Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Anakku


__ADS_3

Sekilas aku sempat melihat Mas Darwin menuju musholla saat mobil travel yang kunaiki saat ini melintas di samping musholla. Mas Darwin tak melihatku, ia berjalan masuk ke dalam musholla.


Aku melihatnya dengan lekat dari kaca jendela mobil. Ia pria yang kucintai dan ternyata milik orang lain. Aku harus pergi dari kehidupannya dan benar-benar melupakan semua perasaanku ini. Untuk saat ini aku benar-benar tak ingin lagi dekat-dekat dengannya.


Aku berharap mobil travel yang kunaiki lekas pergi jauh hingga Mas Darwin tak bisa menyusulku lagi. 'Selamat tinggal Mas Darwin,' ucapku dalam hati dan tanpa terasa air mata menetes di sudut mataku. Aku segera mengusapnya karena tak ingin penumpang lain menyadarinya. Namun, air mataku tetap saja menetes.


Sementara itu, Mas Darwin selesai mengerjakan sholatnya. Ia menatap ke belakang, berusaha mencari wajahku di antara para wanita yang sedang sholat di musholla itu. Namun, tidak ada.


Mas Darwin keluar dari musholla. Ia duduk di pinggir teras musholla, menungguku. Tapi, hampir sepuluh menit berlalu aku tak kunjung datang ke musholla itu. Ia pun berdiri dari posisi duduknya, berjalan menuju tempat wudhu wanita. Ia menunggu di depannya sambil memperhatikan pintu toilet wanita.


Seorang wanita masuk ke dalam tempat wudhu itu, mengambil wudhu di sana. Lalu, ia keluar dan Mas Darwin segera bertanya, "Masih ada orang di dalam?"


Wanita itu menggeleng. "Tidak, tadi saya sendirian."


Mas Darwin berjalan menuju pintu toilet wanita. Seorang penjaga toilet ada di depan sana dan Mas Darwin bertanya, "Apa ada wanita berjilbab, sekitar 19 tahun di dalam?"


Petugas itu berkata, "Tidak ada orang di dalam, Pak. Belum ada yang masuk lagi dari tadi."


"Apa?" ucap Mas Darwin spontan. "Kemana Rania?" Ia mulai gelisah.


Ia memperhatikan sekeliling pom bensin. Ia bergegas berjalan menuju minimarket yang ada di pom bensin itu. Ia berharap menemukanku di dalamnya, namun tidak ada. Ia keluar dari minimarket dan kembali memperhatikan sekeliling pom bensin. Tetap tak ada aku di sana.


Ia lalu bergegas masuk ke mobilnya. Ia mencoba menghubungi ponselku, namun deringan ponsel malah terdengar di dalam mobil. Aku tidak membawa ponselku, juga tas pakaianku. Aku hanya membawa dompetku saja.


"Astaga!" Mas Darwin mengusap wajahnya dengan ekspresi begitu stres. 'Rania melarikan diri,' pikir Mas Darwin begitu kalut.


Mas Darwin pun mengemudikan mobilnya keluar dari pom bensin. Ia memperhatikan kiri dan kanan jalan sepanjang mengemudikan mobil. Ia sangat berharap bisa menemukanku, namun tetap tak ada diriku dimanapun matanya menangkap sosok orang. "Kemana dia pergi?" gumam Mas Darwin sambil terus mengemudi.


"Apakah ia menemui Alya?" Mas Darwin pun bergegas kembali menuju Indralaya. berusaha menerobos kemacetan jalan lintas. Ia menuju kantor Alya.


Sesampainya di sana, Mas Darwin segera menerobos pintu kaca di hadapannya. Ia tak menemukanku di sana, lalu segera naik ke lantai dua dan membuka pintu ruangan Alya tanpa mengetuk lagi.


"Mas Darwin," ucap Alya spontan ketika mendapati Mas Darwin berdiri di ambang pintu ruangannya dengan wajah cemas dan terengah-engah.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mas?" Alya begitu bingung.


Mas Darwin masih terengah. Ia memperhatikan sekeliling ruangan Alya. Lalu, bertanya, "Apa Rania tadi ke sini?"


"Rania...." gumam Alya dengan heran. Bibirnya seketika kelu ketika menyebut nama Rania.


"Iya, Rania," ucap Mas Darwin dan Alya tak dapat berkata apapun. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, Mas Darwin tak berkata apapun lagi. Ia bergegas pergi meninggalkan Alya tanpa masuk ke ruangannya lebih dulu.


"Mas," panggil Alya. "Mas!" Namun, Mas Darwin sudah terlanjur turun ke lantai satu dan segera meninggalkan kantor Alya.


'Apa yang Mas Darwin lakukan?' pikir Alya. 'Sebenarnya apa yang sedang terjadi antara Mas Darwin dan Rania? Mengapa Mas Darwin begitu mengkhawatirkannya?' pikir Alya.


