Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Kadar Cinta


__ADS_3

Esoknya Mas Darwin mencoba menghubungi Alya. Namun, nomornya tak bisa dihubungi. Mas Darwin mencoba lagi, tapi tetap tak bisa.


'Sepertinya Alya marah padaku,' pikir Mas Darwin lalu menyimpan ponselnya.


Hari ini Mas Darwin masih sibuk menemaniku di rumah sakit. Ia benar-benar berusaha menjadi suami yang baik. Tapi, bagiku untuk apa? Percuma dia bersikap seperti itu. Kami akan tetap bercerai.


Aku tak tahan diduakan, apalagi cinta Mas Darwin pada Alya begitu dalam. Alya pun adalah tipe wanita sempurna ideal, idaman setiap lelaki. Sulit bagiku untuk menyainginya karena kami sama sekali tak sebanding. Lebih baik aku mundur dan segera bercerai dengan Mas Darwin agar tak lebih sakit hati.


Setelah keluar dari rumah sakit nanti, aku akan segera mengurus surat perceraian begitu kondisiku membaik. Aku tak ingin berlama-lama agar hati Mas Darwin tak semakin terikat dengan anaknya. Aku ingin membawa anakku pergi jauh darinya, memulai hidup baru dan melupakannya.


Sore harinya pihak rumah sakit sudah memperbolehkan aku pulang ke rumah. Namun, bayiku belum diperbolehkan pulang karena masih harus mendapatkan perawatan. Sehingga, Mas Darwin memutuskan untuk mengantarku pulang ke rumah terlebih dulu. Ia akan kembali lagi ke rumah sakit dan menyewa kamar penginapan di sekitarnya untuk beberapa hari agar tak terlalu jauh bolak-balik. Lagipula, ia tahu ibu masih marah dan tak akan membiarkannya menginap di rumah.


Dalam perjalanan pulang sebenarnya aku sangat khawatir pada bayiku. Sebenarnya aku tak mau pulang, sangat ingin menemaninya. Namun, dokter menyarankanku untuk pulang agar bisa beristirahat dengan lebih optimal.


Aku takut Mas Darwin akan membawa lari anakku. Sehingga, aku berkata pada Mas Darwin, "Mas, berjanjilah kamu tidak akan membawa pergi bayiku!"


Mas Darwin tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku ini bukan penculik, Rania. Aku ini ayahnya. Aku tidak akan membahayakan keselamatan anak kita. Dia butuh perawatan di rumah sakit. Setelah kondisinya sehat siap pulang, aku akan mengajakmu ke rumah sakit untuk menjemputnya."


Ucapan Mas Darwin membuatku sedikit lega, namun aku tetap tak bisa percaya begitu saja pada Mas Darwin. Dia menginginkan anaknya, begitu juga dengan aku. Andai Mas Darwin benar-benar suami milikku seutuhnya, bukan suami dari wanita lain. Mungkin aku akan sangat senang saat ini melihat sikapnya yang selalu siaga sebagai ayah. Namun, yang aku rasa saat ini justru adalah perasaan was-was. Kecemasanku semakin menjadi-jadi melihat sikapnya yang begitu sigap dan bersemangat untuk merawat bayiku.


Akhirnya kami sampai di rumah. Mas Darwin ingin membantuku turun dari mobil, namun aku menepis tangannya dan berkata, "Aku bisa jalan sendiri."


Mas Darwin lalu menurunkan tas dan barang-barang bawaanku. Aku ingin membawa tas itu, namun Mas Darwin segera merebutnya dariku. "Kamu itu baru saja melahirkan, tidak boleh mengangkat benda yang berat," ucapnya.

__ADS_1


Ia lalu membawakan tasku dan dalam sekejap terlintas bayangan kejadian dahulu saat di bandara dalam pikiranku. Saat itu Mas Darwin juga membawakan tas untukku dan aku merasa sangat senang kala itu. Seketika perasaan haru menyelimutiku begitu cepat. Aku terkenang momen yang saat itu bagiku sangat indah.


"Rania," panggil Mas Darwin. Pikiranku langsung tersadar. Aku sedang berdiri beberapa langkah di belakang Mas Darwin yang menghadapkan setengah badannya padaku.


"Kamu menangis?"


