
"Alya, jangan melakukan hal gila!"
Mas Darwin bergegas menggeret tangan Alya, memaksanya berjalan menaiki tangga.
"Lepas, lepaskan!" ucap Alya. Mas Darwin pun melepaskan tangan Alya begitu tiba di atas.
"Aku memang gila karena mencintai kamu," ucap Alya. "Tapi, aku tidak bodoh, Sayang."
"Kamu pikir aku mau menenggelamkan diriku di sungai? Lalu, kamu bisa hidup bahagia bersama pelakor itu."
"Lalu, mengapa kamu berdiri di sana? Apa yang kamu lakukan?" tanya Mas Darwin.
"Aku hanya berpikir... seandainya aku dan Rania tercebur ke sungai itu secara bersamaan, siapa yang akan kamu selamatkan?"
Mas Darwin terdiam mendengar pertanyaan Alya. Sementara itu, Alya menatapnya dengan lelehan air mata. Lalu, Mas Darwin berkata, "Itu tidak akan terjadi."
"Mengapa kamu berkata seperti itu? Kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku." Alya mendesak.
"Aku akan menyelamatkan kalian berdua," jawab Mas Darwin.
"Tidak bisa. Kamu hanya bisa menyelamatkan satu orang," ucap Alya. "Siapa yang akan kamu selamatkan?"
Mas Darwin diam, tak mau menjawab pertanyaan Alya. Alya menunggu beberapa saat, namun Mas Darwin tetap bungkam. Alya kesal dan berkata, "Seberat itukah kamu untuk memilihku, Sayang?"
Mas Darwin tetap diam. Alya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ia berjalan meninggalkan Mas Darwin.
"Alya! Alya!" Mas Darwin bergegas mengejar Alya. "Aku tetap mencintai kamu, Sayang."
Langkah kaki Alya langsung terhenti. Ia membalikkan badannya tepat di depan pondok. Ia kini saling berhadapan dengan Mas Darwin. Ia menatap wajah Mas Darwin yang diselimuti kecemasan.
"Bisakah kamu menghapus Rania dari ingatanmu untuk selamanya?" tanya Alya.
"Bisakah kamu tidak menghubunginya seumur hidupmu? Maukah kamu tidak mencari anaknya sepanjang hidupmu?"
Mas Darwin tercengang mendengar pertanyaan-pertanyaan Alya. Kemudian, "Aku tidak bisa, Sayang." Kalimat itu keluar dari bibir Mas Darwin.
"Tess!" Air mata Alya semakin deras berjatuhan.
"Aku tidak bisa. Aku punya tanggung jawab terhadap anakku," jelas Mas Darwin.
__ADS_1
Alya terdiam. Hanya butiran air matanya yang menjadi jawaban dari perkataan-perkataan Mas Darwin. Tiba-tiba muncul perasaan bersalah di hati Mas Darwin karena telah menyakiti perasaan Alya.
Mas Darwin memegang kedua lengan Alya dan berkata, "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."
"Sekarang aku tahu... Rania dan anaknya lebih penting bagimu daripada aku dan cinta kita," ucap Alya diiringi isak tangisnya.
"Bukan begitu, Sayang. Bukan begitu," ucap Mas Darwin.
Lagi-lagi Alya hanya terdiam. Ia mengusap air matanya, namun terus berjatuhan. Ia kemudian menatap dalam ke arah Mas Darwin. Lalu, ia berkata, "Kita... akhiri saja hubungan kita ini."
Seketika itu juga seperti tersambar petir, jantung Mas Darwin terloncat, matanya terbelalak. Ia segera berkata, "Mengapa kamu berkata seperti itu, Sayang?"
"Aku mencintai kamu. Kamu tidak perlu mengalah dan berkorban seperti ini," ucapnya sambil mengguncang lengan Alya.
"Aku tidak sedang berkorban. Aku memperjuangkan kebahagiaanku," ucap Alya. "Kamu dan keadaan ini membuatku gila. Aku nyaris kehilangan kewarasanku. Aku tak bisa bertahan dengan laki-laki yang menyimpan perasaan untuk wanita lain. Aku ingin cinta yang utuh, tidak terbagi-bagi seperti ini."
Mas Darwin tercengang mendengar ucapan Alya. Ia benar-benar tak menyangka Alya meminta untuk berpisah dengannya.
"Kamu tahu ... setiap kamu menghabiskan waktumu bersama wanita itu, hatiku sangat sakit? Setiap menyadari suamiku memiliki wanita lain, aku selalu terluka dan menangis. Namun, aku selalu membalutnya dengan senyum di hadapanmu. Semua ini menyiksaku dan sekarang aku tahu cintamu sudah semakin lenyap, Sayang. Pupus."
"Hubungan kita tidak memiliki harapan," suara Alya terdengar begitu putus asa.
"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Mas Darwin.
