
"Maaf Ibu cari siapa?" Seorang asisten rumah tangga (ART) membukakan pintu dan bertanya.
"Darwin ada?" tanya ibu.
"Oh, maaf, Ibu. Pak Darwin sedang pergi bersama Ibu Alya," jawabnya. "Tapi, Ibu Farida ada."
"Farida?" ucap ibu dengan nada agak terkejut. "Jadi, Farida tinggal di sini bersama mereka," ucap ibu.
"Iya, Ibu. Ibu mau bertemu Ibu Farida?" ART itu menunggu jawaban ibu.
Ibu mengangguk dan ART itu berkata, "Sebentar ya Ibu, saya panggilkan dulu. Silakan masuk, menunggu di dalam!"
Ibu dan Yuk Selvi pun masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi. Ibu memandangi sekeliling ruang tamu yang ditata begitu apik. 'Jadi, Farida tahu anaknya menikah dengan Darwin. Dia sengaja menyembunyikan ini,' pikir ibu.
"Apa Darwin dan Alya sudah memiliki anak?" bisik ibu pada Yuk Selvi.
"Setahuku belum punya, Bu." Ibu menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Yuk Selvi.
Lalu, seorang wanita tua dengan kursi roda tiba di ruang tamu. Ia memicingkan matanya berusaha mengingat sosok wanita tua yang ada di hadapannya saat ini.
"Marina," ucapnya. "Kamu Marina kan? Ibunya Darwin?"
Ibu Darwin tersenyum sinis. "Tentu saja kamu ingat kepadaku. Bagaimana bisa keluarga pembunuh melupakan dosanya begitu saja?" Ibu Darwin menyinggung konflik masa lalu yang terjadi di antara mereka.
Ibu Farida seketika merasa tersudut. Ia lalu bertanya, "Untuk apa kamu datang ke sini?"
"Hehhh! Jangan pura-pura tidak tahu!" ucap ibu. "Kamu sengaja menyembunyikan pernikahan Darwin dan Alya selama bertahun-tahun. Hari ini aku ke sini ... untuk memisahkan mereka berdua."
Ibu Farida tampak sedikit shyok lalu berkata, "Marina, mengapa kamu tidak bisa merestui hubungan mereka? Mereka berdua sudah sangat saling mencintai sejak lama."
"Bagaimana bisa aku menerima keluarga pembunuh sebagai keluargaku? Bagaimana bisa aku menerima anak pembunuh adikku sebagai menantuku?" ucap ibu dengan kemarahan.
"Itu cerita lama, Marina. Itu hanya masa lalu. Alya tidak bersalah," ucap ibu Farida.
"Hanya masa lalu?" Ibu mengulangi ucapan ibu Farida dengan nada marah. "Lihatlah bagaimana kamu berkata seolah menganggap masalah itu begitu sepele!"
"Suamimu menghabisi nyawa adikku. Aku masih ingat betul banyak darah bersimbah di tubuhnya. Dari lehernya mengalir banyak darah. Dia mencabik-cabik tubuh adikku berkali-kali dengan parang."
__ADS_1
Ibu Farida menangis mendengar semua ucapan ibu. Sedangkan, ibu melanjutkan ucapannya, "Bagi kalian itu hanya masa lalu. Bagi keluarga yang ditinggalkan adikku masa depan mereka selamanya hancur. Anak-anaknya menjadi yatim. istrinya menjadi janda." Ibu benar-benar marah hingga berdiri dari posisi duduknya.
Ibu mendekati Ibu Farida yang hanya bisa duduk di kursi rodanya. Yuk Selvi berusaha menahan ibu. Lalu, ibu berkata dengan lantang, "Aku bersumpah akan membuat anakmu menjadi janda."
Ibu Farida menatap ibu dan berkata, "Cukup, Marina! Cukup!"
"Aku akan memisahkan Darwin dan Alya," tegas ibu.
"Cukup, Marina! Kasihanilah, Alya! Dia sedang mengandung cucumu, darah dagingmu," ucap ibu Farida.
Ibu terdiam sejenak mendengar hal itu. Lalu, dia berkata, "Kamu pikir aku mau mengakui anak itu sebagai cucuku?"
Ibu Farida menatap ibu dengan nanar. Matanya sudah dipenuhi air mata sejak tadi.
"Aku tidak sudi," tegas ibu dengan suara keras. "Di dalam tubuhnya mengalir darah pembunuh, keturunan pembunuh. Aku tidak sudi menerimanya sebagai cucuku."
"Ibu!" Tiba-tiba suara Mas Darwin mengagetkan ibu, Yuk Selvi, dan ibu Farida.
Mas Darwin baru saja tiba dan sudah berdiri di ambang pintu. Alya berdiri di sebelahnya dan air matanya berderai karena mendengar perkataan ibu.
