
Mas Darwin sudah dua hari ini menemaniku di Kayuagung. Tak bisa kupungkiri ada sedikit perasaan nyaman saat dia ada bersamaku. Tapi, aku harus membuang jauh-jauh perasaan itu.
Pagi-pagi aku merasa mual dan segera ke kamar mandi untuk muntah. Ia segera mengejarku ke kamar mandi dan aku segera berkata, "Pergilah! Aku bisa sendiri." Aku berusaha menepis pertolongan darinya.
Setelah itu aku kembali ke kamar dan duduk setengah berbaring di tempat tidur. Di luar dugaanku ternyata Mas Darwin masuk ke kamar dengan membawa segelas air jeruk hangat untukku. Ia juga mengambil minyak angin dan ingin mengusapnya di leherku, tapi aku menolak. "Aku bisa sendiri," tegasku.
"Mas, tak perlu repot-repot mengurusku. Aku bisa sendiri," ucapku.
"Aku hanya berusaha menjalankan peranku sebagai suamimu, Rania."
"Tidak perlu, Mas. Aku harus terbiasa mandiri," balasku.
Mas Darwin terdiam mendengar ucapanku. Kulihat ekspresi wajahnya berubah. Aku tak bermaksud menyakiti hatinya dengan ucapanku. Tapi, memang begitulah kenyataannya. Aku memang harus terbiasa hidup mandiri dan merawat anak dalam kandunganku ini sendiri.
"Kamu ingin makan apa siang ini?" Ia masih bersikap baik padaku meski aku menolak perlakuannya.
"Aku tidak ingin makan apa-apa," ucapku mematahkan pertanyaannya.
"Kamu harus makan. Anak kita butuh makanan," ucapnya pantang menyerah dan aku tak menggubris perkataannya.
Lalu, tanpa kuduga siang ini Mas Darwin melakukan hal yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ia memasak sop ayam kampung untukku. Aromanya sudah semerbak memenuhi udara seisi rumah. Lalu, ia menghidangkannya di meja makan yang sudah dikelilingi olehku dan ibu.
Kami siap makan siang bersama. Mas Darwin dengan cekatan mengambilkan nasi untukku tanpa kuminta. Kemudian, ia ingin menuangkan sop ke dalam piring di hadapanku. Aku segera menarik piringku dan berkata, "Tidak usah."
Pandangan ibu dan Mas Darwin segera tertuju padaku. Aku lalu berkata, "Hari ini aku ingin makan tempe saja." Aku memasukkan dua potong tempe dan sesendok sambal ke dalam piringku.
"Hei, Rania!" Suara ibu mengagetkanku. "Apa kamu tidak lihat suamimu sudah bersusah payah membuatkan sop ini?"
"Ibu lihat dengan mata ibu sendiri Darwin sejak tadi bersusah payah menangkap ayam, memotongnya, mencabut bulunya, membersihkannya, lalu memasaknya menjadi sop. Kamu enak-enak tinggal diminta makan saja tidak mau. Keterlaluan kamu, Rania!" Ibu tampak emosi.
"Bu, sudah!" ucap Mas Darwin segera. "Mungkin bawaan bayinya, tidak selera makan ayam hari ini."
"Tidak masuk akal," ucap ibu segera. "Kalo kamu tidak mau makan masakan Darwin, ibu yakin anak dalam kandunganmu itu mau makan masakan ayahnya."
"Kamu harus makan!" tandas ibu.
__ADS_1
Mas Darwin melirikku. Aku hanya diam. Lalu, Mas Darwin menuangkan sop ayam itu ke dalam piringku.
"Makan!" Ibu memaksaku untuk makan. "Sop ayam kampung ini bagus untuk kehamilanmu."
Aku pun terpaksa menyantap masakan Mas Darwin dan tak kukira ternyata sop ayam buatan Mas Darwin benar-benar enak. Rasanya gurih, namun segar. Aku baru kali ini tahu jika Mas Darwin ternyata pintar memasak.
"Darwin ini sudah biasa hidup mandiri sejak kecil. Darwin selalu masak sendiri di kostannya sejak kuliah. Jadi, jangan kamu ragukan masakannya, pasti enak," celoteh ibu sambil menyantap makan siangnya.
Sementara itu, di saat yang sama Alya tiba di salah satu rumah makan ala kampung di Indralaya. Ia berjalan ke salah satu pondok dan bertemu dengan Aldi di sana.
"Sudah lama tidak bertemu," ucap Aldi.
"Iya." Alya tersenyum. "Dokter Aldi, kenalkan ini Renata, asisten saya." Alya tidak sendiri menemui Aldi, ia ditemani dengan asistennya.
"Saya sengaja mengajak kamu bertemu di sini, bukan di kantor supaya kita mengobrolnya lebih enak, lebih santai, tidak formal," ucap Aldi.
Alya tersenyum dan mengangguk. Kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan minuman. Dua gelas jus alpukat.
"Oh, maaf... saya tadi hanya memesan dua gelas karena saya kira kamu datang tidak berdua," ucap Aldi. "Renata, mau minum apa? Silakan pesan! Sekalian kita pesan makanan juga."
"Hmmh... iya, terima kasih," ucap Alya. Kemudian, pembicaraan mereka pun terus berlanjut.
