Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Bermalam Bersamaku


__ADS_3

Mobil Mas Darwin melintas cepat menuju ke rumah sakit. Namun, belum sampai ke rumah sakit aku tersadar dari pingsanku. Mas Darwin segera merapatkan mobilnya ke pinggir jalan.


"Apa kamu baik-baik saja, Rania?" Suara Mas Darwin terdengar begitu cemas. "Apa yang kamu rasakan?"


Aku hanya diam lalu Mas Darwin bertanya kembali, "Apa perut kamu sakit?"


Aku menggeleng. Ia lalu memperhatikan kakiku, berusaha mencari tahu apakah ada cairan yang mengalir di kakiku. Ia takut aku mengalami pendarahan atau air ketubanku pecah.


"Aku baik-baik saja," ucapku kemudian. Ia menatapku, cukup lama. Lalu, tiba-tiba saja entah mengapa ia langsung memelukku.


Aku cukup terkejut. Aku ingin menolaknya, namun tubuhku masih lemas. Aku belum bertenaga. Sehingga, aku akhirnya membiarkan Mas Darwin memelukku.


Aku nyaris saja hanyut dalam perasaan bahagia ketika mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Darwin. Namun, kemudian aku tersadar. Dalam hati aku berkata, 'Jangan terbawa perasaan, Rania! Suamimu memelukmu bukan karena menyayangimu. Tapi, itu hanya karena ia mengkhawatirkan anaknya. Ia tak menginginkanmu, ia hanya merindukan anaknya.'


Lalu, Mas Darwin melepas pelukannya. Kemudian, dia berkata, "Kamu yakin baik-baik saja? Apa kita perlu ke rumah sakit dulu untuk cek kondisi kamu?"


Aku menggeleng. "Aku merasa baik-baik saja," ucapku.


"Baiklah, kita pulang sekarang," ucap Mas Darwin sambil memasukkan gigi mobilnya dan aku terbelalak. Aku segera berkata, "Mas, aku tidak ingin pulang. Aku ingin kita berpisah. Aku ingin cerai."


"Tidak, Rania," ucapnya. Ia sudah menjalankan mobilnya.


"Mas, hentikan mobilnya! Turunkan aku di sini! Aku ingin turun. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin kita pisah."


Mas Darwin hanya diam dan terus memacu mobilnya tanpa henti. Ia memasuki gerbang tol dan melaju menuju Indralaya. Aku menangis di sepanjang perjalanan. Aku tidak ingin kembali menjadi istri bonekanya. Terkurung di Kayuagung, menjalani hari-hari menjadi seorang istri yang tak diharapkan.


'Aku tidak mau. Aku tidak mau,' batinku. Tapi, aku tak bisa menolak lagi, tak terasa kami sudah sampai di Indralaya. Ia membawaku ke rumah dinasnya.


Ia menggeret tanganku, memaksaku untuk masuk ke rumahnya. "Aku tak mau," ucapku. "Aku tak mau."


Setelah kami masuk ia mengunci semua pintu dan menyimpan semua kunci itu di saku celananya. "Berikan dompetmu, Rania!" ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanyaku.


"Aku tak ingin kamu melarikan diri lagi," jawabnya.


"Aku tak memiliki uang lagi untuk melarikan diri," ucapku. Aku tak mau menyerahkan dompetku.


"Berikan, Rania!" ucapnya.


"Tidak."


Aku tak mau menyerahkannya, satu-satunya benda yang kumiliki di kantongku saat ini hanya dompetku. Masih ada sedikit sisa uang di dalamnya. Aku butuh untuk ongkos pergi dari sini.


"Berikan, Rania!" ucap Mas Darwin lagi.


"Tidak." Aku bersikeras.


Mas Darwin pun segera maju mendekatiku, ingin mengambil dompetku. Aku mundur beberapa langkah hingga tanpa kusadari akhirnya tubuh belakangku membentur dinding. Aku tak bisa mundur lagi dan Mas Darwin sudah berdiri di hadapanku begitu dekat, hanya satu jengkal dariku.


Ia meletakkan kedua tangannya di dinding, membuatku tak bisa pergi menjauh lagi. Aku terjebak di antara kedua lengannya yang kekar. Lalu, ia menurunkan tangan kanannya dan memeriksa saku rokku. Aku tak dapat berkutik, ia mengambil dompet dari dalam sakuku dan melemparkannya ke meja.


Lalu, deringan ponsel akhirnya membuat Mas Darwin melepas kecupannya. "Alya," gumamnya.


"Sayang, kamu dimana? Mengapa belum pulang? Biasanya sudah sampai rumah," ucap Alya.


