
Hari berganti hari aku jalani di Kayuagung. Mas Darwin sudah mencarikan seorang pembantu untuk mengurusi pekerjaan rumah sehingga aku bisa lebih santai. Tapi, Ibu masih saja mengoceh setiap hari. Aku tak pernah benar di matanya.
"Orang hamil itu pagi-pagi harusnya jalan kaki keliling-keliling sambil menghirup udara segar supaya kaki tidak bengkak," oceh ibu pagi ini. Sementara itu, setiap pagi aku merasa badanku lemas sekali dan ingin muntah. Berdiri berlama-lama saja sudah membuat tubuhku ingin tumbang. Aku tidak menyangka tubuhku akan jadi selemah ini.
Di akhir pekan Mas Darwin sudah kembali ke Kayuagung. Kudengar ibu menceritakan kebiasaanku yang setiap pagi lebih suka tidur-tiduran daripada banyak berjalan pada Mas Darwin.
"Mungkin Rania kurang sehat, Bu." Mas Darwin berusaha membelaku.
"Lah kalo kurang sehat, bawa ke dokter! Supaya istrimu itu dikasih vitamin atau obat supaya kandungannya sehat," ucap ibu dengan nada jengkel.
"Iya, Bu. Nanti Darwin ajak Rania ke dokter sekalian periksa kandungan."
Sehingga, sore ini Mas Darwin mengajakku ke tempat praktek dokter kandungan di Kayuagung. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya perawat memanggilku. "Nyonya Darwin, silakan masuk!"
Aku dan Mas Darwin pun masuk ke ruangan itu disambut dengan seorang dokter wanita yang sangat ramah.
"Anak pertama, ya?" tanyanya saat menggerakkan alat USG di atas perutku.
Aku dan Mas Darwin bisa melihat sebuah janin yang masih sangat kecil di layar. 'Itu anak kami,' pikir Mas Darwin dengan mata berkaca-kaca. Aku bisa melihat ekspresi kegembiraan di wajahnya. Sementara itu, aku malah merasa cemas Mas Darwin jadi akan berubah pikiran dan akan mengambil anak ini dariku.
Setelah melakukan pemeriksaan, kemudian dokter meresepkan sejumlah vitamin padaku. Mas Darwin menebusnya di apotek dan juga membelikan sekotak susu kehamilan untukku, padahal aku tak memintanya.
"Nanti jangan lupa diminum vitaminnya! Harus rutin dan susu ini juga diminum!" ucap Mas Darwin. Ia berusaha memberi perhatian padaku, namun aku menyikapinya dengan dingin.
"Selain ini, apakah ada lagi yang ingin kamu beli?" tanya Mas Darwin. "Mumpung kita di daerah pasar."
Aku menggelengkan kepalaku dan tak meminta apapun pada Mas Darwin. Sehingga, kami pun segera pulang ke rumah dan sampai saat jam makan malam.
__ADS_1
Mas Darwin mengajakku makan malam bersama dengan ibu. Ia beberapa kali memasukkan lauk ke piringku. "Kamu harus makan yang banyak!" ucapnya dan ibu hanya melihat gerak-gerik kami.
"Sudah, sudah cukup," ucapku ketika Mas Darwin memasukkan sepotong ikan ke piringku.
Ibu masih terus memperhatikan kami berdua. Biasanya aku mengambilkan nasi untuk Mas Darwin pada saat akan makan. Tapi, kali ini tidak kulakukan. Aku tidak ingin peduli lagi pada Mas Darwin.
Hari-hari pun berlalu hingga waktu libur semester perkuliahan tiba. Aku pikir Mas Darwin akan menghabiskan waktu liburnya bersama Alya di Indralaya. Namun, tanpa kuduga dan kuharap ia pulang ke Kayuagung.
'Ada apa dengannya?' pikirku. 'Apakah ia sudah lupa untuk peduli pada perasaan Alya?' Bagiku ini aneh.
"Mas, apa Alya tahu kamu di sini?" tanyaku.
Mas Darwin mengangguk. Aku segera bertanya, "Apa Alya bisa terima?"
"Kamu tak perlu pikirkan itu. Selama kamu masih jadi istriku... aku akan berusaha untuk adil pada kalian berdua," ucap Mas Darwin. "Aku akan menghabiskan setengah masa liburku di sini bersamamu dan setengah lagi bersama Alya."
"Tapi, aku membutuhkanmu. Aku tidak ingin melewatkan momen perkembangan calon anak kita."
