
Akhir pekan berikutnya Alya tak membiarkan Mas Darwin pulang menemuiku. Ia ingin suaminya itu hanya memperhatikannya. Ia sangat cemburu jika Mas Darwin memikirkanku. Ia merasa wanita yang berhak atas Mas Darwin adalah dirinya karena ia adalah istri pertama dan aku hanya dianggap sebagai pelakor.
"Sayang, nanti antarkan aku ke Palembang ya," pinta Alya di pagi hari dengan manja.
"Hari ini?" tanya Mas Darwin.
"Hmm-ehh." Alya menganggukkan dagunya.
"Tapi, kamu kan tahu aku hari ini mau pulang ke Kayuagung. Aku sudah janji mau kontrol kandungan Rania. Dari dua minggu lalu tidak pernah jadi. Ini sudah minggu ketiga," ucap Mas Darwin.
"Sayaaanggggg...." rengek Alya. "Sudah seminggu ini aku ingin sekali makan mie celor langganan kita di Palembang. Aku mengidam sudah seminggu, Sayang. Setiap hari kamu selalu kerja, aku tidak bisa mengajak kamu makan ke sana. Hanya hari libur ini aku bisa ajak kamu. Sekalian aku juga mau kontrol kehamilan di Palembang. Di sana USGnya 4 dimensi."
Mas Darwin diam sejenak. "Ayolah, Sayang!" pinta Alya dengan manja. "Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi. Aku sangat ingin makan mie celor langganan kita. Aku sangat ingin, Sayang."
Akhirnya Mas Darwin tidak jadi pulang ke Kayuagung hari ini. Ia memutuskan untuk menemani Alya ke Palembang untuk menghilangkan rasa mengidam Alya.
Sementara itu, Yuk Selvi berkunjung ke rumah di Kayuagung dengan membawa sekantong pakaian bayi. "Rania, ini popok dan pakaian anakku dulu sewaktu masih bayi. Masih bagus semua karena dulu dipakainya cuma sebentar. Bayi itu cepat besar, pakaian-pakaian ini cuma akan dipakai paling lama dua bulan. Kamu tidak perlu beli, pakai saja yang ini!" ucap Yuk Selvi.
Aku melihat di dalam kantong itu terdapat popok, gurita, kain bedong, sarung tangan-kaki bayi, dan lain-lain. "Terima kasih, Yuk," ucapku.
"Tapi, aku tidak tahu cocok atau tidak dengan bayimu. Itu pakaiannya banyak warna pink. Karena, anakku dulu perempuan. Bayi kamu perempuan atau laki-laki, Rania?" Pertanyaan Yuk Selvi membuatku bingung untuk menjawab.
"Aku belum tahu jenis kelaminnya, Yuk. Aku belum periksa lagi," ucapku.
"Loh, Sabtu kemarin belum periksa?"
"Minggu lalu Mas Darwin baru ke sini hari Minggu. Praktek dokternya tutup hari Minggu," jawabku.
"Tapi, Darwin pulang kan hari ini. Kamu bisa periksa," ucap Yuk Selvi.
Aku tersenyum lirih. "Tadi Mas Darwin kirim pesan belum bisa pulang dulu hari ini," ucapku. Lalu, tiba-tiba aku menyadari kehadiran ibu yang berjalan ke arah kami. Aku tak mau ibu banyak bertanya tentang mengapa Mas Darwin tidak pulang. Karena itu, aku segera berkata, "Aku bawa masuk ke kamar dulu ya Yuk baju-bajunya." Lalu, aku bergegas masuk ke kamar dengan membawa kantong pakaian itu.
__ADS_1
"Ibu dengar tadi Rania bilang Darwin tidak pulang lagi hari ini," ucap ibu kepada Yuk Selvi.
"Mungkin lagi ada pekerjaan, Bu," ucap Yuk Selvi untuk menenangkan ibu yang tampak tidak senang.
"Pekerjaan apa di hari libur?" ucap ibu dengan nada jengkel. "Pasti wanita itu yang membuat Darwin tidak pulang."
"Wanita?" tanya Yuk Selvi heran. "Maksud ibu siapa?"
"Ya, siapa lagi jika bukan Alya," ucap ibu dengan lugas membuat Yuk Selvi terkejut.
"Ibu tahu darimana? Mengapa Ibu berkata seperti itu?" Yuk Selvi tak mengerti mengapa ibunya tiba-tiba membicarakan Alya. 'Apa ibu sudah tahu hubungan Darwin dan Alya?' pikir Yuk Selvi.
