
Dengan langkah gontai. Dio keluar dari resto tersebut. Karena memang percuma dia ada disana. Fani tak akan datang. Ia pun memilih pergi ke lokasi yang dikirim Kinan, padahal ini sudah menunjukkan hampir jam duabelas malam.
Dio pun sampai ditujuan. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Terlihat seorang perempuan duduk dibangku diujung taman. Ya... Kinan memilih untuk bertemu ditaman tak jauh dari resto RRF.
"Ada apa lagi?". Tanya Dio dari belakang. Karena sudah tau siapa perempuan yang duduk ditaman kalau bukan Kinan. Lagian ini tengah malam. Mana ada orang ditaman ini.
Kinan menoleh lalu berdiri. " kemarilah. Aku mau bicara serius sama kamu". Ujar Kinan. Ia pun duduk kembali sambil mempersilahkan Dio untuk duduk disisinya.
"Buat apa kamu menghubungiku lagi Kinan. Bukankah aku sudah memutuskan hubungan denganmu. Dan kita tidak ada hubungan apa apa lagi sekarang, selain teman". Ujar Dio tanpa menoleh sedikitpun.
Dio telah memutuskan Kinan didalam mobil, yang saat itu juga Kinan disuruh keluar dari dalam mobilnya ditengah jalan.
"Lalu bagaimana jika perbuatan kita membuahkan hasil?". Tanya Kinan dengan tatapan kosong lurus kedepan.
"Maksud kamu?". Tanya Dio menoleh dan mengerutkan dahinya.
"Bagaimana jika aku hamil. Apa kamu mau tanggungjawab?". Tanya Kinan menoleh menatap lelaki yang dicintainya. Tapi cinta itu tak dapat balasan sampai sekarang. Meskipun raganya sudah ia dapatkan.
"Itu resiko kamu. Kenapa kamu sebodoh itu. Apa tidak ada cara lain selain itu? Jika memang kamu benar benar mencintaiku?". Tanya Dio sedikit emosi.
"Cara lain? Cara lain apa yang kamu maksud? Bahkan akupun sudah melakukan segala cara supaya kamu mau melirik sedikit saja padaku. Tapi apa? Kamu selalu menjauhiku". Isak Kinan yang tak tahan menahan sakit dihatinya. "Kamu tak pernah pedulikan aku. Hingga muncul dia. Perempuan yang telah merebut kamu dari aku". Ujar Kinan dalam tangisannya.
"Jaga mulut kamu. Sebelum aku ketemu Fani, kita tak pernah ada hubungan selain teman. Ingat itu". Ujar Dio menatap Kinan penuh emosi.
"Ya kita memang tidak memiliki hubungan apapun, tapi asal kamu tau. Aku menyukaimu sejak lama. Sejak kamu belum bertemu perempuan perebut itu". Ucap Kinan yang tak kalah menatap tajam Dio.
"Dia itu punya nama, Kinan". Tekan Dio. "Dan namanya akan selalu ada dalam hatiku".
"Dan nama yang sudah menjadi milik orang lain". Ucap Kinan tersenyum kecut sambil menatap lurus kedepan.
"Apa maksud kamu?". Tanya Dio menatap manik mata Kinan.
"Dia sudah dimiliki lelaki lain. Kamu harus bisa melupakan dia. Dan kembali padaku".
"Apa? Aku belum pernah melihat Fani berjalan dengan seorang lelaki selain denganku". Ucap Dio menggelengkan kepala. Tak percaya dengan ucapan Kinan.
"Tapi itu kenyataannya Dio. Dia sudah menikah". Ujar Kinan menoleh dan sedikit nada tinggi.
"Tidak. Tidak mungkin. Ini semua pasti akal akalan kamu kan? Supaya aku mau kembali sama kamu. Kamu memang licik dari dulu". Umpat Dio.
"Untuk apa aku berbohong. Coba lihat ini. Ini akun media sosial suaminya". Ucap Kinan sambil memperlihatkan ponselnya pada Dio, yang dimana terdapat akun sosial media milik Rayyan. Tapi tidak ada satupun foto Rayyan disana. Hanya ada foto restoran miliknya.
