
Hari Minggu pun tiba. Mas Darwin dan Alya menggelar pengajian empat bulanan di rumahnya. Banyak orang datang, mendoakan keselamatan dan kesempurnaan untuk anak Alya. Sehingga, Alya tampak begitu bahagia.
Sementara itu, di rumah ibu kembali mengoceh. "Darwin tidak pulang lagi Minggu ini. Dia pasti bersama wanita itu. Sepertinya dia benar-benar tidak ingin menceraikannya." Ibu begitu kesal. Aku pun menjadi tumbal dari kekesalannya.
"Ini semua karena kamu, Rania. Minggu kemarin saja Darwin mendadak pulang ke Indralaya. Kalian pasti bertengkar kan?" ucap ibu.
"Mengapa kamu tak bisa sedikit saja membahagiakan hati suamimu? Suami pulang harusnya kamu sambut dengan senyuman, bukan dengan kemarahan. Kamu tidak becus jadi istri. Makanya, Darwin kembali ke pelukan wanita itu."
"Nanti kamu menyesal sendiri jika sudah menjadi janda." Ibu terus mengoceh dan aku memilih untuk tidak menghiraukannya. Aku masuk ke dalam kamarku, menguncinya, dan menarik nafas dalam-dalam. Aku berusaha untuk tidak tertekan dengan ucapan-ucapan ibu.
Beberapa hari kemudian di kantor Mas Darwin termenung sambil memperhatikan dompetku yang dipegangnya. Ia teringat pada ucapanku, '... Lagipula aku harus mengumpulkan uang untuk mengurus gugatan cerai kita.'
Ia tampak tak bahagia. 'Rania ... haruskah aku melepasmu?' Sangat berat bagi Mas Darwin untuk memikirkan hal itu. Apalagi, anaknya sedang tumbuh di dalam tubuhku.
Ia galau, benar-benar tak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Seandainya bisa dia sangat ingin mempertahankan pernikahan kami. Namun, ia tak bisa melakukannya karena ia tak mungkin melepaskan Alya.
'Sayang, hari Jumat bisakah temani aku periksa kandungan?' Sebuah pesan dari Alya masuk di ponsel Mas Darwin.
'Iya, bisa,' balas Mas Darwin.
Lalu, hari Jumat itu pun tiba. Mas Darwin sengaja pulang lebih awal untuk menemani Alya periksa kandungan. Mas Darwin langsung menjemput Alya di kantornya.
"Sayang, aku sudah tak sabar lagi ingin tahu jenis kelamin anak kita," ucap Alya ketika dalam perjalanan.
"Hamil empat bulan jenis kelaminnya sudah bisa terlihat ya?" tanya Mas Darwin.
"Hmmm... aku juga kurang tahu, Sayang. Bisa terlihat atau tidak ya?" gumam Alya. "Tapi, aku baca harusnya jika sudah masuk empat bulan, si ibu bisa merasakan gerakan si bayi. Aku sudah tidak sabar merasakan tendangan-tendangan kecil anak kita, Sayang."
__ADS_1
"Loh, kan sudah empat bulan. Memangnya belum terasa gerakannya?" tanya Mas Darwin.
"Belum," jawab Alya dengan manja. "Adik bayinya malas gerak mungkin ya. Atau, dia pemalu."
Mas Darwin menggeleng-gelengkan kepala mendengar celotehan Alya dan tak terasa mereka telah sampai di tempat praktek dokter kandungan.
Setelah sabar mengantri akhirnya nama Alya dipanggil dan mereka berdua masuk ke ruangan periksa. Dokter kemudian melakukan USG di perut Alya dan seketika senyuman di wajahnya memudar.
****
'... Bu Alya harus segera melakukan operasi kuret. Lebih cepat, lebih baik. Atau, bisa kita jadwalkan besok pagi jika Ibu Alya siap.' Ucapan dokter terngiang-ngiang di telinga Mas Darwin.
'... Usia janinnya seharusnya sudah memasuki tujuh belas minggu. Namun, janin Ibu Alya hanya berkembang hingga usia lima belas minggu. Detak jantungnya sudah tidak ada lagi. Janinnya tidak berkembang...."
Air mata sudah membanjiri wajah Alya sejak tadi. Mas Darwin pun menyetir mobil dengan pikiran cukup kacau. Dan, akhirnya mereka pun sampai di rumah.
