
'Rania....' ucap Mas Darwin dalam hati. 'Apakah aku begitu jahat padamu?'
Aku dan Mas Darwin saling bertatapan cukup lama. Aku tak bisa memastikan isi pikirannya saat ini. Namun, kemudian dia berkata dengan suara cukup berat, "Aku akan menceraikanmu."
"Tapi, itu setelah kamu melahirkan. Sebelum waktu itu tiba, tetaplah jadi istriku!"
"Mengapa?" tanyaku. "Mengapa kamu menunda menceraikanku, Mas? Kamu ingin mengambil anak ini kan?"
Mas Darwin hanya diam dan aku lanjut berkata, "Aku yang mengandung anak ini dan yang akan melahirkannya nanti. Aku lebih berhak atas anak ini dibanding siapapun, termasuk kamu, Mas."
Kulihat ekspresi wajah Mas Darwin sedikit berubah. "Aku hanya ingin memastikan kamu dan anak kita tidak kekurangan apapun," ucap Mas Darwin. "Aku ingin bertanggung jawab sebagai seorang ayah."
"Aku bisa berusaha menjaga dan merawat anak ini sendiri," ucapku dengan begitu ego.
"Kamu tidak bisa, Rania," tandas Mas Darwin. "Kamu ingin bekerja seperti kemarin?"
Aku terdiam mendengar pertanyaannya.
"Jangan membahayakan keselamatan anak kita! Aku tak akan membiarkanmu dan anak ini terlantar. Aku juga berhak atas anak ini."
"Ikutlah pulang bersamaku! Jangan melarikan diri lagi!"
"Pulang?" ucapku spontan. "Lalu, kamu di sini berbahagia dengan Alya." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Aku tidak bisa, Mas. Aku punya perasaan."
"Tetaplah jadi istriku!" pinta Mas Darwin. Entah mengapa ucapan itu terdengar begitu lirih di telingaku, membuat air mataku semakin menetes.
"Tetaplah jadi istriku!" ucap Mas Darwin lagi. "Aku akan memenuhi semua keinginanmu."
"Aku ingin anak ini," ucapku segera. "Jangan mengambil anak ini dariku!"
Mas Darwin terdiam. Ia menatapku dan aku berkata, "Bisakah kamu melakukan itu, Mas?"
__ADS_1
Mas Darwin masih saja tetap terdiam dan aku kembali berkata, "Kamu bilang akan memenuhi semua keinginanku. Aku ingin anak ini."
****
Saat ini aku dalam perjalanan menuju ke Kayuagung. Akhirnya aku menyetujui kesepakatan yang diajukan Mas Darwin. Aku tidak akan bercerai darinya hingga anakku lahir. Sebagai konsekuensinya setelah bercerai Mas Darwin harus menyerahkan hak asuh anak sepenuhnya padaku.
Aku akan bertahan hingga sembilan bulan ke depan demi mendapatkan anak ini. Sembilan bulan bukan waktu yang singkat bagiku untuk menyaksikan kemesraan Mas Darwin dan istrinya. Tapi, aku akan berusaha. Aku akan berusaha menutup mataku dan telingaku untuk tidak peduli pada semua perbuatan suamiku.
Aku sudah terlanjur terperangkap dalam permainan rumah tangga yang rumit ini. Aku harus menyelesaikannya dan bercerai secara baik-baik dengan Mas Darwin.
"Ibu tidak tahu apa-apa tentang masalah kita. Tetaplah menjadi istriku seperti biasanya!" ucap Mas Darwin begitu memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Kami sudah sampai di rumah Mas Darwin di Kayuagung.
Ibu membuka pintu setelah Mas Darwin mengetuk pintu beberapa kali. Ekspresi ibu saat membuka pintu sedikit heran. Ia berkata, "Loh, Darwin... kamu tidak kerja hari ini?"
Dan, saat melihatku ia lebih heran lagi. "Rania, bibir kamu kenapa lecet?"
Aku diam dan melirik Mas Darwin. Ia kemudian berkata, "Tidak apa-apa, Bu. Bibir Rania cuma terbentur lemari."
Aku tak mengatakan apapun pada ibu. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar kami. Kudengar ibu bertanya pada Mas Darwin, "Mengapa tampang Rania kusut begitu?"