"Eehh?" Aku segera menyeka air di sudut mataku yang entah sejak kapan muncul.


Lalu, tiba-tiba pintu rumah dibuka dari dalam. Sosok ibu sudah berdiri di sana, menatap kami. "Rania, masuk!" ucap ibu.


Aku segera berjalan masuk. Mas Darwin ingin mengantarkan tasku masuk ke dalam rumah. Namun, ibu mencegatnya di ambang pintu. "Sebelum kamu menceraikan Alya, jangan harap kamu bisa menginjakkan kakimu di rumah ini," tegas ibu.


Mas Darwin pun tak ingin berdebat dengan ibu. Dia meletakkan tas yang dijinjingnya di lantai teras. Lalu, ia berkata, "Darwin pergi dulu, Bu."


Esoknya Alya bersiap-siap untuk pergi. Sudah beberapa hari ini dia lebih banyak mengurung diri di kamar. Namun, siang ini ia memutuskan untuk menegarkan dirinya dan berkemas berangkat.


"Kamu mau kemana?" tanya ibunya ketika menyadari pakaian yang dikenakan Alya bukanlah pakaian kantor.


Alya diam sejenak dan menatap ibunya. "Aku ingin memperbaiki ponsel, Bu," ucap Alya kemudian.


"Oohh...." gumam ibunya.


"Aku pergi dulu, Bu." Alya berpamitan dengan ibunya. Wajahnya tampak tak ceria.

__ADS_1


Ibunya mengangguk lalu membiarkan Alya melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ibunya segera memanggil Alya kembali. "Alya...."


Alya menghentikan langkah dan menoleh. "Jangan berlama-lama! Segera pulang!" pesan ibunya.


Alya hanya mengangguk, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu, melanjutkan langkahnya kembali dan ibu hanya menatap punggungnya dari belakang dengan perasaan khawatir.


Ia khawatir anaknya itu akan berbuat macam-macam, hal yang tak diinginkan. Karena, beberapa hari ini Alya tampak begitu depresi dan putus asa. 'Semoga Alya baik-baik saja,' pikirnya.


Lalu, setelah selesai memperbaiki ponsel. Alya naik ke mobilnya, membuka satu per satu pesan yang masuk di ponsel. Ia berharap setidaknya ada pesan dari Mas Darwin, namun nihil. Tidak ada satu pun pesan dari Mas Darwin. Itu membuat Alya benar-benar kecewa.


'Ia sudah benar-benar tak peduli padaku. Ia melupakanku begitu saja,' pikir Alya. 'Begitu sibukkah dia?' Hingga tak sempat mengetikkan satu pun pesan untukku.


Alya kembali menatap ponselnya dan memandang foto profil Mas Darwin yang masih bergambarkan wajah bayi. Tak terasa air mata Alya kembali menetes. Ia tak bisa mencegah kesedihan dan sakit hati melanda perasaannya.


Ia teringat pada kelanjutan pembicaraannya dengan ibunya. 'Tidak, Ibu. Mas Darwin milikku, ia mencintaiku. Kami saling mencintai sejak dulu.'


'Sekarang tidak lagi, Alya,' ucap ibu saat itu dan itu membuat Alya terbelalak.


'Kebersamaannya dengan Rania yang belum sampai satu tahun ini sudah berhasil membuat Darwin melupakan cintanya padamu, cinta kalian selama belasan tahun.' Alya terguncang mendengarkan perkataan ibu. 'Itulah kenyataannya, Nak. Kamu harus bisa terima kenyataan itu. Kamu tak bisa memungkirinya. Jangan lari dari kenyataan!'


Lagi-lagi air mata Alya berderai. Ia menyadari ucapan ibu memang benar. Dari hari ke hari perhatian Mas Darwin padanya semakin berkurang. Mungkin begitu juga dengan cintanya, mungkin cinta Mas Darwin padanya juga sudah semakin berkurang dari hari ke hari. Mas Darwin tak sehangat dulu.


Alya kemudian tersadar dari ingatannya. Ia mengusap air matanya yang berjatuhan. Lalu, ia memutar kunci mobilnya. Ia memegang setir mobilnya, memasukkan gigi, keluar dari parkiran, dan mulai melajukan mobilnya dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2