Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN

Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN
58. Pertemuan Ayah dan anak


__ADS_3

Kuasa hukum dari tuan Ridwan sudah merancangkan kalau Zaki akan bertemu dengan ayahnya yaitu Tuan Ridwan.


Dan Tuan Ridwan sendiri sejujurnya benar benar berharap kalau Zaki datang bukan hanya untuk mengambil rekaman kesaksiannya yang akan memperberat hukuman dari Rara. Selainitu dengan kesaksian dan bukti yang diberikan oleh tuan Ridwan, Rara bakalan tidak bisa menghindar lagi dari jeratan hukum.


Bukti bukti yang dimiliki oleh tuan Ridwan sungguh sungguh bisa membuat Rara terjerat pasal pasal yang sudah di rancangkan oleh Zaki.


Pencobaan Pembunuhan merupakan salah satu yang mendapatkan hukuman yang terberat, dan sekarang Rara mendapatkan tuntuntan pasal berlapis dari Zaki yang berati hukumannya bisa berubah menjadi hukuman seuumur hidup dan kalau bisa lebih parah ia akan mendapat hukuman mati dari itu. Apalagi pasal penculikan dengan tendesi untuk membunuh.


“Tuan Zaki sudah tiba disini, tuan.” Kata pengacara itu dengan nada lembut. Tuan Ridwan sedang melamun, ia sebenarnya sungkan untuk kemudian masuk dan mengganggunya, namun kehadiran Zaki sangat ditunggu oleh tuan Ridwan.


“Ah suruh Zaki masuk.” Katanya dengan binar bahagia di matanya, tidak seperti biasanya yang hanya lesu saja menunggu  jadwal oengadilan yang tak lama lagi juga akan memanggilnya. Sebenarnya selain menunggu panggilan dari pengadilan masaalh Rara juga menunggu penaggilan pengadilan agama terkait dengan pernikahannya yang diujung tanduk.


“Sudah, dia menunggu di ruang tamu.” Kata pengacara tuan Ridwan dengan nada hormat. Tuan Ridwan hanya mendengus kecil, ia sadar tidak mungkin Zaki akan mau masuk ke dalam rumahnya ini ke taman belakang di tempatnya saat ini. Ini kan gara gara dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga kelakuan dan rasa hormat yang seharusnya bisa ia terima dari Zaki kalau seandainya ia bersikap benar dan tidak melakukan hal hal yang buruk kayak yang ia lakukan kemarin, bersama Rara dan wanita wanita lain selama ini.


“Baiklah aku akan menyusul ke ruang tamu.” Katanya dengan desah berat yang mengikuti perkataannya. 


“mari tuan, kami juga sudah mempersiapkan peralatan rekam yang ingin anda pakai untuk membuat surat wasiat juga kan?” tandas sang pengacara dnegan nada lembut.

__ADS_1


“Hmm aku ingin berbicara privat terlebih dahulu sebelum aku memberikan kesaksian dan juga membuat surat wasiat.” Kata tuan Ridwan dengan nada lirih. Ia tidak tahu apakah kali ini dirinya akan diterima atukah malah ditolak dengan Zaki, tapi dengan hadirnya Zaki disini, saat ini, membuat paling tidak ia memiliki harapan akan pengampunan dari anak kandungnya itu.


“Baiklah Tuan, tidak masalah juga. Saya akan menunggu tuan di luar saja, panggil saya saat tuan selesai berbicara secara pribadi.” Katanya sambil mengantar tuan Ridwan ke ruang tamu namun setelah itu dirinya meninggalkan Tuan Ridwan bersama Zaki sendirian, sedangkan ia menunggu di taman depan sampai tuan Ridwan memanggilnya untuk merekam kesaksian dan juga surat wasiat.  


Tuan Ridwan berjalan perlahan di ruang tamu yang cukup besar. Sedangkan Zaki hany aduduk dan menatap ayahnya yang tampak rapuh dan kelihatan jauh lebih tua dari saat ia bertemu kapan hari. Wajahnya pun tampak kuyu dan tidak bersinar, sedangkan tubuhnya sedikit lebih kurus sehingga timbul rasa iba dari Zaki saat melihat raga ayahnya yang menurun begitu rupa.


Tapi berbeda dengan tatapan yang muncul dari netra tuan Ridwan, ia benar benar merasakan kebahagiaan yang tak terkira ketika ia bisa ada disini bersama anak laki lakinya yang sudah ia sering sakiti.


“Zaki..”


Zaki  hanya menatap ayahnya dengan lebih intens tanpa kata yang lebih lagi, hanya tatapan dalam yang tersirat kerinduan dari anak kepada ayah.


Tanpa kata, Zaki langsung menghambur dan memeluk tubuh renta ayahnya yang sudah sering menyakiti keluarganya sendiri. Tapi sekarang tak tersisa dendam yang ada di hati Zaki.


“Maafkan ayah, ampuni ayah walau mungkin kesalahan ini tak akan mungkin bisa terampuni. Dan katakan permintaan maaf ini kepada ibumu. Dosaku menumpuk begitu rupa kepadanya, seorang wanita hebat yang sekian lama ini telah aku sakiti begitu rupa. Tak ada kata yang pantas, un tuk aku bisa dimaafkan. Tapi sampaikan saja rasa penyesalanku ini sehingga saat aku berpulang nanti, jadi saat di rumah tahanan, aku tidak akan mendapatkan rasa bersalah yang besar akibat dosaku yang tak terampuni.” Kata tuan Ridwan dengan nada lirih. Cara berbicara ayah Ridwan melemah, seakan semua daya yang ia miliki sudah terengut paksa oleh usia dan rasa bersalahnya, namun setiap kata yang diungkapkan oleh ayahnya itu msih dapat  Zaki dengar dengan jelas di telinganya.


Ia sedih dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu, namun ia hanya mengangguk saja, berusaha akan menyampaikan kepada ibunya dengan wejangan apa yang dikatakan oleh ayahnya yang merupakan mandat yang harus ia sampaikan kepada ibunya.

__ADS_1


“Allah yang maha pengampun saja mau mengampuni dosa umat manusia yang begitu besar, apalagi kita sebagai seorang manusia? Manusia itu adalah tempatnya dosa dan salah, jadi kita wajib mengampuninya. Yang bersalah juga harus berbalik dan tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.” Kata Zaki dengan lembut,  Ia sadar kalau ayahnya pasti sudah bertobat.


Ayahnya hanya bisa mengangguk anggukan kepalanya dengan rasa bahagia yang membuncah dari dalam hatinya yang terdalam.


Anak laki lakinya yang selalu tampil membanggakan, kepandaiannya dan juga prestasinya yang menonjol, penurut dan juga sukses dalam kariernya. Gabungan sempurna itu membuat ayah Ridwan tahu ini semua juga berkat kerja keras istrinya yang mendidik dan mengajarkan hal hal yang baik kepada anaknya itu.


“Terimakasih terimakasih.”


.


.


.


TBC


Hai readers

__ADS_1


Semua PENGKHIANATAN itu akan berakhir pada sebuah kata yang dinamakan PENYESALAN, mudah mudahan ada banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita berbagi cinta seperti ini ya..Jangan lupa untuk memberikan like, gift dan juga vote yang banyak untuk mendukung author. Komen positif juga selalu dinantikan oleh author ..


Happy Reading!!


__ADS_2