
Tiga tahun kemudian...
Alya berjalan menuju ruang tunggu dengan perutnya yang sudah membuncit. Ini adalah kehamilan keduanya dan sudah menginjak usia delapan bulan. Kali ini ia sangat berhati-hati dengan kehamilannya.
Begitu sampai di ruang tunggu dokter kandungan, Alya tak menemukan kursi kosong kecuali dua kursi di bagian paling depan. Kursi yang satu di atasnya terdapat tas kecil dan kursi di sebelahnya benar-benar kosong. Alya melihat Mas Darwin duduk di kursi di sebelah tas itu.
Alya segera berjalan ke kursi tersebut. Ia berjalan dengan anggun dan tetap cantik meskipun perutnya sudah membuncit. Lalu, ia duduk di kursi kosong di sebelah tas itu.
Mas Darwin yang sedang memangku Dania menoleh dan melihat Alya. Alya tersenyum.
"Lama tak bertemu," ucapnya.
Mas Darwin cukup kaget menyadari kehadiran Alya. Ia melihat perut Alya yang sudah membesar. "Kamu sudah menikah?" tanya Mas Darwin.
Alya mengangguk dan Mas Darwin berkata, "Selamat! Kamu sebentar lagi akan punya anak."
"Apa kamu bahagia?" tanya Mas Darwin kemudian.
"Aku tak pernah sebahagia saat ini selama menikah denganmu," jawab Alya. "Suamiku sangat mencintaiku. Mertuaku sangat menyayangiku... dan begitu menantikan kelahiran anak ini."
Mas Darwin mengangguk-angguk. "Ouhh... Syukurlah jika begitu."
"Kamu sendirian ke sini?" tanya Mas Darwin.
"Itu suamiku," ucap Alya sambil melirik sesosok pria yang terlihat sibuk mengurus pendaftaran Alya untuk periksa kandungan di bagian administrasi. Mas Darwin tak bisa melihat wajahnya karena ia sedang berdiri membelakangi mereka. Pria itu berbadan tinggi, memakai kemeja, dan di lengannya terlihat sebuah tas wanita bergelantungan. Itu pasti tas Alya, ia membantu Alya membawakan tasnya.
"Kartu berobatku tadi tertinggal di mobil. Suamiku meminta aku duluan ke sini agar tidak capek bolak-balik dan dia kembali ke mobil untuk mengambil kartu," jelas Alya.
Lalu, setelah selesai mendaftar, pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju Alya. Mas Darwin cukup kaget. "Dokter Aldi," gumamnya.
"Ya, dia suamiku," ucap Alya. "Mana Rania?"
"Hai, Darwin!" sapa Aldi. "Istrimu mau periksa kandungan juga?"
__ADS_1
"Ya, ada urusan ke Palembang, sekalian saja periksa kandungan juga," jawab Mas Darwin.
"Kami tinggal menetap di kota ini sekarang, mampir ke rumah jika ada waktu luang." Aldi mencoba berbasa-basi.
"Ya." Mas Darwin mengangguk.
Setelah bercerai dengan Alya ia tak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi dengan Alya. Baru kali ini tanpa sengaja mereka dipertemukan di Kota Palembang. Ternyata, setelah bercerai Alya memutuskan pindah ke Palembang untuk menjauhi Mas Darwin. Lalu, setahun yang lalu akhirnya ia menikah dengan Aldi yang sejak dulu selalu mengejarnya.
"Permisi!" ucapku dari belakang badan Aldi. Mereka bertiga serentak menoleh. Kulihat Alya duduk di kursi sebelah tasku. 'Alya,' gumamku dalam hati.
Aku mengangkat tas kecil itu. duduk di kursi, dan meletakkan tas itu di pangkuanku. Aku baru saja dari toilet dan ternyata sudah ada Alya bersama suaminya di ruangan ini. Hal ini membuatku cukup kaget. Sehingga, aku hanya terdiam saja.
Lalu, tiba-tiba Alya berkata, "Selamat ya kamu mendapatkan mertua cerewet. Anggap saja itu hukuman seumur hidup untukmu." Suara Alya terdengar sinis, namun aku tak menggubrisnya.
Aku hanya tersenyum padanya. Aku bisa memaklumi dan sangat mengerti jika ia masih tak menyukaiku, atau bahkan membenciku. Yaa, wanita mana yang rela melihat suaminya berpaling? Jika aku berada di posisi Alya, mungkin aku takkan bisa setegar dia.
Ucapannya pun tak aku ambil hati. Pada kenyataannya mertuaku memang sangat cerewet. Sampai-sampai aku begitu tertekan dengan sikap cerewetnya saat awal pernikahanku. Namun, seiring berjalannya waktu aku bisa beradaptasi dan memahami bahwa sebenarnya mertuaku baik.
Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga dengan mertuaku. Ia hampir pintar segalanya, nyaris sempurna, tapi pasti ada kekurangan dan keburukannya. Sikapnya yang cerewet dan suka mengatur adalah salah satu keburukannya. Aku sudah bisa memaklumi itu.
"Tidak, ibu mau tinggal saja." Ia sejak tadi bersikeras untuk tidak ikut. "Jika kalian mau pergi, ya pergi saja! Ibu mau mengawasi pegawai-pegawai peyek Rania. Jika tidak diawasi, pasti pekerjaannya banyak yang tidak beres," ucap ibu. Entah mengapa setiap hari ibu memang sangat hobi menjadi mandor dari usaha peyekku.
Usaha peyek ini tak terasa sudah berjalan tiga tahun, sama dengan umur Dania, anakku. Setelah melahirkannya aku bersikeras untuk tetap meneruskan usaha peyek karena aku pikir aku harus mandiri. Saat itu aku nyaris akan bercerai dengan Mas Darwin. Namun, ibu membujukku berulang kali untuk tidak menyerah mempertahankan pernikahan demi anakku. Dan, ternyata Mas Darwin menceraikan Alya.
Cukup sulit bagiku pada awalnya untuk bisa menerima Mas Darwin kembali. Namun, tak bisa kupungkiri sebenarnya aku masih mencintainya dan anakku memerlukan ayahnya. Akhirnya kami memutuskan untuk rujuk dan memulai kembali rumah tangga kami dari awal.
Kami pun membangun rumah di Indralaya dan tinggal satu atap bersama setiap hari. Tentunya juga bersama ibu. Sehingga, setiap hari aku masih tetap saja mendengar riuh kicau ocehan ibu. Namun, yang berbeda di rumah baru ini adalah Mas Darwin memberikanku ruangan untuk tempat produksi peyek. Sehingga, aku bisa terus mengembangkan usaha peyekku dan kini semuanya dikerjakan oleh pegawai.
"Ibu, Ibu tidak perlu capek-capek mengawasi mereka," ucapku.
"Mereka itu harus selalu diawasi supaya kerjanya tidak sembarangan dan kualitas peyek kamu tetap terjamin," oceh ibu. "Kita tidak boleh mengecewakan pelanggan."
Lalu, tiba-tiba Mas Darwin berbisik padaku, "Sudahlah, Rania! Biarkan saja Ibu ingin menyalurkan hobi cerewetnya!"
__ADS_1
Aku pun mengangguk. Setelah itu kami berpamitan ingin berangkat ke Palembang. Sebelum benar-benar berangkat, aku bisa mendengar suara ibu mengoceh di ruang pembuatan peyek.
"Goreng peyek itu yang benar, jangan sampai gosong!"
"Rambut kalian itu diikat supaya tidak masuk ke peyek!"
"Packing itu yang rapat! Jangan sembarang seperti ini! Kalo tidak rapat, peyeknya jadi tidak enak, tidak garing lagi."
Aku geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil mendengar ocehan ibu. 'Pasti para pegawaiku merasa tertekan,' batinku. Tapi, yaa... begitulah ibu. Dia memang cerewet, tapi sebenarnya dia baik.
"Nyonya Darwin." Panggilan dari perawat membuatku tersadar dari ingatanku.
Aku dan Mas Darwin bangkit dari tempat duduk kami. Aku berkata pada Alya, "Kami duluan, ya."
Lalu, Aldi segera menempati tempat duduk yang tadi aku tempati. Ia kini duduk di samping Alya dan mereka tampak sangat serasi.
Sementara itu, aku dan Mas Darwin bersama Dania melangkah menuju ruang dokter kandungan. Di dalam sana dokter melakukan USG padaku. Dan, dokter mengatakan melihat dua janin di dalam rahimku.
"Selamat ya Pak, bayi Bapak dan Ibu kembar," ucap dokter dan Mas Darwin tampak sangat senang sekali. Senyuman yang sangat cerah terkembang di wajahnya, begitu juga di wajahku. Kami sangat bahagia dan semoga kami terus akan bahagia.
--TAMAT--
nb:
Terima kasih untuk semua pembaca yang telah memberikan dukungan dan setia membaca novel ini hingga akhir. Author sangat menghargainya 🙏🙏😘🥰
Mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, atau alur cerita dan endingnya tak sesuai dengan yang pembaca inginkan 🙏🙏🙂
Sebenarnya cerita ini masih bisa terus dipanjangin sih. Tapi, sejak awal author sudah komitmen mau buat cerita sesuai alur inti, gak dipanjang-panjangin. Jadi, mohon dimaklumi. Sekali lagi author ucapkan terima kasih sudah berkenan membaca. Sampai ketemu di novel berikutnya 😘
**Bocoran novel berikutnya ... judulnya Jatuh Tertimpa Cinta**
Salam sayang selalu
__ADS_1
realmaya