Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN

Berbagi Cinta : PENGKHIANATAN
54. Perenungan.


__ADS_3

Gani melirik kearah ruang intensif dimana Ray dirawat. Suster yang berjaga di sana langsung menghampiri Gani dan menanyakan apakah Gani keluarga dari tuan Ray.


Gani menganggukkan kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya ingin menjenguk Ray dan menanyakan kondisinya dengan lengkap kepada suster.


Namun karena yang dihadapi Gani adalah suster penjaga saja jadi suster meminta Gani untuk langsung menghubungi dokter yang merawat Ray.


Gani menganggukkan kepalanya lalu diberi pakaian yang khusus untuk masuk ke dalam ruang intensif itu. Setelah memakai pakaian yang khusus untuk masuk kedalam ruang intensif, Gani langsung menghampiri Ray yang kondisinya belum sadarkan diri.


Gani menatap wajah Ray yang pucat, kepala Ray yang diperban dan juga dada sebelah kiri yang juga diperban oleh dokter. Gani jadi teringat pada sebuah bayangan di mana wajah Rai saat ini ini mirip mumi dari Mesir.


Dia sedikit tersenyum lalu kemudian menepis bayangan lucu yang saat ini ada di pikirannya, rasanya tidak tepat kalau dia menertawakan kondisi Ray saat ini.


" Hei, Ray! Bangunlah! Emang kamu tidak mau tahu seberapa cemasnya istrimu yang saat ini sedang mengandung anak kamu. Emang kamu mau istrimu jadi janda? Lalu Zaki akan dengan bebas menikahi istrimu, dan juga menjadikan anakmu menjadi anaknya." kata Gani yang dengan kurang ajarnya memprovokasi Ray.


Entah mungkin karena dia mendengar perkataan dari Gani, tiba-tiba monitor detak jantung yang tadinya normal menjadi bergejolak. Gani sedikit ketakutan dengan kenyataan yang baru saja terjadi. dan rupanya monitor detak jantung terhubung dengan ruangan suster penjaga tadi, sehingga Gani otomatis diusir keluar agar dokter yang datang dan juga perawat-perawat bisa dengan leluasa menolong kondisi Ray yang tiba-tiba memburuk. Gani dihinggapi rasa bersalah karena baru saja dirinya lah yang memprovokasi Kondisi Ray yang jadi berfluktuasi.

__ADS_1


Namun tak selang berapa lama dirinya menjadi lega karena yang tadi masuk berkata bahwa kondisi Ray sudah normal kembali walaupun masih belum membuka matanya. Tetapi kata dokter kondisi Ray cukup stabil pasca kejadian tadi, Karena setelah dicek oleh dokter, semua organ vital dan juga detak jantungnya kembali normal seperti semula.


Menurut dokter, kondisi Ray saat ini sudah menunjukkan progres positif meskipun dokter masih belum tahu kapan Ray akan kembali sadar. Gani merasa lega karena setidaknya Ray sudah melewati masa kritisnya. Paling tidak, menceritakan kondisi Ray yang sudah melewati masa kritis kepada Ale dan yang lainnya.


***


Sementara di tempat lainnya, Zaki masih mengawasi proses penangkapan dan juga penahanan Tuan Ridwan dan juga Rara. Rara yang masih tertimpa permasalahan sebelumnya, membuat keadaannya menjadi semakin parah! Otomatis Rara dianggap melakukan pelanggaran pada pasal yang berlapis.


Ini membuat tuduhan terhadap Rara semakin lebih berat. Zaki menatap semua hal yang ada di depannya itu dengan tatapan mata yang kosong. Ada rasa sakit yang meremas dadanya ketika melihat ayahnya di sini akan meringkuk di balik jeruji besi.


Sejujurnya nafas Zaki sangat sesak, dia hanya tidak menyangka bahwa dengan tangannya lah ayahnya masuk ke dalam penjara. Untungya tadi sebelum ke tempat Kepolisian, Zaki sempat menengok kondisi ibunya yang dirawat di rumah sakit, juga menengok kondisi Mbok Siti yang pingsan saat kena bogem mentah yang nyasar. Kondisi ibu dan Mbok Siti sudah berangsur-angsur membaik, membuat Zaki menjadi lega.


