
Aku masih tercengang dan Mas Darwin sudah tiba dari kamar mandi. Ia menggosok-gosok rambutnya yang masih basah dengan handuk dan melihat ponselnya ada di lantai. Aku bergegas memungutnya dan menyerahkan ponsel itu pada Mas Darwin.
Sebelum Mas Darwin sempat bertanya apa yang terjadi, aku langsung mengatakan, "Mas, tadi Alya telepon. Maaf aku mengangkatnya. Mas Darwin tadi lagi di kamar mandi."
Setelah itu aku bergegas keluar dari kamar. Mas Darwin merasa aneh dengan caraku yang terlihat tidak natural. Ia memegang ponsel itu dan melihat panggilannya sudah terputus. Lalu, ponsel itu kembali berdering.
"Sayang, mengapa teleponnya terputus begitu saja?" Sapa Alya dari seberang saluran.
"Hmmh...." Mas Darwin sedikit bingung karena bukan ia yang menjawab telepon tadi.
"Sayang, pulanglah!" ucap Alya dengan lembut. "Aku minta maaf padamu. Aku sudah membatalkan kontrak kerjaku dengan Dokter Aldi. Sejak kamu pergi aku sudah langsung membatalkannya. Bagiku kamu yang paling penting, Sayang."
"Pulanglah! Jangan marah lagi padaku!" Alya memohon.
Mas Darwin masih terdiam.
"Pulanglah, Sayang! Aku butuh kamu. Besok pagi aku mau kontrol kandungan, aku ingin pastikan bayi kita sehat." Ucapan Alya membuat Mas Darwin tersentak.
"Bayi kita?" gumam Mas Darwin.
"Iya, Sayang. Program bayi tabung kita berhasil. Kamu tahu betapa senangnya aku mengetahuinya. Aku ingin mengabarimu segera, tapi ponselmu tak pernah aktif."
"Aku tahu mungkin aku salah di matamu, tapi tolong jangan menghukum aku seperti ini, Sayang! Aku benar-benar tidak selingkuh dan tidak memiliki perasaan apapun pada Dokter Aldi. Aku berjanji akan memutuskan semua komunikasi dengan dia jika kamu tidak suka."
"Aku hanya mencintai kamu, Sayang." Alya bersungguh-sungguh. "Jangan menyiksaku seperti ini! Pulanglah! Aku sangat membutuhkanmu saat ini."
Sementara itu, di luar kamar aku menatap semangkuk sop di hadapanku. 'Mengapa aku harus begitu kecewa saat mendengar Alya hamil?' batinku.
__ADS_1
Tak seharusnya aku berharap lebih. Bukankah kami akan bercerai. 'Tapi, mengapa aku merasakan kekecewaan yang begitu besar seperti ini?' Tak terasa air mataku menetes.
Aku berusaha menguatkan hatiku sebisaku. 'Mas Darwin bukan milikku, ia milik Alya.' Aku hanya selingan, tidak lebih. 'Kamu harus selalu ingat itu, Rania. Jangan pernah berharap lebih!' Aku semakin meneteskan air mataku. 'Semuanya akan segera berakhir begitu anak ini lahir.'
Semakin menyadari hal itu aku malah semakin. tersedu. Harusnya aku senang karena ternyata pada akhirnya Mas Darwin memiliki anak dari istri yang dicintainya. Sehingga, keinginannya untuk memiliki anak dalam kandunganku ini setidaknya akan sedikit berkurang. Ia akan memiliki anak dari wanita yang dicintainya.
Namun, kenyataan itu entah mengapa semakin membuat aku menangis. Aku menghapus air mataku, memasukkan sendok dalam sop itu dan menyantapnya dengan hati yang begitu pilu. Aku memaksa tenggorokanku untuk menelan sop itu, meskipun rasanya aku hampir tak bisa memakannya karena perasaanku yang hancur.
Aku menyantapnya sambil bercucuran air mata. Di saat yang sama ternyata ibu menatapku dari kejauhan tanpa aku sadari.
Sore harinya Mas Darwin berkata padaku, "Rania, aku akan pulang ke Indralaya sore ini. Jaga anak kita baik-baik!"
Aku hanya mengangguk pelan. Lalu, Mas Darwin menemui ibu yang berada di dalam kamarnya.
"Bu, aku mau pulang dulu ke Indralaya." Mas Darwin berpamitan sambil mencium tangan ibu.
"Mengapa harus hari ini kamu pulang? Besok kan masih libur. Senin baru masuk kerja," ucap ibu.