Namun, Alya tak menghiraukannya. Ia membuka pintu kamar yang telah dipersiapkan untuk bayinya. Nuansa biru muda menyambutnya begitu pintu terbuka.
Alya perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar itu. Ia memperhatikan sekelilingnya lalu memeluk bantal bayi yang ada di dalam box bayi. "Anakku," gumamnya. "Anakku...." Air matanya terus berjatuhan.
Lalu, ia mendekati lemari pakaian yang sudah disiapkan untuk anaknya. Di atas lemari itu terdapat boneka dan bingkai foto yang masih kosong. Tiba-tiba Alya mengambil bingkai itu dan membantingnya dengan keras. Ia membuang setiap benda di hadapannya. Ia melemparkan baby car seat di dekatnya dengan keras dan mendorong stroller hingga terjatuh.
Mas Darwin segera memeluk Alya dari belakang. "Tenanglah, Sayang! Tenang!" bisik Mas Darwin.
Alya terus menangis, belum bisa menerima kenyataan yang baru diketahuinya. "Aku tidak bisa, Sayang. Aku tidak bisa," ucapnya. "Dia anakku."
Mas Darwin lalu semakin mendekap Alya dengan erat. "Dia anakku juga, Sayang," bisik Mas Darwin. "Aku sama terlukanya dengan kamu."
__ADS_1
"Kamu harus sabar, harus tabah," ucap Mas Darwin. "Kamu harus kuat."
Namun, Alya tetap saja menangis. Ia begitu mengharapkan anak itu. "Bertahun-tahun aku ingin memiliki anak. Dan, saat ... sudah memilikinya... aku harus kehilangan anak ini," ucap Alya di antara sesegukan tangisnya.
Mas Darwin tak dapat berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk Alya dengan erat, berusaha menenangkan perasaan Alya dan agar dia tidak melakukan tindakan bodoh yang berbahaya.
Esoknya wajah sembab Alya masih nampak jelas saat memasuki ruangan operasi. Ia akan menjalani operasi kuret pagi ini. Mas Darwin berusaha menguatkan Alya agar tegar dan ikhlas menerima kenyataan. Meskipun berat Alya akhirnya merelakan anaknya.
Setelah operasi selesai Mas Darwin mengirimkan pesan padaku. 'Rania, aku belum bisa pulang hari ini. Ada urusan yang harus aku selesaikan.'
Aku membaca pesan itu dan berpikir masa bodoh Mas Darwin ingin pulang atau tidak. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa dan setiap hari tetap mendengarkan ocehan ibu.
Hari ini ibu mengoceh, "Awas saja jika Darwin tidak pulang lagi hari ini. Sekarang sudah lewat satu bulan dari waktu yang diberikan padanya untuk menceraikan Alya. Harusnya dia sudah menceraikannya."
"Hufftthhh...." Aku menarik nafas dalam. 'Mana mungkin Mas Darwin menceraikan Alya,' pikirku. Hari ini saja dia tidak pulang lagi. 'Sudah begitu jelas Mas Darwin lebih memilih Alya,' batinku.
Mas Darwin bahkan mungkin tidak peduli kini kehamilanku sudah berusia dua puluh delapan minggu atau dengan kata lain tujuh bulan. Itu artinya waktu kelahiran anak di dalam perutku ini sudah mendekat.
Aku harus segera memasukkan surat gugatan cerai ke pengadilan sebelum anak ini lahir. Waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku harus bergerak cepat, namun KTPku masih tertahan pada Mas Darwin
Sementara itu, Mas Darwin menemani Alya di sebuah kamar rumah sakit ibu dan anak. Air matanya menetes ketika melihat janin anaknya yang harus diangkat. Namun, ia menyembunyikan air matanya dari Alya. Ia harus tegar agar bisa memberikan semangat pada Alya yang masih saja terus meneteskan air mata.
"Sudah, Sayang! Jangan menangis lagi!" ucap Mas Darwin ketika menghapus lelehan air mata di pipi Alya.
"Aku kehilangan anakku, Sayang," ucap Alya lirih. "Dan... sebentar lagi aku akan kehilangan kamu."
"Mengapa kamu berkata begitu?" ucap Mas Darwin. "Aku ada di sini. Aku tidak akan meninggalkan kamu."
__ADS_1
"Aku janji."