Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN

Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN
2. Pengalihan Hak


__ADS_3

Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. BTW, makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!


***


Keesokan harinya, Ale


kembali ke kantor. Ia memaksakan diri untuk kembali bekerja walau ia sedang


berbadan 2. Untung saja kali ini anaknya mau bekerja sama dengan dirinya.


Alesya sengaja tidak ingin


memberitahukan suaminya kalau dirinya sedang hamil anak kedua mereka. Ia


sebenarnya ingin melihat reaksi suaminya saat ia mengatakan kalau dirinya


sedang hamil. Apakah ia sesenang waktu dirinya hamil Alexander dulu?


“Kamu ngantor?” tanya Gani


dengan suara cemas, saat diberitahu oleh Suci sekretaris CEO, kalau Ale ngantor


dalam kondisi kemarin dia sakit dan harus masuk ke Rumah Sakit.


“Iya!” kata Ale dengan acuh.


“Hmm, kebetulan kamu datang


ke kantor sih sebenarnya.” Kata Gani lirih karena ia masih bingung apakah ia


harus mengatakan atau menyembunyikan dari sahabatnya sekaligus bosnya itu.


“Apa lagi? Ada masalah? Aku


tebak ini berkaitan dengan Ray?” tanya Ale dengan tatapan menyelidik.


“ Ehm.. aku..”


“Sudah.. ngomong saja..”


“Ada pengeluaran pribadi


yang cukup besar dari rekening kamu, Le!”


“Berapa jumlahnya?” Ale


memijit keningnya lagi. Dipikir suaminya itu apakah uang jatuh dari langit?


“5 miliar..totalnya” kata


Gani dengan nada takut takut, ia takut kalau sahabatnya ini jatuh pingsan


mendengar hal ini.


“Apa??!!” teriak Ale dengan


nada paling tinggi.


“Ehm sabar, Le! Aku dengar


dari Melva kalau kamu sedang hamil, awalnya aku tidak ingin menceritakan ini,


tapi aku perlu ijin dan tanda tangan kamu untuk memblokir pengeluaran


selanjutnya, karena bukan hanya itu saja….”


“Apa? Bukan hanya 5 miliar


saja?” tanya Ale dengan menjerit. Ia kesal dan sungguh kesal. Dadanya sesak,


nafasnya tersengal karena kesal.


“Huum, ehm…ada pengalihan


hak atas kepemilikan AleRa berpindah nama menjadi Rara tours and travel…”


“Apa?? Dia mengalihkan hak


milik atas AleRa untuk istri sirinya itu? Bagaimana bisa? Bukankah surat tanah


disana atas nama aku?” tanya Alesya sambil menenangkan hatinya yang sesak dan


perutnya yang mendadak kram.


“Tenang, Le! Kamu pucat


banget… tenangkan dulu perasaan kamu! Ingat kamu sedang berbadan dua.” Kata


Gani yang ikutan pucat melihat kondisi Alesya, ia takut kalau sampai Ale kenapa


kenapa ia tidak bisa memaafkan dirinya, mungkin istrinya juga bakalan menyate


dirinya kalau Ale dan bayinya kenapa kenapa.


“Aku gak apa apa..” kata Ale


setelah beberapa saat dirinya menenangkan hati serta pikirannya.


“Syukurlah..” kata Gani saat


melihat rona di wajah Ale, tanda ia sudah baik baik saja.


“Trus apalagi?” tanya Ale


sambil menghela nafasnya, agar ia tidak terpancing emosi.


“Sementara ini baru itu yang

__ADS_1


terungkap.” Kata Gani sambil menyeka keringat di dahinya, saat melihat Alesya


pucat kayak tadi membuat hatinya hilang separuh, bahkan saat mendengar Ale


hamil lagi dengan ba**ngan itu sudah membuatnya kesal karena ia menganggap Ray


itu tidak tahu berterima kasih. Bayangkan kalau Ale sampai masuk ke rumah sakit


lagi, Melva bakalan menyuruhnya tidur di luar.


“Gan, boleh aku minta tolong


Melva untuk pergi bersama ku ke Batam?” tanya Ale dengan memejamkan mata. Ia


ingin menghadapi apapun yang harus ia hadapi sekarang. Seorang pengkhianat dan


Seorang pelakor adalah hama yang harus ia basmi. Baginya, seorang suami yang


setia tidak akan mengkhianati cinta dengan menikah lagi di belakang istri


sahnya. Kalau pun Ray ingin menikah lagi, maka keputusan mutlak dirinya adalah


bercerai! Karena ia tidak ingin di madu.


“Kamu sedang hamil, Le!”


Gani ingin memberi pengertian kepada Alesya dengan hati hati. Ia ingin


dirinyalah yang akan membereskan Ray, tapi tampaknya sahabatnya ini ingin


membasmi keduanya dengan tangannya sendiri.


“Tangan aku gatal ingin


menampar sang pelakor dan sang pengkhianat! “


“Jangan, Le! Aku gak mau


kalau kamu sampai kenapa kenapa. Ingat kamu sedang berbadan dua.” Peringat Gani


dengan nada lembut.


“Makanya aku ingin Melva


menemani aku. Gak usah takut, aku bahkan akan membawa pengawal. Oh ya tambahkan


pengawalan buat aku dan Alex! Ganti pengawal yang biasa dengan pengawal yang


sama sekali tidak mengenal Ray dan keluarganya.” Kata Alesya sambil memijit


keningnya yang kini berdenyut nyeri lagi.