Ibu tak bisa mencegah kepulangan Mas Darwin. Dia hanya bisa berpesan, "Kamu sudah dewasa. Selesaikan masalah kamu dengan bijaksana!" Mas Darwin mengangguk dan akhirnya pergi meninggalkan rumah.
Seketika rumah jadi sepi. Aku termenung di dalam kamar dan tanpa kusadari meneteskan air mata. "Ibu pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini." Ucapan ibu membuatku menoleh ke arah ambang pintu.
Ibu berdiri di sana. Dia berkata, "Ayah Darwin meninggalkanku untuk menemui wanita lain."
"Deg!" Jantungku berdegup. Apa maksud ucapan ibu? 'Apa dia sudah tahu ada wanita lain dalam pernikahan kami?'
"Sekitar setahun lalu ibu mendengar kabar Darwin sering bersama Alya. Orang mengira mereka suami istri." Aku tercengang mendengar ucapan ibu. Dari arah pembicaraannya sepertinya dia sudah tahu permasalahanku.
__ADS_1
"Ibu tak mau Darwin terus menemui Alya dan menjalin hubungan terlarang dengannya. Ibu tak mau Darwin berzina. Karena itu, ibu memaksa Darwin secepatnya menikah agar dia melupakan Alya dan berumah tangga dengan halal."
"Sebelum menikah... ibu sudah meminta Darwin untuk memutuskan segala hubungan dengan Alya. Ibu tak mengira ia akan tetap berhubungan dengannya meskipun sudah menikah denganmu."
Aku hanya diam mendengar ucapan ibu. Ia sudah berdiri di hadapanku, memandangku yang sejak tadi hanya tertunduk. Ia kemudian menyentuh pundakku lalu berkata, "Rania... Kamu istri sah Darwin. Kamu mengandung anaknya. Jangan beri kesempatan madumu menyingkirkanmu!"
Aku tercengang dan langsung menoleh pada ibu begitu mendengar kata 'madu'. "Ibu sudah tahu ... Mas Darwin ... menikahi Alya?" tanyaku dengan gugup.
Ibu mengangguk dan aku cukup terkejut karena ternyata ibu sudah tahu Mas Darwin telah menikah dengan Alya. "Sejak kapan ibu tahu?" tanyaku lagi.
"Ibu dengar saat di kamar Darwin berkata harus bersikap adil pada kalian berdua," ucap ibu. "Dari pembicaraan kalian ibu sudah mengerti bahwa Darwin pasti memiliki lebih dari satu istri dan ibu sangat yakin itu pasti Alya. Wanita mana lagi yang bisa membuatnya selingkuh selain Alya."
"Jangan biarkan pelakor itu merampas suamimu!" tekan ibu. "Pertahankan apa yang menjadi milikmu!"
"Tapi, Bu...." Ucapanku terhenti. Aku memperhatikan wajah ibu yang tampak emosi. "Akulah pelakor itu...." ucapku kemudian.
Ibu mengernyitkan dahinya, tak mengerti. Aku berkata, "Akulah orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Jauh sebelum menikahiku, Mas Darwin telah lebih dulu menikahi Alya."
Bibir ibu bergetar. "Ja-di... berita itu... benar," gumam ibu tak mau percaya.
"Hehhh... Hehhhh...." Nafasnya tersengal.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanyaku saat melihat ibu langsung terduduk.
Pandangan ibu kosong. Lalu, perlahan dia berkata, "Aku mendengar... gosip mengatakan Darwin sudah menikah. Tapi, bertahun-tahun aku berusaha menutup telingaku. Aku tak ingin mempercayainya. Aku selalu berusaha untuk berpikir tidak mungkin anakku seperti itu... tidak mungkin. Aku tidak ingin sedikitpun mempedulikan gosip itu. Aku sangat tidak ingin itu terjadi."
"Tapi, itulah kenyataannya, Bu," ucapku. "Mas Darwin sudah menikah. Aku adalah istri kedua."
__ADS_1
"Aku istri kedua," ulangku. "Aku tertipu dan terjebak dalam pernikahan ini." Aku berlinang air mata dan tak terima dengan kenyataan yang aku dapatkan. Aku menatap ibu.
Ibu membungkam. Entah apa yang dipikirkannya. Ia hanya diam lalu pergi dari kamarku dengan gontai. Sedangkan, aku ... aku meringkuk menundukkan kepalaku dengan deraian air mata yang tak dapat kutahan.