
Sementara itu, di Kayuagung aku berusaha memutar otak untuk bisa membuktikan pada ibu bahwa aku bisa hidup mandiri. 'Aku akan bisa merawat anakku dengan baik,' batinku. Tapi, ucapan ibu memang benar. Jika aku bekerja, siapa yang akan mengasuh anakku? Jika aku membawanya bekerja, itu lebih tidak mungkin... siapa yang akan mau menerimaku bekerja?
'Itu artinya aku tidak boleh bekerja pada orang lain. Aku harus memiliki usaha sendiri,' pikirku. Usaha yang bisa kujalankan tanpa harus meninggalkan anakku. Namun, usaha apa? Aku bingung karena tak memiliki modal.
Berhari-hari aku mengalami kebingungan. Hingga akhirnya saat membuka lemari dapur aku melihat ada tepung beras dan kacang tanah. Tiba-tiba hal ini menginspirasiku untuk membuat peyek dan menjualnya.
Sewaktu aku masih kecil, aku sangat sering membantu ibuku membuat peyek. Peyek buatan ibuku sangat enak. Tidak keras... rapuh saat digigit, namun cukup kokoh dipegang. Aku bahkan masih sangat ingat cara membuatnya.
Aku segera menyentuh bungkus tepung beras itu, hendak mengeluarkannya dari dalam lemari. Namun, gerakan tanganku terhenti karena menyadari tepung dan kacang itu milik ibu. 'Apa boleh aku menggunakannya untuk keperluan usahaku?'
Tapi, naluriku untuk segera pergi dari rumah ini begitu kuat. Aku harus membuktikan pada ibu bahwa aku mampu mandiri dan tidak menelantarkan anakku. Oleh karena itu, aku berkata dalam hatiku, 'Aku akan menggantinya nanti saat sudah mendapatkan penghasilan dari penjualan peyek.'
Kebetulan ibu sedang pergi menghadiri hajatan ditemani oleh Yuk Selvi. Aku pun segera bergerak cepat untuk membuatnya.
Belum selesai membuatnya aku mendengar suara motor Yuk Selvi di depan rumah. 'Ibu pulang,' pikirku. Aku segera memasukkan sebagian peyek yang sudah jadi ke dalam toples kecil.
Ibu dan Yuk Selvi yang sudah memasuki rumah mencium aroma dari dapur dan segera menghampiriku. "Masak apa kamu, Rania?" tanya Yuk Selvi.
"Peyek, Yuk."
Tanpa kuminta Yuk Selvi segera mengambil sebuah peyek dan memakannya. "Hmm, enak." Kata itu yang pertama kali kudengar dari bibirnya.
Sementara itu, ekspresi ibu memperlihatkan rasa tidak percaya. 'Hehh... Mana mungkin Rania pintar membuat peyek,' pikir ibu. 'Dia kan bukan orang Jawa.'
"Ibu mau cicip?" tanyaku.
"Hmm, cicip, Bu! Enak," ucap Yuk Selvi sambil mengambil sepotong peyek dan memberikannya pada ibu.
Ibu memandangi peyek itu lalu dengan ragu mencicipinya. "Enak kan, Bu?" tanya Yuk Selvi segera.
__ADS_1
Ibu mengunyah peyek itu dan hanya diam saja, tak banyak komentar. Lalu, ia masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Sementara itu, aku bingung sebenarnya ibu menyukai peyek buatanku atau tidak.
Lalu, Yuk Selvi berkata, "Sepertinya ibu suka Rania dengan peyek buatanmu. Soalnya kalo ibu tidak suka dengan makanan, biasanya langsung protes banyak. Tapi, tadi ibu diam saja. Itu artinya dia suka. Berarti peyek buatanmu enak."
Kemudian, aku segera berkata, "Yuk, aku mau minta tolong. Bisa tidak Ayuk bawakan peyek ini ke acara arisan dan cicipi ibu-ibu di sana?" Aku memegang toples kecil yang tadi kuisi dengan peyek.
"Untuk apa, Rania?" tanya Yuk Selvi.
"Aku ingin jualan peyek, Yuk. Jika ada yang berminat, bisa pesan denganku. Tapi, bagi yang pesan harus dp dulu. Soalnya untuk modalku membuat peyek."
"Ohh... Oke, oke. Nanti ayuk bawakan," ucapnya sambil mengambil toples itu dari tanganku.
'Semoga saja ada yang mau membeli,' batinku.
Di akhir pekan seperti biasa Mas Darwin pulang ke Kayuagung. Kini usia kandunganku sudah memasuki usia dua puluh enam minggu. Mas Darwin melihatku sibuk mengemas peyek pesanan ibu-ibu ke dalam kantong.