Sementara itu, Mas Darwin melanjutkan perjalanan. Ia menuju ke rumah dinasnya, berharap aku pulang ke rumah itu. Ia memacu mobilnya dengan kencang hingga tiba dengan cepat di rumah.


Sesampainya di sana dia tak kunjung juga menemukan diriku. Mas Darwin kesal dan memukul kap mobilnya. "Sebenarnya kemana dia pergi?" ucap Mas Darwin.


Mas Darwin menghubungi Yuk Selvi dan berpesan agar segera menghubunginya jika aku pulang ke rumah di Kayuagung. Ia sengaja tidak menelepon ibu karena tidak ingin ibu tahu bahwa aku melarikan diri.


Kemudian, tiba-tiba Mas Darwin teringat pada ponselku. 'Apa Rania ke Palembang? Mungkinkah ia ke tempat temannya yang lamaran kemarin,' pikir Mas Darwin.


'Rania, mengapa kamu tidak datang?' Mas Darwin membacanya dan langsung menelepon Nelly.


"Raniaaa!" sapa Nelly dari seberang saluran. "Mengapa sih kamu tidak datang?"


"Hmmh, maaf ... ini aku Darwin, suami Rania," ucap Mas Darwin menanggapi sapaan Nelly.


Nelly terdiam seketika dan Mas Darwin melanjutkan ucapannya, "Apakah Rania bilang akan menemuimu hari ini?"


"Tidak," jawab Nelly pendek.


"Mungkin Rania dalam perjalanan untuk menemuimu. Jika dia sudah datang, tolong kabari aku," ucap Mas Darwin.


"I... iya," jawab Nelly.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Mas Darwin lalu ia segera mengakhiri pembicaraannya karena sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Sayang," sapa wanita di seberang saluran. Itu adalah suara Alya. Ia meminta Mas Darwin untuk pulang ke rumah. Sehingga, Mas Darwin pun menghentikan pencariannya terhadapku.


Mas Darwin kini sudah bersama Alya di rumah. Alya menghidangkan secangkir teh untuk sedikit menyegarkan pikiran Mas Darwin yang sedang kacau.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alya dengan begitu lembut.


Mas Darwin bungkam. Ia tak ingin menceritakan semuanya pada Alya. Ia tak ingin melukai perasaan Alya. Namun, beban di kepalanya saat ini sangat membuatnya stres. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan luapan pikirannya.


Mas Darwin menarik nafas panjang. Alya menepuk bahunya dan berbisik, "Ada apa, Sayang? Tak perlu ada yang disembunyikan dariku."


Mas Darwin tertunduk dengan perasaan kalut. Kemudian, akhirnya dia berkata, "Rania pergi. Dia melarikan diri di tengah perjalanan menuju ke Kayuagung."


Alya terdiam sejenak. Kemudian, dia membuka suara. "Sudahlah... tak usah terlalu dipikirkan, Sayang! Rania sudah dewasa. Dia pasti sedang baik-baik saja dan bisa menjaga dirinya," ucap Alya. Namun, Mas Darwin tetap saja menundukkan pandangannya.


Alya berusaha membujuk Mas Darwin dan berkata, "Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, Sayang."


"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa, Sayang." Mas Darwin menatap Alya dengan dalam. "Dia sedang mengandung anakku."


Bibir Alya bergetar hebat seketika. 'Ternyata Mas Darwin sudah tahu Rania hamil,' batinnya.


"Apa kamu yakin, Sayang?" tanya Alya masih dengan bibir bergetar.


"Dokter sudah memastikannya," ucap Mas Darwin.


"Apa kamu yakin itu anak kamu?" tanya Alya dengan air mata yang tiba-tiba menetes.


Mas Darwin segera mengambil kedua tangan Alya dan menggenggamnya dengan erat. "Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku! Aku mengingkari janjiku. Semua terjadi begitu saja di Bali. Hanya satu kali. Aku tak menyangka, aku sudah menjaga jarak dengannya. Semuanya terjadi begitu saja. Maafkan aku!" Mas Darwin begitu menyesali perbuatannya.


"Aku sudah menyentuhnya. Anak di dalam kandungan Rania adalah anakku." Perkataan yang keluar dari bibir Mas Darwin begitu menyakitkan hati Alya. Tanpa dapat dibendung air matanya berhamburan begitu saja.


"Maafkan aku! Maafkan aku!" ucap Mas Darwin berkali-kali. Namun, air mata Alya tetap saja berhamburan di pipinya.

__ADS_1


Mas Darwin segera memeluknya dengan erat. Pria yang dicintainya ini telah nyata dan jelas-jelas menyentuh wanita lain dan kini memiliki anak dengan wanita itu. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan atau katakan? Marah pada suaminya atau haruskah merelakan suaminya memiliki anak dari wanita lain? Hanya sakit hati yang berkecamuk dan deraian air mata yang ia rasakan saat ini tak bisa berhenti membanjiri pipinya.


__ADS_2