
Mas Darwin lagi-lagi menolak untuk menceraikanku. Itu sudah sesuai dugaanku. Hingga akhirnya tadi aku bertanya padanya. "Mengapa kamu tidak mau menceraikanku, Mas? Sekarang atau nanti sama saja, kita tetap akan bercerai. Semakin lama kamu menahanku maka kamu hanya akan semakin menyakitiku."
Dan, Mas Darwin berkata, "Aku tidak bisa, Rania. Saat kamu pergi dulu ... aku baru menyadari ... ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku belum siap." Mas Darwin tampak bersungguh-sungguh.
Aku tercengang memaknai ucapan Mas Darwin kemudian aku berkata, "Aku bukan barang yang bisa kamu miliki sesukamu, Mas. Istri itu bukan benda koleksi. Kamu sudah memiliki Alya, cinta sejatimu. Maka, lepaskan aku!"
"Aku sudah tidak tahan menjadi istrimu. Aku ingin bercerai denganmu secepatnya." Ucapanku itu berkali-kali terngiang di telinga Mas Darwin, bahkan hingga malam ini.
Mas Darwin lalu memperhatikan wajahku yang sedang tidur. Ia melihat ke arah perutku. Ia sangat ingin mengusap dan mengelus perutku. Ia ingin merasakan gerakan anaknya. Tapi, ia khawatir akan membangunkanku. Sehingga, ia mengurungkan niat itu.
Beberapa hari kemudian ibu sudah tampak lebih sehat. Mas Darwin sudah pulang ke Indralaya sejak berhari-hari lalu karena harus masuk kerja. Aku sudah berpikir dengan matang untuk segera mengakhiri pernikahan ini.
Hal pertama yang harus kulakukan adalah berbicara dengan ibu. 'Bagaimanapun juga aku harus bercerai secara baik-baik dengan Mas Darwin,' pikirku. Setelah itu, aku akan menggugat cerai Mas Darwin.
Usai memasak aku memberanikan diri untuk berbicara dengan ibu. "Bu, terima kasih sudah meminta Mas Darwin untuk hidup bersamaku dan meninggalkan Alya," ucapku. "Tapi, itu tidak perlu."
Ibu mengernyitkan dahinya sambil menatapku. 'Semoga ibu bisa menerima pembicaraan ini dengan baik,' batinku. 'Semoga ibu tidak shyok dan jadi sakit setelah mendengar ini.'
"Aku sudah mengetahui Mas Darwin sudah memiliki istri sejak awal kehamilanku, Bu. Dan, aku saat itu sudah memutuskan untuk... bercerai dengan Mas Darwin." Aku berusaha menyampaikan keinginanku dengan sangat hati-hati dan pelan agar ibu tidak shyok.
Kulihat ekspresi ibu. Ia semakin mengernyitkan dahinya dan aku melanjutkan ucapanku, "Tapi, Mas Darwin belum mau menceraikanku saat itu. Ia akan menceraikanku setelah aku melahirkan. Dia sudah berjanji. Aku dan Mas Darwin akan bercerai."
"Dan, saat ini... aku rasa tidak ada gunanya menunggu lebih lama lagi, Bu. Aku ingin mempercepat perceraian itu."
"Mengapa kamu begitu ingin bercerai? Sedangkan, Darwin saja tidak ingin menceraikanmu?" Pertanyaan ibu menohokku.
__ADS_1
"Aku rasa ibu bisa lihat sendiri bagaimana Mas Darwin berjuang untuk mempertahankan hubungannya dengan Alya," ucapku. "Mereka saling mencintai, Bu dan aku ... aku hanya orang ketiga yang tak diharapkan dalam rumah tangga mereka."
"Bodoh!" umpat ibu segera. "Bodoh kamu, Rania!"
Aku menatap ibu dan dia berkata dengan emosi, "Dari awal kamu tak pernah tahu jika mereka sudah menikah. Kamu bukan orang ketiga. Kamu itu korban. Kamu tertipu, kamu itu korban."
"Setelah tahu itu, kamu mau memberikan suamimu begitu saja pada Alya dan mereka hidup bahagia berdua. Sementara itu, kamu menderita," cerocos ibu. "Bodoh kamu, Rania!"
"Ambil apa yang menjadi hakmu, milikmu! Kamu itu istri sah Darwin."
"Tapi, Mas Darwin tidak mencintaiku, Bu," ucapku. "Hatinya milik Alya."
