Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Budak Cinta


__ADS_3

Suara teriakan dan hempasan keras membuat ibu Alya menggerakkan kursi rodanya menuju kamar Alya. Setelah sampai di depan pintu, ia melihat anaknya sedang menangis dengan penuh emosi. Alya mengambil foto dirinya dan Mas Darwin yang terpampang besar di dinding kamarnya lalu melemparnya dengan keras hingga membentur dinding dan lantai.


"Alya!" panggil ibunya segera. "Alya!"


Alya spontan menoleh sambil memegang kepalanya, mencoba menahan stres. Sementara itu, air matanya terus mengalir.


"Ada apa, Nak?" tanya ibunya dengan menitikkan air mata. Ia tidak tahan melihat tingkah laku anaknya yang begitu tak terkendali. "Kamu bisa cerita pada ibu!"


"Ibu...." ucap Alya. Ia bergegas mendekati ibu dan mendekap pangkuan ibunya. Ia duduk di lantai, meletakkan kepalanya di atas kaki ibunya.


"Ada apa, Nak? Mengapa kamu jadi begini?" tanya ibunya.


"Rania sudah melahirkan, Bu," ucapnya. "Ia sudah melahirkan. Mas Darwin memajang foto bayinya di ponsel." Ibu Alya cukup terkejut mendengarnya.


"Mengapa harus seperti ini? Di saat aku kehilangan anakku, wanita pelakor itu malah mendapatkan seorang anak." Alya menangis sesegukan. "Ini tidak adil. Mas Darwin pergi meninggalkanku dan menemui wanita itu. Mas Darwin milikku, Bu. Sejak dulu ia milikku. Hatinya milikku."


"Mengapa aku harus melihat pelakor itu bahagia dengan kehadiran anaknya? Ia akan merebut suamiku. Mas Darwin akan meninggalkanku," ucap Alya. "Aku adalah istri pertamanya, cinta matinya. Wanita itu hanya selingan. Mengapa pada akhirnya aku yang harus kalah? Ini tidak adil. Aku tidak bisa terima. Mas Darwin harus tetap jadi milikku."


"Alya...." ucap ibunya kemudian membuat Alya menoleh dan berhenti bicara. "Menyerahlah, Nak!"


Alya kaget mendengar ucapan ibunya. "Apa?" gumamnya pelan.


"Menyerahlah, Nak! Lepaskan Darwin!"


Alya terdiam untuk beberapa detik lalu berkata, "Tidak akan. Tidak akan, Bu." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak akan."

__ADS_1


Sementara itu di Kayuagung ... aku telah dipindahkan ke kamar perawatan, tidak lagi berada di ruang tindakan. Ibu dan Yuk Selvi menemaniku di dalam kamar. Sedangkan, Mas Darwin menunggu di luar. Ia tidak ingin ibu bergegas keluar dari kamar seperti tadi lagi.


"Rania, ini semua pasti karena kamu terlalu memporsir tenagamu membuat peyek. Kamu pasti stres dan kelelahan. Sehingga, ujung-ujungnya anakmu harus lahir prematur. Untung saja cucu ibu baik-baik saja. Jika tidak, kamu pasti sangat menyesal dan ibu tidak akan memaafkan kamu." Lagi-lagi ibu menyalahkanku.


"Sudahlah, Bu," ucap Yuk Selvi. "Sebaiknya kita pulang, nanti kemalaman. Sekarang sudah hampir jam delapan malam."


Ibu dan Yuk Selvi pun akhirnya keluar dari kamar untuk pulang. Begitu keluar dari kamar ibu melihat Mas Darwin yang sudah tertidur di bangku koridor karena sangat lelah dan mengantuk. Ibu berkata pada Yuk Selvi, "Bangunkan Darwin! Suruh jagain, Rania!"


Yuk Selvi mengangguk dan segera melakukan perintah ibu. Lalu, ibu segera meninggalkan rumah sakit tanpa berkata apa pun pada Mas Darwin.


Mas Darwin memasuki kamar dan aku mengabaikannya. "Kamu sudah makan, Rania?" tanya Mas Darwin, berusaha memberi perhatian padaku.


"Sudah," jawabku singkat.


Entah mengapa ada yang ganjil di telingaku mendengar Mas Darwin mengucapkan kata 'anak kita'. Aku segera berkata, "Mas, kamu tidak berubah pikiran kan?"


"Maksud kamu?" tanya Mas Darwin.


