
"Rania, kamu sepertinya lelah sekali," ucap Nelly ketika aku baru saja pulang ke rumahnya.
Hari sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam. Rumah makan itu baru saja tutup jam sembilan malam. Sehingga, aku baru bisa pulang setelah selesai beres-beres.
"Iya, ini Hari Minggu jadi rumah makannya lumayan ramai," ucapku menimpali perkataan Nelly.
"Apa kamu yakin mau tetap kerja? Kamu seperti kelelahan, Rania. Pulangnya juga malam, berbahaya kalo kamu pulang sendirian," ucap Nelly saat memandangi bibirku yang mengering dan wajahku yang sendu tak bercahaya. Aku lemas.
"Mulai besok aku menginap di rumah makan itu, Nelly. Pegawai yang lainnya juga menginap di sana. Pemilik rumah makan ternyata menyediakan kami tempat tinggal di lantai atas rumah makan itu. Jadi, aku tidak perlu mencari kontrakan lagi dan mondar-mandir pulang malam," ucapku sambil tersenyum.
"Rania...." Nelly gusar memandangku. "Kamu jangan nekat seperti ini! Semakin lama perutmu itu akan semakin membesar."
Aku tetap tersenyum dan berkata, "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, Nelly. Aku bisa jaga diriku."
Sementara itu, Mas Darwin semakin pusing memikirkan keberadaanku. Sehingga, esok paginya di kantor ia tak bisa fokus dan berkonsentrasi bekerja. Di kelas pun ia mengajar hanya sejenak lalu ia meninggalkan kelas dan merenung di dalam ruangan kantornya.
Ia duduk di kursi kerjanya, menatap mejanya yang kosong. Pikirannya berkecamuk. 'Mengkhawatirkan Rania sama dengan menyakiti perasaan Alya. Tapi, mengabaikan keberadaan Rania sama dengan menelantarkan anakku, darah dagingku. Tidak mengkhawatirkan Rania itu sesuatu yang tidak bisa kulakukan. Aku harus segera tahu dimana keberadaannya.'
Tiba-tiba ponsel Mas Darwin berdering. "Ibu," gumamnya.
"Darwin, mengapa kamu tidak jadi pulang Sabtu kemarin? Selvi bilang kamu ada urusan mendadak. Urusan apa? Mana Rania? Mengapa ponselnya tidak bisa dihubungi dari kemarin?" cerocos ibu begitu Mas Darwin mengangkat teleponnya.
"Oh, ponsel Rania tadi habis baterai, Bu," jawab Mas Darwin.
"Mengapa tidak dicharge?" tanya ibu lagi.
"Iya, nanti aku akan bilang pada Rania untuk mengaktifkan ponselnya, Bu," jawab Mas Darwin.
__ADS_1
"Kalian punya masalah apa? Ada yang tidak beres?" Lagi-lagi ibu bertanya.
"Tidak, Bu. Semuanya baik-baik saja. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan kami," ucap Mas Darwin.
"Ya. Ibu tunggu telepon dari Rania," ucap ibu sebelum mengakhiri pembicaraan.
'Ibu sepertinya curiga pada hubunganku dengan Rania,' pikir Mas Darwin.
'Aku harus segera menemukan Rania,' batin Mas Darwin.
Lalu, ia pun segera beranjak dari kursinya dan meninggalkan kantornya. Ia memutuskan untuk berangkat ke Palembang tanpa memberitahu Alya. Ia segera memacu mobilnya menuju jalan tol untuk ke Kota Palembang.
Sementara itu, ini hari kedua aku bekerja di rumah makan. Sebenarnya aku senang karena mendapatkan pekerjaan sekaligus tempat tinggal gratis. Jadi, aku tidak perlu pusing lagi mencari kontrakan. Tapi, suami istri yang menjadi bos rumah makan ini sangat cerewet. Aku tak tahu bisa bertahan sampai berapa lama bekerja di sini.
Sejak pagi tadi mereka sudah marah-marah ke seluruh pegawai. Sampai sekarang pun wajah mereka masih masam dipenuhi kemarahan. Akibatnya, tidak ada satu pun pegawai yang sudah makan siang. Semuanya masih terus bekerja non stop dengan perut lapar. Padahal, hari sudah menunjukkan pukul dua siang.
