Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Bunga Pertama


__ADS_3

Setelah melakukan aksi menyebalkannya tadi pagi, Mas Darwin seharian ini tampak lebih banyak termenung. Entah apa yang ia pikirkan. Aku juga tak mengerti maksud ucapan yang mengatakan perasaannya sedang kacau.


'Apa mungkin masalahnya itu ada hubungannya dengan Alya?' pikirku. 'Apa ia sedang bertengkar dengan istri yang dicintainya itu?'


Kulihat sejak kemarin ia sama sekali belum mengaktifkan ponselnya. 'Dia tidak mau diganggu atau dia malas meladeni orang bicara?' pikirku. 'Apa orang yang dihindarinya itu Alya?'


Jika dia tidak mempunyai masalah dengan Alya, dia pasti mengaktifkan ponselnya dan memberi kabar pada Alya melalui ponsel. Tapi, sejak kemarin ia malah melakukan hal sebaliknya. 'Mas Darwin pasti sedang punya masalah dengan Alya.' Aku berusaha menyimpulkan.


"Rania...." Tiba-tiba saja ibu sudah di hadapanku malam ini. "Dimana Darwin?"


"Di kamar, Bu," jawabku.


"Sebenarnya Darwin punya masalah apa?"


"Hmmmh... Aku kurang tahu, Bu," jawabku dan ibu langsung melotot.


"Kamu ini bagaimana sih? Masa istri sama sekali tidak tahu masalah yang dihadapi suaminya." Ibu sudah mulai mengoceh.


"Seorang istri itu harusnya menemani suami dalam suka duka. Menjadi pendengar yang baik jika suami butuh tempat bicara, berbagi beban pikiran. Istri itu harus bisa memberi semangat pada suami ketika down. Jangan mau menemani ketika senang saja!"


"Aku sudah merasa lebih baik kok Bu." Aku langsung menoleh dari arah datangnya suara Mas Darwin. Ternyata, dia sudah berdiri tak jauh di belakangku. Dia tersenyum.


"Tadi pagi Rania sudah membantuku merasa jadi lebih nyaman."


Aku melotot mendengar ucapan Mas Darwin dan ibu mengernyitkan dahinya. "Kamu tidak usah menutupi kekurangan istrimu ini! Ibu tahu kalian itu tidak harmonis." Ibu begitu lugas mengatakannya.


Aku menundukkan kepalaku. Nyatanya aku dan Mas Darwin sejak menikah memang tak pernah akrab, apalagi mesra. Ibu memang benar, ia seperti sudah mencium aroma permasalahan dalam rumah tangga kami.


"Ibu tidak mau ikut campur urusan kalian. Segera selesaikan masalah kalian berdua, jangan berlarut-larut! Sebentar lagi kalian itu mau punya anak." Ibu lalu pergi meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


Aku tertunduk dan dalam hati berkata, 'Sebentar lagi kami akan bercerai, Bu.'


Mas Darwin kemudian mendekatiku. Tiba-tiba jantungku jadi berdegup keras. Aku sedikit trauma dengan tindakan mengejutkannya tadi pagi. Aku tak mau dekat-dekat dengannya lagi. Karena itu, aku bergegas melangkahkan kakiku ke kamar sebelum Mas Darwin tiba di hadapanku.


Aku masuk ke kamar dan duduk di depan meja rias. Ternyata Mas Darwin membuntutiku masuk ke dalam kamar. Ia berjalan menuju ke tempat tidur. Aku segera berdiri, melangkahkan kakiku kembali menuju pintu. Aku ingin keluar dari kamar dan Mas Darwin segera bertanya, "Kamu mau kemana?"


"Mau nonton tv. Tidak usah ikuti aku!" Aku bergegas keluar dan menutup pintu kamar.


Aku sengaja menghindari Mas Darwin agar dia tak melakukan hal macam-macam padaku lagi seperti tadi. Mengingat ucapannya tadi yang mengatakan bahwa aku masih istrinya saja sudah membuatku bergidik. Aku harus sangat berhati-hati padanya.


Aku menonton televisi hingga larut malam untuk menghindari Mas Darwin. Pukul sebelas malam lewat Mas Darwin keluar dari kamar untuk memeriksaku. Televisi masih menyala dan bersuara. Sedangkan, aku sudah tertidur pulas di sofa depan televisi.


Mas Darwin menggeleng-gelengkan kepalanya karena aku tidak lagi menonton televisi sejak tadi. Malah, televisi yang sejak tadi menyaksikan aku tertidur pulas.


Ia kemudian melangkahkan kaki mendekatiku, mengambil remote yang tak jauh dari tanganku dan mematikan televisi. Lalu, Mas Darwin menggendongku ke kamar tanpa aku sadari. Ia kemudian meletakkan tubuhku di atas kasur dan sejenak memandangi wajah bodohku saat tidur. Lalu, ia menyelimutiku dan mematikan lampu.


Malam pun berlalu. Esoknya aku terbangun dan keheranan mengapa aku bisa berada di kasur dan tidur di kamar. 'Rasanya aku semalam tidur di luar.'


"Hufffthh...." Aku menarik nafas dalam. Ternyata Mas Darwin memindahkan aku tidur ke kamar semalam. Lalu, ia tidur di sini.