Aku diam saja dan terus melanjutkan pekerjaanku. Mas Darwin lalu bertanya lagi, "Untuk apa kamu melakukan ini semua, Rania? Kamu sedang hamil besar, tidak boleh kelelahan."
Aku tetap diam, tak menghiraukan ucapan Mas Darwin.
"Kamu harusnya banyak beristirahat. Membuat peyek sebanyak ini melelahkan. Untuk apa kamu melakukan semua ini? Jika kamu membutuhkan sesuatu, aku akan membelikannya untukmu. Tidak perlu bekerja seperti ini."
"Biarkan saja, Mas," ucapku. "Aku ingin belajar hidup mandiri. Lagipula aku harus mengumpulkan uang untuk mengurus gugatan cerai kita."
Mas Darwin tersentak mendengar ucapanku. Ia menatapku sambil berkata, "Jadi, kamu melakukan semua ini karena ingin bercerai denganku?"
Aku balik menatapnya dan berkata, "Bukankah sudah sangat jelas, Mas? Aku ingin secepatnya kita bercerai."
Lalu, aku segera pergi dari hadapannya. Aku tidak ingin terjadi perdebatan dengannya karena ibu pasti akan mendengarnya. Lebih baik aku segera menjauhi Mas Darwin.
__ADS_1
Sementara itu, seketika Mas Darwin menjadi termenung mendengar ucapanku. Dia sangat kecewa dengan kata-kataku. Kini ia sadar aku benar-benar tak menginginkan pernikahan ini lagi.
Di luar dugaanku Mas Darwin jadi pulang ke Indralaya lebih awal akhir pekan ini. Mungkin ia tersinggung dengan ucapanku, namun aku tak peduli. Tekadku sudah bulat, aku sangat ingin segera berpisah darinya. Dia suami yang tak pernah kumiliki. Untuk apa aku lebih lama lagi bertahan di sini?
Sementara itu, ibu menjadi rewel dengan usahaku berjualan peyek. Dia tidak suka aku menerima pesanan peyek. Namun, aku tak mempedulikannya. Aku berusaha menutup telinga dengan ocehan ibu yang cukup menyakitkan hati.
"Untuk apa kamu terlalu bernafsu dan haus mengumpulkan uang, Rania? Hanya demi uang, nyawa anak dalam kandungan kamu itu jadi taruhannya," oceh ibu.
"Apa kamu kurang puas dengan fasilitas di rumah ini? Makanan selalu banyak, tidak pernah kurang. Listrik kamu tidak bayar... selalu dibayar Darwin. Pulsa kamu selalu diisi Darwin kan. Gaji pembantu dibayar Darwin. Kamu dikasih enak, tidak bersyukur."
"Tetangga-tetangga banyak bergosip. Kamu hamil besar, masih sempat-sempatnya menerima banyak orderan peyek. Nanti orang kira kamu itu tidak dinafkahi sama Darwin."
Aku terdiam lalu menjawab ucapan ibu, "Mas Darwin memang sudah tidak memberiku uang lagi Bu selama berbulan-bulan."
Ibu cukup kaget dan berkata, "Ahh... mana mungkin Darwin seperti itu?"
"Tanyakan saja Bu pada Mas Darwin langsung!" Aku tak peduli lagi dengan kebobrokan rumah tanggaku yang semakin lama semakin terbongkar satu per satu.
"Jika memang begitu, ibu yakin pasti Darwin punya alasan," ucap ibu membela putranya. "Darwin laki-laki bertanggung jawab, mana mungkin ia tega seperti itu jika tidak ada alasannya."
Aku diam, tak meminta ibu mempercayai ucapanku. 'Percuma saja, pasti ia akan lebih membela anaknya,' pikirku.
Sementara itu, kehamilan Alya hampir memasuki empat bulan. Ia sibuk mempersiapkan acara pengajian empat bulanan yang akan diadakan di rumahnya hari Minggu depan. Undangan untuk para tetangga pun sudah disebar.
"Sayang, ini baju yang aku pilihkan untuk dipakai di acara hari Minggu nanti," ucap Alya menyodorkan sebuah kemeja dari kain blongsong pada Mas Darwin.
"Yang ini punyaku," ucap Alya lagi sambil menunjukkan sebuah dress hijau muda yang dihiasi potongan kain blongsong serupa dengan kemeja Mas Darwin. "Pakaian kita couple," ucap Alya dengan tersenyum dan Mas Darwin hanya diam saja.
"Sebentar lagi usia kandunganku empat bulan, Sayang. Aku sudah tak sabar lagi ingin merasakan tendangan kaki mungilnya di perut ini," ucap Alya begitu bahagia lalu merangkul Mas Darwin dan Mas Darwin pun membalas rangkulannya.
__ADS_1