"Setelah perceraian kamu akan memberikan hak asuh anak sepenuhnya padaku kan?" ucapku untuk memastikan dan tak kudengar jawaban apapun dari bibir Mas Darwin. Ia hanya terdiam dan menunduk.


Aku segera mengerti dari tingkah dan ekspresinya bahwa ia takkan merelakan anaknya begitu saja. 'Mas Darwin ingin ingkar janji,' pikirku. Lalu, aku segera membalikkan posisi tidur badanku untuk membelakanginya.


Tak ada ucapan apapun lagi terdengar dari bibir kami berdua. Suasana menjadi hening, sunyi. Aku menutup mataku, mencoba untuk mengatur perasaanku sambil memejamkan mata.


Tak lama kemudian kudengar langkah kaki Mas Darwin beranjak dari kursi tempat duduknya. Ia pergi ke luar kamar dan aku segera membuka mataku. 'Aku akan mempertahankan anakku,' batinku. 'Aku tak rela Mas Darwin mengambil anakku dan membesarkannya bersama Alya.'

__ADS_1


Sementara itu, di luar kamar Mas Darwin memandangi anak kami yang tertidur pulas dari balik kaca ruangan. Bayi itu mungil sekali dan tampak begitu polos tanpa dosa.


Mas Darwin menghembuskan nafasnya, mencoba mengurangi beban perasaan dan pikiran yang menekannya. 'Bagaimana bisa aku membiarkan anak ini pergi bersama Rania?' pikir Mas Darwin. 'Aku tak rela jika suatu hari nanti ia memanggil laki-laki lain sebagai ayahnya. Aku takkan pernah rela.'


'Andai aku dan Rania tidak perlu bercerai,' batinnya.


Di saat yang sama Alya sedang duduk bersandar di tempat tidur kamarnya. Semua lampu sudah dimatikan, kecuali lampu meja di sampingnya. Ia berurai air mata mengenang masa-masa indahnya bersama Mas Darwin.


'Aku akan mencintaimu selamanya, Alya,' ucap Mas Darwin saat itu. Kala itu mereka masih berkuliah di kampus yang sama. 'Setelah tamat kuliah dan bekerja, aku akan segera melamarmu. Kita akan menua bersama. Apa kamu mau menjadi tua bersamaku?'


Saat itu Alya mengangguk dan mereka tersenyum bersama. Saat itu mereka adalah muda-mudi yang benar-benar sedang dimabuk asmara. Ingin selalu bersama, selalu merindu jika berjauhan. Alya adalah budak cinta Darwin dan begitu juga sebaliknya.


Tapi, semua itu sudah berakhir. Kini hati Mas Darwin sudah terbelah, bukan untuknya lagi seutuhnya. Dan, itu membuat hati Alya benar-benar merasa sakit. Laki-laki yang mati-matian ia pertahankan sejak dulu kini mulai berpaling dan menjauh.


Ia teringat ucapan ibunya tadi. 'Jangan memaksakan jalan kehidupan, Nak! Mungkin Darwin bukanlah jodohmu.'


'Sejak awal hubunganmu dengannya terlalu rumit, selalu ada penghalang. Namun, kalian tetap memaksakan keinginan kalian. Saat ini kamu harus mengerti... Tuhan tidak memberikan apa yang kamu inginkan, tapi apa yang kamu butuhkan. Karena, Tuhan tahu yang terbaik untukmu.'


'Jangan terlalu memaksa! Jodoh akan selalu bertemu walau dipisahkan. Jodoh akan datang tanpa kamu duga, semuanya berjalan begitu mulus hingga kamu tak menyadari bahwa jodohmu telah datang. Tapi, ibu rasa bukan itu yang terjadi padamu dan Darwin. Kalian terlalu memaksakan keadaan untuk bisa bersama, Alya. Mungkin dia bukan jodohmu. Lepaskanlah, Nak!'


'Tidak, Ibu. Mas Darwin milikku, ia mencintaiku. Kami saling mencintai sejak dulu.'


Air mata Alya lagi-lagi semakin berderai. Ia menatap kepingan ponsel di atas meja di sebelahnya. 'Mas Darwin seharian ini bahkan tak menghubungiku. Apa dia tak peduli lagi padaku?'


Alya tahu ponselnya rusak sehingga tidak bisa menerima panggilan masuk. Tapi, biasanya Mas Darwin akan menghubungi ibu jika tak bisa menghubungi Alya. Namun, kali ini hingga larut malam Mas Darwin benar-benar tak menghubungi Alya.

__ADS_1


__ADS_2