"Aku dan Rania hanya akan saling tersakiti jika terus seperti ini. Kamu harus memilih salah satu."
"Dan, kenyataannya... kamu tidak bisa meninggalkan Rania dan anaknya. Kamu menginginkan mereka. Maka, lepaskan aku!"
"Aku tak mau dimadu."
Setelah mengatakan itu Alya bergegas berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir sungai. Ia masuk ke mobilnya dan meninggalkan Mas Darwin yang masih shyok dengan perkataan dan permintaannya.
Alya mengendarai mobilnya dengan cukup kencang. Hingga akhirnya ia merasa pandangan matanya menjadi sangat kabur karena genangan air mata di pelupuk matanya. Ia segera merapatkan mobilnya ke pinggir jalan dan menghentikannya di sana.
Ucapan demi ucapan ibunya terngiang satu per satu di telinganya. 'Cepat atau lambat Darwin akan kembali pada ibunya dan kapan saja bisa meninggalkanmu, Nak.'
'Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Ibu,' ucap Alya saat itu. 'Aku tak akan membiarkan Mas Darwin pergi meninggalkanku. Pelakor itu yang harus pergi jauh dari kehidupan kami.'
'Hubungan darah sampai kapanpun tak dapat diputus, Nak,' ucap ibunya. 'Jika kamu mempertahankan Darwin, kamu memisahkan dua hubungan darah. Hubungan Darwin dan ibunya. Yang kedua adalah hubungan Darwin dengan anaknya. Hubungan darah mereka takkan pernah bisa dihapus. Sampai kapanpun kamu tidak akan bahagia, Alya. Anak itu butuh ayahnya. Darwin tidak akan menelantarkannya begitu saja. Cepat atau lambat kamu akan kehilangan cinta Darwin.'
__ADS_1
'Tapi, aku mencintainya, Bu,' ucap Alya.
'Cinta itu harusnya membahagiakan, bukan menyiksa,' ucap ibunya dan Alya segera berkata, 'Aku bahagia, Bu. Aku bahagia bersama Mas Darwin.'
'Kebahagiaanmu itu fatamorgana, Alya. Sadarlah! Kamu tidak benar-benar bahagia. Setiap hari kamu dihantui kecemasan akan kehilangan Darwin.'
'Kamu sudah terlalu banyak menangis, Nak,' ucap ibunya. 'Darwin sudah berubah, dia sudah mengkhianatimu. Mengapa kamu masih ingin mempertahankannya dan terus terluka berulang kali?'
'Lepaskan dia! Lepaskan! Kamu layak mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.'
Air mata Alya terus berjatuhan. Ia menelungkupkan wajahnya di atas setir mobil. Ia menangis sesegukan dan tersedu seperti seorang anak kecil.
'Aku berjanji akan selalu setia kepadamu selamanya.' Ia teringat dengan ucapan Mas Darwin saat mereka baru menikah dulu.
'Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Aku akan mencintaimu hingga akhir hidupku.'
'Hanya maut yang akan memisahkan kita.'
Ucapan demi ucapan Mas Darwin silih berganti muncul di kepalanya dan itu membuat kesedihannya semakin menjadi-jadi. Alya sangat tak kuat menahan emosinya dan semuanya meluap dengan tangisan.
Sementara itu, Mas Darwin pulang ke penginapan dengan langkah gontai. Ia seperti remaja yang benar-benar sedang frustasi. Ia mengusap wajahnya dengan ekspresi sangat tertekan.
Ia teringat pada ucapan Alya. 'Jika kamu mencintaiku, lepaskan aku!'
Ia juga teringat pada ucapanku. 'Semakin lama kamu menahanku maka kamu hanya akan semakin menyakitiku.... Lepaskan aku!'
'Aku sudah tidak tahan menjadi istrimu. Aku ingin bercerai denganmu secepatnya.'
Mas Darwin menarik nafasnya dalam dan memejamkan matanya sejenak. Lalu, ia mengambil ponselnya.
"Ayah," ucapnya kemudian.
"Ada apa Darwin?" tanya ayahnya dari seberang saluran.
"Aku ada di tengah pilihan yang sulit, Ayah."
"Hmmh...." Ayah hanya menggumam.
"Alya dan Rania sama-sama meminta untuk berpisah denganku."
__ADS_1
"Jika begitu, sudah saatnya kamu memikirkan kebahagiaan mereka berdua," ucap ayah. "Sekarang ... bukanlah saatmu untuk hanya memikirkan kebahagiaanmu saja. Kamu tidak boleh egois. Pikirkan kebahagiaan mereka berdua! Lalu, lepaskan salah satu di antara mereka!"
"Tuhan tidak memberikan yang kita inginkan, Darwin. Tuhan memberikan yang kita butuhkan. Lepaskan yang kamu inginkan! Ikhlaskan! Maka, kamu akan mendapatkan yang kamu butuhkan."