"Tidak apa-apa, Bu. Rania hanya sedang kurang sehat. Dia sedang hamil muda."
"Hamil?" Suara ibu terdengar begitu kaget. "Kamu serius Rania hamil?"
Mas Darwin hanya mengangguk dan ibu kembali bertanya, "Sejak kapan? Mengapa tidak bilang-bilang sama ibu?"
"Darwin juga baru tahu, Bu," ucap Mas Darwin.
Ibu pun bergegas masuk ke kamar kami dan memburuku dengan pertanyaan, "Rania, kamu benar-benar hamil?"
Aku mengangguk lemah tanpa tersenyum. Moodku terlalu tidak bagus saat ini dan aku tidak bisa menyembunyikannya.
__ADS_1
"Kamu harusnya bersyukur," ucap ibu segera. "Punya anak itu harusnya bahagia, bukan mengkerut seperti ini wajahmu," oceh ibu. "Kamu harus jaga baik-baik cucu ibu itu! Makan makanan bergizi! Ibu tidak mau cucu ibu jadi bodoh karena kamu tidak memperhatikan gizinya."
Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Dan, ibu tiba-tiba menohokku dengan pertanyaan, "Kamu habis bertengkar kan dengan Darwin?"
Aku terkejut dan spontan memandang wajah ibu. 'Darimana ibu bisa tahu?' pikirku.
Insting ibu begitu kuat. Apalagi ia melihat mataku yang sedikit membengkak. Ia sangat yakin aku baru saja banyak menangis.
"Tidak usah mengelak. Ibu sudah tahu ada yang tidak beres di antara kalian. Tidak bisa kamu tutupi," ucap ibu begitu yakin.
"Itu tidak benar, Bu." Mas Darwin tiba-tiba sudah berada di ambang pintu kamar kami. "Kami baik-baik saja. Rania hanya lelah dan butuh istirahat."
Ibu pun mundur dari posisinya berdiri, memandangku dan memandang Mas Darwin. Lalu, ia berjalan keluar dari kamar, meninggalkan kami berdua. Namun, di dalam hatinya ia tetap yakin ada yang tidak beres di antara kami berdua.
Setelah ibu pergi Mas Darwin berjalan mendekatiku. Aku sedang duduk di pinggir tempat tidur dan ia lalu duduk di sampingku. Tangannya terulur ingin menyentuh dan melihat luka di bibirku, namun aku segera menghalau tangannya dan memalingkan wajah. Aku tak butuh perhatian darinya saat ini.
Mas Darwin kemudian berkata, "Rania, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Sore nanti aku akan pulang ke Indralaya. Besok pagi-pagi sekali aku harus ke kantor."
Aku hanya diam mendengar perkataannya. Ekspresiku datar, tidak menyiratkan apapun. Intinya aku tidak peduli.
Lalu, Mas Darwin berkata lagi, "Mulai hari ini aku berhenti memberimu uang bulanan, Rania."
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi. Kamu bisa saja menggunakan uang itu untuk pergi dari sini."
Aku menoleh pada Mas Darwin dan berkata, "Aku tidak terkejut, Mas. Aku sudah menduganya saat kamu mengambil dompetku."
"Apapun yang kamu butuhkan, aku akan penuhi, Rania. Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu, aku akan membelikannya untukmu."
Aku tidak peduli pada ucapan Mas Darwin. Bagiku perlakuannya padaku sama saja dengan ia ingin mengurungku di sini agar aku menurut padanya dan tidak pergi kemana-mana. Dan, aku mau tidak mau harus mengikuti kemauannya hingga melahirkan nanti.
"Jaga anak dalam kandunganmu baik-baik, Rania! Jangan terlalu lelah! Aku akan mencarikan asisten rumah tangga untuk membantu di rumah ini. Jadi, kamu bisa lebih banyak waktu beristirahat." Mas Darwin berusaha menunjukkan perhatiannya padaku, namun aku tak peduli.
__ADS_1
Sementara itu, di luar dugaan kami berdua ternyata ibu menguping pembicaraan kami dari luar kamar. Sejak tadi diam-diam ia mendengar semua pembicaraan kami.