Pandanganku sudah berkunang-kunang. Anak dalam kandunganku menagih asupan gizinya. Namun, aku tak punya pilihan. Aku tetap terus bekerja, mengelap meja makan yang baru saja ditinggalkan pelanggan.
Aku sangat terkejut. Bunyi kegaduhan piring dan mangkuk yang membentur lantai seketika saja membuat semua pandangan tertuju padaku. Bibirku gemetar, wajahku memucat.
"Kamu kenapa diam saja?" suara keras lelaki mengagetkanku. Aku menoleh. Lelaki itu adalah bosku.
"Cepat pungut! Bersihkan lantainya!" Ia mendorong tubuhku hingga terjatuh di lantai.
Aku tersungkur cukup keras. 'Semoga saja anak dalam kandunganku ini baik-baik saja,' batinku tanpa beranjak dari lantai. Aku terlalu lemas.
Lalu, tiba-tiba, "Haahh!" Suara spontan itu terdengar dari mulut bosku. Tak kuduga ia tiba-tiba juga tersungkur di lantai tak jauh dariku.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu ya!" maki bosku sambil memegang wajahnya dan segera berdiri dari lantai.
Aku menoleh dan sangat terkejut saat kulihat Mas Darwin sudah berdiri di hadapanku. Tenyata, ia telah memukul bosku hingga terjatuh.
Bosku ingin memukul balik dan Mas Darwin juga maju untuk segera memukulnya kembali. "Bukk!" Ia langsung memukul bosku hingga tubuhnya kembali terjatuh.
Aku segera berusaha berdiri dan menahan tubuh Mas Darwin untuk tidak kembali memukul bosku. "Mas, sudah, Mas!" Tapi, Mas Darwin begitu emosi dan masih saja ingin menghajar bosku yang kembali ingin memukul balik.
Orang-orang di rumah makan segera menghadang, melerai mereka berdua. Orang-orang berusaha memisahkan mereka dan bosku berteriak, "Lepaskan! Aku tidak terima."
"Sudah, Mas! Kumohon!" Aku berusaha menahan Mas Darwin, namun aku terlalu lemas. Tiba-tiba saja pandanganku menggelap seketika. Aku pingsan.
"Rania! Rania!" panggil Mas Darwin berkali-kali sambil menahan tubuhku agar tak terjatuh. Namun, aku sudah tak sadarkan diri.
Bosku tercengang lalu ia mengancam, "Aku akan tuntut kamu ya. Aku laporkan kamu ke polisi,"
"Aku tidak takut," jawab Mas Darwin penuh amarah. "Awas saja jika terjadi sesuatu pada Rania, aku laporkan juga kamu... mencelakai wanita hamil." Mata Mas Darwin terlihat begitu tajam.
Sementara itu. mata bosku terbelalak. "Hamil?" ucapnya spontan. "Dia hamil? Rania belum menikah," cetusnya.
Mas Darwin segera memangkuku sambil berkata dengan keras, "Rania hamil. Aku suaminya."
"Oh, kamu suaminya. Baguslah, ganti semua kerugian piring-piring yang pecah ini! Lima ratus ribu," ucap bosku dengan kasar.
Mas Darwin mengambil dompetnya, mengeluarkan lima lembar uang seratusan ribu dan melemparnya di hadapan bosku. "Awas kamu! Jika terjadi sesuatu pada Rania, aku tuntut kamu," ucap Mas Darwin lalu segera menggendongku.
"Aku yang akan tuntut kamu," gertak bosku tak mau kalah. Namun, Mas Darwin tak menghiraukannya. Ia menggendongku, segera membawaku keluar dari rumah makan itu.
__ADS_1
Ia membawaku masuk ke dalam mobilnya. Ia menurunkan sandaran kursi dan membaringkanku di kursi depan, kursi di sebelah tempat duduknya. "Rania," gumamnya sambil mengguncang tubuhku. "Rania."
Mas Darwin menekan urat di pergelangan tanganku untuk membuatku tersadar. Namun, aku masih pingsan. Ia lalu bergegas memacu mobilnya, ingin mengantarku ke rumah sakit.