
"Siapa kamu?"
"Masa gak tahu siapa aku. Coba dizoom."
Fanipun melakukannya, dan terlihat jelas siapa yang mengirim pesan. Karena foto itu diambil bagian tubuh dari belakang. Namun masih bisa Fani kenali.
"Darimana kamu tahu nomorku?"
"Itu tidak penting. Yang terpenting adalah aku akan menunjukkan foto itu padamu." Ucap Melisa sambil menaikkan bibirnya kesamping.
"Aku tidak akan terpengaruh dengan omongan kamu. Karena aku hanya percaya pada suamiku."
"Sungguh kamu tidak penasaran? Bagaimana kalau aku dan suamimu ada main dalam foto itu? Apa kamu akan tetap percaya pada suamimu?" tanya Melisa sambil menyunggingkan senyumannya.
Namun pesan itu tidak terbaca oleh Fani dan hanya contreng satu. Karena Fani mematikan ponselnya. Ia tidak mau terpengaruh oleh Melisa. Ia harus mempercayai suaminya yang sudah begitu baik padanya.
Rayyan sudah selesai membersihkan diri. Kini gantian. Lalu setelah keduanya usai. Mereka melakukan sholat maghrib didalam kamar. Lalu setelahnya merekapun turun kebawah yang dimana sudah ada sang mertua menunggu dimeja makan.
Kini semuanya sudah berada dimeja makan. Lalu masing-masing mengambil nasi juga lauk pauknya. Tak lupa Fani menyiapkan untuk sang suami. Begitu juga ibunya Fani menyiapkan untuk sang suami juga. Semuanya makan bersama dengan penuh rasa syukur. Syukur yang tiada hentinya karena kebahagiaan kini menyertai mereka semua.
"Bu, Pak. Aku dalam waktu dekat ini sudah membeli rumah untuk aku tinggali bersama dengan Fani. Dan maaf ini mungkin terdengar dadakan dan tidak sopan karena tidak ijin dulu pada kalian semua. Aku lakukan ini karena ingin memberikan kejutan untuk istriku." Ujar Rayyan ditengah-tengah menikmati makanan.
"Mas, kenapa gak bilang?" Tanya Fani menoleh terkejut.
"Maaf sayang. Mas hanya ingin kasih kejutan buat kamu. Tapi yaaa sekarang saja lah mas umumin, gak enak dipendam terus, biar ibu sama bapak tahu."
"Kami justru bahagia mendengarnya nak. Maaf jika selama ini kami belum bisa kasih yang terbaik. Terutama tempat tinggal." Ucap bapaknya Fani.
"Tidak pak. Justru ini adalah kewajiban saya untuk membahagiakan Fani." Ucap Rayyan.
"Makasih Mas."
Kini Fani tak kuasa menahan harunya. Dia memeluk suaminya dihadapan orangtuanya. Rasa kepercayaan pada suaminya semakin dalam. Jadi dia berjanji untuk tidak terpengaruh pada siapapun, apalagi orang itu mau menghancurkan rumahtangganya.
Orangtuanya saling lirik lalu tersenyum karena melihat sang anak sendiri terlihat bahagia dengan lelaki pilihannya. Apalagi kini Fani tak malu lagi memeluk Rayyan dihadapan orangtuanya.
"Aku ijin besok untuk pindahan bu, pak, bagaimana?"
"Tidak apa nak. Malah bagus, lebih cepat lebih baik." Ucap ibunya Fani. "Memangnya beli dimana." Tanya Wahyu.
"Dekat sini kok. Di gang sebelah. Sengaja beli daerah sini lagi. Karena biar dekat sama ibu sama bapak."
"MaasyaAllah. Semoga keberkahan menyertaimu nak. Makasih atas kebahagiaan yang kamu kasih pada anak kami." Ucap Wahyu terharu. Begitu baik menantunya ini.
__ADS_1
Setelah usai. Fani dan Rayyan ijin kekamar lebih dulu. Dan keduanya langsung berpelukan ketika sudah berada didalam kamar.
"Sekali lagi makasih sayang. Untuk semuanya. Aku sangat bahagia." Ucap Fani sambil memeluk suaminya.
"Iya sayang. Maaf baru kasih tahu sekarang." Ucap Rayyan.
"Iya aku paham. Makasih untuk semua kebahagiaan ini."
Keduanya melerai pelukannya. Dan memilih untuk duduk disofa.
Tapi justru Rayyan bangkit lagi untuk mengambil laptop. Ada kerjaan yang harus diselesaikan sekarang. Pemasok makanan dari luar kota ingin keputusannya sekarang. Ingin bekerja sama atau tidak. Jadi dia harus menandatangani sekarang juga. Ia juga harus pergi ke restonya sekarang, karena berkas itu ada disana. Ia hendak menghubungi Sakti agar menyiapkan berkas untuk ditandatangani.
Namun ponselnya mati karena batrainya habis. Ia lupa tidak menchargernya.
Lalu Rayyan meminjam ponsel Fani untuk menghubungi Sakti. Untung nomornya tercatat juga dilaptopnya. Sementara Fani ijin dulu ke toilet.
Namun pada saat ponsel itu Rayyan hidupkan. Ada pesan dari nomor yang tadi menghubungi Fani. Ia buka lalu baca mulai dari awal. Rayyan sangat geram dengan perilaku Melisa. Iapun menghapus pesan yang terakhir. Untung Fani belum membacanya. Hatinya masih lega karena tahu sang istri sangat mempercayainya.