Beberapa hari lalu Aldi menelepon karena ia membutuhkan jasa desain bangunan. Ia ingin membangun sebuah klinik miliknya pribadi dan mempercayakan Alya sebagai arsiteknya. Oleh karena itu, Alya menepati janji bertemu dengannya hari ini. Ia ingin mendiskusikan desain seperti apa yang diinginkan oleh Aldi.
***
Tanpa terasa hari-hari berlalu begitu cepat. Hari ini hari terakhir Mas Darwin menemaniku di Kayuagung. "Ada yang ingin kamu beli?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku. Ia bertanya lagi, "Apa yang kamu butuhkan saat ini?"
"Tidak ada," jawabku singkat. "Pulanglah!"
"Rania." Mas Darwin memegang kedua lenganku. "Katakan dengan jujur! Apa kamu benar-benar tidak suka aku ada di sini?"
"Lepaskan, Mas!" ucapku.
__ADS_1
"Jawab dulu!" pintanya.
"Iya," jawabku. "Aku tidak suka kamu ada di sini."
Mas Darwin melepaskan kedua tangannya. Dia mundur beberapa langkah. "Baiklah, aku akan pulang pagi ini," ucapnya lalu mengambil tas dari dalam lemarinya dan memasukkan pakaiannya.
"Jaga anak kita baik-baik!" ucapnya sebelum keluar dari kamar dan aku hanya diam.
"Bu, aku pamit mau pulang ke Indralaya." Kudengar suara Mas Darwin dari dalam kamar.
"Loh, katanya mau pulang sore nanti," suara ibu kudengar di kejauhan. "Mengapa mendadak pagi ini?"
"Iya, ada pekerjaan yang harus segera aku bereskan. Aku titip Rania, ya Bu."
Entah mengapa hatiku terasa pilu saat Mas Darwin akan meninggalkanku. Apa karena aku sedang hamil? Jadi, perasaanku menjadi sangat sensitif, mudah tersentuh. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tapi, sejujurnya aku berbohong saat aku mengatakan bahwa aku tidak suka Mas Darwin berada di sini.
Sebenarnya ada perasaan bahagia dalam hatiku ketika Mas Darwin menemaniku di sini. Setiap ia memberi perhatian padaku sejujurnya aku senang. Tapi, aku tidak mau mengikutsertakan perasaanku dalam menikmati perlakuan Mas Darwin padaku. Aku harus menjaga jarak darinya agar tak terjebak lebih dalam.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Nelly. Aku melihatnya sekilas, tapi tidak membukanya. Tertulis di situ, "Rania, kamu masih marah?"
Sejak kejadian Mas Darwin menemukanku waktu itu, aku memang tak pernah lagi membuka pesan dari Nelly dan menjawab teleponnya. Aku sangat marah saat itu padanya karena tega membocorkan keberadaanku pada Mas Darwin. Namun, seiring berjalannya waktu kemarahanku mulai mereda.
Aku pun memutuskan untuk membuka pesannya. Ternyata ada banyak pesan yang dikirimkannya untukku. Salah satu pesannya bertuliskan, "Rania, silakan kamu mau percaya atau tidak! Tapi, aku melihat jelas ekspresi kekhawatiran Mas Darwin saat mencari kamu. Aku yakin sekali Mas Darwin itu sebenarnya cinta sama kamu."
Pesan lainnya bertuliskan, "Bagaimanapun juga kamu itu istri sahnya, Rania. Apalagi, kamu sekarang sedang mengandung anaknya. Anakmu butuh ayahnya. Kamu harus mendapatkan suamimu, Rania. Kamu pasti bahagia jika bersama Mas Darwin."
"Hefffhhhhh...." Aku menarik nafasku panjang.
Seandainya Mas Darwin benar-benar suami milikku seorang diri, aku pasti akan sangat bahagia. Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya... jantungku berloncatan. Meski ia tak terlalu muda lagi, tapi dalam sekejap auranya mampu menghipnotisku. Ia terlalu sempurna bagiku.
Apalagi, setelah mendapatkan perhatian dan perlakuan spesial darinya seperti beberapa hari ini... aku pasti akan sangat bahagia jika Mas Darwin benar-benar suamiku seutuhnya. Namun, kenyataannya dia bukan milikku. Suamiku milik orang lain.
Ada tiga pilihan yang bisa kuambil. Pertama, merampasnya dari Alya. Kedua, merelakannya mendua. Itu artinya aku harus berbagi cinta Mas Darwin dengan Alya selamanya. Ketiga, melepaskannya.
Pilihan pertama tak mungkin kuambil karena jelas-jelas dengan telingaku sendiri Mas Darwin mengatakan bahwa aku adalah wanita yang dinikahinya hanya untuk membahagiakan ibunya. "Tak seharusnya kau berharap lebih." Kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku. Dia takkan mungkin meninggalkan Alya, wanita yang sangat dicintainya sejak dulu.
__ADS_1
Pilihan kedua pun tak dapat kuambil karena aku tak sanggup melihatnya bermesraan dengan wanita lain. Terlalu menyakitkan bagiku. Dan, pilihan ketiga. Aku akan melepaskannya. Aku akan bercerai dari Mas Darwin, pergi dari kehidupannya, dan melupakannya. Itulah yang sedang aku lakukan saat ini.