"Darwin itu diam-diam sudah menikah dengan Alya," ucap ibu dan membuat Yuk Selvi semakin terkejut.
"Sejak kapan Ibu tahu?" Yuk Selvi spontan bertanya. "Mengapa Ibu bisa tahu?"
"Kamu kok pertanyaannya seperti itu?" ucap ibu. "Jangan-jangan selama ini kamu sudah tahu dan menutupinya dari ibu."
"Aku tahu dari Novi. Rumah mertuanya ternyata satu kampung dengan rumah Alya dan Mas Darwin di Indralaya," jelas Yuk Selvi.
"Berarti kamu tahu dimana rumah Darwin?" ucap ibu spontan.
"Aku tidak tahu pasti, Bu. Tapi, Novi tahu."
"Hubungi Novi, minta kirim alamat rumah Darwin di Indralaya sekarang juga!" perintah ibu. "Ibu mau siap-siap."
"Untuk apa, Bu?" tanya Yuk Selvi tak mengerti.
"Ibu mau datangi rumah mereka."
Yuk Selvi melotot mendengar ucapan ibu. "Ibu serius?" tanya Yuk Selvi tak percaya.
__ADS_1
"Iya, serius. Sekarang kita berangkat. Kamu bisa menyetir kan? Antarkan ibu ke sana!"
"Ya ampun, Ibu." Yuk Selvi memegang kepalanya karena mendadak pusing. "Untuk apa?"
"Nanti Ibu sakit lagi. Tidak perlu ke sana. Biarkan saja Darwin urus masalahnya sendiri." Yuk Selvi berusaha agar ibu tak pergi.
"Kamu tidak mau mengantar tidak apa-apa. Ibu bisa naik travel." Ibu bersikeras dan Yuk Selvi tahu betul sekeras apa pendirian ibu jika sudah memutuskan sesuatu. Ibunya benar-benar keras kepala dan bisa melakukan apa saja jika kehendaknya tidak dituruti. Akhirnya, Yuk Selvi pun terpaksa mengantar ibu ke Indralaya.
Aku mengirimkan pesan pada Mas Darwin agar ia tahu bahwa ibu dalam perjalanan ke Indralaya untuk menemuinya. Aku tak bisa melarang ibu pergi ke sana, ia bersikeras walaupun aku sudah berkata tidak masalah bagiku Mas Darwin tidak sering pulang ke sini. Tapi, ibu malah berkata, "Ibu ke sana bukan untuk kamu, Rania. Ibu ingin mendatangi mereka karena ibu tidak rela Darwin menikahi Alya. Sampai kapanpun ibu tidak rela."
'Semoga tidak terjadi hal yang tak diinginkan,' batinku. 'Semoga ibu baik-baik saja.' Aku khawatir ibu akan shyok setelah mengetahui bahwa ternyata Alya juga sedang hamil anak Mas Darwin. 'Semoga ibu tidak jatuh sakit,' batinku.
Sementara itu, Mas Darwin dan Alya sedang menyantap mie celor kesukaan mereka di sebuah restoran di Palembang. Mas Darwin meninggalkan ponselnya di dalam mobil, ia lupa memasukkannya ke dalam saku celana. Sehingga, ia tak membaca pesanku.
Setelah dua jam lebih kemudian ia berada di ruang tunggu praktek dokter kandungan. Ia bosan menunggu lalu baru membuka ponselnya dan membaca pesanku. 'Mas, ibu sudah tahu kamu menikah dengan Alya. Sekarang ibu bersama Yuk Selvi dalam perjalanan menuju rumah kalian di Indralaya.'
"Astaga, Sayang... kita harus pulang sekarang," ucap Mas Darwin.
"Mengapa Sayang? Kita kan sudah daftar untuk kontrol kandungan. Sebentar lagi namaku dipanggil." Alya tidak mau segera pulang.
"Ibu tahu kita sudah menikah, Sayang."
Alya segera menoleh dan menatap Mas Darwin. Lalu, Mas Darwin berkata, "Ibu dalam perjalanan ke rumah kita."
Di waktu yang sama ibu sudah berdiri di depan rumah bernuansa putih. Ibu memandang sekeliling rumah itu dan berkata, "Ini rumahnya? Kamu tidak salah?"
"Iya, Bu," jawab Yuk Selvi.
Ibu pun melangkahkan kakinya menuju pagar rumah itu ditemani Yuk Selvi. Mereka masuk ke dalam pagar dan mengetuk pintu rumah.
"Tok! Tok! Tok!" Ibu mengetuk pintu rumah itu berkali-kali lalu pintu terbuka.
__ADS_1