
Tak terasa sudah hampir satu jam Alya memacu mobilnya. Di sepanjang perjalanan yang terlintas dalam pikirannya adalah perkataan-perkataan ibunya. '... Jangan lari dari kenyataan!'
'Cepat atau lambat Darwin akan kembali pada ibunya dan kapan saja bisa meninggalkanmu, Nak.'
'Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Ibu,' ucap Alya saat itu. 'Aku tak akan membiarkan Mas Darwin pergi meninggalkanku. Pelakor itu yang harus pergi jauh dari kehidupan kami.'
Sementara itu, Mas Darwin sedang berada di rumah sakit. Ia tertegun memandangi bayinya dari balik kaca. Senyuman seketika merekah di wajahnya hanya dengan melihat geliat kecil bayinya.
'Dania sudah semakin membaik,' pikirnya. 'Sebentar lagi ia akan pulang ke rumah. Aku harus mempersiapkan kebutuhannya.'
Oleh karena itu, Mas Darwin pun meninggalkan rumah sakit. Ia menuju ke sebuah baby shop dan melihat-lihat box bayi di sana. Pilihannya pun akhirnya jatuh pada box bayi yang bisa diayunkan. Ia juga membeli sejumlah baju bayi bernuansa baby pink.
Lalu, tiba-tiba ponselnya berdering. "Alya," gumam Mas Darwin ketika membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Sayang, sekarang kamu ada dimana? Aku mau kita bicara," ucap Alya. Suaranya terdengar cukup dingin.
Mas Darwin memperhatikan sekelilingnya. Dia sedang berada di dalam baby shop dan tidak mungkin mengatakannya pada Alya. Mas Darwin tidak ingin Alya bersedih. Bayi yang sangat dielu-elukannya sejak dulu baru saja terpaksa diangkat karena tidak berkembang. Mas Darwin berusaha menjaga perasaan Alya.
"Aku sedang di Kayuagung," ucap Mas Darwin kemudian.
"Temui aku segera di masjid pinggir sungai!" ucap Alya kemudian dan membuat Mas Darwin terkejut.
"Kamu mau ke Kayuagung?" tanya Mas Darwin segera.
"Aku sudah berada di masjid ini. Aku tunggu sekarang." Lalu, Alya mengakhiri pembicaraannya.
Mas Darwin terkejut dan berpikir, 'Untuk apa Alya repot ke sini?' Ia pun bergegas membayar belanjaannya untuk bisa segera menemui Alya.
__ADS_1
Alya melangkahkan kakinya turun dari mobil. Ia berjalan perlahan memperhatikan sekitar masjid dan langkahnya terhenti di depan gerbang pintu masjid.
Sepuluh tahun lalu di depan pagar itu ia dan Mas Darwin berdiri. Saat itu mereka dalam perjalanan menuju rumah Mas Darwin yang letaknya masih jauh. Karena ingin istirahat sejenak dan sholat, mereka berdua mampir di masjid ini. Masjid yang penuh kenangan.
Di sini dulu Mas Darwin pernah berkata, 'Ibu pasti sangat senang jika sudah benar-benar mengenalmu.'
'Tapi, aku masih ragu, Sayang. Ibumu sepertinya sangat tidak suka padaku,' ucap Alya. Ia teringat dengan sikap dan ekspresi ibu Mas Darwin ketika bertemu dengannya untuk pertama kali.
Saat itu Alya dan Mas Darwin sama-sama lulus kuliah strata-1 dan hadir bersama ibu mereka masing-masing di acara wisuda. Begitu Mas Darwin mengenalkan Alya dan ibunya pada ibu, tatapan ibu Mas Darwin begitu tajam penuh kebencian.
Alya tersenyum dan mengulurkan tangan ingin menyalami ibu Mas Darwin. Namun, ibu langsung berkata, "Darwin, kamu tidak usah dekat-dekat wanita ini lagi!" Lalu, ia memaksa dan menggeret tangan Darwin untuk pergi.