"Apa yang Ibu katakan?" ucap Mas Darwin. "Mengapa Ibu berkata seperti itu?"
"Itu tidak mungkin, Bu. Aku tidak bisa. Apalagi, Alya sedang mengandung anakku, Bu."
"Ibu tidak sudi menerima cucu berdarah pembunuh," tandas ibu.
"Bu, Alya tidak salah, Bu," ucap Darwin. "Anak yang ada di kandungannya juga tidak salah. Mengapa Ibu tidak bisa menerima Alya dan anakku?"
"Cukup, Darwin! Kamu tak boleh lagi berhubungan dengan Alya. Ceraikan dia!" ucap ibu.
"Aku tidak bisa, Bu. Aku tidak bisa," ucap Mas Darwin. "Alya istriku. Kami sudah lama menikah."
"Kamu sudah punya istri yang baru, Darwin. Ceraikan Alya!"
"Tidak bisa, Bu. Aku tidak bisa," ucap Mas Darwin. "Tolonglah Ibu pahami aku! Jangan memaksaku seperti ini!"
"Kamu yang tidak memahami sakit hati ibu," ucap ibu dengan keras. "Selamanya ibu tidak akan pernah menerima pernikahan kalian. Kamu harus menceraikannya."
__ADS_1
Mas Darwin menggeleng-gelengkan kepalanya dan tetap berkata, "Aku tidak bisa, Ibu."
"Darwin!" pekik ibu. "Kamu harus ceraikan dia, ceraikan dia, Nak!"
Lalu, tiba-tiba ibu memegang dada kirinya. "Ibu," ucap Yuk Selvi. Ia segera memegang tubuh ibu. "Bu," ucapnya panik. Ibu tiba-tiba terengah-engah.
Mas Darwin segera menggendong tubuh ibu dan membawanya ke mobil. Yuk Selvi segera menemani ibu di dalam mobil. "Cepat ke rumah sakit terdekat, Darwin!" pinta Yuk Selvi dan Mas Darwin pun segera melajukan mobilnya dengan cepat.
Alya dan Ibu Farida hanya dapat tercengang, tak tahu harus berbuat apa. Wajah mereka masih basah karena tetesan air mata yang terlalu deras. Alya masih terus menangis dan sesekali sesegukan karena perasaannya terlalu sakit mendengar ucapan ibu.
Ia menangis di pangkuan Ibu Farida yang hanya bisa duduk di kursi roda membelai rambut anaknya sambil berkata, "Sudah, Alya! Jangan menangis lagi! Kamu tidak salah, Nak. Keadaanlah yang tidak tepat."
Beberapa jam kemudian ponselku berbunyi. "Mas Darwin," gumamku.
"Rania, tolong siapkan baju ibu! Masukkan di dalam tas! Bawakan handuk dan selimut juga!"
"Untuk apa, Mas?" tanyaku tak mengerti.
"Ibu masuk rumah sakit dan harus rawat inap.
"Hahh?" Aku terkejut.
"Sekitar dua jam lagi aku akan ke sana mengambil tas itu dan keperluan lainnya," ucap Mas Darwin.
"Siapa yang jaga ibu di sana, Mas?" Aku mengkhawatirkan ibu.
"Ada Yuk Selvi," jawab Mas Darwin dan aku tenang mendengarnya. Aku pun tak bertanya lagi alasan mengapa ibu masuk rumah sakit. Aku mengira sepertinya penyebab ibu sakit pasti ada hubungannya dengan kedatangannya ke rumah Mas Darwin dan Alya.
Setelah menutup telepon aku pun bergegas mengemas baju-baju ibu. Aku memberanikan diri masuk ke kamar ibu dan membuka lemarinya.
Aku mengambil beberapa lembar pakaian ibu dan tiba-tiba ada yang terjatuh di lantai. Beberapa lembar foto yang sudah tampak usang. Aku memungutnya dan melihat setiap lembar foto.
Foto pertama adalah foto pernikahan. Dalam foto itu ibu masih sangat muda sekali dan sangat cantik. Di sebelahnya ada ayah Mas Darwin. Mereka tersenyum bahagia.
Pada foto lainnya kulihat ada foto Mas Darwin masih balita dipangku ayahnya. Ada juga foto mereka sekeluarga tampak kompak dan bahagia. Mas Darwin, Yuk Selvi, dan Yuk Nia masih menjadi anak kecil dalam foto itu. Mereka tampak sangat harmonis.
Dalam setiap foto yang kupandang ada foto ayah Mas Darwin. 'Mengapa ibu menyimpan foto-foto ini?' pikirku.
__ADS_1
'Mungkinkah sebenarnya ibu merindukan keluarganya yang dulu? Keluarganya yang masih lengkap, utuh bersama suaminya.' Aku tak dapat menemukan jawabannya.