangkah menuju ruangan tempat para karyawan bersantai. Karena Sakti yang menyuruhnya untuk menunggu disana.
Pintu dibuka oleh Rayyan. Lalu Rayyan masuk terlebih dahulu disusul Sakti dibelakang.
Sedangkan Fani masih agak jauh. Ia jalan agak lambat karena matanya melihat-lihat dulu apa yang ada direstoran milik suaminya. Terlihat seorang perempuan sedang duduk diatas kursi. Perempuan itu bangkit menyapanya dengan sopan.
"Selamat pagi pak. Maaf mengganggu." Ucap Perempuan itu mengangguk sopan.
"Iya, silakan duduk." Titah Rayyan.
"Saya kesini mau melamar pekerjaan pak. Apa bapak butuh karyawan baru?" Tanya Perempuan itu menunduk.
"Sejauh ini sih tidak. Tapi apa kamu punya keahlian? Sebelumnya pernah kerja dimana?" Saat rentetan pertanyaan dari Rayyan. Fani baru tiba disana.
"Kamu." Ucap Fani.
Melihat siapa perempuan yang akan melamar kerja diresto milik suaminya. Karena perempuan itu adalah Kinan. Teman sekaligus perebut lelaki yang dulu sempat terpuruk karena ditinggalkan lelaki itu demi bersama dengan Kinan.
Kinan mengangkat wajahnya melihat siapa yang bicara. Tapi Kinan tidak terkejut. Karena dia sudah tau Fani istrinya Rayyan.
"Ya, maaf Fan, kalau aku lancang datang kesini. Aku hanya sedang butuh pekerjaan." Ucap Kinan dengan menundukkan kepalanya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Rayyan.
Sedangkan Sakti tetap diam saja.
Rayyan memejamkan matanya. Ia ingat siapa Kinan. Karena Fani pernah cerita. Ia pun mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya begitu saja. Rayyan tau keputusan apa yang harus diambilnya. Ya dia tidak akan menerima lamaran kerjanya. Karena memikirkan sang istri. Tapi itu berarti ia tidak professional menghubungkan masalah pribadi dengan pekerjaan.
"Pak jangan kaitkan masalah kami. Saya mohon, saya sangat butuh sekali pekerjaan ini." Kinan memohon mengatupkan kedua tangannya.
"Saya serahkan semuanya pada istri saya. Karena memang disini sedang tidak membutuhkan karyawan lagi." Tukas Rayyan menoleh pada sang istri yang memejamkan matanya.
"Baiklah karena suamiku ingin aku yang memutuskan. Kamu boleh kerja disini. Tapi dengan satu syarat."
"Terimakasih Fani... kamu memang baik hati dari dulu, apapun syaratnya saya akan turuti." Ujar Kinan tersenyum dan menatap wajah Fani.
"Kamu aku tugaskan bagian memasak."
Kinan sangat terkejut. Pasalnya ia ingin ditugaskan melayani para pengunjung, karena Kinan sangat tidak suka memasak. Ia bisa, tapi sangat jarang ia lakukan.
Dengan terpaksa Kinan menyetujuinya. Karena menurutnya dimana lagi ia harus mencari pekerjaan. Karena hanya bermodalkan ijazah SMA.
"Karena istri saya sudah memutuskan. Jadi mulai besok kamu boleh bekerja disini. Dan Sakti. Tolong kamu ajari tugas apa saja yang harus dia kerjakan." Ujar Rayyan.
"Siap bos!" Tangan Sakti memberi hormat.
"Kalau begitu kami pamit keluar, ayo sayang."
Melihat kemesraan Fani dan suaminya. Kinan membuang pandangannya. Karena rasa iri dan tidak suka pada Fani masih ada.
Kinan pun dibolehkan untuk pulang, karena ia mulai bekerja esok hari.
Sementara itu ditempat lain. Melisa masih berdiam diri dikamarnya. Ia mencari cara lagi agar bisa menunjukkan foto itu, sebenarnya gampang saja. Tinggal mengirim foto itu lewat ponsel. Tapi Melisa ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana reaksi Fani jika melihat foto itu.
Dan ia pun bergegas untuk kembali ke resto milik Rayyan. Bagaimanapun ia tak akan menyeraj begitu saja. Karena sampai saat ini Melisa masih sangat mencintai Rayyan.
***
__ADS_1
"Mas, aku bosan disini terus." Keluh Fani.
"Lagian juga siapa yang nyuruh kamu ikut." Ucap Sang suami tak menoleh, karena matanya terus menatap laptop yang ada dihadapannya.
"Ihhh kok gitu." Fani cemberut.
Rayyan mematikan laptopnya mendekat kearah istrinya yang diduduk disofa. Ia pun dudud disampingnya.
"Mas, lagi mengerjakan iklan untuk resto kita sayang, makanya mas fokus kerja dari tadi. Jadi sabar ya nungguinnya lama."
"Tapi siang ini mudah-mudahan bisa selesai, agar mas bisa membawa kamu kerumah baru kita."
"Mas serius?" Fani menoleh tersenyum.
"Iya."
"Makin cintaaaaa." Ucap Fani memeluk suaminya erat.
"Tapi tidak gratis."
"Hah ada syaratnya?" Fani meluruhkam bahunya.
"Ketoilet aja bayar." Kekeh Rayyan.
"Iya apa syaratnya?"
"Nanti malam kamu harus pakai gaun yang Mas pilihkan. Karena malam ini kita tidak tidur lagi dirumah ibu. Tapi dirumah kita."
"Ok.. asalkan aku suka gaun itu."
"Suka, pasti sangat suka." Goda Rayyan.
"Kok tatapannya gitu amat? Pasti gaun itu tidak beres."
"Pakai saja nanti, gak boleh tidak."
Akhirnya Rayyan kembali ke kursinya untuk melanjutkan iklan yang hampir saja selesai.
Ponsel Rayyan berdering dan Rayyan langsung mengangkatnya.
"Hallo Sakti ada apa?"
"Diluar ada Melisa. Dia baru turun dari mobil. Sepertinya mau kesini."
"Ya Tuhan. Mau apa lagi dia." Rayyan menutup teleponnya.
"Siapa Mas?" Tanya Fani mendekat.
"Sakti bilang, diluar ada Melisa." Rayyan bangkit memeluk sang istri.
"Maaf jika kamu harus selalu berhadapan sama dia." Kata Rayyan mengecup kening istrinya.
"Tidak apa Mas. Aku kan istri kamu, suka duka kita lewati bersama."
"Mungkin aku harus ajak kamu untuk bulan madu, semenjak menikah kita belum pernah bulan madu. Nanti keburu hamil duluan." Ujar Rayyan tersenyum dan mengelus perut istrinya.
"Kemana?"
"Bandung mungkin! Ya ke bandung, Mas juga belum pernah lagi mengunjungi restoran kita disana."
"Memangnya tidak hanya dijakarta ini saja ya Mas?"
"Tidak sayang. Kita punya dua cabang resto, dijakarta dan dibandung. Kalau yang dibandung, yang pegang ayah. Jadi selain kita bulan madu disana, kita juga bisa mengunjungi resto kita."
"Sekali lagi makasih sayang, kamu sudah berikan begitu banyak kebahagiaan."
Mereka pun hanyut dalam buaian dan keromantisan masing-masing, sehingga lupa dengan kehadiran Melisa yang bahkan saat ini ada didepan pintu ruangan Rayyan.
__ADS_1