Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Pelukan di Pagi Hari


__ADS_3

Libur semester perkuliahan yang Mas Darwin habiskan bersama Alya akhirnya berlalu. Mas Darwin kembali ke rutinitasnya seperti biasa. Di akhir pekan ia pulang ke Kayuagung. Ia selalu memberikan perhatian padaku dengan tulus, membuat perasaanku semakin kacau tak bisa kumengerti.


Di satu sisi aku harus menjaga jarak dan hatiku agar tak terbawa perasaan lebih dalam. Aku harus ingat bahwa aku sedang menuju proses perceraian dengannya. Di sisi lain aku tak mampu membohongi hati nuraniku... sebenarnya aku mencintainya.


Hari terus berlalu dan aku terus mengabaikan Mas Darwin. Kini usia kehamilanku sudah memasuki bulan ketiga. Akhir-akhir ini aku sering membayangkan sop ayam kampung buatan Mas Darwin. Aku sangat ingin memakannya.


'Apakah ini yang disebut orang mengidam?' tanyaku dalam hati. Tapi, aku tak mau mengungkapkannya pada Mas Darwin. Aku diam saja, berusaha meredam keinginanku dan tak mengatakannya pada siapapun.


Sementara itu, Mas Darwin sedang berada di dalam kamar bersama Alya. Hari sudah larut malam. Alya sudah tertidur sejak tadi, namun Mas Darwin belum bisa tidur. Ia mengutak-atik ponselnya. Lalu, ponsel Alya bergetar menandakan satu pesan masuk.


Mas Darwin segera membukanya dan membaca, "Ok. Aku tunggu kamu besok siang di rumah makan biasa, sekalian makan siang." Pengirimnya adalah Aldi.


"Apa maksudnya?" gumam Mas Darwin. "Rumah makan biasa...."


Mas Darwin memandang Alya yang berbaring di sampingnya. 'Apa itu artinya Alya sering bertemu dengan Aldi?'


Esok paginya sebelum berangkat kerja Mas Darwin sengaja mengajak Alya untuk makan siang dengannya hari ini.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa. Aku sudah ada janji bertemu client. Penting. Tidak mungkin aku reschedule," ucap Alya. "Bagaimana jika kita makan malam saja?"


Mas Darwin mengangguk pelan. Namun, dalam hatinya ia semakin curiga pada Alya. 'Ada yang tidak beres,' ucapnya dalam hati.


Siang harinya Mas Darwin berpikir, 'Rumah makan biasa... rumah makan biasa....'


'Di rumah makan mana Alya biasanya menemui Aldi?' pikir Mas Darwin. Lalu, ia teringat rumah makan yang Alya sangat sukai. Rumah makan itu menyajikan nasi pindang kesukaan Alya. Tanpa pikir panjang Mas Darwin pun bergegas ke sana.


Benar saja, mobil Alya ada di halaman parkirnya. 'Alya ada di sini,' pikir Mas Darwin.


Mas Darwin bergegas mencari Alya di antara orang-orang yang sibuk menyantap makanannya. Lalu, mata Mas Darwin tertuju pada sebuah pondok. Di sana ada Alya berdua bersama Aldi.


Emosi Mas Darwin memuncak seketika. Ia segera mendatangi pondok itu dan berkata, "Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku?"


"Melakukan apa, Sayang?" Alya bingung dengan tingkah laku Mas Darwin yang tiba-tiba saja datang dan marah.


"Berduaan dengan lelaki lain. Kamu selingkuh." Suara Mas Darwin cukup besar membuat banyak orang menoleh.

__ADS_1


"Kamu salah besar, Sayang. Jangan sembarang menuduh!" ucap Alya. "Aku datang ke sini tidak sendiri, kami tidak cuma berdua. Aku datang bersama asistenku."


"Mana buktinya?" ucap Mas Darwin yang sudah sangat marah.


"Kamu lihat dulu, Darwin! Gelas kami ada tiga, piring juga tiga." Aldi berkata sambil menunjuk meja di hadapannya.


Lalu, tiba-tiba Renata yang dikenali Mas Darwin sebagai asisten Alya muncul di hadapan mereka. "Nah, ini Renata baru balik dari toilet," ucap Aldi. "Kami di sini bertiga. Alya tidak selingkuh."


"Hakh!" Mas Darwin mendengus kesal. Meskipun, tak terbukti selingkuh ia tetap marah kepada Alya. Ia pun pergi meninggalkan rumah makan menuju parkiran dan memacu mobilnya.


Alya yang segera berlari mengejar Mas Darwin memanggil, "Sayang! Sayang!" Namun, Mas Darwin meninggalkannya begitu saja di parkiran.


Mas Darwin pulang ke rumah dan Alya menyusulnya. "Sayang, dengarkan aku dulu!" ucap Alya begitu sampai di rumah. "Aku tidak selingkuh. Pertemuan itu murni bisnis. Dokter Aldi membutuhkan desain bangunan untuk kliniknya. Aku seorang arsitek, ini pekerjaanku. Kami profesional. Kamu salah paham."


