Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Mengkhianatimu


__ADS_3

Yuk Selvi datang mengunjungiku siang ini. Ia ingin memastikan kondisiku baik-baik saja. Mas Darwin yang memintanya datang ke rumah karena mengkhawatirkan kesehatanku. Sementara itu, Mas Darwin sudah berada di Indralaya sejak kemarin malam.


"Kamu sudah makan?" tanya Yuk Selvi.


"Sudah," jawabku sambil mengangguk.


"Tapi, kamu pucat dan lemas seperti belum makan." Yuk Selvi meragukan jawabanku.


"Aku sudah makan sedikit tadi, Yuk. Aku tidak berselera. Jika terus kupaksakan makan, aku malah mual dan ingin muntah."


"Ya, begitulah Rania jika hamil masih trimester pertama. Tapi, kamu harus tetap makan agar anakmu sehat. Kamu juga tidak boleh stres. Masalah kamu dan Mas Darwin tak usah terlalu dipikirkan dulu!"


Aku tercengang mendengar Yuk Selvi menyinggung masalahku dengan Mas Darwin. "Yuk Selvi tahu hal yang terjadi di antara aku dan Mas Darwin?" tanyaku.


Yuk Selvi diam. Sedangkan, aku kembali bertanya, "Apa Yuk Selvi juga tahu tentang Alya?"


"Hmmmh...." Yuk Selvi sedikit ragu untuk berkata.


"Yuk Selvi tahu Mas Darwin sudah menikah dengan Alya?" tanyaku lugas.


"Jangan keras-keras, Rania! Nanti ibu dengar," ucap Yuk Selvi.


Darahku berdesir seketika mendengar ucapan Yuk Selvi. "Jadi, Yuk Selvi sudah tahu Mas Darwin punya istri selain aku?" tanyaku.


Yuk Selvi menghela nafasnya. Dan, aku sudah bisa menebak jawaban dari pertanyaanku melalui ekspresinya. Ia pasti sudah tahu dan selama ini sengaja menutupinya dariku.


"Mengapa Ayuk tidak bilang padaku, Yuk? Mengapa tidak memberitahuku sejak awal?" Aku tak terima dengan sikapnya yang menutupi pernikahan pertama Mas Darwin.

__ADS_1


Yuk Selvi diam dan bingung harus bicara apa. Sementara itu, aku melanjutkan ucapanku, "Tak kukira... ternyata kalian sekeluarga sudah tahu dan sengaja menutupinya dariku. Kalian menjebakku."


"Aku tidak menjebakmu, Rania." Yuk Selvi membela dirinya. "Enam tahun yang lalu temanku memberi tahu jika Darwin hampir setiap hari menginap di rumah Alya di Indralaya. Tapi, aku tak percaya begitu saja jika tidak melihatnya sendiri. Aku pikir mana mungkin Darwin berani kumpul kebo dengan Alya, mungkin itu hanya gosip. Beberapa tahun kemudian aku juga mendengar kabar dari temanku yang lain bahwa Darwin dan Alya sangat sering terlihat berdua. Aku penasaran dengan kebenarannya, aku pun mendatangi alamat rumah Alya di Indralaya dan ternyata rumahnya dibiarkan kosong. Aku tak tahu ia pindah kemana."


"Tahun kemarin sepupu kami yang tinggal di Indralaya menelepon mengatakan kekecewaannya karena Darwin sudah menikah, tapi kami tidak mengundangnya. Aku berkata bahwa Darwin belum menikah. Ia mengira Darwin sudah menikah karena sering tinggal serumah dengan Alya. Ibu ternyata mendengar percakapan kami dan shyok. Ibu mendadak kena serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit."


"Aku akhirnya mencari tahu kebenaran kabar itu dari sepupu kami. Ternyata, rumah mertua sepupu kami itu satu kampung dengan rumah yang ditempati Alya dan Darwin saat ini. Setelah menikah mereka berdua membangun rumah di sana. Orang-orang di kampung itu tahu mereka adalah suami istri. Aku terkejut mengetahui kebenaran ini dan tak tahu bagaimana harus menceritakannya pada ibu."


"Ibu sakit parah dan pasti bertambah shyok jika tahu Darwin sudah menikah. Saat sadar dan kondisinya membaik dia meminta Darwin untuk segera menikah. Ia memaksa Darwin untuk berjanji dan akhirnya Darwin mengiyakan. Setelah ibu keluar dari rumah sakit, Darwin tak lantas menikah. Ibu menagih janjinya hingga bersumpah tidak akan minum obatnya dan tidak mau berobat sebelum Darwin menikah. Lalu, pada akhirnya Darwin menikahimu, Rania."


"Kalian semua tega mengorbankan kebahagiaanku demi kebahagiaan ibu," ucapku.