“Kamu ingin makan apa pagi


ini? Kata mbok Yem, kamu belum makan apa apa. Eh kalau kamu ngidam apa apa,


bilang sama aku dan Melva ya, kami akan berusaha untuk memenuhi keinginan sang


jadi anak angkat aku. Oke?” kata Gani dengan senyumnya yang lebar. Alesya


menatap sahabatnya yang mungkin sudah menginginkan seorang anak bersama dengan


Melva, maka ia hanya mengangguk sambil tersenyum lemah. Sedangkan wajah Gani


tampak berseri karena ia emang suka dengan anak kecil, bahkan Alex juga sering


dibawanya main, entah kenapa mereka tidak berusaha melalui jalan medis,


nantilah kalau urusannya selesaai ia akan membujuk mereka untuk melakukan


pemeriksaan medis.


“Oke nanti kalau anak aku


ini pingin apa apa, aku bakalan ngerepotin ayah dan ibu angkatnya.” Kata Ale


dengan senyum tulus, melihat sukacita tergambar di wajah calon ayah angkat


anaknya kelak itu.


“Le, aku akan mencari kuasa


hukum untuk mengurus masalah kamu dan Ray. Dia gak pernah hubungi kamu lagi?”


tanya Gani dengan suara sinis.


“Ehm kemarin ia tidak


telepon aku sama sekali. Biarlah! Aku akan menemuinya hari ini.”


“Konsul ke dokter kandungan


kamu dulu saja! Kita berangkat besok saja ya! Sembari aku juga mencari  kuasa hukum untuk kamu bawa ke Batam. Aku juga


sudah gatal untuk mengambil kembali hak milik kamu. Aku dan Melva akan ikut


kesana.” Kata Gani dengan suara mantab, sambil membuka ponselnya untuk


menghubungin Melva, istrinya agar menyiapkan perjalanan mereka besok, serta


menyiapkan Alex untuk ikut mereka, Gani yakin Ale tidak akan meninggalkan Alex,


ia pasti membawa Alex, mbok Yem dan juga Suci untuk ikut bersama dengan mereka.


“Iya iya, sudah sana kamu


cari kuasa hukum dan pengawal yang baru buat kita berangkat besok.” Katanya

__ADS_1


sambil mengibaskan tangan tanda ia mengusir keberadaan Gani yang masih bercokol


di kantornya. Gani hanya bisa nyengir melihat kelakuan sahabat baiknya ini.


Tapi ia menuruti kehendak Ale dan segera meninggalkan Ale yang sedang


menyibukan diri dengan email email yang masuk ke email kantornya itu.


Tiba tiba mata Ale tertumpu


pada sebuah flash disk yang tergeletak di sana. Ia tahu kalau ini pasti milik


Gani, asistennya.


Ia penasaran dengan apa yang


menjadi isi flashdisk ini, maka ia mencolok flash disk itu ke laptop yang


sedang ia pakai. Matanya menatap ke sebuah folder yang bertuliskan rahasia dan


mengekliknya.


Dan ia tidak menyesali saat


ia membuka folder itu, karena kini ia tahu kenyataan sebenarnya tentang apa


yang terjadi dengan pernikahan itu dengan suaminya yang bernama Raymond Izaac.


Air mata Alesya meluruh saat


ia melihat video Suami dan seorang gadis muda yang nampak cantik dan seksi,


yang katanya telah menjadi istri kedua suaminya. Video percintaan panas


suaminya dan istri keduanya, membuat hati Alesya membeku. Padahal dia dan


suaminya menikah karena saling cinta. Bahkan dari pernikahannya itu mereka


sudah memiliki Alexander Izaac yang berusia 3 tahun.


Sesak di dada Ale tidak


kunjung hilang, perutnya seperti kram dan membuatnya ingin pingsan. Beruntung


sekejap kemudian Gani masuk lagi ke dalam kantornya karena ia hendak


mengabarkan kepada Ale kalau ia sudah mendapatkan kuasa hukum yang terkenal


yang tidak pernah gagal memenangkan setiap kasus.


“Ale… apa yang terjadi? Ya


Tuhan, Aleee!!” suara Gani yang terakhir ini membuatnya harus menutup


telinganya karena Gani berteriak cukup keras sehingga telinganya seakan menjadi


tuli. Dia memejamkan matanya dan Gani telah merebut laptop yang memutar setiap


******* panas Ray dengan istri muda yang tak pernah ia restui sebagai madunya.


“Aku tidak apa apa, Gan!”


katanya dengan suara lemah. Karena teriakan Gani, Suci bahkan ikut masuk untuk


melihat kondisi bosnya, dan tanpa panjang kata ia langsung mengambilkan teh


manis hangat yang sudah ia sediakan dari tadi.


“Bohong!!! Aku sudah bilang


kalau kamu tidak usah melihat video sampah ini!!” kata Gani mengerang marah


sambil mencabut flash disk yang nangkring manis di laptop milik Ale.


Ale hanya mendesah, mungkin


matanya sudah seperti kadal karena membengkak pasca ia menangisi laki laki


ba**ngan yang sudah mengkhianatinya. Dadanya sesak, pikirannya kacau, dan


perutnya kencang. Teh manis hangat yang disodorkan Suci ia teguk perlahan


supaya ia tidak kehilangan kesadaran seperti yang sudah sudah.


Tubuhnya melayang, saat Gani


dengan lancang menaruhnya di kamar pribadi yang sering buat Alex, anak lelakinya beristirahat


kalau ikut mommynya ke kantor.


“Suci sudah mengabari dr


Ningsih untuk memeriksa kamu. Dan please, jangan membantah kami! Kami terlalu


sayang sama kamu dan anak yang ada di kandungan kamu.” Suara Gani bergetar


karena menahan amarah dan juga kaget pasca melihat sahabatnya seperti manusia


yang kekurangan darah saat ia masuk ruangan tadi.


.


.


.


TBC

__ADS_1


 


 


__ADS_2