'Mengapa ia melakukan itu?' pikirku.


"Loh, Darwin mengapa tidur di sana?" Suara ibu tiba-tiba mengagetkanku. Ibu sudah bangun juga dan berjalan mendekati Mas Darwin.


"Darwin, Darwin... bangun!" Ibu menggoyang-goyangkan tubuh Mas Darwin hingga ia terbangun.


Mas Darwin membuka matanya dan ibu segera mencecar pertanyaan, "Mengapa kamu tidur di sini? Mengapa tidak tidur di kamar?"


Mas Darwin mengucek matanya dan melihatku berdiri tak jauh darinya lalu ia berkata, "Semalam aku nonton bola, Bu. Ketiduran."

__ADS_1


Ibu geleng-geleng kepala. Sementara itu, aku tidak yakin dengan jawaban Mas Darwin. Pasti ia menyembunyikan alasan sebenarnya agar ibu tak terus mengocehiku. Ia selalu berusaha agar ibu tak mengocehiku akhir-akhir ini. Padahal, dulu ia tak peduli jika ibu mengocehiku. Aku masih ingat dulu dia pernah berkata, "Lama-lama kamu akan terbiasa." Dia memintaku untuk membiasakan diri dengan ocehan ibu.


Namun, sekarang perlakuannya berbeda. Mas Darwin seakan tak mau dan tak rela jika ibu mengocehiku. Dia jauh berubah. Namun, aku tetap pada pendirianku untuk bercerai dengannya.


Menjelang siang aroma sop yang sangat nikmat menusuk hidungku. Aku keluar dari kamar mencari darimana aroma itu berasal. Kulihat sebuah nampan di meja makan berisi seikat bunga matahari dan ilalang. Di sampingnya terdapat sebuah mangkuk.


Aku mendekatinya. 'Astaga!' ucapku dalam hati ketika melihat isi mangkuk itu. Ini sop ayam kampung buatan Mas Darwin. Aku sudah mengidamkannya sejak berhari-hari lalu. 'Kok Mas Darwin bisa tahu aku ingin makan sop ini?'


'Ups! Mengapa aku ge-er dan pe-de sekali,' batinku. 'Belum tentu sop dan bunga ini untukku. Mungkin ini untuk ibu.'


Aku pun bergerak menjauhi meja makan itu dan tiba-tiba kudengar suara, "Mengapa pergi?"


Mas Darwin muncul dari balik dinding. Ternyata, ia mengintaiku sejak tadi. "Aku membuatkan sop itu untukmu dan anak kita. Makanlah!"


Ternyata sejak pagi tadi Mas Darwin pergi ke belakang rumah, menangkap ayam dan memotongnya. Ia juga memetik bunga-bunga di halaman dan mengikatnya menjadi satu untukku. Aku tak pernah diperlakukan oleh siapa pun seperti ini sebelumnya. Membuatku sedikit terbawa perasaan karena haru.


"Kamu tidak makan, Mas?" tanyaku dan ia menjawab, "Aku mau mandi dulu. Gerah sejak tadi belum mandi." Lalu, ia berjalan ke kamar.


Aku menarik salah satu kursi makan dan duduk sambil memperhatikan sop di hadapanku. Ada selembar kertas terselip di bawah mangkuk itu. Aku mengambilnya dan membuka lipatan kertas itu.


"Rania... Maafkan aku." Aku membaca tulisan pada kertas itu. 'Jadi, Mas Darwin memberikan ini padaku sebagai permintaan maaf atas perbuatannya kemarin,' pikirku.


Lalu, kulihat Mas Darwin keluar dari kamar dengan handuk di pundaknya. Ia berjalan menuju kamar mandi. Aku meliriknya dan dia berkata, "Mengapa belum dimakan? Makanlah!" Lalu, ia masuk ke dalam kamar mandi.


Kini perhatianku kembali tertuju pada nampan di hadapanku. Aku menyentuh bunga di nampan itu, mengambilnya dan tersenyum saat melihatnya. 'Mas Darwin adalah laki-laki pertama yang memberikan bunga padaku,' batinku.


Lalu, tiba-tiba kudengar suara ponsel Mas Darwin berdering di kamar. 'Mas Darwin ternyata sudah mengaktifkan ponselnya,' pikirku dan ponsel itu terus berdering. Aku meletakkan bunga di tanganku lalu bergegas ke kamar.


Terbaca nama Alya di layar ponsel olehku. Lalu, panggilan itu berakhir. Kemudian, ponsel itu berbunyi lagi. Aku ragu untuk menjawabnya karena ini telepon dari Alya. Namun, aku begitu penasaran sebenarnya apa yang sedang terjadi antara Alya dan Mas Darwin.

__ADS_1


Rasa penasaran itu pun membuatku memberanikan diri untuk mengangkat telepon itu. Namun, aku hanya terdiam, tak berkata apapun.


Alya dari seberang saluran berkata, "Sayang, pulanglah! Aku hamil." Aku terkejut bukan main, seketika itu juga ponsel Mas Darwin terlepas dari tanganku dan membentur lantai.


__ADS_2