"Aku ada di rumahku. Rania sudah ada di sini. Kami baru saja sampai dari Palembang. Ternyata ia menghilang pergi ke Palembang," jelas Mas Darwin sambil mengambil dompetku di atas meja dan memasukkannya ke kantong celananya.


"Jadi, tadi kamu ke Palembang?" gumam Alya. "Tidak biasanya kamu tidak memberi kabar pergi ke Palembang, Sayang."


"Tadi aku buru-buru, Sayang," ucap Mas Darwin. "Maafkan aku."


Alya terdiam. Ia menyadari suaminya itu mulai berubah. Mas Darwin mulai sering tidak bersikap terbuka padanya. Kemudian, Mas Darwin melanjutkan ucapannya, "Sayang... maaf aku belum bisa pulang hari ini."

__ADS_1


"Mengapa?" tanya Alya segera.


"Aku harus memastikan agar Rania tidak kabur lagi. Tadi awalnya aku ingin segera mengantarnya ke Kayuagung. Tapi, ada file yang harus segera ku submit malam ini. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku akan mengantar Rania besok fajar ke Kayuagung lalu segera kembali lagi ke Indralaya."


"Mengapa kamu tidak mengerjakan tugasmu di rumah ini saja, Sayang?" Alya kembali bertanya.


"Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Dia akan kabur lagi. Aku juga tidak mungkin pulang ke sana dengan membawanya. Bagaimana dengan perasaan ibu kamu nanti. Jadi, malam ini aku menginap di sini dulu. Besok pagi aku akan menemuimu."


Alya hanya terdiam. Dalam hati sebenarnya ia sungguh tak rela membiarkan Mas Darwin bermalam bersamaku. Tapi, ia tak bisa melarang Mas Darwin. Ia hanya diam hingga menutup teleponnya.


Setelah itu, Mas Darwin menyerahkan ponselku padaku. "Teleponlah ibu! Dia menanyakanmu tadi. Aku tak bilang kamu melarikan diri. Ibu tidak tahu apa-apa. Ia hanya tahu hubungan kita baik-baik saja," ucap Mas Darwin.


Aku pun mengambil ponsel itu dan segera masuk ke kamar. Aku belum menghubungi ibu. Aku segera menghubungi Nelly. Aku yakin sekali Nelly yang memberitahu Mas Darwin aku bekerja di rumah makan itu sehingga ia bisa menemukanku.


"Rania, kamu sekarang dimana? Apa kamu baik-baik saja?" ucap Nelly.


"Tidak perlu basa-basi, Nelly. Kamu tega sekali," ucapku. "Kamu kan yang menghubungi Mas Darwin dan memberitahukan keberadaanku."


"Aku tidak menghubungi Mas Darwin, Rania. Sungguh," ucap Nelly.


"Bohong," ucapku.


"Nelly tidak bohong." Tiba-tiba saja suara Mas Darwin terdengar di ambang pintu kamar. Ia masuk dan berkata, "Dia tidak menghubungiku. Aku mencarimu ke kontrakanmu yang lama, bertanya pada Tante Ros dimana kamu dulu bekerja. Di sana aku bertemu dengan Nelly. Aku yang memintanya memberitahu kamu dimana. Nelly tidak mau memberitahu. Aku memaksanya hingga akhirnya dia memberitahukanku alamat rumah makan tempat kamu kerja."


"Nelly tidak menghubungiku," tegas Mas Darwin.


Aku kesal dan segera mengakhiri panggilan ponselku pada Nelly. Kini tidak ada lagi orang yang berpihak padaku. Semuanya berpihak pada Mas Darwin. Bahkan, teman yang sudah seperti saudaraku sendiri itu lebih berpihak pada Mas Darwin. 'Mengapa tidak ada orang yang memikirkan perasaanku? Mengapa?' batinku. 'Bagaimana lagi aku bisa lepas dari jeratan Mas Darwin?'


Tak terasa air mataku kembali menetes. Lalu, Mas Darwin berkata, "Mengapa kamu menangis lagi, Rania?"


"Mas, kumohon ceraikan aku! Ceraikan aku! Aku tak mau jadi istri keduamu. Aku tak bisa," ucapku.

__ADS_1


Mas Darwin mendekatiku, menatapku dalam seperti seseorang yang sedang mengasihaniku. Lalu, ia menghapus air mata di kedua sudut mataku. Tapi, bukan itu yang kuharapkan. Aku berharap ia melepaskanku dengan menceraikanku. Aku tak bisa lebih lama lagi menjalani semua sakit hati ini. Aku ingin bebas.


Lalu, terdengar beberapa ketukan di pintu. Mas Darwin kemudian membuka pintu dan kudengar suaranya berkata, "Sayang. Mengapa kamu ada di sini?"


__ADS_2