Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Satu Ranjang


__ADS_3

Tak terasa cukup lama aku menangis. Hingga akhirnya aku tersadar Mas Darwin sudah pergi meninggalkanku sejak tadi. Aku bergegas menuju pintu, berharap bisa pergi dari rumah ini. Namun, ternyata tidak bisa. Mas Darwin mengurungku, ia mengunciku dari luar. Pintu belakang pun terkunci. Ia membawa pergi kuncinya.


Aku terkurung di rumah ini. Sendirian, sepi dan dengan kesedihanku yang semakin menjadi-jadi. Tak ada seorang pun yang dapat kuhubungi untuk meringankan beban kesedihan. Semua orang memihak Mas Darwin. Aku merasa benar-benar kesepian dan sendirian di rumah ini.


Sementara itu, Mas Darwin meminta maaf pada Alya dan berjanji tidak akan membentaknya lagi. Mereka berdua pada akhirnya saling memeluk dan kembali harmonis. Malam pun terus berlanjut.


***


Seseorang menelepon Mas Darwin, memberi kabar buruk yang membuat Mas Darwin tergesa memacu mobilnya. Begitu sampai di depan rumah, Mas Darwin melihat kobaran api sudah melahap semua bagian rumah hingga atap.


"Rania," gumam Mas Darwin. 'Rania terkunci dalam rumah itu, aku mengurungnya di sana. Dia pasti tidak bisa keluar.'


Mas Darwin segera berlari mendekati kobaran api. "Rania!" panggil Mas Darwin begitu cemas. "Rania! Rania!" teriaknya berkali-kali. "Rania!"


Tak ada jawaban. Yang ada hanya bunyi letupan api silih berganti. Mas Darwin tampak frustasi dan berusaha masuk menerobos kobaran api sambil berteriak memanggil-manggil namaku. "Rania, Rania! Raniaaaa!"


"Sayang... Sayang... Sayang!" Alya mengguncang tubuh Mas Darwin.


"Hakhhh...!" Mas Darwin menarik nafas panjang dan segera terduduk dari posisi tidurnya. Ia mengusap kepalanya hingga menahan rambutnya ke belakang.


"Kamu kenapa Sayang?" Alya menatap Mas Darwin penuh tanda tanya. "Kamu bermimpi?"


Mas Darwin belum mampu menjawab. Ia menoleh ke jam di atas meja di sebelahnya. Hampir pukul dua malam.


Mas Darwin bergegas beranjak dari tempat tidur. Ia langsung membuka lemari pakaian untuk mengambil jaket. Alya terus memperhatikan tingkah laku suaminya itu.

__ADS_1


Kini Mas Darwin memasukkan tangannya ke dalam lengan jaket. Alya segera bertanya, "Kamu mau kemana, Sayang?"


"Aku harus menemui Rania. Aku mengurungnya sendirian di rumah. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," jawab Mas Darwin.


"Harus tengah malam seperti ini?" tanya Alya heran. "Besok pagi kan masih bisa."


"Aku harus cepat, Sayang. Dia sendirian di rumah itu," ucap Mas Darwin lalu mencium dahi Alya dan berkata, "Aku pergi dulu."


"Sayang!" Alya memanggil Mas Darwin namun tak dihiraukan. Mas Darwin sudah bergegas keluar dari kamar dan menuju garasi mobil.


Terdengar raungan irama mobil dari kamar Alya. Kemudian, tak lama setelah itu raungan suara itu terdengar menjauh meninggalkan malam dengan keheningan. 'Mas Darwin sudah pergi,' batin Alya.


Air matanya kembali menetes. 'Mas Darwin meninggalkanku untuk pergi menemui wanita itu. Ia sudah berubah. Ia bukan Mas Darwin yang dulu kukenal. Kini ia sangat peduli pada wanita itu ... tanpa sedikitpun memikirkan perasaanku lagi.' Air mata Alya berderai di atas bantal yang menopang wajahnya.


Alya merasakan sakit hati yang mendalam. Tanpa Mas Darwin sadari perasaannya terhadapku sudah berubah. Entah sejak kapan perasaan baru itu muncul. Namun, yang pasti kini perasaan itu semakin kuat dan menancap semakin dalam di hatinya.


Rumah tampak sangat sepi. Mas Darwin masuk ke dalam dan mengunci pintunya. Ia mencabut kunci itu dan mengantonginya. Lalu, ia berjalan menuju kamar. Langkahnya kemudian terhenti melihat kantong asoy di atas meja. Sebelum pertengkaran terjadi tadi ia meletakkan makanan yang dibelinya di atas meja.