"Hati laki-laki itu mudah berubah," tandas ibu. "Dia tidak bisa menjawab saat ibu tanya cinta padamu atau tidak. Ibu yakin... sebenarnya dia itu punya perasaan sama kamu. Tapi, dia tidak bisa meninggalkan Alya. Kamu tahu mengapa Darwin tidak bisa melepaskan Alya?"
"Tapi, lihatlah saat bersamamu! Kamu selalu cuek dan mengabaikannya. Bahkan, jangan-jangan akhir-akhir ini kamu tidak pernah melayaninya di ranjang sebagai istri."
"Deg!" Jantungku terasa tertikam dengan ucapan ibu. Ibu menyalahkanku atas penyebab Mas Darwin bertahan pada Alya.
"Kamu pikir mudah menjadi janda?" Ibu tersenyum cukup sinis. "Gadis muda, berpendidikan rendah, tidak berpengalaman... bagaimana bisa kamu membesarkan anakmu sendirian?"
Ucapan ibu terdengar sangat merendahkanku. Namun, aku dengan begitu yakin berkata, "Aku akan cari kerja, Bu. Aku bisa membesarkan anakku."
"Jangan terlalu yakin!" ucap ibu segera. "Hidup ini bukan sinetron. Dunia di luar sana sangat kejam. Kamu pikir ada orang yang mau menerima kamu bekerja dalam kondisi hamil besar seperti ini?"
"Atau, setelah kamu melahirkan nanti... kamu bisa mendapatkan pekerjaan, lalu bagaimana dengan nasib bayimu? Kamu mau membawanya bekerja bersamamu... tidak mungkin. Majikan mana yang mau menerima orang bekerja sambil membawa bayi? Atau, kamu mau tinggalkan bayimu di rumah dan kamu pergi bekerja, siapa yang akan mengasuhnya?"
__ADS_1
"Jangan terlalu naif, Rania! Pertahankan rumah tanggamu, ikat hati suamimu!" ucap ibu.
Aku menelan ludah lalu aku berkata, "Aku akan tetap bercerai, Bu."
"Keras kepala!" bentak ibu segera dan aku sangat kaget.
"Aku tak akan membiarkanmu menjadi janda. Kamu tahu... aku tahu betul bagaimana rasanya melepas seorang suami dan membiarkannya bahagia bersama wanita lain. Di saat kamu bersedih... dia akan tertawa bersama wanita lain di luar sana yang merasa menjadi pemenang."
"Kamu akan merasa lebih sakit hati saat melihat mereka hidup bahagia, sedangkan kamu dan anakmu menderita."
"Jangan jadi pengecut! Ambil yang menjadi milikmu!" tekan ibu. "Darwin seharusnya menjadi milikmu, bukan milik Alya."
Aku diam. Tak mengiyakan ucapan ibu dan tidak juga membantah.
"Anakmu itu butuh ayahnya, Rania. Tapi, jika kamu bersikeras ingin bercerai, silakan! Tapi, setelah lahir anakmu harus kamu tinggalkan di sini. Karena, ibu takkan pernah rela cucu ibu hidup terlantar."
"Bu... itu tak adil untukku. Mengapa ibu dan Mas Darwin sama saja. Kalian semua ingin mengambil anak ini dariku. Aku ibunya, aku orang yang paling berhak atas anak ini dibandingkan kalian semua." Aku tak bisa terima dengan keputusan ibu.
"Karena kamu pasti tidak akan bisa menjaga anak itu," ucap ibu. "Kamu akan sibuk dan menelantarkan anak itu, cucu ibu, darah daging ibu. Ibu tak akan membiarkannya."
"Aku bisa membesarkan anak ini sendiri, Bu. Aku bisa hidup mandiri, menafkahi, dan merawatnya." Aku mempertahankan pendirianku.
"Mana buktinya?" ucap ibu. "Jangan asal bicara! Tapi, buktikan!"
"Sebelum kamu berhasil membuktikannya, maka jangan harap ibu akan percaya dan merelakan anak ini kepadamu. Kamu boleh bercerai dengan Darwin, tapi tinggalkan anak ini di sini setelah melahirkan! Atau, perbaiki rumah tanggamu dan hiduplah bahagia bersama Darwin dan anakmu!" ucap ibu lalu ia pergi mengakhiri pembiacaraan kami dan aku termenung sendirian.
__ADS_1