"Tetap saja aku tidak suka kamu bertemu lagi dengannya," ucap Mas Darwin. "Kamu kan sudah tahu sejak dulu dia itu cinta sama kamu. Kamu cinta pertamanya."


"Itu sudah lama, Sayang. Itu cerita lama. Kamu juga kan sudah tahu aku tak pernah cinta padanya. Dia hanya kakak kelasku, kami tidak pernah menjalin hubungan apapun," ucap Alya. "Dia pasti sudah melupakan itu semua. Lagipula, dia itu sudah menikah."


"Dan juga sudah cerai," ucap Mas Darwin segera. "Dia pasti menceraikan istrinya karena ternyata dia tak pernah bisa mencintai istrinya. Dia itu hanya cinta sama kamu." Mas Darwin masih begitu emosi.


"Aku tidak suka karena kamu memberi respon padanya. Harusnya kamu menjauhinya. Mengapa kamu harus terima pekerjaan dari dia? Kamu kan bisa menolaknya. Kamu seharusnya tidak dekat-dekat dengan dia." Mas Darwin berapi-api.


Alya diam, menatap Mas Darwin. Kemudian, ia berkata dengan pelan, "Kamu juga seharusnya tidak dekat dengan Rania. Kamu memberikan waktumu untuknya. Sedangkan, aku di sini... tak boleh menemui Dokter Aldi hanya untuk urusan pekerjaan."


"Batalkan kontrak kerja kamu dengan dia!" Mas Darwin menekan.


"Tidak bisa. Proyeknya sudah 80% hampir selesai," ucap Alya. "Aku harus profesional."


"Baik, kalo kamu lebih memilih dia," ucap Mas Darwin. "Silakan! Silakan!" Mas Darwin lalu pergi meninggalkan rumah.


***


Seseorang membuka pintu kamar dari luar. Aku menoleh. "Mas Darwin!" ucapku agak terkejut. Karena, saat ini masih hari Kamis, belum akhir pekan. Tapi, dia sudah pulang ke sini.


Ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ponselnya berdering, namun ia segera menonaktifkan ponselnya.

__ADS_1


'Ada apa?' pikirku. 'Dia pasti sedang ada masalah.' Aku tak ingin mengganggunya dan membiarkannya menenangkan dirinya sendirian.


Hingga makan malam kulihat wajah Mas Darwin masih saja kusut. Ibu pun sepertinya juga mengamatinya. "Darwin, kamu mengapa tiba-tiba pulang ke sini? Biasanya akhir pekan baru pulang," ucap ibu.


Mas Darwin tiba-tiba meletakkan sendok di tangannya. Ibu melirik ekspresi Mas Darwin lalu berkata, "Kamu ada masalah?"


Mas Darwin menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Hanya ingin pulang saja, tidak mood bekerja. Butuh istirahat sejenak."


Ibu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berarti kamu punya masalah," ucap ibu dengan lugas. "Kamu tidak mau cerita, tidak apa-apa. Kamu sudah dewasa. Selesaikan masalah kamu!"


Namun, di dalam hatinya ibu sangat penasaran dan berusaha menebak masalah apa sebenarnya yang dihadapi oleh Mas Darwin. 'Masalah kamu pasti ada di Indralaya, makanya kamu pulang ke sini,' pikir ibu. Tanpa mengatakan pada siapapun ibu berniat mencari tahu.


Esok harinya saat alarm berbunyi aku membuka mata dan betapa terkejutnya aku ketika menyadari Mas Darwin tidur sambil memelukku dari belakang. Aku mendorong tubuhnya yang entah mengapa sudah bertelanjang dada.


Mas Darwin tersentak dan bangun. Aku segera berkata, "Apa yang kamu lakukan, Mas?"


"Mengapa kamu tidak memakai baju?" tanyaku dengan emosi.


"Aku kepanasan, semalam mati lampu," ucapnya santai.


"Ingat, Mas... kita mau bercerai. Jangan sentuh aku!" tegasku.


Lalu, tanpa kuduga dalam sekejap Mas Darwin segera merangkulku. Aku spontan mendorong tubuhnya dan berkata, "Lepaskan! Lepaskan!"


Mas Darwin malah semakin erat mendekapku. Ia berbisik, "Sebentar saja! Aku butuh pelukanmu Rania."


"Lepaskan!" Aku tetap berusaha mendorong tubuhnya dan Mas Darwin berbisik dengan tenang, "Perasaanku sedang kacau. Aku ingin menenangkan perasaanku."


Aku tak mengerti dengan ucapannya dan tetap berkata, "Lepaskan!"


"Kamu masih istriku, Rania." Lalu, ia melepaskan pelukannya setelah menyelesaikan ucapannya. Ia tersenyum menatapku.


Sedangkan, aku bergegas turun dari tempat tidur, menjauhinya, dan berkata, "Aku bukan Alya. Jangan pernah sentuh aku lagi!" Lalu, aku bergegas keluar dari kamar, meninggalkannya seorang diri.


'Mas Darwin benar-benar sudah gila,' pikirku. 'Aku harus menjaga jarak dan berhati-hati padanya.'

__ADS_1


__ADS_2