Rayyan tahu harusnya ia tidak usah takut jika Fani tahu foto itu karena ia tidak melakukan apapun dengan Melisa, dengan siapapun. tapi Rayyan tidak percaya bahwa Fani akan baik-baik saja jika sudah mengetahuinya. Meski mulut berbicara akan selalu percaya padanya. Tapi hati siapa yang tahu.
Lalu iapun menghubungi Sakti. Apa saja yang harus dipersiapkan. Setelahnya ponsel itu ia letakkan kembali diatas meja. Ia sekarang tidak mau tahu hal lebih jauh jika Fani masih menyimpan foto Dio dalam ponselnya. Ia hanya akan fokus pada apa yang dijalaninya sekarang. Terlebih sang istri terlihat kini sangat mencintainya.
"Mas jadi berangkat sekarang?" Tanya Fani yang sudah keluar dari kamar mandi. Dan ia hanya memakai pakaian longgar diatas lutut. Tapi sangat menggairahkan bagi Rayyan yang melihatnya.
"Istriku cantik sekali." Puji Rayyan dan matanyapun tak hentinya memandang.
"Sudah mas. Ada hal penting kan? Kalau begitu pergilah."
"Iya. Tunggu aku sayang." Ucap Rayyan sambil mengedipkan matanya.
Rayyanpun pergi. Tapi Fani kembali mengingat pada Melisa. Iapun mengambil ponselnya lalu melihat lagi isi percakapannya dengan Melisa. Fani terkejut karena Melisa tidak membalas pesannya lagi. Ia pun tak mau ambil pusing. Lalu beranjak untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
Sambil menunggu kedatangan sang suami. Fani memainkan ponselnya. Ia hanya punya akun instagram. Itupun sangat jarang ia buka. Tapi saat membukanya Fani dikejutkan dengan kabar Kinan yang berada dirumahsakit beberapa hari kemarin. Karena Kinan sendiri yang memostingnya.
Meskipun Fani dan Kinan sempat bersitegang. Mereka tetap berteman di akun instagram.
Lalu dia scrol ke bawah, dan muncul postingan lelaki yang selama ini selalu ada dihatinya. Dio memosting foto dirinya sendiri sedang memeluk bunga mawar. Karena memang bunga itu kesukaan Fani. Didalam foto itu tertulis bahwa tak bisa melupakan kenangan manis bersama orang yang menyukai bunga mawar tersebut.
Fani yang merasa itu untuk dirinya. Ia segera membuka akun milik Dio. Lalu unfollow. Ia tidak mau ada pengganggu dirumahtangganya. Karena sudah berjanji akan patuh pada suaminya.
***
Dio yang berada di sebuah resto milik Rayyan ia terkejut melihat kedatangan Rayyan. Lalu iapun beranjak mendekat kearah Rayyan.
__ADS_1
"Akhirnya ketemu lagi." Ucap Dio tersenyum kecut.
Rayyanpun menoleh dan pura-pura tidak ingat.
"Kenalkan saya Dio. Yang kemarin bertemu dengan anda disebuah mall karena insiden." Dio mengulurkan tangan kanannya.
"Ohhh ya saya ingat. Mau apa lagi?" Rayyan membalas jabatan tangan Dio. Tapi tidak menyebutkan namanya.
"Tenang santai. Saya cuma ingin anda meminta maaf pada saya."
"Itu lagi."
"Ya kenapa? Saya tidak akan puas sebelum anda meminta maaf pada saya."
"Memangnya sepenting itu?"
"Ya bagiku sangat penting. Tapi dari tadi anda belum menyebutkan siapa nama anda, padahal saya sudah perkenalkan siapa nama saya." Dio mengerutkan dahinya.
Rayyan pun mengulurkan tangan kanannya. "Rayyan Adhiwitama."
"Kayak gak asing dengan namanya?" Dio gak menerima jabatan tangan itu. Malah tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. Rayyan pun kembali menarik tangannya.
"Ya kamu pasti tahu siapa saya."
Dio ingat akun facebook milik Rayyan yang sempat dikasih tahu oleh Kinan.
"Tidak. Kamu pasti bukan Rayyan suaminya....."
"Ya. Saya suaminya Fani Rosmala. Wanita yang masih saat ini kamu cintai." Ujar Rayyan memotong pembicaraan Dio.
"Jadi kamu pemilik resto ini?"
"Ya anda benar."
"Kurang ajar." Dio hendak melayangkan pukulan. Namun tangan Dio berhasil Rayyan pegang.
"Apa alasan anda ingin menghajar saya?"
"Itu untuk pelajaran karena kamu telah merebut Fani dariku." Teriak Dio menatap tajam Rayyan.
"Bukannya kamu sendiri yang melepaskan Fani?" Kekeh Rayyan tak terpancing.
"Akupun percaya. Pasti Fani masih mencintaiku. Ck malang sekali nasibmu. kamu hidup dengan wanita yang masih menyimpan lelaki yang pernah singgah dihatinya." Kekeh Dio percaya diri.
__ADS_1
"Terserah kamu mau ngomong apa." Rayyan melangkah meninggalkan Dio. Namun baru tiga langkah ia berhenti lagi. Lalu menoleh pada Dio. "Tolong jauhi istri saya."