Alya terbengong melihat sikap ibu Mas Darwin. Dari sana ia tahu bahwa ibu Mas Darwin tak menyukainya. Namun, selama berbulan-bulan Mas Darwin berusaha membujuk ibunya. Hingga akhirnya ibu meminta Alya datang ke rumah untuk menemuinya. Karena itulah mereka pergi ke Kayuagung dan mampir di masjid ini.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Mas Darwin. Alya melangkahkan kakinya ke dalam ruang tamu. Tak lama ibu Mas Darwin muncul dan Alya segera berdiri dari tempat duduknya untuk menyalami. Namun, ibu Mas Darwin mengacuhkannya.
Alya dan Mas Darwin saling berpandangan. Alya mencoba untuk bersikap sabar. Ia tahu pasti tidak mudah baginya untuk bisa diterima oleh ibu Mas Darwin. Karena, sejak awal ibu Mas Darwin tak menyukainya. Namun, ia berusaha untuk mengambil hati calon ibu mertuanya itu.
Ibu melirik kotak itu dan bertanya, "Apa ini?"
"Pepes ikan dan pempek, Bu," jawab Alya dan masih dengan senyumannya. "Ini tidak mengandung kolesterol. Ibu bisa memakan sebanyak yang ibu suka."
"Beli atau buat sendiri?" tanya ibu dengan angkuh.
"Buat sendiri, Bu," jawab Mas Darwin segera. "Alya sangat pintar memasak. Ibu pasti suka rasa masakannya. Luar biasa nikmat," puji Mas Darwin.
"Kamu pikir ibu mau memakannya?" ucap ibu segera.
__ADS_1
Alya dan Mas Darwin terdiam. "Bawa kembali makanan ini!" ucap ibu.
"Loh, mengapa, Bu?" tanya Mas Darwin.
"Apa yang kamu masukkan di sini?" tanya ibu dengan menatap wajah Alya. "Racun?"
Alya tersentak kaget. Sedangkan, Mas Darwin spontan berkata, "Bu, Ibu mengapa berkata seperti itu? Niat Alya baik, Bu."
"Aku tidak bisa percaya dengan anak pembunuh. Bisa saja kau ingin meracuniku." Lagi-lagi Alya begitu tersentak kaget mendengar ucapan ibu.
"Mungkin kamu dan keluargamu sudah lupa. Ayahmu membunuh puluhan orang, salah satunya adalah adikku," ucap ibu dengan keras. "Aku akan mengingatnya seumur hidupku."
"Bu," ucap Mas Darwin, namun ibu terus melanjutkan ucapannya. "Kau pikir aku mau menerimamu menjadi menantuku?" Air mata Alya berjatuhan.
"Aku memintamu ke sini untuk menyuruhmu menjauhi anakku."
"Bu, mengapa Ibu berkata begitu?" Mas Darwin berusaha melindungi Alya dari kemarahan ibunya.
"Jika kau punya sedikit rasa malu, harusnya kau pergi sekarang juga dari hadapanku! Jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di rumahku ini!" Kalimat ibu terdengar begitu lantang.
Alya sesegukan dan lekas bangkit dari tempat duduknya. Ia bergegas berlari ke luar rumah dan Mas Darwin langsung mengejarnya.
Tanpa terasa pipi Alya sudah basah dengan air mata. Ia tersadar dari lamunannya dan mengurungkan niatnya memasuki halaman masjid. Perlahan ia berjalan ke pinggir sungai. Di sana ada pondok dan tak jauh dari pondok itu ada deretan anak tangga yang mengarah turun ke air sungai.
Angin berhembus sangat kencang. Sehingga, daun-daun pohon berjatuhan ditiup angin. Air sungai pun menjadi penuh riak dan gelombang. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Langit sudah mulai menggelap, namun Alya tak menghiraukannya. Badai perasaan di dalam hatinya jauh lebih hebat dan hampir membuatnya gila.
Perlahan ia menuruni anak tangga menuju air sungai. Ia terus turun hingga kini mata kakinya sudah tergenang air. Alya menghirup udara dan menghembuskannya sebisa yang ia mampu. Ia berusaha melepaskan beban perasaan dalam hatinya. Namun, air matanya tetap menetes.
__ADS_1
Lalu, tiba-tiba, "Alya! Alya!" Ia mendengar suara Mas Darwin memanggilnya dari kejauhan.
Mas Darwin berlari ingin menghampirinya. "Jangan melakukan hal gila, Alya!" teriak Mas Darwin.