Tapi Zaki masih belum menceritakan kepada ibunya tentang apa yang sudah dia lakukan kepada ayahnya, yaitu memenjarakan ayahnya dengan pasal berlapis. mungkin kalau ibunya tahu, pasti ibunya akan menyuruh dirinya untuk membebaskan Tuan Ridwan.


Ini mungkin agak sedikit lebih berat, karena ayahnya itu tersangkut dalam beberapa pasal yang berlapis, mulai dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga, lalu sekarang dia juga dituduh dalam upaya penculikan Ale serta sebagai dalang dari kejadian penembakan Ray. bahkan pengacara yang menolong Tuan Ridwan merasa sedikit kewalahan dalam menangani Kasus yang di tuduhkan kepada tuan Ridwan dan juga Rara. pengacaranya tidak habis pikir dengan kedua orang yang saat ini ada di dalam pengawasannya. Mengapa Tuan Ridwan dan juga Rara harus membikin keributan di tengah kasusnya saja belum selesai.

__ADS_1


Di lain pihak, kepolisian juga sudah kembali meringkus sopir yang melarikan diri bersama kedua penculik yang ternyata setelah tidak menemukan Ray serta Ale yang melarikan diri waktu itu, kedua penculik menemukan temannya yang berada di mobil tahanan. Sehingga mereka membebaskan si Supir itu. Namun naasnya karena tadi pihak kepolisian sudah mengantongi data-data pribadi serta alamat rumah dari si supir, maka pihak kepolisian dengan mudah menemukan si sopir yang sedang menghubungi keluarganya.


" Pak Zaki.." panggilan itu membuyarkan Lamunan yang saat ini melanda Zaki. ternyata yang memanggilnya adalah pengacara dari pihak ayahnya. pengacara itu menghela nafasnya dengan berat sebelum melanjutkan perkataannya.


" Pak Zaki, bisa kita bicara sebentar?" tanya pengacara itu dengan nada hormat. Sedangkan Zaki hanya bisa mengangguk tanda dia menyetujui apa yang diinginkan oleh pengacara itu. kemudian pengacara dari ayahnya itu langsung berjalan menuju ke sebuah tempat pribadi yang memang digunakan untuk ruangan mediasi antara pihak pengacara tersangka dan juga pihak penuntut.


" Maaf Pak Zaki bukannya saya ingin ikut campur dalam permasalahan rumah tangga dari tuan Ridwan dan juga Pak Zaki. Namun apakah sudah tidak ada lagi ruang damai dan penyelesaian dengan kekeluargaan untuk Pak Ridwan dan juga Pak Zaki? Mengingat kalian itu memiliki hubungan darah yang sangat kental, dalam hal ini saya tidak membicarakan masalah Ibu Rara, namun saya berbicara sebagai seorang ayah yang juga memiliki anak. Paling tidak kalian bisa berbicara terlebih dahulu sebelum memutuskan segala sesuatunya dengan emosi. Maaf Pak Zaki, sekali lagi bukannya saya turut campur dalam hal ini, tapi bagaimanapun hubungan darah itu tidak bisa dipisahkan begitu saja. Apalagi Tuan Ridwan itu adalah ayah kandung dari Pak Zaki. Setidaknya kalian bisa bertukar pikiran terlebih dahulu sebelum memutuskan secara emosi yang akan mengakibatkan bukan hanya sekedar Pak Ridwan yang kemudian akan masuk penjara, namun juga hubungan kalian yang tidak akan pernah bisa sama lagi." kata si pengacara itu dengan nada tenang dan lembut namun mampu memporak-porandakan perasaan Zaki saat ini.


Zaki hanya diam dan tidak merespon secara langsung perkataan dari pengacara ayahnya itu. Zaki tahu pasti bahwa kesepakatan demi kesepakatan seperti inilah yang akan terjadi di dalam sebuah tuntutan. Dan ini bukan sesuatu yang salah, karena di dalam setiap tuntutan pasti akan ada sebuah mediasi khususnya untuk kasus kekerasan di dalam rumah tangga.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2