"Bukan begitu, Rania," ucap Yuk Selvi segera. "Bagaimanapun juga kamu adalah istri sah Darwin. Kamu berhak bahagia dan sangat berhak memiliki Darwin. Alya selamanya hanya akan menjadi istri simpanan Darwin. Alya juga sepertinya tidak keberatan jika Darwin menikah lagi. Jadi, ayuk rasa tidak masalah Rania jika kamu jadi istri kedua Darwin."


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Yuk Selvi seorang wanita, tapi ia membiarkan adiknya menikah lagi, menduakan hati wanita. 'Dimana perasaannya sebagai seorang wanita?'


"Aku tidak bisa, Yuk. Aku ini bukan pajangan. Aku manusia biasa, punya perasaan. Aku tak bisa bahagia mengetahui suamiku di luar sana bermesraan dengan wanita lain. Mencintai wanita lain dan mengabaikanku."


"Jadi, maksud Ayuk selamanya aku harus berbagi cinta Mas Darwin dengan Alya?" ucapku. "Aku tidak bisa, Yuk. Aku tidak bisa," tegasku.


'Satu menit saja aku melihat kebersamaan Mas Darwin dan Alya hatiku sudah terasa begitu sakit. Apalagi, jika harus selamanya merelakan Mas Darwin mendua. Aku tidak bisa," ucapku dalam hati.


Aku bertahan di sini saat ini hanya untuk mendapatkan hak asuh anakku, bukan untuk menjadi pelakor dan merebut Mas Darwin dari Alya. Mereka berdua begitu saling mencintai. Sedangkan aku, siapalah aku di hati Mas Darwin? Aku harus tahu diri dan tidak berharap banyak dari pernikahan ini.


Sementara itu, ketika hari beranjak sore Mas Darwin pulang ke rumah di Indralaya dan disambut hangat oleh Alya. Ia segera menuangkan teh dan menyajikannya untuk Mas Darwin.


Mas Darwin tertegun dengan pikirannya yang berkecamuk. 'Alya begitu perhatian padaku meski aku telah menyakitinya berkali-kali,' pikirnya. 'Bagaimana bisa aku mengkhianatimu?'

__ADS_1


Akhir-akhir ini Mas Darwin merasakan perasaan yang berbeda padaku. Ia baru menyadarinya ketika aku pergi meninggalkannya. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hatinya saat itu. Meski Mas Darwin berusaha meredamnya, namun ia tak bisa membohongi dirinya. Perasaannya padaku kini sudah berbeda. Ada rasa ingin memiliki dan ingin bersamaku di hatinya. Namun, perasaan ini membuatnya merasa sangat bersalah pada Alya.


"Sayang," panggil Alya. "Kamu melamun."


Mas Darwin tersadar dari pikirannya yang kacau. Ia tersenyum pada Alya. "Maaf aku tidak fokus," ucap Mas Darwin.


"Iya, tidak apa-apa. Akhir-akhir ini kamu terlalu banyak beban pikiran. Bagaimana jika kita berlibur, Sayang? Sebentar lagi kan jadwal kamu libur semester."


"Aku tidak bisa, Sayang."


"Mengapa?" tanya Alya segera.


"Rania sedang hamil muda. Dia membutuhkan perhatian ekstra dariku. Aku tidak mungkin meninggalkannya dan pergi liburan." Jawaban Mas Darwin membuat aura wajah Alya menjadi keruh seketika.


Alya menelan ludahnya. Tak tahu harus mengatakan apa pada suaminya? Namun, hatinya terasa sangat sakit menyadari bahwa suaminya saat ini sangat perhatian pada madunya.


"Semoga kamu bisa mengerti," ucap Mas Darwin.


"Aku ingin kita program bayi tabung, Mas." Alya tiba-tiba segera berkata seperti itu.


"Secepatnya aku ingin memiliki anak darimu," ucapnya lagi.


Mas Darwin menatap wajah Alya yang terlihat kecewa. "Maafkan aku, Sayang. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu."


"Aku tidak tersinggung, Mas. Aku hanya tidak tahan melihat kamu mulai berubah hanya karena Rania mengandung anakmu." Alya cukup emosi. "Aku juga bisa memberikanmu anak, anak kita berdua. Aku ingin kita program bayi tabung secepatnya."


Mas Darwin segera memeluk Alya dan berbisik, "Apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu, Sayang."

__ADS_1


"Tapi, sekarang cintamu sudah terbagi..." Alya meneteskan air matanya.


"Cintaku untukmu tidak akan pernah berkurang, Sayang," ucap Mas Darwin bersungguh-sungguh sambil memeluk dan membelai kepala Alya. Sementara itu, di dalam hatinya Alya tetap meyakini bahwa Mas Darwin sudah mulai berubah.


__ADS_2