"Anakmu baik-baik saja. Bahkan, perutku belum membesar. Kamu belum akan dapat melihat perkembangannya, Mas. Lebih baik kamu pulang saja." Aku mengusir Mas Darwin agar ia menjauhiku. Aku tak mau ia memiliki banyak kenangan dengan anak di dalam kandunganku ini. Karena, itu nanti akan membuatnya sulit untuk melepaskan anaknya.
"Mengapa kamu seperti ini, Rania?" Mas Darwin menarik tanganku. Aku menatapnya. Ia melanjutkan ucapannya, "Kamu sangat jauh berubah. Bisakah kamu kembali seperti dulu?"
Aku menatapnya dengan pandangan sinis. Sementara itu, Mas Darwin malah berkata, "Aku merindukan kamu yang dulu."
"Hehh...." Aku menyeringai kecil. "Ingatlah Mas! Alya sedang merindukanmu di rumahnya," ucapku lalu aku menarik tanganku.
Aku berjalan menuju pintu kamar dan segera keluar. Di luar dugaanku ternyata sejak tadi ibu sedang duduk di kursi yang berada tepat di sebelah kamar kami. Ia memandangku dan aku selama beberapa detik tertegun. 'Apa ibu mendengar percakapan kami?' tanyaku dalam hati.
__ADS_1
Namun, ibu tak mengatakan apapun. Ekspresi wajahnya biasa saja. 'Semoga ia tak mendengarkan apapun,' batinku. Lalu, aku berlalu berjalan meninggalkannya.
Sementara itu, di waktu yang sama Alya sedang melamun di dalam ruang kantornya. Ia mengingat ucapan Mas Darwin padanya, "Aku harus bersikap adil padamu dan Rania, Sayang."
"Sejak kapan Sayang kamu memberikan porsi waktumu untuknya ada dalam agenda hidupmu?" Alya tak terima saat tahu Mas Darwin ingin membagi waktu liburnya. "Aku istrimu yang sebenarnya. Dia hanya orang ketiga dalam rumah tangga kita."
"Tidak, Sayang. Kini aku sadar kalian berdua sama-sama istriku. Aku menikahi kalian berdua di hadapan Tuhan. Aku punya tanggung jawab terhadapmu maupun terhadap Rania." Mas Darwin mengatakan hal menyakitkan itu di hadapan Alya.
Alya tak bisa terima dan benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan Mas Darwin. 'Kamu benar-benar berubah,' pikirnya.
"Jika begitu... jika memang karena itu, ceraikan Rania!" pinta Alya.
Mas Darwin segera menoleh dan menatap mata Alya yang sudah berkaca-kaca. "Aku memang akan menceraikannya, Sayang. Rania sudah memintaku untuk menceraikannya," ucap Mas Darwin. "Aku akan menceraikannya setelah ia melahirkan. Tapi, sebelum waktu itu tiba dia berhak mendapat perlakuan yang adil sebagai istriku."
Alya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Kamu berubah, Sayang. Kamu berubah." Ia meneteskan air mata. "Sadarlah!" teriaknya.
Mas Darwin berusaha memeluk Alya untuk menenangkannya. Namun, Alya segera mendorong tubuh Mas Darwin. "Jangan sentuh aku!" ucapnya.
Alya tak berbicara sepatah kata pun pada Mas Darwin hingga pagi menjelang. Kemudian, Mas Darwin berpamitan untuk menghabiskan setengah masa liburnya dengan pulang ke Indralaya. Mas Darwin berusaha bicara baik-baik pada Alya, namun Alya tetap tak berkata apa pun hingga akhirnya Mas Darwin pergi meninggalkannya.
Saat mendengar suara mobil Mas Darwin dinyalakan, Alya berusaha mengejar bayangan Mas Darwin melalui kaca jendela kamarnya. Ia berharap Mas Darwin tidak benar-benar pergi. Namun, dalam sekejap ia melihat mobil Mas Darwin melaju meninggalkan rumahnya dan ia pun tersedu.
"Treettt... Trettttt...." Suara getaran ponsel membuat Alya tersadar dari lamunan ingatannya. Ia segera mengusap air mata yang entah sejak kapan membasahi pipinya. Ia tersadar saat ini ia masih berada di kantor.
Ia segera meraih ponselnya dan membaca nama yang tertera di ponsel. "Dokter Aldi," gumamnya.
'Mengapa tiba-tiba dia meneleponku?' pikir Alya.
__ADS_1