"Ini kan.....". Tunjuk Dio kedalam foto itu.
"Ya restoran itu adalah milik suaminya Fani". Ujar Kinan.
Kemarahan Dio sudah tidak bisa dielakkan lagi. Dio menoleh ke arah Kinan "Ini semua gara gara kamu. Kalau saja kamu tak melakukan itu padaku. Fani masih bersamaku sampai saat ini". Teriak Dio dan tangannya refleks mencekik leher Kinan.
"Le...lepasin". Ucap Kinan terbata karena menahan sakit.
__ADS_1
"Kamu perempuan gila yang pernah aku kenal".
Tangan itu tak mau melepas cengkraman dileher Kinan. Dan malah semakin kuat.
"Dio. Aku mohon lepasin. Awww sakiiiittt". Lirih Kinan. Satu menit kemudian ia sudah tidak bergerak sama sekali. Kinan ambruk dihadapan Dio. Dio pun panik melihat Kinan tak sadarkan diri. Akhirnya Dio membawa Kinan kerumah sakit.
Tak ada rasa penyesalan dalam hati Dio apa yang telah dia perbuat sehingga menyebabkan Kinan tak sadarkan diri. Hatinya merasa puas mengingat kelakuan Kinan selama ini.
Mobil Dio pun sudah tiba dirumah sakit. Lalu para petugas bersigap membawa brankar untuk membawa Kinan kedalam ruang periksa. Kinan diperiksa denyut nadinya. Untung masih bernafas. Tapi sangat lemah. Selang infus pun dipasang. Lalu oksigen melekat kedalam hidungnya. Dokter pun mengambil darah dan urine Kinan. Untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Untung saja masih ada Dokter disana. Padahal sepuluh menit lagi mereka terlambat. Karena sang Dokter akan pergi. Kemudian Dokter pun keluar dari dalam kamar tersebut.
Melihat sang dokter keluar. Dio segera bangkit mendekat. "Bagaimana keadaannya Dok?". Tanya Dio cemas. Bagaimanapun memang semua ulahnya. Ya tadi memang merasa puas, tapi setelah melihat keadaannya. Dia tersentuh dan iba pada Kinan.
"Dia saat ini masih belum sadarkan diri. Tapi kami akan mengecek semua tes darah dan urinenya. Dan kami akan segera memberitahukan anda secepatnya". Ujar sang dokter. "Anda......?".
"Saya temannya Dok".
"Baik. Tolong beritahukan kepada keluarganya. Karena kami akan menyampaikannya kepada keluarganya".
"Siap Dok. Terimakasih".
Dio pun menghubungi Kanita. Memberitahukan kondisi anaknya yang berada dirumah sakit.
Sementara itu didalam kamar. Kedua pasangan suami istri itu tidur terlelap setelah malam panjang yang mereka lalui.
"Terimakasih sayang. Akhirnya kamu jadi milikku seutuhnya. Bukan dia, lelaki yang selalu ada dalam bayangmu selama ini. Aku harap bayi mungil itu segera tumbuh dalam rahimmu. Supaya kamu terfokuskan pada keluarga kita. Bukan lagi lelaki itu". Gumam Rayyan sambil mengusap perut Fani yang tertutup selimut. Lalu mengecupnya lagi sambil berbisik ditelinganya. "I Love You my wife".
Fani pun terbangun karena merasa ada hembusan angin menusuk telinganya. Sedikit membuatnya geli.
"Mas" lirih Fani menoleh pada suaminya.
"Sssttt" Rayyan menyentuh bibir Fani dengan jari telunjuknya.
"Lagi". Bisik Rayyan sambil menempelkan bibirnya dipipi sang istri.
"Tapi kan tadi udah dua kali. Aku masih cap......".
Rayyan kembali mengunci bibir istrinya.
Akhirnya Fani hanya bisa pasrah. Mengingat seorang istri harus patuh pada suaminya. Apalagi suaminya ini melakukannya dengan sangat lembut. Juga naluri kewanitaannya membuat ia pun tak bisa menolaknya.
Hingga waktu subuh telah tiba. Keduanya kini masih terjaga. Fani beranjak kekamar mandi lebih dulu untuk membersihkan diri.