Mas Darwin melihat makanan di dalam kantong itu tersisa dua bungkus. 'Dia sudah makan,' pikir Mas Darwin memastikan aku sudah makan. Karena, Mas Darwin mengkhawatirkan kondisi tubuhku yang lemah. Sudah dua kali aku pingsan saat hamil dan Mas Darwin khawatir itu akan mempengaruhi kondisi kehamilanku.


Ia lalu masuk ke dalam kamar dan melihatku yang sudah tertidur dengan mata sembab. Mas Darwin melepas jaketnya dan menggantungnya di balik pintu. Kemudian, ia duduk di atas tempat tidur, di sampingku.


Ia memandang wajahku yang penuh dengan kekecewaan. Di sudut bibirku masih tersisa cedera karena tamparan Alya yang begitu keras. Mas Darwin mulai membaringkan tubuhnya di sampingku.


Ini pertama kalinya Mas Darwin sengaja membaringkan tubuhnya di sebelahku. Kami berada di ranjang yang sama. Dia terus menatapku lalu bergumam, "Maafkan aku, Rania." Ia terus menatapku hingga akhirnya ia pun tertidur pulas.

__ADS_1


Setelah itu, pukul empat pagi aku terbangun. Aku merasakan sebuah lengan melingkari pinggulku dari belakang. Aku cukup terkejut dan mendadak terduduk. Aku menatap laki-laki di sampingku. Itu Mas Darwin. Aku benar-benar terkejut. 'Sejak kapan Mas Darwin ada di sini?' batinku.


'Apa yang ia lakukan di sini?' Untuk pertama kalinya Mas Darwin mau tidur satu ranjang denganku berdekatan seperti tadi. Aku menatapnya penuh keheranan. Namun, ia masih terlelap tidur.


'Ini adalah kesempatan bagiku untuk melarikan diri darinya,' pikirku.


Aku pelan-pelan turun dari kasur dan berjalan menuju pintu depan. Aku berharap ia meninggalkan kuncinya di pintu. Tapi, dugaanku benar-benar keliru. Tak ada kunci di sana. Ia mencabutnya dari lubang kunci sehingga aku tak bisa membuka pintu.


"Kamu mau kemana?" Suara Mas Darwin mengagetkanku. Aku membalikkan badan ke belakang dan kulihat ia sudah berdiri di belakangku.


"Kamu masih tidak berubah. Kamu mau melarikan diri lagi?"


Aku tak ingin menjawab karena dia sudah tahu jawabanku.


"Tidak bisakah kita bicarakan baik-baik?" tanya Mas Darwin.


"Apalagi yang harus dibicarakan, Mas? Aku sudah tahu semuanya. Kamu menahanku di sini hanya karena menginginkan anak ini," ucapku. "Setelah itu kamu akan membuangku dan hidup bahagia bersama Alya."


"Dari awal aku tak punya niat menceraikan kamu, Rania," tegas Mas Darwin. "Kamulah yang selalu minta cerai. Aku mengatakan akan mengambil anak itu jika kita bercerai. Tapi, jika kamu memilih untuk tidak bercerai maka kita bisa merawat anak itu bersama-sama."


"Aku tidak bisa, Mas. Aku tidak bisa menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian." Mataku berkaca-kaca. "Aku bukan boneka. Aku punya perasaan. Aku tak mau lagi diabaikan dan sakit hati melihat kemesraan kalian berdua."


Mas Darwin terdiam dan aku memohon, "Lepaskan aku, Mas! Jika kamu tidak bisa meninggalkan Alya, maka lepaskan aku!"


"Aku tahu kamu sangat mencintai Alya. Kamu selalu hanya peduli padanya. Tapi, tolong kali ini mengertilah perasaanku sekali saja." Hatiku sangat sakit saat mengatakan itu.

__ADS_1


"Kalian berdua sudah menjebakku dalam pernikahan ini. Aku tertipu dengan permainanmu, Mas. Bahkan, kamu memalsukan statusmu di buku nikah kita. Aku ingin mengakhiri semua sakit yang aku alami ini. Pernikahan ini seperti penjara bagiku. Mas Darwin hanya akan menyiksaku jika terus mempertahankan aku dalam pernikahan ini. Jadi, tolong lepaskan aku!"


Mas Darwin hanya diam mematung mendengarkan semua perkataanku. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin saat ini ia hanya memikirkan kepentingannya dan Alya.


__ADS_2