
Tiba-tiba Ale terisak dalam tidurnya, Melva yang ada di samping tempat tidur Ale menjadi cemas. Jadi dia berusaha memegang tangan Ale dan membelainya serta mengucapkan kata-kata penghiburan agar Ale sadar bahwa yang dialaminya hanyalah mimpi.
" Bangunlah Ale kamu hanya mimpi buruk. Sudah jangan nangis lagi! Kamu hanya mengalami mimpi buruk." kata Melva berusaha menenangkan Ale yang masih saja menangis di dalam tidurnya.
Melva sadar bahwa mungkin ini adalah salah satu dari bentuk trauma yang dialami oleh Ale.
Jadi Melva berusaha untuk membangunkan Ale dan menyadarkannya bahwa apa yang dialaminya itu sekarang hanyalah sebuah mimpi buruk.
" Argh.."
"Ale, kamu sudah sadar? Tenanglah ada aku yang berjaga di sini." kata Melva lagi sambil masih memegang tangan sahabatnya itu dengan kencang.
" Haus.." rintih Ale dengan suara yang hampir saja tidak terdengar oleh telinga Melva.
" Ya, pasti kamu akan kehausan! Soalnya kamu dari tadi menangis walaupun kamu dalam kondisi tidur." kata Melva dengan nada sedikit menggoda Ale supaya Ale tidak terlalu memikirkan trauma yang yang sedang dialaminya.
" Maafkan aku, kalau aku selalu merepotkan kalian!" lanjut Ale dengan suara lirih.
" Sudahlah! Kita ini saudara. Tidak mungkin kalau kamu itu merepotkan aku. Justru memang harus begitulah adanya. Seorang saudara itu akan terus ada di samping saudaranya yang membutuhkan. Jadi kamu jangan merasa sungkan sama aku kayak gitu." kata Melva dengan nada menghibur.
" Bagaimana keadaan Ray? Apakah sekarang Aku Bisa menengok nya? Aku khawatir dengan kondisinya!" kata Ali dengan suara lemah.
" Tenang saja! Saat ini Gani sedang berada bersama dengan Ray. Yang terlebih penting sekarang, yang harus kamu lakukan adalah menjaga anak yang ada di dalam kandungan mu. Aku paham, dengan perasaan kamu terhadap Ray, namun kamu juga harus menjaga anak yang ada di dalam kandunganmu supaya dia bertumbuh dengan luar biasa! Aku tidak akan menghalangi kamu untuk bertemu dengan Ray, saat kamu sudah benar-benar kuat dan sehat. Makanya, yang harus kamu lakukan sekarang adalah memperbaiki kondisi kamu supaya kamu cepat sehat." nasehat Melva dengan suara yang lembut karena dia sadar sebenarnya Ale itu masih mencintai suaminya.
Bagaimana tidak? mereka berhubungan bukan hanya sekedar 1 atau 2 bulan namun sudah bertahun-tahun. Dan dari hubungan intim mereka sudah membuahkan 1 orang anak laki-laki dan 1 anak yang masih ada di dalam kandungan Ali saat ini.
__ADS_1
Ale hanya bisa mendesah dengan lemah, dia sadar kalau Melva dan juga yang lainnya akan terus memproteksi dirinya supaya tidak mendatangi Ray saat ini.
Menurut perasaannya, Ray saat ini dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, Itulah sebabnya sahabatnya ini melarang dirinya untuk bisa melihat kondisi suaminya.
Mungkin untuk menjaga perasaan dan juga kesehatannya sendiri. Namun rasa penasaran dengan kondisi suaminya membuat Ale malah jadi susah untuk memfokuskan kesehatan dirinya. Dia terus menerus kepikiran dengan kondisi Ray yang belum dia ketahui bagaimana akhirnya.
Melva bisa menebak apa yang menjadi pikiran Ale saat ini, maka dia kemudian melanjutkan perkataannya supaya Ale, sahabat sekaligus sepupunya itu bisa mendapatkan ketenangan setidaknya untuk hari ini.