"Aww". Pekik Fani saat hendak berjalan.
"Kenapa sayang?". Tanya Rayyan bangkit.
"Kok masih sakit sih mas, tadi bilang kalau sering melakukannya tidak akan sakit lagi. Tapi ini kok..".
__ADS_1
"Mungkin karena hari pertama". Kekeh Rayyan karena istrinya sangat polos.
"Ahhh mulai deh ngetawain. Gak lucu tau". Ucap Fani sambil memajukan bibirnya. Lalu menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Rayyan kembali merebahkan dirinya diatas kasur. Meskipun ia dulu suka ke club malam. Tapi sungguh pengalaman ini baru saja ia lakukan. Ia pun tersenyum penuh kemenangan. Merasa menang dari lelaki yang pernah ada di kehidupan sang istri.
"Mas ayo mandi. Malah senyam senyum. Hayooo ingat sama siapa sih?". Tanya Fani ketika sudah keluar dari kamar mandi lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Ingat sama yang semalam dan yang tadi sebelum subuh. Rasanya ingin diulang lagi". Kekeh Rayyan tersenyum.
Tapi Fani justru malu bila membahas hal seperti itu.
"Memang gak bosan?". Tanya Fani.
"Tidak akan bosan sayang. Malah aku ingin setiap waktu. Tapi itu tak mungkin". Ucap Rayyan tersenyum "Tapi... sekarangpun siap kok". Ujar Rayyan terkekeh sambil mengedipkan matanya ke arah sang istri.
"Dasar mesum".
"Mesum juga, sayang mau lagi kan?".
"Udah ahh sana mandi. Kita segera sholat. Ngomongin yang gituan gak akan ada habisnya". Ujar Fani.
Rayyan pun bangkit kedalam kamar mandi. Kemudian setelah usai mandi. Keduanya melaksanakan salat berjamaah.
Setelah usai. Fani pamit kedapur untuk menyiapkan sarapan. Kali ini akan dibuatkan sarapan yang spesial untuk sang suami tercinta.
Sarapan sudah siap. Ia membuat nasi goreng untuk semua yang ada dirumah. Tapi berbeda untuk Rayyan. Nasi goreng itu ia kasih pete juga udang yang ia padukan dengan penuh cinta. Lalu dibawa kedalam kamar. Fani ingin sarapan paginya hanya berdua saja.
Sang ibu yang baru saja tiba didapur. Ia terkejut melihat anaknya yang pagi-pagi sudah ada didapur. Lusi juga tersenyum melihat perubahan dalam diri anaknya. Ia melihat Fani yang sudah tidak memakai kerudung, juga rambut yang masih basah.
"Alhamdulillahh" ucap Lusi dibelakang Fani.
"Kenapa bu? Dapat undian? Baru datang udah ucap Alhamdulillahh". Tanya Fani menoleh, lalu kembali menyiapkan minum.
"Kayaknya sebentar lagi, ibu bakal gendong cucu". Kekeh Lusi.
"Apa sih bu". Fani sangat malu. Mengapa ia sampai lupa tidak pakai kerudung. Rambut basah sudah pasti orang yang ada dirumah berpikiran kesana. Karena tak biasanya Fani mandi sebelum subuh.
"Aku kekamar dulu bu. Mas Rayyan kepengen sarapan dikamar. Juga itu sudah aku siapkan dimeja, buat sarapan ibu sama bapak". Ucap Fani. Padahal dirinya yang menginginkan hanya berduaan saja.
Tiba didepan pintu kamar. Fani membuka kenop pintunya. Lalu menaruh makanannya diatas meja. Ia pun berniat mencari suaminya karena tidak ada dikamar. Lalu tiba-tiba sebuah tangan dari belakang melingkar diatas perutnya.
"Mas". Fani kaget dan langsung menoleh. "Kamu darimana saja. Aku nyariin".
"Kangen? Hmm?".
"Ihh emang nyari orang itu mesti selalu kangen ya". Ucap Fani manja sambil menundukkan kepalanya.
"Mas punya sesuatu buat kamu".
__ADS_1