" Gini saja deh, kalau hari ini menurut pemeriksaan dokter kamu sudah baik-baik saja, aku janji untuk mengantarkan kamu menemui Ray. Tapi kamu juga harus berjanji, untuk menjaga kondisi tubuh kamu karena bukan hanya kamu saja yang membutuhkan kekuatan namun juga anak yang ada di dalam kandungan mu. Dia sangat membutuhkan kamu untuk bisa kuat di dalam kandungan kamu, begitu pula dengan Ray dia membutuhkan kamu untuk selalu tegar dan kuat menghadapi segala situasi yang mungkin sedikit menyesakkan. Ingat juga kalau kamu masih punya kita. Aku dan Gani akan selalu ada buat menjadi tonggak yang kuat untuk menopang kalian." kata Melva sambil tersenyum, membuat Ale rasa tenang.
Memang kedua orang ini selalu ada ada menjadi penolong juga penasehat yang seringkali dibutuhkan oleh Ale dalam menjalani kehidupan ini tanpa adanya orang tua.
Ale menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, entah kenapa perkataan Melva itu menyuntikkan kekuatan yang tidak sedikit di dalam tubuhnya. Sehingga Ale merasakan kekuatan dan semangat untuk menjalani kehidupannya.
Dia mengingat anak yang ada di dalam kandungannya yang sebentar lagi lahir dan permasalahan kehidupannya yang belum selesai sampai disini. Juga masih ada Alex yang sangat membutuhkan kehadirannya sebagai seorang ibu yang menuntun jalannya menuju kebenaran sampai dia dewasa nanti.
" Nah, gitu dong!" kata Melva dengan senyuman yang lebar karena bahagia bisa melihat sepupunya bangkit kembali.
" Sekarang kamu makan dulu, supaya lebih kuat lagi menghadapi kehidupan ini. Aku tadi bawain kamu kudapan saja, tapi ini makanan kesukaan kamu." kata Melva sambil membuka paperbag yang berisi makanan kesukaan Ale.
" Dimsum?"
" He he he kelihatan ya dari baunya?" tanya Melva dengan tawa khasnya.
" Huum, baunya menggoda."
__ADS_1
" Aku tahu, ini adalah makanan yang menjadi mood booster kita. Tidak tanggung-tanggung aku membeli 50 biji dimsum kesukaanmu." kata Melva dengan nada riang.
Mata Ale pun membulat mendengar bahwa Melva membawakan makanan kesukaan yaitu dalam jumlah yang sangat banyak. Binar bahagia itu ada di dalam wajah Ale.
Bayangkan bahwa, kebahagiaan sahabat sekaligus sepupunya itu sangat sederhana. Hanya dengan dapat menikmati makanan kesukaan, sudah menjadi kebahagiaannya saat ini.
Melva hanya bisa tersenyum saat dia sudah menyajikan makanan itu di hadapan Ale, dan langsung sepupunya melahap makanan itu seperti orang yang kelaparan, seperti orang yang beberapa hari belum dikasih makan.
" Enak?"
" Banget!! Saos Lada hitamnya enak!!" bahkan tanpa sadar Ale sudah kalap menikmati dimsum yang ke-10.
Melva hanya bisa tersenyum melihat Ale yang tampak rakus menikmati makanan yang tersedia di hadapannya itu dengan cepat.
" Makanlah yang banyak. Setidaknya kalau kamu tidak bisa makan, makanan yang berat. Makanan di depan itu sudah bisa menggantikan sebagian nutrisi untuk anak kamu. aku pilihin yang rasa ayam jamur dan juga ayam wortel, kesukaan kamu." kata Melva sambil memandang sahabatnya itu dengan tatapan bahagia.
" Gani kok lama? " tanya Ale dengan mulut yang masih penuh makanan kesukaannya itu. Membuat Melva menjadi sedikit geli melihat tingkah Ale yang seperti anak kecil.
" Nanti kalau kamu sudah selesai makan, aku akan mencari Mas Gani. Sementara itu kamu habiskan dulu sepuas kamu! Daripada nanti kamu rebutan sama Mas Gani!" kata milva sambil terkikik geli, karena mengingat suami dan sepupunya itu memiliki selera yang sama.
Seakan takut kalau-kalau makanannya diambil oleh Gani, Ale langsung memindah makanannya itu disampingnya, supaya kalau nanti Gani datang tidak bisa mengambil makanannya itu. Tingkahnya itu membuat Melva tertawa terbahak-bahak.
.
.
__ADS_1
.
TBC